NovelToon NovelToon
Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan

Bereinkarnasi Sebagai Penjahat Sampingan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Reinkarnasi / Barat
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: J

Cerita Generik tentang reinkarnasi di dunia lain dengan gimik sistem ala-ala game.
.
Arga mati tertabrak truck (standar awalan kisah isekai) kemudian berienkarnasi di dunia yang serupa dengan game favoritnya, sebagai Argeas Danae, seorang Penjahat Sampingan, yang akhirnya akan mati di tangan tokoh jagoan.
.
Ikuti kisah Arga/Argeas dalam upayanya menghindari kematian menggunakan pengetahuan tentang seluk beluk dari game favoritnya tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan

Pada akhirnya Argeas dan Evangeline bersama rombongan Jack memutuskan untuk keluar dari Gua Kristal dan melanjutkan pembicaraan sembari makan siang.

Mereka membuat lingkaran kecil di sabana tak jauh dari mulut gua.

"Sekarang akan ku perkenalkan mereka secara resmi. Mereka adalah Argeas dan Evangeline. Calon menantu dan putri bungsu Marquis Lavis." Jack memperkenalkan Argeas dan Evangeline kepada teman-temannya.

"Ah... jadi ini Argeas Danae yang terkenal itu. Orang yang lahir dengan class [Arcmage] memang lain dari yang lain," ucap pemuda dengan pakaian kesatria menyahut.

"Perkenalkan aku Gustave Orion. Class ku [Rune Knight]. Dan aku adalah ketua mereka," lanjutnya kemudian memperkenalkan diri.

"Ketua?" tanya Evangeline terlihat tak mengerti.

"Ya, kami tergabung dalam Kelompok Petualang yang terdaftar dengan nama Bintang Api," ucap Sophie menjawab.

"Oh, begitu." Evangeline mengangguk paham.

"Kalau aku David York. Class ku [Brawl Fighter]." Pemuda dengan pakaian Petarung Jarak Pendek yang kini mengenalkan diri.

"Kalau boleh ku tahu dimana kau mendapatkan sarung tanganmu tadi?" lanjut pemuda itu dengan pertanyaan yang tampaknya sudah sedari tadi ingin ia tanyakan.

"Oh, sarung tangan itu aku dapat dari kenalanku," bohong Argeas. Karena tidak mungkin ia berkata jujur bahwa ia mendapatkannya setelah mengalahkan 3 ekor naga.

"Hm... Apa kau berniat menjualnya? Kalau iya, jual padaku saja. Aku akan membelinya dengan harga tinggi." Pemuda bernama David itu tampak tertarik dengan sarung tangan tersebut.

"Maaf, tapi aku tidak berniat menjualnya," ucap Argeas menjawab.

'Memang bisa setinggi apa kau menghargai [Adrammelech's Wrath]?' batinnya kemudian.

"Ah, sayang sekali. Tapi beri tahu aku bila kau berubah pikiran." Terlihat David belum patah harapan.

"Baik," jawab Argeas berbasa-basi.

"Sudahlah Vid. Cari sarung tanganmu sendiri," sahut pemuda lain.

"Namaku Marco. Marco Persi. Seperti yang bisa kau lihat class ku [Lancer]," lanjut pemuda tadi memperkenalkan diri seraya menunjukan tombaknya pada Argeas.

"Dan aku Orland Maehem. Seorang penyembuh. [Holy Mage]," susul pemuda yang lain lagi ikut memperkenalkan diri.

"Kau bisa memanggilku Sylvi. Aku seorang [Ranger]," timpal gadis dengan pakaian pemburu yang memperkenalkan diri dengan santai.

"Salam kenal semuanya." Argeas dan Evangeline menyapa rekan-rekan Jack dan Sophie dengan sopan.

"Lalu sedang apa kalian di Gua Kristal ini? Apa kalian sedang mencari mineral?" Jack kemudian bertanya.

"Benar kak Jack. Aku dan Evangeline sedang mengumpulkan mineral untuk bahan pembuatan Item. Sampai kemudian kakak-kakak sekalian keluar dari ruangan monster tadi." Argeas menjawab.

"Ya. Kami mengambil tugas dari untuk melakukan pembersihan di Gua Kristal itu." Jack menjawab.

"Tapi malah kau yang berhasil menyelesaikannya." Gustave menyahut.

"Saya benar-benar minta maaf." Argeas benar-benar merasa bersalah. Karena menurutnya, dia baru saja mencuri target seseorang. Hal yang tidak etis dilakukan sebagai seorang gamer.

"Ya, mau bagaimana lagi, toh kami juga sangsi bisa mengalahkan bos monster tadi bila hanya bertujuh saja." Kembali Gustave menjawab mencoba membuat Argeas merasa lebih baik.

"Apa keluargamu mengetahui tentang kemampuanmu itu, Ar?" Kali ini Sophie yang bertanya. Tampak benar-benar penasaran.

"Ya. Mereka tahu." Argeas menjawab.

"Berarti Regina juga tahu?" Kembali Sophie bertanya.

Yang dijawab Argeas dengan anggukan.

"Wah, si Regina itu benar-benar luar biasa. Bisa-bisanya dia tidak tergoda untuk menceritakan hal sebesar ini kepadaku." Terdengar sedikit kekecewaan dalam ucapan Sophie. "Apa dia tidak ingin membanggakan adiknya?" sewotnya kemudian.

"Dan sekarang adanya Rubah Elemental tadi jadi masuk akal setelah melihat bagaimana kau menggunakan [Quagmire] untuk menenggelamkan Coral Orchid tadi." Jack menyahut.

"Ya, sebenarnya itu bukan Coral Orchid. Melainkan Hellish Orchid." Argeas mengoreksi.

"Benarkah? Apakah itu varian dari Coral Orchid? Aku belum pernah mendengarnya sebelum ini." Gustave terlihat sedikit tak percaya.

"Aku juga tidak tahu. Tapi Pemberitahuan menyebutkan itu adalah Hellish Orchid," balas Argeas.

"Mungkin itu monster yang belum tercatat karena memang belum pernah ada yang melawannya sebelum ini? Mengingat {El-Maya} memang belum pernah sekalipun ditaklukan sejak pertama ditemukan," sahut Jack dengan dugaan.

"Jadi itu monster baru yang belum terdokumentasikan?" Kali ini Orland si penyembuh yang berucap.

"Sayang sekali lenyap begitu saja. Kita jadi sulit untuk mempelajarinya," lanjutnya dengan sedikit kecewa.

"Benar. Bila tidak ada bukti nyata kita juga tidak bisa melaporkannya ke untuk didokumentasikan." Sylvi menambahi.

"Hm... untuk yang itu sepertinya aku memiliki sesuatu yang bisa digunakan sebagai bukti." Tiba-tiba Evangeline berucap.

"Benarkah?" ucap seluruh anggota Kelompok Bintang Api itu nyaris bersamaan.

"Jadi sebelum benar-benar menghilang, monster coral tadi sempat menjatuhkan material meski posisinya di dalam tanah. Dan untungnya Ruby sempat mengambilkannya untuk ku." Evangeline memberi penjelasan lebih rinci.

"Apa kau serius?" Para anggota Bintang Api terlihat masih belum benar-benar percaya.

"Aku akan membagikan masing-masing satu dari jenis material baru yang dijatuhkan monster itu." Evangeline berinisiatif.

"Apa monster itu menjatuhkan banyak material yang belum terdokumentasi?" Orland bertanya dengan wajah penuh semangat.

"Sepertinya ada 3 Nethicite yang belum pernah aku lihat sebelumnya." Evangeline mencoba untuk mengingat-ingat.

"Apa kau benar-benar akan memberikan material itu pada kami?" Kali ini Sophie yang bertanya memastikan.

"Benar. Lagi pula percumah saja aku mengolahnya bila mineral itu tidak terdaftar. Takutnya barang hasil buatnya nanti malah dianggap menggunakan bahan mencurigakan dan tidak laku di pasaran." Evangeline menjawab.

"Kalau begitu, terima kasih banyak Eve." Sophie tulus berterima kasih.

"Tapi ada syaratnyal" ucap Evangeline kemudian sambil melirik ke arah Argeas.

"Syarat?"

"Benar. Pertama jangan sebarkan tentang kemampuan Argeas tadi ke orang lain. Dan kedua katakan pada bahwa kalian lah yang telah mengalahkan monster coral tadi dan menyelesaikan pembersihan di Gua Kristal {El-Maya}," ujar gadis itu menyebutkan syarat-syaratnya dengan tersenyum lebar.

"Hm... ini yang dari kemarin membuatku penasaran. Kenapa kau mencoba menyembunyikan kekuatanmu, Ar? Kau bahkan sekarang ini ada di kelas B, kan?" Jack bertanya tampak benar-benar penasaran.

"Kau ditempatkan di kelas B? Bagaimana caramu mengakali pihak Akademi dengan kemampuan seperti tadi?" Kali ini Gustave yang berucap tampak terkesan dengan hal tersebut.

"Ya, aku melakukannya karena ingin menjalani hidup yang tenang dan damai di Akademi." Argeas menjawab pertanyaan Jack.

"Hanya itu alasannya?" Jack terlihat sedikit tidak percaya.

"Benar, kak. Hanya itu saja." Argeas mencoba untuk meyakinkan seniornya itu.

"Padahal orang dengan kekuatan sepertimu akan sangat dibutuhkan. Tapi bila memang itu keinginanmu, kami tidak akan menyebarkannya." Gustave tampak setuju dengan syarat dan permintaan tersebut.

"Terima kasih." Kini giliran Argeas yang dengan tulus berterima kasih.

"Segeralah mendaftar sebagai Petualang agar kita bisa segera menjelajah reruntuhan bersama," ucap Jack kemudian menimpali.

"Baik, kak."

.

Malam harinya Argeas yang sudah berada dalam kamar asramanya terlihat kembali memikirkan tentang monster yang tidak pernah ia temui sebelumnya tadi.

"Kalau dipikir-pikir lagi ketidak samaan yang ada di dunia ini dengan yang ada dalam game nya itu sudah sedari pertemuanku dengan Lushu."

Argeas kembali memulai kebiasanya berbicara sendiri.

"Kemudian dengan Ascian. Yang meski begitu masih memiliki kesamaan dalam hal kondisi dan juga tempatnya," lanjutnya bukan ke siapa-siapa.

"Sedang untuk perbedaan monster yang harus dilawan itu, mungkin diawali dari tambahan 2 naga di wilayah perbatasan beberapa bulan lalu, dan kemudian bos Dungeon yang tadi."

Argeas menjatuhan tubuhnya ke atas tempat tidur.

"Benar-benar jenis monster baru yang bahkan tidak pernah aku temui dalam game nya."

Argeas menghela nafas panjang.

"Apa sebenarnya dunia ini memang tidak berjalan seperti alur cerita dalam gamenya? Yang berarti kemungkinan aku tidak akan pernah mati di tangan si tokoh utama?

"Atau jangan-jangan malah terjadi penyimpangan dari game nya karena tindakanku yang berusaha untuk merubah alur yang seharusnya?"

Argeas kemudian membuang nafas berat. Terlihat lelah memikirkan hal tersebut.

"Ah... lalu apa yang harus aku lakukan kalau begitu?" keluh pemuda itu yang tiba-tiba disela oleh ketukan dari luar pintu kamarnya.

Tok-tok-tok.

"Siapa?" Argeas bertanya.

"Maaf tuan Argeas. Saya penjaga asrama ingin memberikan surat dari Marquis Lavis kepada anda. Surat ini dipesankan untuk langsung diantar dan diterima oleh anda sendiri." Terdengar suara serak seorang pria dari balik pintu.

"Surat dari Marquis?"

Dan Argeas pun buru-buru membuka pintu dan menerima surat tersebut.

Argeas segera duduk di atas sofa, membuka segel lilin lambang keluarga Lavis dari amplop coklat itu, kemudian mengeluarkan isinya dan mulai membaca.

Tak lama kemudian Argeas kembali melepas nafas berat seraya menjatuhkan tubuhnya ke sandaran belakang sofa.

"Kupikir kehidupan Akademiku akan tenang dan damai. Tapi tampaknya tidak akan terjadi," ucapnya kemudian.

Alasan dari keluhan Argeas itu adalah apa yang ditulis Marquis Lavis dalam suratnya.

Yang secara singkat menceritakan bahwa ketika Marquis bertandang ke istana beberapa pekan lalu, pembahasan mengenai kejadian naga di wilayah perbatasan itu sempat muncul.

Dan meski dapat dialihkan oleh Marquis, namun tersebutlah class [Arcmage] milik Argeas yang menarik perhatian sang raja.

Karenanya, untuk Festival Musim Semi tahun ini sang Raja akan menghadirinya guna melihat kemampuan Argeas secara langsung. Dan Marquis mengirimi Argeas surat itu untuk memberinya peringatan di awal.

"Padahal aku berniat untuk mencari alasan agar tidak perlu mengikuti festival tersebut. Tapi kalau sudah begini, mau tak mau aku harus mengikutinya. Dan harus setidaknya memberi kesan pada sang raja. Kalau tidak martabat Marquis beserta keluarga Lavis akan tercoreng."

Argeas masih terduduk menatap ke langit-langit kamarnya dengan gamang.

"Ah... aku harus bagaimana sekarang?"

-

-

Keesokan paginya Argeas mendiskusikan hal tersebut dengan Evangeline.

"Aku rasa ayah juga tidak akan keberatan bila kau memang tetap ingin menyembunyikan kekuatanmu dan mengalah saat di festival nanti," ucap putri bungsu Lavis itu menanggapi cerita Argeas.

"Tapi itu akan berdampak buruk baik untuk keluargamu maupun keluargaku. Dan aku tiba bisa melakukannya," balas Argeas yang benar-benar merasa bimbang.

"Kalau begitu bertarung sekedarnya saja. Yang penting menang. Dan jangan menggunakan sihir-sihir tingkat tinggi macam kemarin. Lagi pula lawannya hanya anak-anak Akademi, kan?" Evangeline mencoba menyemangati tunangannya itu.

"Ya, kurasa bila hanya itu aku bisa melakukannya." Argeas seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

"Kalau begitu senyum. Jangan memasang tampang serius seperti itu. Lagian Festivalnya juga masih dua bulan lagi, kan?" Evangeline mencoba menceriakan suasana.

Mendengar ucapan tersebut membuat Argeas tak kuasa untuk tidak mengangkat senyumnya.

"Nah, gitu dong," balas Evangeline yang juga tersenyum lebar. "Lalu sore nanti temani aku lagi mengirim barang," lanjutnya kemudian.

"Baik. Akan ku jemput seperti biasa," sahut Argeas menjawab.

-

-

Dan dua bulan pun dilalui Argeas dengan damai dan tenang. Sampai kemudian hal tentang Festival Musim Semi itu diangkat oleh wali kelasnya pada suatu pagi.

"Seperti yang sudah kebanyakan dari kalian ketahui, seminggu lagi akan diadakan Festival Musim Semi tahunan di Akademi. Yang akan berlangsung selama 1 pekan," ucapan Rosalia sang wali kelas yang membuat suasana menjadi bersemangat.

Beberapa murid tampak cukup antusias dan terlihat sudah menantikan.

Namun tidak untuk Argeas. Wajah pemuda itu terlihat masam semenjak kata Festival disebutkan.

"Jadi pada dasarnya Festival ini adalah ajang untuk menunjukan bakat kalian, murid-murid Akademi, diluar Ujian Akhir tiap tahunnya.

"Dan meski tidak mempengaruhi peringkat kalian dalam Akademi, Festival ini tetap memiliki hadiah yang cukup besar dan beberapa hal yang dapat membantu meningkatkan peringkat kalian di Akademi." Perempuan setengah baya itu melanjutkan penjelasannya.

"Festival ini berupa pertandingan yang dibagi sesuai jurusan dengan menggunakan sistem turnamen.

"Dan seluruh murid diperbolehkan untuk ikut berpartisipasi. Mulai dari tahun pertama sampai tahun terakhir. Baik itu kaum bangsawan maupun rakyat biasa. Yang nanti posisinya ditentukan secara acak dengan menarik undian.

"Dan kemudian di babak paling akhir, pemenang dari setiap jurusan akan di pertemukan untuk mencari murid terbaik dari seluruh Akademi."

Dan penjelasan Rosalia pun selesai.

'Ya, pada dasarnya sistem Akademi memang sudah menggunakan sistem Meritokrasi. Jadi mereka tidak akan melihat murid berdasarkan Class, status, atau tingkatan tahun mereka dalam Akademi,' batin Argeas.

'Tapi juga diperbolehkan untuk tidak ikut berpartisipasi. Karena akan sangat tidak adil untuk mereka yang tidak cukup kuat dan bukan class pertarung bila hal ini dijadikan keharusan.'

"Bagi kalian yang ingin berpartisipasi, isi lembar pendaftaran ini dan kumpulkan saat istirahat siang nanti." Lamunan Argeas terpotong oleh instruksi sang wali kelas.

'Ya, kalau bisa aku tidak ingin mengikutinya,' batin Argeas saat mendapat lembar pendaftaran itu dari teman di bangku depannya.

-

"Kau ikut berpartisipasi dalam Festival nanti kan, Ar?" tanya Rodio saat tanpa sengaja bertemu dengan Argeas di jalan kembali dari ruang Tata Usaha.

"Iya. Aku mengikutinya," jawab Argeas yang memang baru saja menyerahkan lembar pendaftarannya ke panitia Festival.

"Oh iya, dan apa kau tahu, Ar? Kabarnya Yang Mulia Raja akan menghadiri pertandingan semi-final dan final nya nanti." Rodio berucap dengan cukup antusias.

"Ya, aku juga mendengarnya," jawab Argeas.

'Bagaimana tidak? Kedatangan beliau itu karena ingin melihatku,' batinnya kemudian ingin mengeluh.

"Aku yakin peserta festival tahun ini akan lebih banyak dan lebih meriah dibanding tahun sebelumnya."

"Ya, sepertinya akan begitu."

"Aku tidak sabar menantikannya. Semoga kita berkesempatan untuk bertemu di pertandingan antar jurusan nanti ya. Ar?" Rodio terlihat berharap.

"Ya... Belum tentu juga aku sampai tahapan semi-final," balas Argeas mencoba menghentikan harapan Rodio.

"Jangan coba merendah seperti itu, Ar. Aku tahu kau menyembunyikan kemampuanmu. Aku, maksudku kami, sudah menantikan untuk menyaksikan pertandinganmu," balas Rodio masih terlihat optimis dan antusias.

'Kami? Ada lebih banyak orang yang sepertimu? Ah... Ini akan jadi merepotkan,' batin Argeas yang mulai merasa terganggu.

"Jangan berharap terlalu tinggi padaku," balasnya kemudian mewanti-wanti.

"Aku yakin kau yang akan melampaui harapanku," balas Rodio sambil menepuk punggung Argeas sebelum kemudian berjalan pergi. "Sampai ketemu di pertandingan nanti," ucapnya lagi seraya melambai kepada Argeas.

"Ya, pasti akan banyak orang-orang yang akan memperhatikanku seperti Rodio di Festival nanti. Bagaimana aku akan menjalankan semua ini?" Argeas mendesah seraya kembali berjalan menuju kantin.

-

-

-

Seminggu kemudian. Hari dimana Festival Musim Semi Akademi dimulai.

Sudah terlihat di lapangan pelatihan, 8 buah panggung yang terbuat dari batu dengan tinggi 3 meter yang memang dibangun khusus untuk festival tersebut.

Panggung-panggung itu akan digunakan sebagai arena duel untuk masing-masing jurusan sampai hanya tersisa satu orang pemenang dari setiap jurusannya.

Yang kemudian pertarungan antar jurusan itu akan diselengarakan di Gelanggang Pertarungan di pusat Kotaraja. Sebuah bangunan yang memang dikhususkan untuk menyelenggarakan duel atau pertarungan besar.

Terlihat Argeas baru saja selesai mengambil undian penentu nomor urut.

"Festival kali ini diikuti oleh lebih banyak murid karena kabarnya Yang Mulia Raja akan menghadiri pertandingan semi finalnya nanti," ujar Lufaine yang berjalan di sebelah Argeas.

"Ya, kurasa memang banyak murid yang ikut berpartisipasi." Argeas menunjukan nomor urutnya yang adalah 88.

"Jauh sekali? Kapan jadwal pertandinganmu, Ar?" Kali ini Evangeline yang bertanya. Gadis itu juga berjalan di sebalah Argeas.

"Masih hari pertama sih. Tapi sepertinya mendekati sore nanti." Argeas menjawab.

'Dengan jumlah peserta yang hampir mendekati 130 murid di jurusan Penyihir ini, berarti paling tidak aku harus melawan 7 orang sebelum melawan pemenang dari jurusan lain di semi finalnya. Dan itu berarti 3 sampai 4 pertandingan ditiap harinya,' pikir Argeas mencoba melakukan perhitungan.

"Lalu siapa lawan pertamamu, Ar?" Lufaine bertanya terlihat penasaran.

"Entahlah. Kuharap tidak terlalu kuat."

.

1
StoN Rp
oj
Reksa Nanta
aku rasa keputusan Argaes untuk memilih kelas B di akademi, adalah keputusan yang tidak adil bagi para murid lainnya.
Reksa Nanta
dalam artian, Argeas kurang cerdas dan jeli dalam mengakali ujian tertulisnya.
Reksa Nanta
Terima kasih untuk penjelasannya, Author.
Reksa Nanta
Serigala kan meman hewan yang hidup dalam kawanan.
Reksa Nanta
Selebar telapak tangan, sepanjang dua ruas jari ?? 🤔🤔
Reksa Nanta
Kenaikan level secara bertubi tubi dalam waktu singkat apakah tidak membebani fisik ?

apakah tubuh tidak akan meledak jika tidak mampu menampung beban level ?
Reksa Nanta
Hati hati, Ar .. Perempuan akan menaruh harapan besar pada kata katamu itu.
Reksa Nanta
Kemungkinan itu bisa jadi besar jika bisa menarik suara rakyat dan adanya kerjasama dengan pihak beastman
Reksa Nanta
Perbedaan persepsi antara laki laki dan perempuan dalam memaknai arti dan tujuan sebuah hadiah.
Reksa Nanta
Di setiap film film, cerita cerita tentang para bangsawan, nama Bennet hampir selalu muncul.
Regard Qianzhou
alur santai
Regard Qianzhou: menenangkan
total 1 replies
ion arashi
Lembut sekali alurnya, menyenangkan sekaligus deg-degan menunggu kejutan ceritanya
ion arashi
gimana cara iklanin nih novel biar banyak yg baca?
Haytrea: Buat Pos (Postingan) Toon, biasanya kalau buka apk Mangatoon ikon nya ada di tengah, kayak globe gitu (atau apalah namanya). Ketuk dan buat postingan. Di bawahnya kan ada pilihan tag (pilih atau buat tag sendiri) dan tautkan karya yang berada di atasnya (di atas tag), cukup ketuk tautkan karya dan ketik nama novel ini, maka jadilah promosi. Bila perlu beri sedikit atau banyak tulisan berdasarkan pengalaman anda membacanya (ringkasan saja). Jangan lupa, untuk memperkuatnya beri tahu di Pos itu nama Penulisnya serta bukti berupa Screenshot (1 atau 2/ terserah jumlahnya).
total 1 replies
Reksa Nanta
Alih alih menggunakan kata 'mau', kata 'bersedia' tedengar lebih sopan.
Reksa Nanta: Yes .. aku baru mulai baca.
total 2 replies
Reksa Nanta
Class ArcMage kan harusnya ?
Reksa Nanta
Ada juga rambut yang berwarna seperti ini ? Hahaha
Regard Qianzhou: ada reks
total 1 replies
ion arashi
serru
Reksa Nanta
Jika Argaes bertemu dengan para petualang dan pemburu harta di reruntuhan ini. Apakah akan terjadi konflik ?
Reksa Nanta
Arga bukannya tidak terlalu dekat dengan keluarganya ya ?!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!