NovelToon NovelToon
The Gangster Leader And The Veiled Girl

The Gangster Leader And The Veiled Girl

Status: tamat
Genre:Teen / Fanfic / Cintamanis / Contest / Tamat
Popularitas:147.5k
Nilai: 4.8
Nama Author: Za N_STAR

Justin menarik tangan Jihan, mereka lalu menaiki balon udara itu. Para genk abatasa membantu pelepasan balon udara. Perlahan lahan balon udara itu bergerak keatas, tinggi dan semakin meninggi. Semua yang menyaksikan dibawah sangat terpesona melihat Justin dan Jihan diatas.

"Hore.. Justin.. Jihan"

"Justin.. Jihan.. bahagia selalu kalian"

Orang orang dibawah kompak menyuarakan teriakkan kebahagiaan untuk Justin dan Jihan.

"Aku yang menyiapkan kejutan ini untuk kamu jihan"

"Justin kamu romantis banget" ucap Jihan, kedua matanya berkaca kaca

Justin tersenyum berdiri mendekati Jihan.

"Boleh kah aku memelukmu, Jihan?"

"Silakan Justin, peluk aku semau mu, karena sekarang aku sudah sah jadi istri kamu"

Justin memeluk Jihan dengan waktu yang lama, tangan Jihan pun merangkul erat tubuh Justin. Kedua nya sama sama terpejam, Justin lalu melepaskan pelukan nya dan mengecup kening Jihan di udara. Kemudian mereka duduk berdampingan menatapi awan awan. Jihan menyadarkan kepalanya dipundak Justin.

Jangan lupa Like, Comen, Vote, Tip Dan Rate 5 nya ya guys, semoga suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za N_STAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelengkap

Karina' mooring

ini kalo gak mau baca lewatin aja, sengaja di pasang, hhe nyasar dia agar kalian baca karena ada maksud pesan tersndiri, makanya dibikin🤗

Matahari pelan merambat lurus ketengah, di jalan perumahan yang cukup sepi itu melintas sebuah mobil pribadi berwarna silver. Di dalamnya terdapat dua orang yang duduk. Yaitu seorang supir dan disampingnya duduk seorang gadis kecil berkulit putih, rambut lurus kuncir dua dan mata sipit teduh. Gadis kecil yang masih mengenakan seragam SD itu adalah putri tunggal dari seorang saudagar kaya, juga ibunya pemilikk butik terkenal di Jakarta. Karina Saraswati atau yang di sering di panggil Karin itu kini baru genap berusia 8 tahun. Namun, kehidupan sangat berbeda dari anak-anak lainnya yang setiap hari merasakan belaian kasih sayang orang tua. Bagi Karina semua itu hanya ilusi, dia anak yang selalu kesepian. Kedua orang tuanya selalu sibuk menimba harta. Pulang malam, pergi pagi. Tak heran kalau Karina besar di tangan pembantunya yaitu Bi Inah. Setiap hari Bi Inah lah yang mengurus Karina, dari memakaikan seragam sekolah, makan, memandikan bahkan mengeloninya disaat tidur. Sungguh kekayaan keluarga Karina tiada arti baginya, harta yang membuat dirinya terabaikan dari kasih sayang orang tua.

"Non Karin, ingat, yah. Tadi mamah pesen sama Om, habis pulang sekolah Non Karin jangan keluar rumah, mainnya di halaman aja! Habis nganterin non Karin, Om balik lagi kekantor papah Karin" ucap seorang supir pribadi keluarga Karina.

"Iya, Om." Sahut Karina dengan wajah cemberut.

Setelah sampai di rumah mewah Karina, seorang supir kembali ke kantor milik Arga atau ayah kandung Karina. Bi Inah langsung menyambut gadis kecil itu lalu melepas sepatu, tas dan mengganti pakaian. Bi Inah kembali merapikan rambut Karina yang sedikit kusut, dan kembali menguncir dua.

"Abis makan, non Karin mainnya di halaman aja yah, jangan keluar, soalnya mamah melarang non Karin bergaul sama anak-anak sekitar sini!" Ujar Bi Inah.

"Emang kenapa si, Karin gak boleh berteman sama mereka, Bi?" tanya Karin yang sudah mulai geram.

"Pokoknya gak boleh, ini kan pesan mamah Karin. Nanti bibi bisa di marahi mamah!"

Pergaulan Karin sangat di batasi oleh kedua orang tuanya. Karena mereka adalah keluarga yang cukup kaya dan terhormat, seolah putrinya tidak boleh membaur dengan warga biasa. Padahal, rumah mewah Arga berbatasan dengan pemukiman warga kelas menengah kebawah.

Karin duduk di bangku halaman sambil bermain dengan beberapa koleksi bonekanya. Dirumah itu apapun tersedia untuk Karin, barang-barang mahal dan mewah ia miliki semua. Namun tetap naluri gadis kecil itu merasa hampa karena tidak ada teman yang menemaninya. Kadang, Karin merasa sedih saat melihat anak-anak berlari dan tertawa di luar gerbang rumahnya, seolah ia pun ingin ikut main bersama mereka. Karin sudah biasa dengan kejenuhan, kadang untuk mengelabui perasaan sepinya, ia bernyanyi, meramaikan kesendirian.

"Lili ... aku pergi bermain dulu, yah? Kamu jangan ikuuut ... nanti dimarahi mamah kamu loh!" Celoteh gadis kecil itu bersandiwara memainkan boneka-bonekanya.

Tidak lama kemudian, datang seorang anak kecil perempuan sebayanya, memanggil Karin dari luar gerbang. Dia Fatimah, salah satu teman sekolah yang akrab dengan Karin.

"KA-RIN ... Ngaji yuk?"

Karin menoleh, ia sedikit tersenyum.

"Karin, ikut aku yuk, kita ngaji sama pak ustad!"

Karin masih kebingungan. Ia masih takut membantah pesan ibunya, tapi hatinya merasa terpanggil. Karina nekad keluar rumah, tapi ia meminta izin dahulu kepada Bi Inah.

"Duh, gimana yah? Bibi sebenarnya takut ngizinin non keluar, nanti ibu bisa marah besar sama bibi!" ucap bi Inah gelisah.

"Tenang aja, Bi. Asal bi inah jangan bilang sama mamah, ini rahasia kita berdua." Sahut Karina.

Bi Inah merasa sadar, ia sangat berdosa bila melarang seorang anak yang ingin belajar mengaji.

"Iya deh, Non. Tapi abis selesai ngaji langsung pulang yah? Jangan main kemana-mana lagi!"

"Oke, Bi. Makasih ya, Bi!"

Bi Inah segera mempersiapkan perlengkapan untuk mengaji Karina, tapi diantara pakaian-pakaian Karina yang mahal itu tidak ada satu pun pakaian gamis dan kerudung untuk Karina. Untungnya, Fatimah mau meminjamkannya. Sebelum pergi ke madrasah pengajian, Karina harus mampir dulu kerumah Fatimah untuk meminjam pakaian gamis dan kerudung.

Karina lalu memperkenalkan dirinya kepada teman-teman pengajian. Ia di sambut baik oleh Ustadz Zakaria, begitupun anak-anak yang lain.

Belum genap satu bulan, Karina sudah lancar membaca Al-qur'an. Gadis kecil itu memiliki keistimewaan tersendiri. Ustad Zakaria mengetes Karina membacakan surat An-Naba, semua fokus mendengarkannya.

"Coba sekarang Karin baca yah surat An-naba nya.

"Iya, pak ustad!"

Karina mulai melantunkan bacaan ayat-ayat itu, semua tercengang, terpaku dan terbuai oleh suara indah Karin. Ustad Zakaria menangis saat mendengarkannya.

"Masya Allah, begitu merdu dan indahnya suara anak ini, seolah ayat-ayatmu hidup di hati kami yang mendengarkannya. Ya Allah, jagalah anak ini hingga kelak dia dewasa. Sayangi dia selalu, karena gadis kecil ini istimewa." Batin Ustad Zakaria."

Disaat Karina sedang aktif dalam kegiatan mengajinya, pada suatu hari Windi memergoki putri kecilnya sedang keluar dari Madrasah kecil bersama anak-anak lainnya. Mendadak Windi memarkirkan mobilnya lalu ia turun menghampiri Karina yang terkejut melihat sang ibu mendekati dengan wajah memerah.

"Karin, ngapain kamu disini, hah? Udah mamah bilang kamu jangan keluar sembarangan! Apalagi main sama anak-anak ini!"

Karina mendunduk. Wajahnya lesu.

"Karin ingin belajar ngaji, Mah" sahut Karin.

"Apa? Gak boleh! Ini kamu pake baju siapa?"

Karin gugup. Matanya melirik ke Fatimah yang juga tertunduk.

"Ini baju Fatimah, Mah!"

Amarah Windi semakin bergejolak, seolah ia jijik putri kecil semata wayangnya memakai baju anak orang sederhana.

"Ayo pulang! Buka baju itu, nanti akan mamah kembalikan sama temanmu itu. Mulai sekarang kamu jangan kesini lagi. Kalo ketahuan sekali lagi mamah hukum kamu! Fatimah, ayo ikut kamu, sekalian nanti kembaliin baju kamu."

Windi menarik tangan putrinya kedalam mobil bersama Fatimah sahabat Karin. Sesampainya dirumah Windi segera melepas gamis dan kerudung yang dikenakan Karin lalu mengembalikannya pada Fatimah yang ketakutan polos. Tak luput bi Inah menjadi incaran kemarahan Windi.

Usia Karin sudah 12 tahun. Naluri kewanitaan dewasanya mulai tumbuh. Karin mulai mengalami pubertas pertamanya. Perubahan Karin sudah mulai tampak, bahkan di sekolah kini ia lebih suka melirik anak-anak lelaki yang ganteng. Bukan hanya disitu bahkan diluar sekolah. Jarak antara SDN Sinar Pelita berdekatan dengan SMA favorit Sinar Pelita 1, Gadis kelas 6 SD itu diam-diam menyukai siswa SMA yang tampan dan cool di sekolahnya. Dia bernama Toni. Selepas bel pulang sekolah Karin berdiri di depan gerbang sekolah Toni. Menunggunya mencari perhatian, Karin masih seorang gadis kecil yang sangat lugu, tapi karena pengaruh maraknya sosial media, ia dewasa sebelum waktunya. Sekarang Karin sudah tidak mau lagi dijemput oleh supir pribadinya ia lebih suka naik Taksi saat pulang sekolah. Siswa-siswi SMA Sinar Pelita favorit berbondong-bondong keluar gerbang karena jam pelajaran telah usai. Karin menengak-nengok kekiri dan kekanan mencari-cari lelaki idamannya. Toni yang di tunggu-tunggu akhirnya keluar bersama teman-temannya. Karin tersenyum, ia menghampirinya. Sontak saja Toni terkejut ketika ada seorang siswi SD berdiri dihadapannya.

"Kak Toni" sapa Karin.

Toni celingak-celinguk menahan malu.

"Karin? Ada apa?"

Karin tersenyum-senyum malu.

"Pulang bareng yuk, Kak?" sahut Karin agak genit.

Rumah Karin dengan Toni memang berjarak tidak begitu jauh. Karena mereka masih satu komplek.

"Duh ... gimana ya?" sahut Toni gusar.

Teman-teman Toni langsung mentertawakan dan meledek.

"Hahaha ... gak salah selera luh, Ton!" celetuk siswa bergaya Funky.

"Waduuuh ... ada kelaenan luh, Ton!" Sambut siswa berambut kribo.

Muka Toni semakin memerah, ia menolak ajakan Karin.

"Karin, maaf yah. Kamu pulang sendiri aja, kakak gak bisa pulang bareng sama Karin!"

"Emang kenapa, Kak?" tanya kembali Karin sambil cemberut.

"Kakak pulang sama temen-temen naik mobil. Maaf, yah!"

Toni segera berjalan meninggalkan Karin. Namun ejekan teman-temannya tak berhenti sampai disitu, sembari berjalan mereka masih mencemo'oh Toni.

"Udah luh manfaatin aja tuh bocah! Kan dia anak orang kaya. Payah luh!"

"Gila lo, ketauan nyokap bokapnya abis gua!"

Karin berdiri mematung menahan sedih. Langkahnya pelan menuju kejalan sambil menunggu Taksi.

Sesampainya dirumah. Wajah Karin masih layu bersedih, ia duduk sambil bercermin. Karin memegangi wajahnya sambil membatin.

"Apa aku ini jelek, yah? Sampe kak Toni sama sekali tidak tertarik sama aku. Hmmm ... aku harus cantik, ya Karin kamu harus ubah penampilanmu, jadi cewek cantik dan kak Toni pasti tertarik sama aku."

Karin menyelundup masuk kekamar ibunya, lalu ia segera mengambil kosmetik-kosmetik milik ibunya yang tergeletak di meja cermin, tak luput Karin membuka lemari koleksi baju-baju Windi. Namun gadis yang baru menginjak remaja awal itu tak perlu terburu-buru karena orang tuanya masih lama pulang kerumah. Karin coba menghindar dari bi Inah agar tidak ketahuan.

Setelah berada dikamarnya, Karin mengganti pakaian dengan pakaian milik ibunya, lalu ia pelan-pelan memakaikan kosmetik untuk wajahnya. Meski sedikit belum paham cara berkosmetik Karin lalu membuka tutorial yang ada di youtube. Ia langsung mendempul mukanya dengan bedak, menyipati alis-alis mata, melingkari kedua bibirnya dengan lipstik. Selesai itu ia tersenyum di depan cermin kemudian melenggak-lenggok ala modeling yang berjalan diatas catwalk. Karin kini lebih terlihat cantik dewasa, ia tidak terlihat seperti anak-anak lagi.

"Uuuh ... cantik juga aku ternyata. Pasti kak Toni tertarik sama aku" batin Karin.

Setelah memandangi tubuhnya di depan cermin dia berkata

"Nah kalo begini kan lebih meyakinkan. Hihihi ...," Karin kembali membatin.

Satu jam kemudian ia berjalan mengendap-endap keluar rumah dan menyusuri jalan komplek perumahan yang begitu sepi. Karin mencoba menyesuaikan diri menjadi gadis 18 tahunan. Ia pun jadi pusat perhatian beberapa kendaraan yang lewat.

"Yes, aku berhasil! Mereka pada ngeliatin aku, dikirinya aku cewek dewasa, hihihi ...." kata hati Karin.

Gadis kecil itu lalu berhenti dan berdiri tak jauh dari rumah Toni. Tepatnya ia bersembunyi dibalik pohon besar sisi taman komplek. Karin menunggu pemuda sang pujaannya keluar.

"Nah itu dia kak, Toni" Batin Karin kembali bergumam.

Karin segera menghampiri Toni yang hendak pergi dengan sepeda motornya.

"Hay kak, Toni!" Sapa Karin mengejutkan.

Pandangan Toni lalu melihat dari bawah dan perlahan-lahan keatas. Ia terkejut heran melihat seorang gadis yang modis berdiri dihadapannya.

"Siapa kamu, ya?" tanya Toni.

"Masa ga kenal aku, kak. Aku Karin."

Toni kaget, ia tak menyangka Karin berdandan seperti itu.

"Hah. Karin?"

"Iya, kak. Aku ini Karin!"

Toni masih tak berkedip. Ia melongo cukup lama.

"Hey, kak, gimana ... aku cantik' kan?" ucap Karin sambil gerak-gerak centil.

Belum sempat Toni menjawab, hp nya berdering, kemudian Toni merogoh hp nya di saku celana depan. Seseorang yang menelepon itu adalah Olive, pacarnya. Toni sengaja menglose speak panggilan WA nya agar di dengar Karin.

"Ya sayang ...," (Toni via Wa)

"Lama banget sih kamu sayang, aku udah nunggu dari tadi nih!" (Olive via Wa).

"O, iya sayang. Aku juga mau berangkat nih. Tunggu yah!" (Toni via Wa)

Toni lalu menutup panggilan wa dari Olive. Lalu permisi meninggalkan Karin yang berwajah kecewa.

"Karin, sorry yah. Kakak mau pergi, kamu pulang aja!"

Toni menancap gas dan berlalu dengan sepeda motornya. Karin berjalan dengan muka merengut.

Karin kesal dan sedih, ia pun pulang, setelah berada dikamarnya ia kembali bercermin. Gadis itu merasa sngat kesal dan kecewa.

"Iiiikh ... aku kesel sama kak Toni. Dia sama sekali gak ngehargain aku! Percuma aku dandan seperti ini, ukh ... ukh!"

Karin mengacak-acak kembali dandanannya, menyusuti lipstik dan wajah, serta mengoyak-ngoyak rambutnya.

Dua tahun kemudian. Karin sudah duduk di bangku SMP. Perubahan Karin kembali terjadi, kini ia seperti seorang gadis tomboy disekolahnya. Ia tidak takut dengan siapapun. Penampilan Karin persis seperti lelaki. Rambut pendek, dengan topi miring. Karin tak pernah takut dengan siapapun, di kelasnya ia menjadi ketua genk yang ia namakan genk "The Bastard Girl" nama genk itu melambangkan cewek-cewek garis keras. Namun, tak semuanya bergabung dengan genk Karin. Termasuk Lekha seorang gadis berkulit putih, mata sayu, bibir mungil merah tanpa pewarna yang terkadang menasehati Karin di saat ia nakal. Namun, Karin tidak pernah membantah bila di nasehati oleh Lekha, karena ia salah satu sahabat terbaiknya. Meski demikian Karin tetap saja nakal. Bahkan ia sekarang mau melabrak musuh kelas bebuyutannya.

"Hey, kelas 8B, keluar lo pada!" teriak Karin dengan nada keras.

Anak-anak kelas 8B terkejut mendengar teriakan Karin dari luar, lalu beberapa anak menghampiri Karin yang sudah berdiri dengan wajah geregetan dan tangan mengepal.

"Ngapa Lo, Rin. Hah?" sambut salah seorang anak cewek kelas 8B

"Lo udah pada ngebully temen gue! Sekarang gue pengen bikin perhitungan sama lo pada!" sahut Karin.

"Jadi mau lo apa?" tanya kembali siswi berambut pirang itu.

"Siapa bernani lawan gue, ntar abis pulang sekolah kita duel di lapangan kosong!"

Siswi berambut pirang itu merasa tertantang.

"Ayo. Siapa takut! Gue tunggu lo disana!"

Lekha berlari menghampiri Karin, mencoba untuk mencegahnya.

"Karin. Jangan Karin. Nanti kamu terluka!"

"Udah gapapa, Lekha. Ini demi harga diri kelas kita!"

Disebuah lapangan yang tidak jauh dari area sekolah, yaitu sebuah lapangan kosong yang sering digunakan anak-anak bermain bola, kumpul segerombolan siswi SMP Tunas Harapan yang beda kelas itu untuk menyelesaikan persoalan dengan adu duel antara Karin dan Miranti. Keduanya memang dikenal pentolan siswi di kelas mereka masing-masing. Perselisihan antara kelas 8B dan 8C kini sudah pada puncaknya.

"Ayo kalo lo penasaran, serang gue duluan!" tantang Miranti.

Karin semakin geram, kedua matanya mencorong tajam.

"Bangsat lo pirang!"

Karin langsung menyerang dengan menubruk tubuh Miranti. Para siswi yang lain bersorak sorai seperti halnya mengadu ayam..

"Ayo Kariiin! Hajar ... keluarin cakaran kuku macan lo!" teriak siswi dari kelompok Karin.

"Tonjok Miranti! Jangan kasih ampun si Karin!" sambut siswi kelompok dari genk Miranti.

Karin dan Miranti masing-masing bertahan. Karin menjenggut rambut Miranti yang bule pirang.

"Curang lo. Maen jenggutan!" ucap Miranti.

"Coba lo kalo bisa ayo bales!" Sahut Karin.

Pertarungan semakin sengit, keduanya sudah sama-sama kusut. Tak lama para warga sekitar berdatangan untuk membubarkan perkelahian itu. Warga sekitar mendapat kabar dari Lekha yang tak ingin ada keributan.

"Woy, berhenti kalian! Jangan berantem, ayo bubar!" teriak salah seorang bapak-bapak.

"Kalian ini cewek, kenapa pada berantem kagak pantas tau!" ucap seorang ibu-ibu yang ikut melerai perkelahian itu.

Akhirnya para siswi itu lari berhamburan. Lekha menghampiri Karin yang penuh luka-luka di wajah dan tangannya akibat cakaran.

"Karin, kamu gapapa?" tanya siswi berkulit lembut itu.

"Gue gapapa. Kalo aja gak ada warga yang misahin, abis tuh si pirang sama gue!" sahut Karin.

Lekha coba menyadarkan Karin.

"Udahlah, permusuhan kita sama anak kelas 8B ga akan pernah ada ujungnya, lebih baik kita damai aja, kita kan satu sekolah."

Karin menunduk coba untuk tenang. Lekha merangkul pundak Karin untuk mengajak pulang.

Mengetahui kejadian itu, Windi marah besar kepada putri semata wayangnya. Kemarahan Windi akibat lalai memperhatikan Karin yang selama ini merindukan kebersamaan kasih sayang dengan kedua orang tuanya.

"Mau jadi apa kamu? Kamu tau Karin ibu di panggil sama kepala sekolah gara-gara kelakuan kamu kemarin, kamu malu-maluin ibu saja! Kamu itu anak cewek gak pantas berantam kaya gitu, kalo papah kamu tau pasti dia akan lebih marah. Sampe kapan kamu begini, Karin!"

Karin menatap tajam ibunya, sambil sedikit berkaca-kaca. Ia meluapkan kekesalannya yang selama ini terpendam.

"Sampe papah dan mamah sadar, bahwa papah dan mamah selama ini sudah mengabaikan Karin! Yang kalian pentingkan hanya uang dan uang! Jangan salahin Karin kalo Karin begini!"

Karin langsung masuk kekamar, mengeluarkan tangisnya yang tertahan sambil tengkurap di tempat tidurnya.

"Karin! Kamu udah berani ngebantah, yah!" teriak Windi dari ruang tamu.

Dua tahun berlalu lagi, Karin sudah menduduki bangku SMA. usianya hampir genap 17 tahun. Sifat ketomboyannya sudah mulai berkurang ketika ia mencintai seorang pemuda tampan, bertubuh jangkung dan kulit putih yang bernama Fadil. Mereka pun masih satu sekolah. Setiap bertemu siswa si jago basket itu hati Karin selalu bergetar. Tatapan Fadil begitu menawan baginya. Persahabatan Karin dengan Lekha masih terjalin erat, karena mereka pernah berjanji untuk bersekolah di sekolah yang sama. Karin tidak pernah tahu bahwa Fadil sebenarnya menyukai Lekha. Fadil sengaja selalu mendekati Karin agar ia bisa dekat pula dengan Lekha. Sebuah dilema diantara mereka bertiga. Terutama Karin yang tertipu perasaannya sendiri, ia merasa percaya diri bahwa Fadil menyukainya.

Karin kembali duduk dan bercermin sambil tersenyum-senyum. Jiwanya kini berubah kembali feminim, menjadi wanita yang seutuhnya. Masih membekas diingatannya waktu tadi disekolah saat Fadil beraksi melakukan gaya cool nya mendrible bola waktu pertandingan basket antar kelas tadi. Setelah itu Fadil mendekatinya saat bersama Lekha yang duduk menonton dikantin. Pandangan Fadil sepintas tertoreh kepada Karin. Tapi sebenarnya hati Fadil tertuju kepada Lekha, siswi yang berprestasi dan santun itu.

"Oh ... Fadil, kapan kamu nembak aku?" batin Karin.

Karin merubah kembali penampilannya, rambutnya sudah kembali panjang sebahu, ia sekarang tanpa make-up. Menyisiri rambut lurusnya dengan poni-poni di kening. Karin ingat saat Fadil berkata (aku suka cewe yang natural, tanpa make-up. Karena disitu terlihat aura cantik dia yang sesungguhnya) tutur Fadil kala di sekolah tempo hari.

Karin mencoba jadi gadis yang Fadil inginkan, padahal ia belum mencerna kalimat Fadil itu yang sebenarnya di khususkan untuk Lekha. Karena Lekha seorang gadis yang cantik alami, tanpa make-up atau scincare.

"Ini aku, Karin yang sekarang, bukan Karin yang tomboy lagi, aku sekarang harus lembut seperti Lekha sahabatku" batin Karin kembali bergumam.

Esok harinya di sekolah. Saat bel istirahat berbunyi, Fadil mengajak Karin dan Lekha kekantin. Dengan senang hati Karin menurutinya, karena itu yang di harapkannya bisa ngobrol dengan Fadil. Sedangkan Lekha sebenarnya agak canggung, ia sudah bisa menebak bahwa Fadil pasti ada maunya, tapi Lekha mengira Fadil hanya ingin mendekati Karin.

"Hmmm ... aku gak mau ganggu ah, biarin Fadil berdua sama Karin dikantin" kata batin Lekha yang tidak punya perasaan apa-apa kepada Fadil.

Saat Lekha menolak, Fadil seolah tidak rela.

"Masa kamu gak ikut, ayo aku traktir nanti kalian. Masa cuma Karin aja!" ucap Fadil.

Karin melirik agak sinis kearah Lekha, yang sebenarnya ia hanya ingin berdua dengan Fadil.

"Duh, gimana ya?" sahut Lekha bingung.

Disitu Karin mencoba bersahaja kepada sahabat baiknya, meski menyimpan sedikit sebal.

"Ya udah, lo ikut aja, Kha! gue gak mau cuma berdua sama Fadil. Ayo ikut, kita kan sahabat!" ajak Karin.

Lekha sempat berpikir sejenak, akhirnya ia pun mau.

"Iya deh. Aku mau!" sahut Lekha yang menghargai ajakan Karin.

Fadil tersenyum, Karin mencoba berfikir positif.

Mereka bertiga lalu duduk di meja kantin sekolah. Fadil langsung menawari makanan kepada dua siswi yang duduk di depannya.

"O, iya, kalian mau makan apa? Ayo jangan malu-malu. Aku yang traktir, kok!" ucap Fadil.

Karin dan Lekha saling melirik. Seolah masih ragu menjawab makanan kesukaannya.

"Karin kamu mau makan apa?" tanya Fadil menawari.

"Mmm ... Bakso deh!" sahut Karin.

Fadil lalu mengarah kepada Lekha. Dengan nada yang lembut, seolah nada yang menyimpan perasaan sesuatu.

"Kalo kamu mau makan apa, Lekha?"

"Kalo aku, mie ayam deh." Sahut Lekha.

Fadil pergi memesan makanan mereka bertiga, Karin dan Lekha menunggu sambil duduk. Tak lama Fadil kembali sambil membawa nampan yang berisi satu mangkuk bakso dan dua mangkuk mie ayam. Fadil memilih makanan yang sama dengan Lekha. Disitu Karin merasa tidak ada kesamaan dengan Fadil.

"O, ya. Kalian minumnya apa?" tanya kembali Fadil.

.

Karin dan Lekha kembali bingung menjawab. Seperti tadi, Fadil menawari mereka satu persatu.

.

"Lekha, kamu mau minum apa?" tanya Fadil.

"Aku air putih aja, jangan pake es batu!" jawab Lekha.

"Kalau kamu, Karin?" tanya Fadil tertuju Kepada Karin

"Aku ikut kamu aja, Fadil."

Fadil kembali beranjak mengambilkan minum untuk mereka bertiga. Setelah Fadil kembali, ia membawa tiga gelas air putih. Disitu Karin mulai curiga, ia pun membatin.

"Kok Fadil malah ngikutin kesukaan Lekha terus sih? Hmmm ..."

Disaat waktu yang tepat, Fadil mendatangi Lekha dirumahnya setelah pulang sekolah. Mereka pun ngobrol di halaman rumah Lekha. Maksud kedatangan Fadil kesana, untuk mengungkapkan perasaannya kepada Lekha.

"Jujur, udah lama aku suka sama kamu, Lekha. Makanya aku sering deketin Karin biar aku dekat juga sama kamu!" ucap Fadil dengan lantang.

Lekha merasa tidak enak kepada Karin, karena ia tahu Karin sangat mencintai Fadil. Demi persahabatan mereka, Lekha mengatakan yang sejujurnya saat Fadil mengungkapkan perasaan kepadanya.

"Terus terang aja, aku hanya ingin mau berteman sama kamu, Fadil. Lagian aku tidak mau pacaran dulu, aku mau fokus sekolah. Karin suka banget sama kamu, coba sekarang perasaan kamu alihkan aja ke dia" tutur Lekha.

Fadil menunduk, ternyata cintanya tak sampai kepada gadis yang di inginkan. Fadil kembali berucap.

"Tapi aku tidak menyukai Karin. Aku cuma suka sama kamu!"

Dengan tenang Lekha menyikapi masalah ini dengan bijaksana.

"Kamu harus belajar mencintai Karin, dan kamu pasti bisa. Karin juga cantik dan baik, lambat laun kamu pasti tertarik sama dia setelah memahami tentang Karin yang sebenarnya. Karin sahabat terbaik aku, dan persahabatan aku dan Karin tidak mau hancur cuma gara-gara cowok. Aku lebih baik selalu mengalah buat kebahagiaan Karin." Ucap Lekha dengan tulus.

Setelah mendapat pengertian dari Lekha, akhirnya Fadil mencoba alihkan perasaannya untuk karin. Setiap disekolah, Fadil kini coba terus mendekati karin, pemuda itu tak henti menatap siswi yang di kenal si lesung pipi kecil itu, melihat Fadil mulai berbeda dari biasanya karin seolah yakin bahwa Fadil fokus pada dirinya, bukan lagi kepada lekha. Senyum lega pun terlukis diwajah lekha, ia merasa senang fadil bisa menyukai sahabatnya. Tapi tetap sebenarnya hati fadil masih belum bisa menghilangkan sepenuhnya rasa cinta kepada lekha. Karena cinta itu mudah datang bagaikan kilat, namun sulit untuk pergi begitu saja bagai karat dari besi. Meskipun dapat terlebur tapi masih menyisakan bercak-bercak kecil.

Suatu hari disekolah, kebetulan sekolah akan menyelanggarakan festival karya anak bangsa. Di acara itu akan diikuti berbagai macam bakat-bakat para siswa dan siswi yang selama ini belum tersalurkan, bakat yang akan di selenggarakan diantara lain tentang musik, puisi, seni tari, drama teater, dan lain-lain. Fadil ikut serta dalam acara tersebut, ia akan menampilkan kemampuannya bermain keaboard, karin akan menunjukan karya puisinya sedangkan lekha akan menampilkan gaya akting drama teater. Masing-masing mereka akan menciptakan sesuatu yang berhubungan dengan apa yang dialaminya melalui karya-karya yang akan di tampilkan.

Sambutan dari para guru, orang tua murid dan para siswa-siswi cukup meriah untuk fadil. Sebelumnya fadil sudah mempersiapkan lagu ciptaannya yang berjudul, "Tiga hati satu cinta" lagu ini kemudian ia tampilkan dengan begitu syahdu, sambil menggerakan jari-jemari lenturnya, fadil menyenandungkan lirik dalam nada yang indah.

"Tiga hati ... satu cinta, yang tak dapat dipungkiri, hanya satu yang tercinta, dan hanya satu yang kan terluka. Maafkan aku, yang selama ini hanya berpura-pura mencintai, karena hatiku tak mampu melupakannya"

Karin mencermati lirik-lirik yang Fadil nyanyikan itu. Seolah lagu yang di ciptakan Fadil itu tentang mereka bertiga.

Setelah penampilan Fadil, kini giliran Karin naik keatas panggung yang cukup megah itu, beberapa hari sebelumnya Karin telah menulis puisi, khususnya untuk seseorang yaitu fadil. Meski puisi tersebut bukan bertemakan tentang cinta tapi Karin pandai menyerempetkannya tentang masalah hubungan mereka.

"Rasa ... rasa bagaikan udara, yang tak dapat dilihat tapi bisa mengubah manusia menjadi apapun. Rasa senang, rasa sedih, rasa kecewa dan rasa lainnya. Sepandai-pandainya kita menyimpan rasa suatu saat rasa itu sendiri yang akan membuka suara."

Mendengar puisi yang Karin bacakan tadi, Fadil seolah tersindir. Seolah kalimat-kalimat itu ditunjukan untuknya. Fadil hanya bisa diam dan menunduk.

Setelah terseling dari beberapa penampilan murid, kini pada puncak acara akan ditampilkan sebuah drama teater yang berjudul "Pangeran matahari dan putri rembulan" Lekha berperan sebagai sang putri rembulan. Dia lalu berakting dengan khidmat, memikat semua yang menyaksikan pertunjukan itu. Cerita itu ketika sang pangeran matahari berpisah dengan putri rembulan.

"Wahai Gerhana ... kapankah kau datang. Agar aku dapat berjumpa dengan sang pangeran matahari. Aku merindukannya, tapi aku ikhlas jika dia sekarang bersama bintang yang lain." Ucap lekha dalam dialognya.

Selesai acara karin memanggil lekha dan fadil, disitu karin akan memecahkan dilema diantara mereka bertiga.

Setelah mereka bertiga berkumpul, Karin mengajak Lekha dan Fadil ngobrol disamping ruang LAB.

"Ada apa si, Rin, sampe ngajak kita ngobrol ngumpet-ngumpet gini?" tanya Lekha penasaran.

"Iya, rin. Kayanya serius banget kamu ngajak kita kesini" sambut Fadil.

Karin menghela nafasnya perlahan-lahan. Ia ingin membuka semua rahasia yang tersimpan di antara tiga hati itu.

"Kalian harus jujur, dan jangan ada yang di umpetin dari aku. Fadil, kamu jujur aja deh, dari lagu ciptaan kamu tadi aku ngerti kok, kamu itu terpaksa suka sama aku. Kamu itu sebenarnya suka sama Lekha. Aku paham kok!"

Fadil tak bisa berkata apa lagi, dia hanya bisa diam. Karin kembali berucap, sekarang yang di tuju adalah Lekha.

"Lekha, kalo Fadil sama kamu, aku ga apa-apa, kok! I'm fine. Kamu adalah sahabat baik aku dan aku gak mau persahabatan kita hancur gara-gara masalah ini. Sekarang, silahkan kamu jadian sama Fadil di depan aku, biar aku jadi saksinya. Aku ikhlas, yang penting kalian bahagia!" Ucap Karin sedikit agak merintih.

"Engga, Rin! Aku sama Fadil gak ada perasaan serius apa-apa, cuma sekedar kagum aja sama dia dan gak lebih, aku gak mau pacaran dulu, aku mau fokus mengejar cita-cita. Sebenarnya aku udah punya seseorang pilihan hati aku sendiri, tapi itu nanti. Yang pasti bukan Fadil, aku sama dia udah janji untuk mengejar cita-cita dulu bersama. Udah lah, lebih baik kita bertiga sahabatan aja, itu lebih baik daripada harus pacaran yang belum tentu ada faedahnya." Ucap Lekha dengan jelas.

Karin tersenyum, Fadil menunduk dan seketika suasana menjadi hening. Fadil menyadari apa yang dikatakan Lekha.

"Maafin aku, Karin,ya memang benar kata Lekha lebih baik kita sahabatan aja, biar gak ada yang kecewa. Aku juga belum terlalu serius pacaran." Sahut Fadil.

Mereka bertiga akhirnya tersenyum saling memandang satu sama lain. Akhirnya dilema itu berakhir tanpa ada yang terluka.

Karin tetap gadis yang selalu kesepian bila berada dirumah, hanya cermin yang menjadi teman curahan hatinya. Ia terus memandangi dirinya sendiri, gadis itu kembali dipenuhi kebimbangan, hingga sesuatu merasuk dalam tubuhnya. Karin ingin bebas dari belenggu kehampaan, dan rasa kecewa terhadap orang tuanya. Karin kembali bersolek di depan cermin dengan kosmetik-kosmetik mahal yang ia beli melalui online. Ia ingin tampil modis tanpa harus seksi. Selesai berdandan, Karin memandang wajahnya di cermin.

"Aku ingin keluar dari rumah ini. Aku udah muak kesendirian ini" batin Karin merontah.

Dengan gaya dan pakaian ala korean girls, Karin lalu pergi keluar rumah pada saat malam yang di sinari purnama penuh. Karin meng-call taksi online. Ia menunggu di depan gapura perumahan. Setelah taksi tersebut datang, Karin lalu naik dan menuju kesebuah hiburan malam. Karin lalu turun di depan bar yang cukup ramai didatangi pengunjung. Kemudian ia masuk dan duduk sambil memesan minuman jus buah ditemani alunan musik DJ remix yang hingar-bingar. Karin duduk sendiri menikmat jus sembari memandangi orang-orang yang sedang berdance penuh kegembiraan. Lampu terus berkelap-kelip mewarnai isi bar, tanpa diduga Karin dikejutkan oleh seseorang yang memanggilnya dari belakang.

"Hay ..."

Karin menoleh, tampak seorang pria tampan, bertubuh tinggi sekal, rambut ikal dan hidung mancung berdiri tegap sambil senyum memandanginya.

"Boleh saya temani?" tanya pria itu.

"Karin agak sedikit gugup. Namun ia coba menghargai lelaki tampan itu.

"Boleh aja" sahut Karin.

Pria itu lalu duduk dan memperkenalkan dirinya.

"Aku Bram. Nama kamu siapa?" tanya pria itu sambil menjulurkan telapak tangan.

Karin menyambut jabatan tangan pria itu sambil menjawab namanya.

"Aku Karin."

"Oh, nama yang bagus! Kayanya kamu sendirian datang kesini yah? Pasti kamu lagi ada masalah, soalnya aku bisa nebak dari raut wajah kamu yang bete gitu!" tutur Bram.

"Iya. Emang bener sih aku lagi banyak masalah, terutama masalah orang tua." Sahut Karin.

Bram coba terus menguak tentang Karin.

"Apa kamu masih sekolah," tanya lagi Bram.

"Iya, aku masih SMA. sebenarnya gak pantas datang ketempat ini, tapi aku udah muak dirumah, orang tua aku selalu sibuk!"

Bram coba terus mencermati. Ia tak henti-hentinya memandangi Karin.

"Tapi kamu keliatan dewasa dengan dandanan seperti ini, kamu cantik." Puji Bram.

"Ah ... semua cowo pasti bilang gitu sama cewe. Di bilang cantik udah biasa dan gak bakal kesanjung lagi" sahut Karin kembali.

Bram coba alihkan ke yang lain, ia sadar bahwa pujian kata cantik itu hal yang sudah biasa bagi perempuan jaman sekarang.

"Oke. Kamu sekarang rileks aja! Lupain masalah kamu sejenak, kita senang-senang disini!"

Bram lalu memesan dua botol minuman yang beralkohol tinggi. Lalu ia menuangkannya kedalam gelas kosong Karin.

"Ayo minum. Kamu pasti rileks!"

"Gak ah ... aku gak biasa!" tolak Karin.

"Ayo gapapa. Nanti juga biasa, pokoknya dijamin kamu lupa sama masalah kamu!"

Bram terus membujuk Karin agar mau meminumnya. Dengan ragu-ragu Karin lalu meneguknya. Beberapa tegukan kepalanya sudah mulai pening, Karin merasa jiwanya melayang, seolah ia terlepas dari segala beban.

"Karin, ayo kita dance! Musiknya asyik nih!"

Bram lalu menarik tangan Karin untuk mengajak dance. Gadis itu pun larut dalam kenikmatan duniawi.

Semakin malam Karin semakin tidak sadarkan diri. Bram sudah melihat gadis belia itu mabuk berat. Bram memapah Karin keluar bar, dan menaiki kesepeda motornya yang terparkir.

"Karin?"

"Heeeh ..."

Karin sudah lunglay, matanya semakin menyipit dan pandangannya berputar-putar.

"Kamu pegangan yah di belakang, yang kencang!" ucap Bram sedikit panik.

"Iyaaah ... Bram" sahut Karin melemah.

Bram menyalakan mesin motornya lalu ia membawa Karin kekontrakan tempat tinggalnya. Bram adalah seorang mahasiswa fakultas tekhnik, di daerahnya ia anak orang yang cukup terpandang.

Sesampainya di kontrakan, Bram membopong tubuh Karin kedalam lalu membaringkannya di kasur lantai, kemudian Bram memasukan motornya diruang depan dan mengunci pintu Kontrakan yang lumayan luas itu cukup untuk mereka berdua. Bram lalu melepas pakaiannya, sedangkan Karin sudah setengah tertidur. Bram lalu duduk memandangi Karin yang sedang terbaring. Keringatnya mengucur sekujur tubuh dan dengusan nafasnya berapi-api ketika melihat tubuh Karin yang perfect, bibir mungil dan kulit putih. Tangan Bram mulai jail, ia mengusap-usap wajah Karin, membelai lehernya dan mengelus bagian ..., tak terasa jemarinya menegang ketika .... sesuatu yg ..... , seketika Karin menggeliat, ia menggigit-gigit bibirnya sambil mendesah kecil. Bram perlahan-lahan mulai *******-***** bibir Karin, lalu di jepit-jepit oleh kedua bibir Bram. Kemudian ...

penasaran kelanjutannya?

baca di cerpen judulnya: karina's mooring

jan lupa tinggalkan like❤️

1
kevv
msih aktif gak sih ni akun mu
Zaaa..: Baru aktif lgi skrg
total 1 replies
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
semangat terus yg up yah kk..
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
like mendarat deuii.. hihi
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
nyesek euy.. hiks
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
nice thor..
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
wah..seru thor..next
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
lanjur besok baca nya, seru beud sih, tp signal tak mendukung..hiks
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
komeng mendarat deuii.. hhhh
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
nice thor..
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
like datang lagi.. hihi
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
up
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
semangat terus yah kk..
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
lanjut
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
cek
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
ujan lebat, petir nya pun hebat, jd bapuk lah..hiks
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
pelengkap, biar mantap..hhhh
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
boom like jd susah, bapuk pun..huft
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
ujan, signal bapuk euy..huft
Jilioni MD: KEPEMILIKAN adalah cerita dalam novelku, jika berkenan mampir ya, langsung di klik profilku, terimakasih😊
total 1 replies
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
jejak ku
🎤༈•⃟ᴋᴠ•`♨♠Echa🐞Jamilah🍄☯🎧
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!