NovelToon NovelToon
Bad Boy Agent

Bad Boy Agent

Status: tamat
Genre:Mata-mata/Agen / Bad Boy / Mafia / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:263.3k
Nilai: 5
Nama Author: Naya_handa

Ketenangan seorang gadis depresi bernama Gayatri mulai terusik setelah kedatangan seorang siswa baru yang masuk ke sekolahnya.
Tampan, gagah, keren dan cerdas, membuat sosok Shaka mendadak populer di sekolah.
Shaka mendekati banyak siswi di sekolahnya untuk mencari tahu informasi penting. Tanpa teman-temannya tahu, Shaka adalah seorang agent yang sedang melakukan penyamaran untuk mengungkap kasus pembullyan oleh genk motor yang telah merenggut nyawa adiknya.
Berbeda dari siswi lainnya, Gayatri begitu menghindari sosok Shaka hingga menguji kesabaran sang agent.
Bisakah mereka menemukan pelaku pembunuhan yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naya_handa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman baru

“Gimana penampilan saya?” tanya David saat sudah berdiri di depan gerbang sekolah bersama Alya. Laki-laki terlihat gagah dengan seragam barunya. Wajahnya terlihat muda lagi setelah kumisnya di cukur habis. Dua kancing bagian atas sengaja dari seragamnya, ia buka memberi kesan laki. Ia juga memakai kacamata hitam agar terlihat keren.

“Emang abang dulu sekolah begini?” tanya Alya, yang sama-sama mengenakan seragam barunya.

“Nggak juga. Cuma dulu waktu aku sekolah di SMK, yang mencuri perhatian itu yang penampilannya seperti ini.” David menyahuti dengan bangga. Sambil berkacak pinggang sementara kaki kanannya lebih depan di banding kaki kiri dan tengah ia gerak-gerakkan.

“Tapi penampilan mereka normal-normal aja sepertinya. Cara mereka berpakaian juga sopan, mencerminkan kalau ini sekolah yang bagus dan tingkat disiplinnya tinggi. Lagi pula, kalau kita terlalu menarik perhatian, apa tidak bahaya?” Alya memberi masukan pada seniornya.

“Em, iya juga sih.” David melepaskan kaca mata hitamnya lalu ia taruh di sela kancing seragamnya. Ia memperhatikan para siswa yang berlalu lalang dan baru datang. “Tapi kayaknya kita harus lebih belajar deh cara bicara di sini. Jangan kaku begini. Harus ada unsur gaul-gaulnya dikit, minimal manggil lo gue lah,” imbuh David.

“Memangnya boleh saya manggil abang dengan panggilan lo? Tidak akan di suruh push up atau jalan jongkok kan?” cerca Alya yang sedikit ketakutan.

“Nggak lah!” David tertawa kecil mendengar pertanyaan Alya. “Ini demi mendalami peran. Okey?”

“Siap bang!” tegas Alya.

“Gak perlu hormat juga.” David menepuk tangan Alya yang refleks memberinya hormat pada sang senior.

“Oh ya, lupa.” Alya segera menurunkan tangannya.

“Okey, ingat baik-baik peran kita. Kita berperan sebagai anak SMA umur delapan belasan. Lupakan pangkat dan jabatan, kita berteman di sini. Anggap ini misi pertama kamu melakukan pengintaian. Target kita adalah membaur dengan para siswa. Jangan memicu konfrontasi apalagi pertikaian antar genk. Paham?” David kembali mengingatkan juniornya.

“Siap!” Alya langsung sikap sempurna.

“Kurang-kurangi bilang siap begitu. Ayo masuk!” ucap David seraya menepuk bahu Alya. Ini misi pertama Alya melakukan pengintaian, masih banyak hal yang perlu gadis ini pelajari.

“Iya Bang.”

“Panggil David… Daaaa-Viiidd… abang-abang mulu,” gerutu David yang berjalan lebih dulu masuk ke gerbang sekolah. Ia sedang menikmati suasana riuh para siswa yang saling berbincang dengan kawan-kawannya.

Di belakangnya ada Alya yang mengekori dan sedang berlatih cara memanggil David. Diam-diam gadis ini juga mendengarkan obrolan antar siswa yang terdengar ringan dan tidak kaku. Sedikit banyak ia mulai menangkap cara berinteraksi di tempat baru ini.

“Permisi,” panggil David pada seorang gadis yang baru tiba. Gadis ini terlihat tergesa-gesa melepas helmnya.

Gadis itu adalah Gayatri, ia menoleh dan menatap David beberapa saat tanpa niatan untuk menjawab.

“Wiihh… pagi cantik. Kenalin, David.” David segera mengulurkan tangannya saat ternyata gadis yang ia sapa terlihat sangat cantik. Dahi gadis itu mengernyit dan menatap tangan David yang terulur.

“Gak boleh kenalan nih? Gue siswa baru di sekolah ini.” David berbicara sambil tetap mengulurkan tangannya pada Gayatri.

Gayatri tetap tidak menjawab, ia malah melirik Alya yang baru menyusul David dan berdiri di samping laki-laki ini. Gadis itu tersenyum pada Gayatri dan Gayatri hanya mengangguk.

“Dia Alya, temen gue.” David memperkenalkan Alya pada Gayatri.

Gayatri tidak merespon seperti biasanya, membuat David dan Alya saling menoleh.

“Anak baru ya?” tanya Zaidan yang baru datang. Remaja ini datang di waktu yang tepat.

“Oh ya. Gue David dan ini Alya. Kami murid baru di sekolah ini. Boleh tau ruang gurunya sebelah mana?” David segera bertanya. Sesekali ia masih melirik Gayatri yang hanya diam, pikirannya menyimpulkan kalau gadis ini tuna wicara.

“Lo masuk dulu aja, nanti ada tangga ke atas, lo ambil yang ke kanan. Ruang gurunya ada di sana. Kelas berapa lo?” Lagi Zaidan bertanya.

“Kelas 3 SMA.” David menjawab dengan ragu.

“Oh, kelas XII ada di lantai dua, masih satu area sama ruang guru. Naik dulu aja, nanti juga lo ketemu sama bapak-bapak yang hobby bawa pemukul panjang. Nah itu yang bakal nganterin lo ke kelas,” terang Zaidan.

“Okey, makasih.”

“Santai aja. gue duluan ya, yuk Aya!” ajak Zaidan sambil menarik tangan Gayatri.

David hanya mengangkat tangan kanannya seraya tersenyum sebagai bentuk salam perpisahan dengan dua siswa tadi. Tangannya kini beralih mengusap dagunya.

“Jadi gadis tadi panggilannya Aya. Namanya Gayatri. Kayaknya bisa temenan sama kamu, namanya udah mirip. Tapi nama lengkapnya siapa ya?” David jadi penasaran pada sosok gadis cantik yang terus membisu saat ia tanya.

“Abang suka?” Alya menoleh seniornya yang masih memperhatikan arah berlalunya dua siswa tadi.

“Dia gadis yang menarik,” sahut David singkat. “Yuk akh, kita ketemu dulu gurunya.” David segera menyusul dua siswa tadi menuju ruang guru. Alya hanya mengekori dari belakang.

Dua siswa baru itu di antar ke kelasnya dan ternyata di tempatkan satu kelas dengan Gayatri. David duduk di barisan kiri dekat jendela sementara Alya di dekat Wanda. Pick me girl yang merasa terusik dengan keberadaan anak baru itu, tampak mengerlingkan mata.

“Lo pindahan dari mana?” tanya Wanda pada Alya. Matanya menyelidik memperhatikan sosok Alya dari atas hingga ke bawah.

“Surabaya,” Alya menjawab sesuai yang tertulis pada berkas palsunya.

“Oo… tapi muka lo kayak muka orang manado ya.” Rima ikut berbicara di belakangnya.

“Iya, campuran.” Alya terlihat gugup karena tebakan gadis di belakangnya tepat.

“Pacaran lo sama dia?” Wanda menunjuk dengan sudut matanya pada sosok remaja pria yang duduk jauh darinya.

“Nggak, kami cuma berteman.” Alya menjawab seadanya.

“Udah punya pacar belum dia?” Wanda semakin penasaran. Sosok David cukup menarik untuknya.

“Lo apaan sih? Berisik banget tau gak?!” ada Indah yang lebih dulu menimpali pertanyaan Wanda sebelum Alya menjawabnya.

“Iyaa-iyaaa… Namanya juga usaha. Dia cakep tau, kayaknya badannya atletis kayak Shaka.” Wanda jadi memandangi David di kejauhan sambil menopang dagunya dengan tangan kanan.

Alya cukup terkejut mendengar nama Shaka di sebut. Bibirnya gatal ingin bertanya, tetapi terpaksa ia bungkam lagi karena posisinya sekarang sebagai siswa baru, terlalu aneh kalau tiba-tiba bertanya tentang Shaka. Ia harus membaca situasi lebih dulu di sekolah ini.

Di rumahnya Shaka baru selesai mandi. sambil menghanduki rambutnya ia memeriksa ponselnya. Sepi sekali, tidak ada pesan ataupun panggilan.

“Pagi ladies… Ada tugas lagi gak hari ini?” tanya Shaka di group yang hanya bertiga itu.

Belum ada yang membaca pesannya. Sepertinya dua siswi ini sedang mengikuti kelas. Sambil menunggu kabar dari kedua temannya, Shaka mulai berpakaian. Mengeringkan rambutnya beberapa saat dengan handuk dan setelah itu mengambil roti yang sudah ia siapkan untuk sarapan. Ia membawanya ke balkon kamar, menaruhnya di meja bersama beberapa barang yang ia tempatkan dalam wadah dan di bungkus dalam plastik-plastik kecil.

Sambil menikmati sarapannya, Shaka memperhatikan satu per satu barang bukti yang sudah ia kumpulkan. Ia membaginya dalam beberapa plastik. Ada satu benda yang menurutnya menarik, kecil dan tipis. Kalau di perhatikan ini mirip potongan kuku. Kunyahan Shaka terhenti saat otaknya berpikir cukup keras.

“Apa ini kukunya Rasya?” gumam pria itu.

Shaka membayangkan saat pelaku menyiksa adiknya, sepertinya Rasya mencengkram pelaku dengan erat, hingga ada potongan kuku yang tertinggal. Bisa juga potongan kuku ini terlepas saat Rasya di seret di jalanan beraspal dan mencoba berpegangan pada benda apa pun. Cengkramannya yang kuat membuat kukunya patah.

Shaka mencatat dua kemungkinan itu. Sepertinya ia harus melakukan pemeriksaan lebih detail pada kuku ini. Hal berikutnya yang ia perhatikan adalah peniti besi dengan bagian atas seperti bros atau lencana. Ada sisa lem yang masih menempel di sana, pasti ada sidik jari yang masih tersimpan. Benda ini pun Shaka catat.

Bukankah semua benda ini pasti berhubungan dengan kematian Rasya?

***

Suasana ramai jelas terasa di kedai soto milik Mpok Mira. Wanita itu terlihat sibuk melayani pelanggannya. Jam pergantian shift pegawai pabrik memang menjadi salah satu waktu kedatangan para pengunjung.

“Lo berapa porsi?” tanya Mira pada salah satu pelanggan yang menghampirinya.

“Empat mpok, di bungkus aja.”

“Iyak, tunggu bentaran.” Mira segera berpindah ke depan tungkunya, membuat empat porsi soto sesuai pesanan.

“Mpok ekstra kuah dong, tapi jangan di kasih daun bawang ya,” pelanggan itu kembali meminta.

“Iyaakkk...” Mira menambahkan satu bungkus kuah soto untuk pelanggan setianya. Mengikat talinya dengan kuat lalu memasukkannya ke dalam kresek.

Di sela kesibukannya, terdengar suara dering telepon di meja kasir. Mira segera menyelesaikan pesanannya dan membawanya ke meja kasih.

“Bentar ya,” ucap Mira pada pelanggannya. “Perasaan udah gue nonaktifin pesanan online, kenapa masih ada yang telepon?” gumam Mira sambil meraih gagang teleponnya.

“Halo, kedai Mpok Mira di sini. Sekarang kagak ngelayanin pesan antar. Kecuali pake kurir sendiri,” ucap Mira sebelum mendengar pesanan orang tersebut.

Tidak ada suara yang terdengar hanya ada suara deru napas seseorang di seberang sana.

“Halo, lo mau pesen atau apa?” Mira mengulang pertanyaannya, tetapi lagi tidak ada suara yang terdengar selain kekehan seseorang yang membuat bulu kuduk Mira meremang.

“Heh! Lo jangan becanda sama gue! Mau apa lo?” seru Mira yang kesal. Suaranya yang keras membuat pelanggan terhenyak.

“Mpok Mira!!!” Seorang pelanggan yang duduk di dekat jendela, berseru di waktu yang bersamaan.

Mira segera menoleh, matanya membulat saat melihat jendela kedainya ada yang menyiram dengan tinta berwarna merah. Mira segera menutup teleponnya dan berlari menuju depan kedai.

“Siapa yang nyiram?” seru Mira dengan mata menyalak sambil berkacak pinggang. Dinding kedainya kotor dengan cairan berwarna merah dan tercium bau amis.

“Gak tau, orang pake motor,” ucap pelanggan tersebut.

“Brengsek! Ini bukan tinta, tapi darah,” gumam Mira yang menatap tidak habis pikir. Lagi, teror itu datang dan entah siapa pelakunya.

1
Eka Kurnia Sari
kereeennn ceritanya 👍👍👍
Siti Nina
Ya ampun ngakak 😂😂😂
Siti Nina
oke 👍👍👍
Anis Mawati
gayatri sekar ayu
Anis Mawati
kyknya jodohnya galih si alya
Anis Mawati
😭😭😭
Anis Mawati
serang
Anis Mawati
ikut tegang
Anis Mawati
kayaknya dion dech,trus si galih dkambing hitamkan
Anis Mawati
ruwet mikirin benang kusut,ceritanya seru thor
Anis Mawati
kakanya aya jd kmbing hitam perbuatan dion deh kuaknya
Anis Mawati
ikut tegang q thor
Anis Mawati
jangan2 itu yg bunuh rasya
Anis Mawati
pa g da dokter dsana smpai dbwa kedokter hewan
Anis Mawati
motor rasya
Anis Mawati
gayatri saksi meninggalnya rasya
Anis Mawati
muka shaka baby face y thot😁😁😁
Supriyatijunaidi Wicaksono
Luar biasa
Kirana di Nabastala
ceritamu keren banget Thor👍🏾
Kirana di Nabastala
keren bingit kak 😱💪🏾💪🏾💪🏾😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!