Adira adalah seorang gadis cantik yang memutuskan untuk langsung menerima lamaran dari pria yang tidak ia kenal untuk membalas sakit hati setelah mendapati kekasihnya berselingkuh.
Sifat Andira yang terkadang ceroboh telah membuatnya terkejut ketika di hari pernikahannya ia melihat calon suaminya yang ternyata adalah seorang pria buruk rupa.
Arkan adalah seorang CEO yang memiliki wajah buruk rupa setelah kecelakaan yang ia alami. Tunangannya meninggalkannya di saat terpuruknya sehingga membuat Arkan tidak percaya lagi pada wanita manapun yang bisa menerima segala kekurangannya. Arkan tidak peduli dengan istri yang di pilihkan oleh orang tuanya yang tidak lain adalah Adira.
Bagaimana kehidupan rumah tangga Adira dan Arkan ? Apakah Adira akan menyesali keputusannya dan Arkan tetap tidak mempercayai Adira ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melihatnya Lagi
Semakin hari hubungan Arkan dan Adira semakin dekat. Tak jarang Arkan memberanikan diri untuk melakukan ciuman panas kepada Adira. Tapi selalu berujung kecewa yang di rasakan oleh Adira karena Arkan akan menghentikannya setelah membuat wanita itu melayang. Sebagai seorang istri, Adira merasa sedih dan tidak percaya diri karena merasa Arkan tidak ingin menyentuhnya. Namun Adira selalu berprasangka baik kepada suaminya. Mungkin Arkan masih membutuhkan waktu untuk bisa menerimanya sebagai istri.
Sementara Arkan merasakan hal yang sama seperti Adira. Arkan selalu tidak bisa mengendalikan dirinya ketika melihat Adira terbaring di sebelahnya. Melihat leher jenjang dan bibir manis milik wanita itu selalu membuatnya ber gairah. Arkan hanya bisa sebatas mencium Adira untuk menenangkan gejolak dalam dirinya. Dan apabila ia sudah mencapai batasnya, Arkan akan menuntaskan sendiri di kamar mandi. Tanpa ia sadari apa yang ia lakukan telah membuat hati sang istri kecewa.
Arkan menghela napasnya lemah setelah melepaskan sesuatu dari dalam tubuhnya. Arkan ingin menciptakan pengalaman pertamanya dengan indah. Ia tidak akan melakukan itu sebelum melepaskan topeng yang membuatnya jadi si buruk rupa.
"Nona, anda kenapa ?" tanya seorang karyawannya yang melihat Adira memejamkan mata sambil memijat kepalanya.
"Tidak apa-apa. Hanya pusing sedikit." jawab Adira jujur.
Karena terlalu sering hormon estrogen yang tertahan membuat Adira merasa pusing.
"Saya akan ambilkan obat untuk anda." kata karyawan itu sigap. Tapi Adira lebih dulu menahannya.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin tidur sebentar. Nanti sakitnya juga akan hilang sendiri." Adira meletakkan pakaian yang sedang di periksanya karena ia akan kembali ke ruangan kerjanya.
"Meta, jika ada yang mencari ku, katakan aku tidak ada." pesan Adira kepada salah satu karyawannya.
"Baik, nona."
Sudah dua jam Adira tertidur dengan pulas. Adira bahkan tidak sadar jika Arkan sudah datang ke butik untuk menjemputnya. Semua karyawan butik sudah kenal dengan Arkan. Jadi, Meta mengizinkan suami dari manager butik ini untuk masuk ke dalam ruangan Adira.
Memandang wajah cantik Adira yang sedang terlelap. Jujur ia merasa sedikit cemas ketika Meta mengatakan jika Adira sedang sakit kepala.
"Kau sudah sampai ?" Adira terbangun dari tidurnya dan melihat Arkan sedang duduk di kursi kerjanya.
"Maaf, aku ketiduran. Kau sudah lama ? Mengapa tidak membangunkan ku ?" Adira segera mengemasi barang-barangnya yang berserakan di atas meja.
"Kau sakit kepala ?" Arkan tidak menjawab pertanyaan Adira tapi ia malah balik bertanya.
"Ah, tidak lagi. Aku hanya mengantuk tadi." jawab Adira.
Pasti Meta yang mengatakan kepada Arkan jika dia sakit kepala. Para karyawan butik sangat takut kepada suaminya. Bukan karena Arkan yang selalu memakai masker. Tapi karena suara pria itu terdengar dingin dan menakutkan menurut mereka. Adira hanya terkekeh mendengar pengakuan dari para pekerja di butiknya.
Setelah membereskan semua barang-barangnya Adira dan Arkan keluar dari butik.
"Di mana Hen ?" tanya Adira yang melihat Arkan mengendarai mobilnya sendiri.
"Dia ada urusan penting." bohong Arkan. Arkan menyuruh Hen pulang terlebih dahulu karena ia akan menunggu Adira yang sedang tidur tadi. Arkan tidak peduli dengan sang asisten yang selalu setia itu pulang dengan cara apa. Karena tadi Hen yang mengemudikan mobil datang ke butik.
"Bisakah kita mampir ke swalayan sebentar ?" tanya Adira menoleh pada Arkan yang sedang fokus menyetir. Ia ingin membeli barang keperluan pribadinya.
Arkan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Adira. Arkan menghentikan mobilnya di salah satu mall yang terkenal di kota ini. Padahal Adira hanya ingin membeli pembalut, tapi ya sudahlah. Arkan malah membawanya ke mall. Arkan mengikuti Adira masuk ke tempat yang di tuju. Adira membeli beberapa barang kebutuhannya dan juga barang kebutuhan Arkan yang ia lihat sudah hampir habis di rumah. Diam-diam Arkan tersenyum melihat Adira yang perhatian kepadanya.
Arkan kemudian menghentikan langkahnya ketika seperti melihat seseorang yang ia kenal dan Arkan pergi meninggalkan Adira karena ingin mengikuti orang tersebut.
"Apa ada yang ingin kau inginkan lagi ?" tanya Adira tanpa menoleh ke belakang.
"Arkan, kau ingin ..." Adira tidak melihat Arkan saat ia berbalik badan.
"Arkan." panggil Adira sembari melihat ke sekeliling. Tapi ia tidak melihat keberadaan Arkan di sana.
Adira melanjutkan langkahnya menuju ke meja kasir untuk membayar barang belanjaannya. Setelah itu baru ia akan menghubungi Arkan yang tiba-tiba menghilang dan entah pergi ke mana.
Cukup jauh Arkan mengikuti sosok wanita yang sedang berjalan dengan tergesa-gesa sehingga ia kehilangan jejak ketika tiba di parkiran. Suara dering ponsel menghentikan Arkan untuk mencari wanita itu.
"Adira."
Arkan tersentak ketika ia melihat Adira yang menelpon. Ia baru sadar jika tadi ia sedang bersama dengan istrinya itu.
"Arkan, kau di mana ?" tanya Adira begitu Arkan mengangkat panggilan darinya.
"Aku ada di parkiran." jawab Arkan sedikit merasa bersalah.
"Baiklah, aku akan segera keluar." Adira mematikan sambungan teleponnya dan segera berjalan ke luar mall karena takut Arkan marah. Mungkin Arkan merasa bosan menemaninya sehingga pria itu memilih keluar terlebih dahulu.
"Ya Tuhan, apa aku terlalu lama memilih barang."
Adira melihat jam di pergelangan tangannya. Rasanya tidak terlalu lama juga dia belanja. Tapi, entahlah. Mungkin Arkan memang tidak suka menunggu.
"Maaf, sudah membuat mu menunggu." kata Adira begitu masuk ke dalam mobil.
Alih-alih menanyakan mengapa Arkan meninggalkannya, Adira lebih memilih meminta maaf karena tidak ingin mempermasalahkan hal sepele seperti ini dan membuat Arkan marah.
Arkan tidak menjawab dan langsung menyalakan mesin mobilnya untuk segera pulang.
*
Malam harinya. Setelah makan malam seperti rutinitas biasanya Arkan masuk ke dalam ruangan kerjanya. Bukannya memeriksa laporan dari perusahaan, Arkan malah melamun mengingat kejadian sore tadi.
Perasaan Arkan menjadi tidak menentu saat melihat lagi wanita yang sudah dua tahun ini meninggalkannya dengan tanpa perasaan. Padahal ia sangat membenci wanita yang pernah menjadi tunangannya itu. Tapi mengapa tadi ia malah mengejar wanita itu ? Mengapa ia ingin menemuinya lagi ?
blom lahiran c Adira 🤔
makasih Thor 🙏
biarin aja kasih pelajaran para paksu 🤗🤣🤣🤣
tuh c pelakor masih aja kek belatung nangka 😏🤦😠😠