Kehancuran kerajaan Kastara membuat Kanilaras harus mengembara mencari pasangan dari pedang Bulan yaitu pedang Naga. Kedua pedang itu adalah pedang legenda yang di percaya memiliki kekuatan yang sangat dahsyat jika disatukan.
Di saat Kanilaras mengembara tepatnya pada malam gerhana bulan terjadi dia mengalami suatu peristiwa yang sangat aneh karena di malam itu dirinya tersedot kabut hitam disertai petir yang menggelegar.
Ketika dia membuka mata, dia menyadari bahwa dirinya sudah tidak berada dalam kondisi yang sama. Zaman sudah berubah, dia juga melihat semua orang tidak mengendarai kuda lagi melainkan menggunakan mobil benda yang dia tidak tahu apa.
Dalam kondisi ini, apakah Kanilaras akan menemukan jalan agar bisa kembali ke zaman kuno dan melanjutkan misinya yang mencari pedang Naga dan membalaskan dendamnya pada orang yang telah membantai habis rakyatnya?
Atau dia akan berakhir begitu saja di masa depan? Apa yang akan terjadi selanjutnya dalam kehidupan Kanilaras?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepenggal Cerita
Kanilaras masih berdiri terpaku memunggungi Bibi Kenny yang sedari menahannya untuk pergi.
"Ini aku," katanya sambil berbalik menatap Bibi Kenny—orang kepercayaan Kendrick.
"Nona! Sejak kapan Nona bisa berbicara dan berjalan?" Matanya tidak pernah berpaling dari gadis itu dan menelisik setiap inci.
"Saat orang gi ... em, maksudku Tuan Ken membanting dan mengobati lukaku," jawab Kanilaras gugup.
"Apa alasan Nona membohongi kami?" tanya Bibi Kenny setelah menyetabilkan emosinya.
"Eh ... anu, itu aku—" Pernyataan Kanilaras yang menggantung membuat Bibi Kenny mengernyitkan keningnya.
"Apa?" Suara keras Bibi Kenny membuat Kanilaras terkejut hingga berkedik.
Bagaimana aku menjawab pertanyaan wanita ini? Tidak mungkin kukatakan jika aku ini bukan gadis yang mereka maksud, batinnya dalam kebingungan.
"Nona! Apa yang Anda pikirkan?" Pertanyaan Bibi Kenny membuat Kanilaras sadar dari lamunannya.
Kedua alis gadis itu terangkat dan tatapan matanya yang sayu membuat Bibi Kenny menitihkan air mata.
"Tidakkah Nona kasihan kepada saya dan juga Tuan? Kami sangat mengkhawatirkan keadaan Nona selama setahun ini," jelas Bibi Kenny yang menghamburkan pelukannya.
Kanilaras mengedipkan matanya berulang kali, dia sangat tidak menyangka. Wanita kaku dan judes ini menangis dan mengkhawatirkan keadaannya, tapi dia juga bingung kenapa dia menjadi Arastya Ningrum dan lagi sifat pria yang bernama Kendrick itu selalu berubah-ubah. Kadang tegas, lembut dan juga bringas, tiga sifat yang bertolak belakang.
"Bik, apa boleh aku bertanya?" Ragu-ragu Kanilaras melontarkan pertanyaan ini.
Perlahan dekapan tangan wanita paru baya tersebut mengendur dan dia mengusap kasar wajahnya. Netra itu terus memandangi gadis yang saat ini berdiri dengan kepala tertunduk.
"Apa yang Nona ingin tanyakan?" sahutnya dengan kepala yang miring.
"Ehm, sebenarnya siapa aku? Dan kenapa ... aku berada di sini? Apa aku saudari Tuan itu?" berondong Kanilaras sembari menatap ruang tamu dengan bola mata yang terus celingukan.
Sorot mata Bibi Kenny berubah serius saat mendengar pernyataan Kanilaras.
"Nona, benar-benar tidak mengingat siapa Nona sebenarnya?" Alih-alih menjawab Bibi Kenny malah balik melontarkan pertanyaan.
Gadis itu mengangguk kecil seraya mendongakkan kepalanya untuk membalas tatapan Bibi Kenny.
"Tapi, kenapa Nona mengingat saya!" kata Bibi Kenny dengan ekspresi biasa saja tanpa menyiratkan kekhawatiran.
Bisa dibilang wanita itu tengah dalam fase mode pengaturan pabrik, itu sebabnya dia menyuguhkan wajah expressionless flat face.
"Karena kamu selalu berada di dekatku! Itu sebabnya aku mengetahui bahwa kamu orang baik yang selalu menjagaku." Kanilaras menyentuh kedua tangan Bibi Kenny, "tolong jawab pertanyaanku Bik!" desak Kanilaras penuh harap.
Bibi Kenny mendongakkan kepalanya menatap setiap sudut ruangan dan dia mengangkat tangan kirinya seakan meminta sesuatu kepada seseorang.
"Ayo, ikut Bibi!" ajak Bibi Kenny seraya menarik tangan Kanilaras menuju ke sebuah ruangan yang aman.
Sesekali gadis itu menatap kebelakang dan menggulirkan bola matanya ke arah lantai dua, dia khawatir pria yang bernama Kendrick terbangun dari tidurnya.
"Kita mau kemana Bik?" tanya Kanilaras penuh penasaran.
"Diam! Kita tidak punya banyak waktu!" ucap wanita tegas itu.
Apa dia mau mencelakai aku? kata Kanilaras dalam hati.
Saat pikirannya menjalar ke mana-mana Bibi Kenny sudah menariknya masuk ke sebuah ruangan yang lumayan besar, walau tidak sebesar kamar yang dia tempati selama ditinggal di sini. Daun pintu pun tertutup rapat dan terdengar suara kunci pintu yang diputar. Sorot mata Bibi Kenny berubah, yang semula tajam kini kembali teduh seperti beberapa menit yang lalu.
"Dengarkan Bibi baik-baik Non!" ujar Bibi Kenny sembari mendudukkan Kanilaras di kursi berbentuk bundar.
"Jika benar-benar Nona lupa dengan identitas Nona, sebaiknya Nona tutup rapat-rapat dan berperilaku seperti biasa! Nanti Bibi akan beritahu semua tentang Nona, tapi bertahap tidak perlu menjelaskan segalanya saat ini. Bibi takut Tuan Ken bangun dan mencari Nona," papar Bibi Kenny seraya melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
"Ada hal lain yang Nona ingin ketahui?" Bibi Kenny menakupkan kedua tangannya di sebagian wajah Kanilaras.
Gadis itu mengangguk cepat, "Siapa Arastya Ningrum? Apa hubungan Aras dengan Ken?"
"Arastya Ningrum itu adalah Nona dan hubungan Nona dengan Tuan. Hanya Nona dan Tuan sendirilah yang tahu, karena Bibi tidak memiliki wewenang untuk menjelaskan. Sebaiknya Nona cepat kembali ke kamar!" saran Bibi Kenny dengan suara dalam khasnya selama ini.
Apa-apaan ini? Bukannya menjelaskan secara betul dia malah bikin aku semkin penasaran, argh ... sialan! maki Kanilaras dalam hatinya.
Dia begitu sangat tidak puas dengan penjelasan dari Bibi Kenny. Dia juga tidak mengerti dengan jawaban 'hanya dia dan Ken yang mengetahui hubungan mereka', bagaimana di tidak semakin menggebu akan kehidupannya saat ini.
"Nona! Kenapa sering melamun?" Mengangkat kedua alisnya, "apa yang Nona pikirkan?" imbuh Bibi Kenny sembari mengangkat dagu gadis yang duduk di hadapannya.
Kanilaras mengulas senyum kecil.
"Tidak ada Bik. Aku hanya mengingat-ingat kejadian yang menimpah ku, apa Bibi bisa menceritakan peristiwa ini saja, kumohon ...!" Menyatukan kedua telapak tangannya dan sedikit dia gosok-gosok.
"Saat Nona dan Tuan liburan, ada seorang pria yang menghampiri kalian yang tengah asyik berbincang." Terlihat Kanilaras menyimak penjelasan dari Bibi Kenny, "pria itu meminta Tuan Ken untuk mengizinkannya untuk berbicara empat mata dan ... karena Nona dan pria itu memiliki hubungan kerabat akhirnya Tuan mengizinkan. Tidak lama dari itu pria itu menghampiri Tuan yang duduk di kap depan mobil. Pria itu berkata pada Tuan," kata-kata Bibi Kenny berhenti sebelum selesai menjelaskan.
"Apa yang dikatakan pria itu Bik?" Kanilaras mengguncang bahu Bibi Kenny yang tengah terbengong.
"Bibi ...," sambung Kanilaras antusias.
"Pria itu berkata 'dia akan datang dan kamu mungkin akan berjuang' seperti itu Nona, tidak lama setelah itu Nona berlari ke sisi tebing dan berteriak. 'Ken! Kau akan menjadi manusia terhebat yang pernah ada. Jadi bersabarlah dan jangan lupakan sosokku!' Itu yang Nona sampaikan pada Tuan Ken," ungkap Bibi Kenny tanpa jeda, "seperti biasa Tuan yang tengah tertekan tidak langsung membantu Nona, dia malah sibuk merusak properti yang kami bawa untuk camping saat itu."
Pada waktu itu, Kendrick sangat emosi dengan ucapan pria yang menemui Aras, tanpa basa-basi Kendrick menghabisi pria itu dengan sekali tembakan. Ketika emosi Kendrick stabil barulah dia sadar bahwa gadis yang dia bawa telah terjun bebas ke danau yang akan menerima tubuh mungilnya tanpa penolakan.
"Tuan Ken benar-benar hancur kala itu, dia sangat menyesali keterlambatannya menyelamatkan Nona. Beruntung Tuan Ken memiliki soldier dan worker yang setia dan mumpuni," lanjut Bibi Kenny setelah terdiam beberapa saat.
"Apa yang kalian lakukan di sini!" Bentak Kendrick.
"Mata hanzel green milik Tuan terlihat sangat menyeramkan kala mendelik seperti itu." Bibi Kenny merkidik saat membayangkan sorot mata Kendrick.