Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Selamat pagi, Pak Arjuna. Silakan duduk. Kita tidak punya banyak waktu untuk basa-basi!" ucap Larasati dengan nada suara yang sangat tenang, profesional, dan sedingin es, bahkan tanpa sudi menatap mata Arjuna.
Arjuna menelan ludahnya. Ia menarik kursi di seberang Larasati dengan tangan yang agak bergetar.
"Pagi, Laras... maksud saya, Bu Larasati. Terima kasih sudah bersedia melanjutkan rapat ini."
Tepat saat Arjuna hendak membuka berkas draf proyeknya, pintu ruang rapat kembali terbuka dengan hentakan yang berwibawa. Atmosfer ruangan mendadak menjadi begitu pekat, dengan aura kepemimpinan yang mengintimidasi.
Dewa Dirgantara melangkah masuk dengan setelan jas berwarna abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Pria berusia 38 tahun itu memancarkan karismanya sebagai sang penguasa bisnis.
Di belakang Dewa, Evan mengekor dengan membawa tablet kerja sambil melempar senyum sinis yang meremehkan ke arah Arjuna."
Rapat evaluasi hari ini akan saya pimpin secara langsung!" suara bariton Dewa yang berat dan berwibawa memecah keheningan, langsung mengunci pergerakan Arjuna. Dewa duduk di kursi utama di ujung meja, tepat di sebelah Larasati, lalu menatap Arjuna dengan manik mata elangnya yang sedingin es.
Arjuna seketika merasa ciut. Ego lelakinya yang biasa tinggi, mendadak remuk melihat bagaimana Dewa duduk begitu dekat dengan Larasati, seolah-olah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
"Baik, Pak Dewa. Ini adalah draf revisi strategi pemasaran dari perusahaan kami..." Arjuna mencoba menjelaskan dengan suara yang terbata-bata, menyodorkan berkasnya.
Larasati menarik berkas itu, membaliknya dengan gerakan jari yang anggun namun tegas, lalu melemparkannya kembali ke tengah meja dengan dentingan pelan yang terasa seperti tamparan bagi Arjuna.
"Draf ini sampah, Pak Arjuna," cetus Larasati dingin, matanya menatap lurus ke dalam manik mata mantan tunangannya itu tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Analisis pasarnya sangat dangkal, dan target audiens yang Anda ajukan sama sekali tidak menyentuh standar Dirgantara Media. Apakah begini cara kerja seorang manajer pemasaran yang katanya profesional?"
Wajah Arjuna seketika merah padam menanggung malu di depan Dewa dan Evan. "Bu Larasati, tolong profesional. Saya tahu Anda memiliki masalah pribadi dengan saya, tapi jangan campur adukkan draf ini dengan—"
"Jaga mulutmu, Arjuna!" Dewa menyela dengan nada suara yang mendadak rendah namun begitu menusuk.
Dewa memajukan tubuhnya, menatap Arjuna dengan pandangan meremehkan.
"Creative Director saya sedang bicara tentang fakta bisnismu yang tidak kompeten. Jangan pernah lagi berani membawa drama hidupmu ke dalam ruang rapat saya!"
Arjuna tersentak, seluruh tubuhnya mendadak lemas. Ia melirik Evan yang di sudut ruangan sedang menahan tawa sambil berbisik tanpa suara. "Haduh..., kelakuan, oh...kelakuan. Ga mikir seribu kali, sih!"
Larasati mengulas senyum profesional yang sangat tipis, merasa sangat terlindungi oleh ketegasan Dewa yang berada di pihaknya. "Kami memberikan waktu tiga hari untuk merombak total draf ini, Pak Arjuna. Jika hari Jumat besok hasil kerja perusahaan Anda masih di bawah standar, maka demi hukum dan profesionalisme, Dirgantara Media Group resmi memutus kontrak kerja sama ini secara sepihak tanpa ada ganti rugi apa pun."
Arjuna mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit, bahwa Larasati tidak lagi bisa ia gapai dengan air mata atau manipulasi.
Di atas panggung sandiwara ini, Larasati telah menjelma menjadi ratu yang berkuasa. Sementara di sampingnya, telah berdiri seorang raja konglomerat yang siap menghancurkan sisa-sisa hidup Arjuna jika ia berani melangkah melewati batas.
"Baik... terima kasih atas waktunya. Saya akan merombak draf ini." ucap Arjuna dengan suara serak penuh kekalahan. Ia segera menyambar berkas-berkasnya, lalu bangkit berdiri dan melangkah terburu-buru keluar dari ruang rapat dengan harga diri yang telah dikuliti di hadapan wanita, yang telah ia sia-siakan.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok