~sepasang kekasih yang akan menemukan cintanya dan saling mencandu~
sudah selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᑲᑲgᥡᥙmіᥱᥱ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
True Love Season 2 ~ Bintang Yang Kembali Ke langitnya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari itu, Queensha bangun seperti biasa. Udara sejuk menyelinap masuk dari celah jendela kamar. Suara burung di luar terdengar lebih nyaring dari biasanya. Tapi entah kenapa, hari itu terasa... berbeda.
“Aneh,” gumamnya sambil duduk di pinggir ranjang.
Perutnya makin membulat, dan gerakan si kecil di dalam sana semakin sering. Tapi tak ada ucapan selamat pagi dari Azkio seperti biasanya. Hanya ada secarik kertas kecil di meja samping tempat tidur:
“Tunggu Aku. hari ini kamu gak boleh kemana-mana dulu. jangan marah ya~ Kio."
Queensha mengernyit heran. Biasanya, Azkio akan bangun duluan, menyiapkan air hangat untuknya, atau sekadar mencium kening sebelum mandi. Tapi hari ini... sunyi.
Ia bangkit pelan dan berjalan ke dapur. Kosong. Tak ada aroma kopi, tak ada suara sendok di cangkir.
Yang ada hanya satu buket bunga kecil di meja makan. Bunga yang sama seperti yang dulu Azkio berikan di hari pernikahan mereka.
"Selamat ulang tahun, Istriku. tunggu sampai malam ya. Aku janji, kamu gak akan merasa sendiri hari ini."
Siangnya...
Queensha hanya duduk menonton film di sofa. Perasaan sedikit kecewa mulai muncul, meski ia mencoba menepisnya. Mungkin Azkio terlalu sibuk, atau lupa, atau... tidak ingin dirayakan besar-besaran karena kandungannya yang sudah tua.
Tapi tetap saja... ada bagian dalam dirinya yang berharap.
Sampai akhirnya, tepat pukul lima sore, ponselnya berdering.
📱 Azkio:"Pakai baju yang kamu suka. Aku jemput jam enam. Jangan tanya apa-apa."
Tepat jam enam sore...
Azkio datang menjemputnya dengan mobil pribadi. Ia memakai kemeja biru langit yang dulu dipilihkan Queensha, dan senyum khasnya yang menenangkan hati.
“Udah siap, bintang kecilku?”
Queensha menatapnya bingung. “Bintang?”
“Kamu dulu kan dibilang anak panti yang bersinar kayak bintang. Jadi malam ini... aku pingin bawa kamu balik ke langitmu.”
Tiga puluh menit kemudian...
Mobil mereka berhenti di sebuah rumah besar yang terasa hangat. Lampu-lampu kecil menggantung di halaman. Ada tulisan kain besar yang terbentang:
"Selamat Ulang Tahun, Kakak Queensha!"
Dan saat pintu pagar dibuka, belasan anak-anak kecil berlarian ke arah Queensha sambil memeluk dan meneriakkan namanya.
“Kakak Queensha!! Kami kangen!!”
Queensha menutup mulutnya. Air matanya langsung jatuh. Tangannya bergetar saat melihat wajah-wajah kecil yang dulu tumbuh bersamanya di panti asuhan. Ada yang sudah besar, ada yang baru masuk, semua bersinar seperti masa kecilnya dulu.
“Ini... panti asuhan...”
“Iya,” ujar Azkio lembut. “Aku hubungi Bu Laila diam-diam. Mereka semua rindu kamu. Dan aku tahu... kamu pasti rindu mereka juga.”
Queensha langsung memeluk Azkio, tubuhnya gemetar karena haru.
“Kak, ini... ini ulang tahun terbaik seumur hidupku...”
Malam itu, halaman panti berubah jadi tempat penuh tawa dan kenangan.
Anak-anak bernyanyi, makan kue bersama, dan membuat kolase kecil berisi gambar-gambar masa kecil Queensha. Salah satu anak membacakan puisi yang ia tulis sendiri:
"Kak Queensha baik hati, hatinya hangat seperti pelukannya. Kalau besar nanti, aku ingin jadi sekuat Kakak..."
Tangis Queensha pecah lagi.
Azkio duduk di sampingnya, menggenggam tangan istrinya erat.
“Aku ingin anak kita tahu... kalau ibunya bukan cuma cantik dan baik. Tapi juga penyintas. Yang pernah hidup dalam kehilangan, tapi tetap memilih mencintai.”
Queensha menyender di bahunya. “Dan aku ingin anak kita tahu... kalau ayahnya adalah lelaki terbaik yang Tuhan pernah ciptakan.”
Malam itu berakhir dengan sederhana.
Hanya lilin kecil, pelukan hangat, dan doa panjang di hati Queensha.
Tuhan, terima kasih...
Dulu aku tidak punya siapa-siapa.
Sekarang... aku punya semuanya.
Esoknya...
Azkio menggantung foto dari pesta semalam di kamar bayi. Di bawahnya, dia menulis:
“Untuk anaku kelak: Ibumu adalah cahaya dari panti kecik yang pernah gelap. Dan Ayah jatuh cinta padanya karena ia tak pernah berhenti bersinar."