Leona harus menghadapi cobaan hidup yang berat sejak usia dini. Ketika berusia lima tahun, orangtuanya, yang merupakan sepasang perwira yang teguh, tewas dalam pembantaian mengerikan karena ikut mengusut sebuah kasus besar yang terjadi di kota X.
Ditinggalkan tanpa keluarga, Leona harus belajar bertahan dan menghadapi kehidupan yatim piatu. Meskipun begitu, kekuatan batinnya yang luar biasa membantu Leona melawan rasa kehilangan dan kesepian. Pada usia enam tahun, hidupnya berubah secara tak terduga ketika dia diadopsi oleh seorang pria kaya bernama Willson Smith.
Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama ketika Leona mengetahui bahwa Willson Smith sebenarnya adalah seorang ketua mafia yang kuat dan berpengaruh di kota C. Terpapar oleh dunia gelap kejahatan, Leona harus menemukan keberanian dan keteguhan untuk menjaga integritasnya sendiri.
Sanggupkah dia menemukan pembunuh kedua orang tuanya dan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arlingga Panega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Willson bertemu Liora
"Dady..!"
Teriakan Leona benar-benar menggelegar, hingga membuat Willson Smith yang saat itu tengah memeriksa beberapa berkas di ruang kerjanya langsung menghentikan kegiatan dan menyimpan kembali pena, yang saat ini berada di tangannya. Kemudian menatap ke arah pintu, di mana saat ini Leona tengah berdiri sambil tersenyum manis.
"Kau sudah kembali?" tanya Willson, Dia segera bangkit dari kursi yang didudukinya, kemudian berjalan ke arah Leona dan menggendong gadis kecil itu kemudian membawanya ke sofa.
"Kau sudah makan?" tanya Willson, Leona hanya menggelengkan kepalanya, dia hampir saja melupakan bahwa saat ini dirinya masih belum memakan apapun sejak tadi.
Apalagi setelah melihat wajah Liora yang dia pikir sebagai ibu kandungnya, membuat Leona lagi-lagi tak ingin menikmati makanan, dia merasa jika saat ini perutnya telah kenyang, sehingga tidak membutuhkan asupan lagi.
"Aku telah menemukan mama," ucap Leona.
Willson mengerutkan dahinya, mungkinkah jika saat ini Leona begitu merindukan Laura, sehingga dia berpikir jika ibu kandungnya itu masih hidup? Namun demi untuk membahagiakan hati putri kecilnya, Willson langsung menganggukkan kepala, dia tak ingin menunjukkan keraguannya kepada Leona.
"Dady akan mengantarmu ke kamar, kau harus segera tidur agar bisa bangun tepat waktu besok. Ingat! Kau hanya memiliki hari libur hari ini saja, besok pagi sensei akan segera kembali dan melatihmu agar menjadi semakin kuat dan kuat setiap harinya." ucap Willson.
Leona mengganggukan kepalanya, "Tentu saja, aku akan terus berlatih agar bisa menjaga dan melindungi mamaku. Dia adalah satu-satunya keluarga yang masih kumiliki saat ini."
"Apakah dady bukan keluargamu?" tanya Willson sambil menatap sendu ke arah Leona, membuat gadis kecil itu akhirnya salah tingkah.
"Tentu saja, dady juga berarti untukku! Kau tak hanya ayah, tapi juga guru. Satu-satunya orang terbaik setelah papaku." ucap Leona.
Willson pun tersenyum puas mendengar jawaban dari Leona, tangan kekarnya segera menarik tubuh gadis kecil itu ke dalam dekapannya. Kemudian dia berjalan ke arah pintu dan berniat untuk membawa Leona ke dalam kamar yang selama ini dia tempati.
Setelah Leona tertidur, Willson segera melangkah menuju kamarnya di lantai 3, tubuhnya terasa begitu lengket, sehingga dia memutuskan untuk segera mengisi air di dalam bathtub dan berniat untuk berendam.
Setelah menyelesaikan ritual mandi malamnya, Willson kembali mengambil laptop dan memutar kembali rekaman-rekaman yang saat itu telah berhasil dia copy dari flash disk milik Leona. Sinar kemarahan kembali terlihat di matanya, apalagi saat mengetahui jika wanita yang sejak dulu dicarinya ternyata saat ini telah tiada dan meninggalkan seorang putri yang dia yakini sebagai Putri kandungnya.
Tepat pukul 02:00 Willson turun menuju dapur menggunakan lift pribadi dari lantai 3, matanya langsung menatap tajam pada satu siluet wanita yang saat ini terlihat tengah mengambil air mineral dari dalam lemari es. Entah mengapa dia merasa begitu familiar dengan sosok itu, meskipun suasana dapur terlihat remang-remang karena semua lampu telah dimatikan.
Tak...
Lampu dapur tiba-tiba saja langsung menyala dengan sangat terang benderang, Willson sengaja membuat pencahayaan yang begitu banyak, agar bisa melihat dengan pasti siapa wanita yang saat ini berada di dapurnya? Mengingat para pelayan tinggal di paviliun yang berada di belakang Mansion utama, namun kini ada orang lain di dalam kediaman miliknya, sehingga membuat dia memiliki kecurigaan tersendiri.
"Siapa kau?" Willson bertanya dengan sangat dingin, pada wanita yang saat ini masih berdiri membelakanginya. Pelan-pelan wanita itu pun membalikan tubuh dan memperlihatkan wajah cantiknya di hadapan Willson, hingga membuat jantung pria itu seolah langsung berhenti berdetak.
"Kau?"
"Kau?"
Kedua orang itu saling memandang, jari keduanya terlihat saling menunjuk dengan degup jantung yang bertalu. Willson kaget melihat wanita yang dulu pernah ditidurinya berada di dalam mension mewahnya, sementara Liora hampir saja terjatuh menatap wajah pria yang dulu pernah melecehkannya.
Liora berusaha untuk menjauh, dia menggeser kakinya dan berniat untuk lari dari Willson, namun pria itu terlihat lebih gesit, dengan gerakan yang sangat cepat, dia pun segera menangkap pergelangan tangan Liora kemudian menariknya ke dalam dekapan.
"Mau lari kemana?" tanya Willson menunjukkan seringaiannya.
Liora semakin ketakutan, wajahnya terlihat pucat saat ini. Dia merutuki kebodohannya yang malah masuk ke dalam rumah pria itu. "Lepaskan..!"
Liora berusaha melepaskan diri dari cengkraman Willson, namun pria itu jauh lebih kuat dibandingkan dirinya, hingga akhirnya dia hanya bisa diam pasrah dalam pelukan pria yang dulu pernah menyakitinya.
Willson segera membawa Liora masuk kedalam lift menuju lantai 3, saat ini dia membutuhkan penjelasan dari wanita itu. Pantas saja jika Leona mengatakan bahwa dia saat ini telah menemukan mamanya, karena wanita itu benar-benar mirip dengan Laura.
"Lepas! Akh.." Liora mendesis, pergelangan tangannya terasa sakit akibat cengkraman tangan Willson.
Bruk...
Willson segera melemparkan tubuh wanita itu ke atas tempat tidurnya, sesaat setelah dia keluar dari lift, dan membawa Liora dengan paksa masuk ke dalam kamarnya. Mata Liora terlihat berkaca-kaca, dia benar-benar takut jika Willson akan kembali menjamah tubuhnya seperti beberapa tahun yang lalu.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Liora memberanikan diri, meskipun saat ini dia tengah dilanda ketakutan besar.
"Penjelasan!" ucap Willson dengan sangat dingin sambil menatap wanita yang saat ini terus saja menunduk.
"Aku tidak tahu apa-apa. Gadis kecil itu yang menyelamatkanku dan membawa kami bertiga ke rumah ini. jika kau tidak menyukainya Aku akan segera keluar dari rumah ini beserta seluruh keluargaku." ucap Liora.
Willson kembali mengerutkan dahi, keluarga mana yang saat ini tengah dibicarakan oleh wanita itu? padahal jelas-jelas suaminya saat ini telah terbunuh, akibat penyerangan tahun yang lalu. Namun dia seolah-olah menunjukkan bahwa saat ini dirinya memiliki sebuah keluarga.
"Keluarga mana yang kau maksud?" tanya Willson sambil bergerak menuju tempat tidur.
Liora terlihat semakin ketakutan, dia berusaha untuk menjauh dari Willson. "Tolong lepaskan aku!" ucapnya, air mata saat ini telah luruh di pipinya.
Willson sejenak terdiam, menunggu wanita itu kembali bicara, namun Liora masih tetap bungkam, tak berniat untuk memberi penjelasan apa pun, tubuhnya terus beringsut, menjauh dari Willson.
Bruk...
Willson dengan cepat langsung menarik tubuh Liora dan mengungkungnya, membuat wajah wanita itu semakin pucat dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
"Tolong jangan! Aku tidak mau lagi..!" ucap Liora.
Ucapannya terdengar begitu ambigu di telinga Willson, hingga membuat pria itu berniat untuk menakutinya.
"Jangan lakukan! Atau aku akan berteriak!" ancam Liora, yang berpikir jika saat ini Willson ingin kembali melecehkannya.