Jatuh ke danau setelah tahu pacarnya berkhianat, Juwita malah dibawa melintasi waktu ke abad sebelumnya. Abad di mana kerajaan masih kokoh berdiri. Peradaban dunia kuno yang masih kental, yang tentunya tidak terjamah oleh teknologi modern sedikitpun.
Di dunia kuno ini, Juwita malah memasuki tubuh seorang putri cantik yang sangat dicintai oleh seorang adipati. Sayangnya, sang putri malah mencintai pria lain. Tidak sedikitpun menganggap indah keberadaan Adipati yang sangat tulus memberikan semua kasih sayang terhadapnya.
Bagaimana kisah hidup Juwita di samping Adipati dunia kuno ini? Akankah Juwita mengikuti apa yang putri kuno ini lakukan? Atau, malah sebaliknya. Berbalik, lalu mencintai Adipati? Atau, adakah hubungannya dunia kuno ini dengan kehidupan Juwita sebelumnya? Ikuti kisah seru Juwi di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode #21
Satya kembali melanjutkan penjelasannya setelah mereka sama-sama terdiam selama beberapa saat. Dia menjelaskan semua tentang Wulandari dengan sangat detail.
Juwi masih memasang wajah acuh sekarang. Tapi hatinya, sudah tidak lagi marah pada Satya. Karena penjelasan itu bisa dia terima dengan baik.
"Dinda masih tidak percaya pada kanda? Apalagi yang harus kanda katakan sekarang?"
"Tidak perlu mengatakan apapun. Aku sudah tidak ... tidak butuh."
Sebenarnya, Juwi ingin bilang tidak marah awalnya. Hanya saja, sifat khas milik perempuan itu melekat dalam hatinya. Mana mungkin ia mau mengakui kalau ia sudah tidak marah dengan kata-kata di depan Satya. Karena itu akan membuat hatinya merasa tidak nyaman.
Beruntung, Satya pria yang peka akan keadaan Juwita. Meskipun Juwi tidak berucap secara lisan, tapi Satya memahami lewat nada bicara dan ekspresi wajah yang Juwita tunjukkan.
"Ba ... iklah. Dinda ku sudah tidak butuh penjelasan lagi sekarang. Tapi, bisakah menunda waktu pulangnya, Dinda?"
"Tidak bisa. Mau pulang sekarang karena kanda yang minta aku pulang."
"Ya Tuhan. Siapa yang minta dinda pulang? Kanda hanya mendengar apa yang dinda ucapkan saja. Kanda merasa sangat bersalah karena dinda rindu orang tua dinda. Jadi, kanda tawarkan untuk mengizinkan dinda pulang. Padahal dalam hati, sangat berat untuk kanda melakukan hal itu."
Lagi-lagi ucapan Satya membuat Juwi ingat akan apa yang sebelumnya terjadi. Satya memang tidak pernah mengizinkan Juwita pulang. Karena Juwita mungkin akan terlepas dari genggamannya jika dia izinkan perempuan itu bebas.
Namum sekarang, meski rasa takut itu masih terasa. Tapi Satya tetap membulatkan hati untuk mengizinkan Juwita pulang. Karena ia benar-benar tak sampai hati ketika melihat wanitanya bersedih.
"Ma-- maaf, Kanda. Dinda .... "
Akhirnya masalah kesalahpahaman yang sedang terjadi terselesaikan juga. Juwita pun menunda waktu pulangnya karena permintaan Satya.
Sementara itu, Wulandari sedang sangat murka di kamarnya. Dia marah. Sangat marah karena rencana yang ia perkirakan tidak berjalan lancar. Satya tidak sedikitpun menganggap indah kehadirannya.
"Bisa tenang sedikit tidak, hah? Kemarahan kamu ini akan membuat masalah bagi kita, Wulan." Bagas berusaha menenangkan Wulan yang ingin melempar semua barang yang ada di dekatnya.
"Kita ada di istana adipati agung. Wilayah kekuasaan raka Satya. Bukan di kediaman keluarga kita. Apa kamu tidak mengerti akan hal itu, hah?"
"Diam, Bagaskara! Kamu tidak bisa membantu sedikitpun. Jadi, jangan banyak bicara. Dasar pria tidak berguna. Sampah keluarga. Jika saja tidak ada darah raja di dalam tubuhmu, aku yakin kamu akan benar-benar jadi sampah masyarakat, Bagaskara."
"Kamu!"
"Apa!"
"Perempuan liar! Pantas Raka Satya tidak suka padamu, Wulan. Karena kamu sama sekali tidak layak untuk disukai."
Keduanya terus adu mulut sampai pelayan Satya datang.
"Mohon ampun, Gusti pangeran. Raden Ayu. Malam ini, Gusti Adipati tidak akan makan bersama dengan tamu. Karena ada urusan yang lebih penting yang harus Gusti adipati lakukan."
Mendengar hal itu, darah Wulan semakin mendidih. Setelah kepergian dayang tersebut, Wulan kembali melempar barang yang ada di dekatnya.
"Sial! Aku kalah lagi dari perempuan itu. Apa kurangnya aku di mata, Satya? Aku rasa, perempuan itu tidak ada lebih sedikitpun. Dia dan aku sama-sama anak adipati yang menjaga satu wilayah. Perempuan lemah yang sama sekali tidak tahu cara membela diri. Kenapa Satya malah memilih dia, hah?"
Prank! Jatuh lagi barang yang ada di dekat Wulan. Kamar itu sekarang sangat mirip dengan kapal pecah sudah. Ada begitu banyak barang yang jatuh.
Sayangnya, tidak ada yang peduli akan hal tersebut. Semua itu bukan tanpa alasan. Karena Wulan juga punya ilmu batin. Jadi ia menutupi setiap bunyi yang jatuh supaya tidak ada yang mendengarnya. Singkatnya, bunyi apapun tidak akan terdengar keluar. Hanya dia yang ada di dalam saja yang bisa mendengar semua itu.
Ketika Wulan ingin menjatuhkan barang lagi, Bagas segera mencegahnya. "Wulan, cukup! Jangan bikin ulah lagi. Lihatlah sekelilingmu! Sudah sangat berantakan."
"Minggir! Jangan halangi aku. Kau pria lemah yang tidak bisa apa-apa. Jadi, jangan ikut campur."
"Redam emosimu, Wulan. Jangan lupa kalau ini adalah wilayah raka Satya. Dan, jangan lupa pula, Raka Satya itu kesatria terbaik di kerajaan ini. Ilmunya tidak ada seujung kuku dari ilmu yang kamu miliki. Jadi, berpikirlah yang jernih."
Wulan terdiam. Ternyata, ucapan itu mampu membuat Wulan tersadar akan apa yang sudah ia lakukan. Dengan ilmu batinnya, dia bersihkan kembali suasana yang sudah kacau di kamar tersebut.
Sebaliknya, setelah amarah Wulan reda, Bagas malah memberikan ide untuk kembali membuat kacau hubungan Satya dan Juwita.
"Aku yakin kalau urusan penting Raka Satya yang dayang itu katakan adalah makan bersama dengan Juwita."
"Lalu? Kita harus apa?"
"Nah, pertanyaan yang bagus."
"Yang perlu kita lakukan adalah mengacaukan makan malam mereka."
"Caranya?"
"Dasar. Makanya jangan bisanya cuma marah-marah saja. Yang harus kita lakukan adalah .... "
Bagaskara dan Wulan pun melakukan rencana merusak suasana makan malam Satya dengan Juwita. Keduanya datang ke istana utama sesaat sebelum waktu makan malam tiba.
"Ampun gusti adipati, gusti putri. Tamu istana datang menghadap." Pengawal itu berucap penuh hormat.
Sontak, Satya langsung melirik Juwita yang ada di sampingnya. Juwita yang dilirik terlihat santai seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal, ia tahu dengan jelas kalau Satya sedang mencari reaksi cemburu yang sebelumnya sudah menimbulkan masalah buat mereka berdua.
"Baiklah. Minta menunggu sebentar. Aku akan menemui mereka di ruang utama."
"Baik, Gusti adipati."
Setelah kepergian si pengawal, Satya langsung menyentuh tangan Juwita dengan penuh kasih. "Bersedia ikut aku menemui tamu istana atau tidak? Kalau bersedia, ayo pergi sekarang."
Juwi tidak langsung menjawab. Tatapan lekat ia berikan ke manik mata Satya.
"Mau ajak aku, atau tidak?"
"Tentu saja aku mau. Tapi aku tidak akan memaksa. Jika kamu tidak suka, maka aku tidak akan memaksanya. Tapi jika kamu suka atau bersedia. Maka aku akan bahagia karena kamu temani aku."
"Hm ... baiklah. Aku pergi."
Senyum manis terukir. Satya lalu bangun duluan dari duduknya. Ia ulurkan tangan pada istri tercinta dengan senyum yang terus terkembang.
"Istriku tercinta. Berjanjilah, kamu tidak akan meninggalkan aku."
"Eh, masih sempat berpesan?"
Satya tidak menjawab. Hanya senyum manis saja yang terus ia perlihatkan. Istrinya memang sangat jauh berubah sekarang. Bahkan, ini terasa seperti mimpi indah yang berasal dari tidur siang hari. Tidak akan pernah jadi nyata, karena hanya datang sesaat saja.
Satya tiba di ruang utama. Senyum Wulan yang sebelumnya terkembang mendadak hilang ketika Satya mengulurkan tangan pada Juwita.
"Istriku."
Rasa cemburu membakar hati. Bahkan, saat Wulan mencoba untuk tetap tenang saja, wajahnya terlihat sangat kesal.
Tentu saja, apa yang ia lihat di depan mata adalah hal yang paling menyakitkan hatinya. Bagaimana tidak? Satya saat ini benar-benar sedang mengagungkan istrinya di depan umum.