Cinta sebagai sebuah permainan?
Itulah yang Jenny selalu lakukan, Cinta hanya sepotong permainan dunia bagi gadis yang memiliki segalanya, karenanya dia ingin selalu menang dan memang dia selalu menang, hingga dunianya sedikit kacau karena seorang pria mulai mengacaukan permainan cintanya, dan dia tak akan pernah tinggal diam.
Jonathan, Pria sempurna penakluk semua wanita, semua terjebak hanya dari sorot matanya, dia tertantang untuk masuk pusaran permainan Jenny dan berusaha memenangkannya.
Siapa yang akan menang? atau mereka terjebak dalam permainan yang mereka buat masing-masing?
Benar, Cinta adalah permainan.
Karena itu, Lets The Game Begin!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Aku sudah menalukkanmu
Entah sudah berapa lama mereka menunggu di dalam lubang itu, beberapa kali Jontahan berteriak meminta tolong, juga beberapa kali dia sudah mencoba dan mencoba terus untuk bisa mencapai tepian itu, namun semuanya sia-sia saja.
Jenny hanya memandangi hal itu, tidak melakukan apapun karena kakinya yang mulai mati rasa, begitu juga perasaannya, perlu waktu lama baginya agar bisa bernapas lega karena sakitnya sendiri, dia memandang tubuh tegap itu dari belakang, saat Jonathan membalikkan tubuhnya, Jenny segera membuang wajahnya, melemparkan salju yang menumpuk di dekatnya.
Jenny memeluk dirinya sendiri, juga sudah entah berapa lama dia tidak membuka bibirnya itu untuk berbicara dengan Jonathan, bibirnya sekarang terasa bergetar, kedinginan, apa lagi salju ternyata jatuh lebih lebat sekarang.
"Hei, kau tidak apa-apa?" tanya Jonathan perhatiannya teralihkan ke arah Jenny yang meringkuk menggigil, padahal dia sudah memakai pakaian yang bergitu tebal.
"Dingin," kata Jenny seadanya, mencoba sekuat tenaga agar tetap bisa menguasai dirinya.
"Jen, Jen, kau tidak apa-apa?" tanya jonathan semakin Cemas.
Jonathan memperhatikan Jenny yang semakin gemetaran, dia segera duduk di sampingnya, menarik Jenny dalam pelukannya, memposisikan Jenny agar dapat dia peluk sepunuhnya, membagi kehangatan agar Jenny bisa setidaknya berkurang rasa dinginnya.
Jonathan terus memeluk tubuh Jenny yang perlahan mulai menenang, tidak lagi merasakan rasa dingin yang terlalu menusuk, malah terasa nyaman dan dingin yang membuat Jenny tanpa sadarnya tertidur dalam pelukan Jonathan.
Jonathan melihat ke arah Jenny yang tertidur di dadanya, tampak begitu nyaman dan lelap, mungkin karena tadi menggigil hingga membuatnya menjadi kelelahan, mendapatkan rasa hangat hingga akhirnya bisa terlelap, belum lagi kemarin Jenny juga tidur terlalu pagi. Jonathan yang melihat wajah lelap Jenny itu tersenyum sedikit, begitu polos dan juga cantik, tetap seindah bunga Calla Lyli yang indah.
Jonathan tak jemu melihat Jenny yang bersandar di dadanya, membuat dadanya yang bidang seolah bagaikan bantal yang empuk, Jonathan tak bisa melepaskan wanita yang sekarang ada di dalam pelukannya, nyatanya Jenny juga memberikan kehangatan untuknya, Jonathan tersenyum kembali saat melihat Jenny yang sedikit mengeliat karena dirinya sedang mencari posisi yang lebih nyaman agar tetap bisa menopang tubuh Jenny yang lunglai. Perlahan menunggu dan akhirnya malah dirinya pun ikut tertidur karena terlalu lelah.
Jenny menggeliat, merasakan sedikit tidak nyaman atas bantalnya yang terasa kurang empuk, dia membuka matanya, menemukan dirinya masih ada di atas dada bidang Jonathan, suara detak jantung pria itu terdengar, teratur dan menenangkan.
Jenny masih belum berani bergerak, bagaimana dia bisa ada dalam pelukan pria ini, bukannya dari tadi dia berusaha untuk tidak berurusan dengan pria ini, tapi kenapa sekarang dia ada dalam dekapannya yang hangat dan kokoh itu, Jenny mengulum bibirnya, harus apa dia sekarang? dia sadar bahwa dia seharusnya tidak ada dalam pelukan pria ini, namun kehangatan ini, dia tak ingin melepaskannya.
Jonathan terbatuk, membuat Jenny segera menaikan tubuhnya, melihat ke arah wajah pria itu yang tampak juga mulai kedinginan, bibirnya pucat dan kering, Jenny jadi bingung melihatnya, dia harus apa?
Jenny membuka sarung tangannya, menggosokkan kedua tanganya, meniupkan sedikit udara panas dari napasnya, lalu meletakkanya perlahan di pipi Jontahan yang sangat terasa dingin, bahkan menyengat tubuh Jenny, dia kembali mengulanginya lagi, namun bibir Jontahan yang masih menutup mata itu masih saja bergetar, Jenny semakin bingung, apakah Jonathan akan baik-baik saja, dia ingat, ada beberapa orang yang harus mengalami kerusakan otak karena udara dingin seperti ini, bahkan ada yang kehilangan nyawanya, jika terjadi apa-apa dengan Jonathan, maka selamanya Jenny tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Jonathan, hei, kau tidak apa-apa? bangunlah," kata Jenny yang bingung, bibir Jonathan juga semakin bergetar walaupun tubuhnya belum menggigil, Jenny hanya ingin Jonathan bisa bangun, wajah Jonathan juga menunjukkan bahwa dia sangat kedinginan.
"Jonathan, ayolah, bangun," kata Jenny kembali mengusap tangannya, tapi sekarang tangannya pun serasa beku, terpengaruh udara luar dan juga dinginnya pipi Jonathan, Jenny menahan kedua pipi Jonathan, mencoba menghagatkannya, namun ternyata sia-sia. wajah Jenny begitu cemas menatapnya.
"Haus," racau Jonathan, dia memang sudah mengubah posisinya, meringkuk mencari kehangatan, dari tadi dia menjadikan tubuhnya tameng untuk Jenny, sekarang dia yang benar-benar merasa kedinginan.
Jenny melihat sekitarnya, dimana dia bisa mencari air sekarang? dia yakin Jonathan benar-benar butuh air, bibirnya bergitu kering.
Dia melihat sekelilingnya, hanya salju yang ada, Jenny memutar otaknya, bukankah salju juga air yang membeku, Jenny mencari salju yang tampak bersih, memindahkannya ke tangannya lalu meniupnya hingga mulai mencair, dia mengalirkan air yang menetes itu ke bibir Jonathan yang kering itu, ternyata tak sebanyak itu air yang keluar, Jenny lalu mencari salju lagi, kembali menghembuskan napasnya, kembali memberikan air itu, tetap saja mendapatkannya sedikit, namun Jonathan meminumnya seolah sudah tidak meminumnya beberapa hari.
Jenny mencari lagi salju di sekelilingnya, dia sudah mulai susah bernapas karena terus mengeluarkan napasnya, memutar otaknya, jika hangat tubuhnya bisa mencairkannya maka …
Jenny mengambil salju itu, dengan cepat memasukkanya ke dalam mulutnya, segera merasa dingin menggigil namun perlahan merasakan salju itu mencair di muluatnya, cukup banyak tertampung, dan dengan cepat dia segera mengarahkan bibirnya ke arah bibir jonathan, membiarkan air itu mengalir melalui bibirnya yang begitu dekat dengan bibir Jonathan yang segera meminumnya, Jenny baru saja ingin bangkit namun dengan cepat tiba-tiba saja tangan Jonathan menekan belakang Jenny hingga bibirnya sekarang bersentuhan dengan bibir Jonatahan.
Bibir Jonathan terkesan kasar karena kering awalnya, namun perlahan melembut karena air yang masih tertinggal sedikit di rongga mulut Jenny, Jenny yang diperlakukan seperti itu tentu kaget namun perlahan terdiam mendapatkan ciuman dari Jonathan yang awalnya cukup kasar karena mencari sumber air itu.
Jonathan sebenarnya sudah cukup sadar setelah dia menyerang Jenny tadi, cukup kaget karena sekarang bibir mereka berpaut, namun perlahan dia menikmatinya, perasaan dingin dan hangat yang tercipta menjadi sensasi yang berbeda, apalagi bibir Jenny yang cukup berisi itu begitu nikmat untuk bisa dilahap olehnya.
Jenny awalnya ingin memberontak namun perlahan dia malah terlena, merasakan gerakan bibir Jonathan yang cukup membuainya, Jonathan bangkit dari tidurnya namun tak membiarkan pautan mereka terlepas, suasana dingin menghangat seketika, Jenny membesarkan matanya melihat mata Jonathan yang memandangnya dengan tajam, kaget karena ternyata Jonathan sudah sadar namun tetap menahan kepalanya agar mereka tetap berciuman.
Setelah terduduk, Jonathan sejenak melepaskan Jenny yang sudah kehabisan napasnya, membiarkan Jenny untuk bisa menarik sedikit napasnya, tak tahu kehabisan napas karena ciuman itu, atau karena sesak sekarang Jonathan ada di depannya dengan tatapan tajam yang penuh arti memandangnya yang hanya bisa terpaku, napas mereka beradu, Jonathan menatap wajah Jenny yang memerah padam kembali, terengah karena ulahnya.
"Bukankah ku katakan, aku sudah menaklukkan mu," kata Jonathan yang dengan ganas kembali melum’at bibir merah Jenny bahkan sebelum Jenny bisa bernapas normal, dia segera menciumnya dengan ganas namun juga lembut pada saat yang bersamaan, tangannya yang lain memeluk pinggang Jenny yang kecil, membuat Jenny benar-benar sudah tak bisa lagi bergerak, cukup menikmati saja apa yang diberikan oleh Jonathan padanya.
🏃 🏃 🏃..... otw....
Dari Judulnya kayaknya seru deh...
ah... pasti Seru Karya Quin....
akhirnya....
😍😍😍
Terima Kasih untuk Karya-karya nya....
💕💞💖👍👍
semoga aja Cuma prank ya.....
siapa lagi sie....
Apakah Anxel sudah bebas?
next ke Meadow...
akhirnya JJ bersatu lagi
😂😂😂
biar gak kabur lagi