Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinta Takdir di Atas
Bau apek dari tumpukan kertas tua yang membusuk menyengat hidung Aria, berbaur dengan debu-debu mikro yang menari malas di bawah pias cahaya remang. Itu adalah impresi sensorik pertama yang menampar kesadarannya.
Kepalanya didera denyut maha dahsyat, seolah ribuan jarum perak tak kasat mata tengah menjahit paksa jutaan helai benang ingatan asing langsung ke dalam labirin neokorteksnya. Ketika kelopak matanya yang berat akhirnya terangkat, yang menyambutnya bukanlah langit-langit putih steril rumah sakit modern atau pendar lampu operasi yang dingin.
Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, dihiasi jelaga dan cat yang mengelupas bagai kulit ular mati. Sungguh sebuah ironi yang menggores ulu hati bagi sesosok jiwa yang terbiasa berselimut kemapanan ilmu medis abad ke-21.
Aria mencoba menggerakkan jemarinya yang kurus. Dingin dan kaku.
Tubuh yang kini ia huni—yang terasa begitu ringkih dan rapuh—adalah milik Aria Evander. Dia adalah putri tunggal seorang Baron yang namanya kini tak lebih dari sekadar lelucon bisu di kalangan aristokrat Kekaisaran Sihir Elgarth.
Keluarga Evander telah lama terperosok ke dalam jurang kebangkrutan yang menganga lebar, terlilit utang yang menggunung setinggi puncak es abadi di perbatasan utara kekaisaran. Di balik keanggunan sutra yang mulai koyak di sudut-sudut gaun tidurnya, Aria merasakan denyut nadi tubuh ini yang lemah, mencerminkan keputusasaan yang mendalam dari sang pemilik asli sebelum jiwanya memudar ke dalam ketiadaan.
Pintu kamar yang lapuk berderit pelan, memecah keheningan yang menyesakkan dada. Seorang gadis muda dengan gaun pelayan yang pudar melangkah masuk dengan ragu. Tangannya yang kasar memegang nampan kayu berisi semangkuk bubur encer yang sudah mendingin.
“Nona Aria... oh, puji Dewi, Anda akhirnya siuman!” suara pelayan itu, Mia, terdengar parau dan gemetar.
Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya yang merah dan sembap, memperlihatkan hari-hari penuh kecemasan yang telah ia lalui.
Aria tidak segera menjawab. Otaknya, yang kini bekerja ganda menyinkronkan dua memori berbeda, memindai ingatan tentang gadis di hadapannya.
Dalam novel fantasi yang pernah ia baca di kehidupan lampau—sebuah karya picisan yang kini bertransformasi menjadi realitas yang menyesakkan—tokoh Aria Evander hanyalah seonggok bidak tak berarti. Ia ditakdirkan mati secara tragis di tiang gantungan, dikorbankan sebagai tumbal politik demi melapangkan jalan bagi sang protagonis wanita, Evelyn Roselia.
Evelyn yang suci, Evelyn yang dicintai seluruh kekaisaran, sementara Aria hanyalah debu hitam di bawah sepatu lars para penguasa.
“Aku baik-baik saja, Mia,” bisik Aria.
Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—terlalu lembut, namun menyimpan ketegasan dingin yang tak biasa.
Ia meremas selimut wol yang kasar di bawah jemarinya. Pikiran tentang kematian tragis yang menantinya di ujung naskah asli membuat darahnya berdesir dingin. Ia menolak menjadi batu pijakan bagi romansa picisan mereka.
Ia menolak mati sebagai catatan kaki yang menyedihkan dalam sejarah kejayaan Evelyn Roselia. Jika dunia ini adalah sebuah panggung sandiwara yang ditulis oleh takdir yang kejam, maka ia harus merebut pena sang sutradara.
Tepat ketika keputusasaan itu nyaris mencengkeram dadanya, udara di hadapan Aria berdesir lembut. Sebuah pendar keemasan, setipis benang sutra, membelah kegelapan kamar.
Dari pusaran cahaya mikro itu, muncullah sesosok entitas kecil yang melayang anggun. Sayapnya tidak terbuat dari bulu, melainkan dari helai-helai cairan hitam pekat menyerupai tinta yang berkilauan di bawah cahaya magis.
Itu adalah Lumi, roh dari pena takdir.
Kehadiran makhluk spiritual itu tidak menghasilkan suara yang mampu didengar telinga biasa, namun bagi Aria, ada getaran magis yang menjalar langsung ke tulang belakangnya. Lumi berputar-putar di atas jemari Aria yang gemetar, meninggalkan jejak abu keemasan yang hangat.
Kehangatan itu perlahan mengusir rasa dingin yang membekukan sendi-sendinya. Seolah-olah, roh kecil itu tengah membisikkan sebuah janji rahasia tanpa suara: *Tulis ulang takdirmu, wahai sang pemilik pena baru.*
Aria menatap telapak tangannya sendiri. Di dunia ini, sihir adalah hak istimewa para dewa dan kaum elite.
Namun, dengan keberadaan Lumi, ia merasakan eksistensi sebuah instrumen tak kasat mata—sebilah pena imajiner yang mampu meretas kode-kode realitas, membelokkan narasi yang telah digariskan oleh sang pencipta dunia ini. Kekuatan magis yang dipancarkan Lumi menegaskan bahwa ia bukan lagi sekadar penonton pasif; ia adalah variabel anomali yang siap mengacaukan seluruh kalkulasi takdir.
Langkah kaki yang berat dan terseret terdengar dari koridor luar, memutus kontak batin antara Aria dan Lumi.
Pintu kayu jati yang lapuk berderit pilu saat terbuka kasar, menampilkan sosok Baron Edward Evander. Pria paruh baya itu tampak seolah telah menua sepuluh tahun dalam semalam.
Bahunya merosot runtuh, jubah beludrunya yang telah pudar warnanya tergantung longgar di tubuhnya yang kian kurus. Bau alkohol murah dan keputusasaan menguar dari sosoknya bagai kabut kelabu yang menyesakkan.
“Aria, putriku...” desis sang Baron parau, suaranya nyaris tenggelam dalam desah angin malam yang menyusup dari celah jendela yang retak.
“Maafkan ayahmu yang tidak berguna ini. Istana... mereka telah menetapkan keputusan. Jika kita tidak mampu melunasi seluruh piutang dalam waktu tujuh hari, tanah leluhur kita akan disita oleh keluarga Grand Duke. Kita akan diusir dari sini seperti anjing kurap.”
Sang Baron menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan yang gemetar. Kesedihan yang pekat menyelimuti ruangan itu bagai kabut musim gugur yang membekukan harapan.
Mia, yang berdiri di sudut kamar, kembali terisak pelan, menyembunyikan wajahnya di balik celemek kusam yang kini basah oleh air mata baru.
Aria tidak menangis. Alih-alih dirundung ketakutan, sepasang matanya justru berkilat tajam di bawah bayang-bayang kelambu ranjangnya.
Di kehidupan sebelumnya, ia adalah seorang calon dokter spesialis yang terlatih untuk tetap tenang di bawah tekanan situasi kritis. Kematian pasien di meja operasi sering kali ditentukan oleh keputusan yang diambil dalam hitungan detik.
Dan saat ini, keluarganya adalah pasien yang sedang sekarat di atas meja bedah takdir. Ia tidak boleh goyah sedikit pun.
Ia menyibak selimut wolnya, membiarkan sepasang kaki telanjang bersentuhan langsung dengan lantai kayu yang sedingin es. Sensasi dingin itu justru memperjelas fokusnya, mengikis sisa-sisa kebingungan yang sempat menggelayuti benaknya.
“Mia,” panggil Aria.
Suaranya tidak lagi terdengar seperti desah lemah seorang putri manja yang meratapi kemalangan. Nada suaranya kini begitu lugas, dingin, dan sarat akan otoritas yang tak terbantahkan.
Mia terkesiap, buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. “Ya, Nona?”
“Bawakan aku tinta hitam terbaik yang masih kita miliki, pena bulu, dan lembaran kulit hewan yang paling tebal. Sekarang juga.”
“T-tapi, Nona... untuk apa semua itu—”
“Jangan bertanya. Lakukan saja,” potong Aria dengan tatapan mata yang begitu dingin dan menusuk.
Tatapannya membuat Mia membeku sesaat sebelum akhirnya mengangguk patuh dan bergegas keluar dari kamar dengan langkah terburu-buru.
Aria beralih menatap ayahnya yang masih terpaku dalam duka, tenggelam dalam penyesalan yang tak berujung.
Di balik kemegahan Kekaisaran Elgarth yang ditopang oleh kekuatan sihir, Aria mengetahui sebuah celah besar yang selama ini diabaikan oleh para penguasa. Sistem medis dan perdagangan ramuan mana di dunia ini masih sangat primitif dan tidak efisien.
Para alkemis kekaisaran hanya mengandalkan intuisi magis yang kasar untuk mengekstrak energi dari tanaman herbal, menghasilkan ramuan penyembuh dengan tingkat kemurnian yang sangat rendah namun dijual dengan harga yang melambung tinggi.
Akibatnya, para ksatria berpangkat rendah di perbatasan utara sering kali mati sia-sia hanya karena infeksi luka sederhana yang tidak tertangani dengan baik.
Dengan basis pengetahuan medis modern tentang sterilisasi, isolasi senyawa aktif, serta optimasi formula kimia, Aria tahu ia bisa menciptakan revolusi yang akan mengguncang pasar kekaisaran.
Ia akan memodifikasi formula ramuan penyembuh sederhana menjadi sebuah produk medis berdaya guna tinggi dengan biaya produksi yang sangat murah. Ini bukan sekadar tentang bertahan hidup; ini adalah perang ekonomi yang harus dan akan ia menangkan.
Beberapa menit kemudian, Mia kembali dengan membawa sebotol tinta hitam pekat dan beberapa lembar perkamen kulit domba yang kasar.
Aria segera duduk di meja kayu yang bergoyang di sudut kamar. Ia mencelupkan ujung pena bulu ke dalam tinta, sementara Lumi melayang di atas bahunya, memancarkan pendar keemasan yang menghangatkan jemarinya yang dingin.
Setiap kali ujung pena Aria menyentuh permukaan perkamen, aliran mana di sekitarnya tampak beriak lembut, membentuk pola-pola geometris yang rumit di udara.
Dengan presisi seorang ahli bedah yang sedang membedah jaringan tubuh, Aria mulai menuliskan diagram ekstraksi herbal, memisahkan zat aktif penghenti pendarahan dengan metode distilasi bertingkat yang belum pernah dikenal di Elgarth.
Ia tidak hanya menulis formula; dengan bantuan manipulasi realitas dari Lumi, setiap kata yang ia goreskan seolah mengunci kebenaran baru ke dalam hukum alam dunia ini, mengubah struktur molekul cairan yang akan ia ciptakan nanti menjadi kenyataan ilmiah yang tak terbantahkan.
“Evelyn Roselia,” batin Aria sembari menggoreskan garis terakhir pada diagramnya.
Senyum sinis terukir di sudut bibirnya yang pucat.
“Kau boleh memonopoli cinta dari para pangeran dan ksatria agung dengan kepolosan palsumu. Namun, aku yang akan memonopoli jalur nadi kehidupan kekaisaran ini. Mari kita lihat, siapa yang akan bertahan di atas papan catur ini ketika naskah yang kau banggakan itu telah kuubah sepenuhnya.”
Di luar jendela, langit Elgarth yang semula temaram kini perlahan berubah warna menjadi ungu pekat yang mengerikan—sebuah pertanda alam akan datangnya badai mana yang dahsyat yang biasa melanda wilayah utara.
Angin kencang mulai melolong, memukul-mukul daun jendela kayu yang rapuh hingga berderit keras.
Namun, di dalam kamar yang sunyi itu, Aria Evander tetap berdiri tegak. Ia menatap lembaran perkamen di tangannya yang kini memancarkan cahaya keemasan sebelum akhirnya meredup sepenuhnya, menyimpan rahasia besar yang akan mengubah jalannya sejarah.
Gulungan takdir yang baru telah terbuka. Dan ia, dengan pena tak kasat mata di tangannya serta ilmu pengetahuan modern di kepalanya, siap menuliskan bab pertama dari kebangkitannya sendiri.
Kekaisaran Elgarth tidak akan pernah sama lagi setelah malam ini.