WARNING hanya untuk 21+ 🔥🔥🔥 !!!
Keadaan kacau ketika penggerebekan di sebuah club malam, Lana, Sita, Maya, Dion, Putra, Teguh, Marvin dan Surya kocar kacir terpencar yang tadinya satu meja mereka buyar semua entah dimana mereka berada. Mereka semua yang ada di club berusaha keras keluar dari tempat itu berlari sekuat tenaga, bersembunyi untuk menyelamatkan diri dari kepungan razia rutin dari kepolisian.
Karena panik Lana dan Surya bersembunyi di gudang. Maya, Marvin dan Dion berada di dapur club sedangkan Sita, Teguh dan Putra berhasil meloloskan diri keluar dari parkir dan bersembunyi di mobil dan ketika aman mereka pergi meninggalkan mereka semua. Ya memang benar persahabatan kadang terpisah saat razia, disitulah kokoh dan rapuhnya persahabatan dibuktikan. Polisi menyidak sampai dapur dan tak terelakkan Maya, Dion dan Marvin tertangkap dan di gelandang ke Polsek. Seorang satpam karena ingin menyelamatkan miras harus mengunci gudang agar selamat dari razia, tanpa tau di dalam ada Lana dan Surya. Akhir Masa remaja saat yang indah adalah di puncak kelulusan, yaa mereka merayakan kelulusan mereka di club malam, sebuah perayaan untuk melanjutkan hidup mereka atau masalah baru dalam kehidupan mereka. Bagaimana nasib mereka? Dan juga nasib Lana dan Surya yang harus bermalam di gudang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALSIB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback : Baby
Pagi ini mentari terbalut mendung, udara sejuk merasuk ramah dengan kicauan burung.
Dion paling awal bangun dan menggelengkan kepalanya melihat cara tidur mereka. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi.
Kadang- kadang mereka ini nggak dewasa. Dion
Lana tidur telentang bebas dengan paha kirinya didada Surya, tangan kirinya di wajah Surya.
Sedangkan kaki kanan Surya menindih kaki kanan Lana, tanganya memeluk kaki lana yang ada didadanya.
Cekrek.. cekrek.. cekrek..
Dion mengabadikan lagi mereka berdua.
Kalian berdua nggak pernah berubah, Dasar! Nggak ada romantis- romantisnya . Dion tersenyum geli.
Dion menyalakan alarm dengan volume kencang yang diletakkan di dekat telinga mereka.
Surya bangun dan langsung duduk terkejut, celingukan. Tapi Lana membalikkan badannya dan menutup telinganya dengan bantal dan kembali tidur. Surya melanjutkan tidurnya dan memeluk Lana.
Cekrek.. cekeek.
Dion cengar cengir kembali mengabadikan moment itu. Lalu dia pun mematikan pendingin ruangan dan menyembunyikan remote dan meninggalkan kamar itu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Surya dan Lana mulai gelisah kepanasan, Lana mendorong tubuh Surya agar menjauh darinya, karena ruangan kamar ini menjadikan mereka berkeringat.
Lana dan Surya sibuk mengibas- ngibaskan kaos mereka, akhirnya mereka duduk walaupun agak berjauhan.
"Iiiihhh Suryaaa kenapa gerah gini sih.. Lo belom bayar listrik yaaa" rengek Lana kesal.
"Enak aja lo.. mana ada gue telat ngurusin beginian" kata Surya juga kesal.
"Ini turun kali nih listriknyaa.. Dayanya kurang kali nih.. iihhh geraah Sur" kata Lana cemberut kesal.
"Enak aja... Lo bikin konser disini juga nggak bakal turun listrik gue.. ini dari pusatnya nih" kata Surya kesal.
Surya bangkit berdiri melihat map coklat di nakas lalu mengambilnya dan mengibaskannya ke arah Lana.
Lana mengambil bantal dan merebahkan tubuhnya posisi tengkurap namun memiringkan kepalanya lalu memejamkan matanya, Surya meraih bantal dan merebahkan tubuhnya dengan posisi telentang.
Kepala mereka beradu dengan posisi berlawanan yang tidak sejajar. Kepala Lana menghadap ke wajah Surya, mata Surya terpejam dengan tangan yang masih mengibas- ngibas map coklat.
Dion masuk kamar dan kembali mengabadikan moment mereka.
"Ternyata yaaa.. Cinta sejati itu bisa dipisahkan oleh pendingin ruangan.. dan disatukan oleh sebuah map kertas.. Hahahahaha... " kata Dion tertawa keras membuat kedua mata mereka terbuka secara bersamaan.
Surya menoleh ke arah Lana dan keduanya melempar senyum menahan tawa yang dibuat oleh Dion.
Dion membuka pintu samping yang menuju balkon, sinar matahari pun mulai memasuki kamar, udara pagi yang menyejukkan menyeruak masuk membawa kesejukannya. Dion duduk di balkon dengan memainkan
Lana bangun dan duduk ditepian ranjang memencet hidung mancung Surya dan disambut senyuman hangat Surya, lalu Lana beranjak menuju dispenser yang ada dikamar meminum air putih lalu menuju toilet, tak lama Lana keluar dan para pelayan sudah di kamar membawa trolly sarapan mereka.
"Mbak Wati, bawa kesini aja trollynya" perintah Dion.
"Baik Tuan" kata pelayan yang panggil dion.
Lana menyusul Dion di balkon lalu duduk dan mengangkat kedua kakinya di kursi balkon.
"Nona muda mau minum apa?" kata pelayan.
"Hmmm kopi susu aja deh" kata Lana membuka tutup makanan dan matanya tertuju pada satu kue sus, matanya seperti melihat berlian.
"Silahkan Nona muda" kata Pelayan.
"Terima kasih Mbak" kata Lana.
"Lan, gue mau lo yang bikinin kopi" kata Surya tiba- tiba muncul dan duduk di samping Lana.
"Manja amat boss " kata Dion menyeruput kopi nya.
Lana membuatkan kopi hitam dengan takaran satu banding setengah, satu sendok kopi dan setengah sendok gula, lalu diberikan kepada Surya.
"Thankkksss God.... this is amazing!" teriak Lana saat memakan kue sus dan menyeruput kopinya.
"Enak ya Lan suasananya, pagi- pagi anginnya sejuk, ada kopi ada sarapan...." kata Dion.
"Dan ada lo Lan, Perfect banget pagi gue nih" kata Surya memotong perkataan Dion.
"Apalagi ada bonusnya morning kiss gitu.. beuhhh itu amazing.. perfect banget" tambah Surya lagi mengerlingkan matanya.
"Kan udah tadi gue mencet hidung lo" kata Lana
"Dari mana mencet idung di sebut morning kiss" kata Surya menyesap kopi buatan Lana.
"Eh itu istimewa tau, kan jemari gue bekas garuk bokong gue. Hahahahaha" kata Lana tertawa.
Wuuuuuurrrssss..
Surya menyemburkan kopinya diringi ledakan tawa Dion dan Lana.
"Lanaaaaa... jorokk bangett sihh lo!" kata Surya memegang hidungnya kemudian mengendus jari tangannya membuat Lana dan Dion tertawa terpingkal- pingkal sampai mengeluarkan airmata.
"Kurang ajar lo yaa...." kata Surya memeluk paksa dengan satu tangan dan tangan yang lain mengelitiki pinggang Lana.
Dion tak mau melewatkan kesempatan itu dan berswafoto dengan background mereka berdua setelah itu mengambil video mereka
"Ampunnnn boosskuuu.. aaaa... hahahahah iyaaa ampunnn.. hahahhaha... " jerit Lana.
"Panggil gue yang bener" Surya
"Hahahhaah iyaaa ampunnn Suryaa ampun hahaha" Lana
"Bukan itu.." Surya.
"Hahahahaha ampunn guardiann aaangg... hahahah" Lana.
"Bukann... bukaan yang itu..." Surya.
"Hahahaha iya baby... sayangku.. ampunnnn baby.. hahahah ampunnn" kata Lana memberontak menjerit- jerit.
Cupppppptt
"Itu baru bener.. " kata Surya mencium pipi Lana dengan keras.
"Curaang lo dasar maen fisik.. tangan lo mulai nggak bisa dikondisikan tuh" kata Lana cemberut manja.
"Syukurinnn" kata Surya menjulurkan lidahnya.
"Kan gue belom nerusin, tangan bekas garuk bokong tapi bohong.. iihhhh" kata Lana membuat Surya dan Dion gantian tertawa.
"Kita swafoto dulu yukkk..." kata Dion.
Mereka berswafoto ria dengan berbagai macam gaya yang tidak membosankan.
"Gue pinjem dong buat selfie sendiri.. bosen ama kalian" kata Lana.
"Nih punya gue aja" kata Surya menyodorkan ponselnya.
Lana berjalan kesana kemari berswafoto dengan bermacam background di balkon itu.
"Itu kalau di bawah ada air mancur terus dikelilingi kebun bunga pasti keren" celetuk Lana.
"Dionn.." kata Surya mengerlingkan matanya memberi kode dan dijawab acungan jempolnya.
"Nanti kirim ya kalau ponsel gue udah ama gue" Kata Lana mengembalikan ponsel Surya.
"Gue mau mandi dulu, nanti keburu siang buruan ayoo berangkat" kata Lana beranjak ke kamar mandi.
Jam menunjukkan pukul 8 pagi.
Setelah beberapa lama, Lana keluar dengan bathrobe menuju walk in closet lalu membuka kopernya. Sackdres putih tanpa lengan dengan motif bunga- bunga merah marun atas lutut, dipilihnya untuk perjalanan ke rumah nenek. Bu Laras benar- benar membelikan semua keperluannya dengan baik, dari underwear, blouse, piyama, celana jeans, flatshoes putih dan tas selempang dengan warna senada.
"Lana, ini hadiah kelulusan dari gue" kata Dion memberi papper bag kecil.
"Apaan nih... gue buka ya" kata Lana penasaran.
"Wow.. dompet!! Makasihhhh Dion.. wahh jadi lengkap semua dong ini" kata Lana senang.
"Nanti gue kasih hadiah juga buat lo ya.. bentar gue ganti dulu" kata Lana.
Dion meninggalkan walk in closet menuju balkon, sementara Surya keluar kamar mandi dengan handuk di lilit di pinggangnya dan handuk berukuran sedang, melingkar dilehernya untuk mengeringkan rambutnya, di menuju walk in closet juga dan mengagetkan Lana yang sedang memakai underwear.
"Aawww Suryaaa.. bisa nggak sih nggak ngagetin.. awass minggir gue mau pake baju dulu" kata Lana menutup badannya dengan bathrobe yang tergeletak di kursi.
"Apaan sih, ditutup- tutupin gitu, gue udah liat semua ngapain ditutupin" kata Surya.
Sesaat membuat Lana terpesona dengan tubuh Surya yang hanya di balut handuk. Bekas ciumannya masih terlihat jelas disana membuat Lana gugup.
"Yaa udah deh gue ganti di kamar mandi aja deh" kata Lana seraya menuju kamar mandi namun tubuhnya dengan cepat di sambar Surya.
Satu tangan menahan tengkuknya saat bibirnya mendarat di bibir Lana dan tangan yang lain memeluk pinggang Lana. Bathrobe yang Lana pegang pun terlepas dari genggamannya.
Kehangatan merasuk seketika ke dalam tubuh mereka, Lana memeluk erat tubuh Surya lalu melepaskan, nafas mereka memburu, mata mereka saling berpandangan penuh arti.
Saat mau melanjutkan aksinya Lana mendorong tubuh Surya, meraih bathrobenya dan meninggalkan Surya ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
"Laannn.. tanggung jawab dong" kata Surya setengah berbisik menunjuk juniornya.
"Nggak enak, ada Dion" kata Lana dengan mata melotot.
"Huuuhhhhf... kejem lo Lan" kata Surya beringsut berganti pakaian. Lalu Surya memakai celana pendek cargo berwarna coklat tua di padu kaos putih polo.
Lana keluar dari walk in closet dengan penampilan mempersona, mata Surya tak berkedip melihatnya.
Walaupun tanpa make up, Lana sangat cantik. Lana mendekatinya dengan senyuman indahnya.
"Hehehe gue dibeliin dompet nih ama Dion.. hadiah kelulusan.. tapi nggak ada isinya Sur" bibir mengerucut, akting memelas yang membuat Surya dan Dion tergelak.
"Hahahah.. dasar matre.. buat apa emangnya, lo nggak tenang nggak megang duit? Kan ama gue jadi lo tenang aja Non" kata Surya.
"Iiihhh bukan matre, pamali tau dompet kosong tuh, gue kan mau beliin oleh- oleh buat nenek, nanti gue ganti kok, lo nggak ada yaa.. cckk ahh.. kasian.. pulang ke rumah gue dulu kalau gituu.. ambil duit dulu" ejek Lana.
"Hahahaha kurang ajar.. nggemesinn banget sih lo.. ampunnn... terus- terusin aja jail, ntar gue cium ampe angus.. baru tau rasa lo" kata Suryaa memeluk Lana dari belakang dengan gemas.
"Buruan mana duit buat isi dompet gue, pelit banget sihhh" kata Lana diacak- acak rambutnya oleh Surya.
Surya meraih dompetnya dan mengeluarkan 10 lembar uang lalu memberikannya kepada Lana.
"Iiihh kok dollar sih" kata Lana
"Kan uang kata lo, ya itu uang.. masukin ke dompet buruan.. nanti lo mau apa aja bilang ya baby.. lucu juga ya kalau dipanggilan baby" kata Surya jail.
"Iyaaa iyaaa baby.. makasih duitnyaaa... cupppppptt" kata Lana seraya menyambar pipi Surya yang membuat hati mengerjab bahagia.
"Yukkkk berangkat... di rest area beli oleh- oleh ya Yon, jangan ke mall.. takutnya ketemu Marvin dijalan" kata Surya.
"Beres bos" kata Dion.
Mereka berangkat menuju rumah nenek Lana, yang sudah di rencanakan dan diketahui keluarga Lana dari jauh- jauh hari. Karena Lana ingin meminta doa restu dan berpamitan kepada neneknya untuk berkuliah di ibukota.
Setelah menemukan oleh- oleh yang dicari, mereka melanjutkan perjalanannya yang di tempuh kurang lebih 2 jam.