"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Arlan berdiri di balik dinding kaca ruang rapat yang gelap, matanya tertuju pada sosok Runa yang sedang duduk di kursi kebesaran Azel di dalam ruangan sana. Ia melihat bagaimana Runa tampak canggung saat Azel meletakkan sebuah jaket di bahunya—gestur protektif yang sangat ia benci.
Arlan mendengus, lalu menyandarkan kepalanya ke kaca. Ingatannya terseret mundur, jauh ke masa sepuluh tahun yang lalu.
...----------------...
Kilas Balik: Musim Hujan di SMA
Arlan yang dulu adalah definisi dari "anak nakal yang berduit". Hobinya bolos pelajaran, nongkrong di atap sekolah sambil merokok diam-diam, dan balapan liar. Baginya, sekolah hanyalah tempat untuk membuang waktu sampai ia mewarisi perusahaan ayahnya.
Sampai suatu hari, ia kalah taruhan dan terpaksa harus ikut kelas tambahan kimia. Di sana, ia bertemu dengan Runa.
Gadis itu duduk di barisan paling depan, kacamata bertengger di hidungnya, dan tangannya sibuk mencatat dengan sangat rapi. Arlan awalnya berniat tidur, tapi suara Runa yang lembut saat menjelaskan rumus ke teman sebangkunya entah kenapa terdengar lebih merdu dari suara mesin motor sport-nya.
"Kamu salah masukin variabelnya, Arlan. Kalau begini terus, tabung reaksinya bisa pecah," ucap Runa tiba-tiba, menoleh ke arah Arlan yang hanya melamun menatap buku kosong.
Arlan tersentak. "Biarin. Emang gue peduli?"
Runa tidak marah. Ia justru tersenyum—senyum tulus yang membuat jantung Arlan seolah berhenti berdetak sesaat. "Egois banget. Kasihan kan laborannya harus beresin pecahannya. Sini, aku ajarin."
Sejak hari itu, Arlan berubah.
Dia yang biasanya datang jam sembilan pagi, mendadak jadi murid paling rajin yang sudah stand-by di depan gerbang jam tujuh hanya untuk melihat Runa turun dari angkot. Dia mulai caper dengan cara-cara yang konyol; mulai dari sengaja membelikan satu kantin jus jeruk (karena tahu Runa suka jeruk), sampai berpura-pura tidak mengerti pelajaran matematika agar bisa minta diajari Runa di perpustakaan.
Bagi Arlan, Runa adalah satu-satunya alasan dia ingin menjadi "orang benar". Dia mulai belajar serius, dia berhenti balapan, dan dia mulai menyusun rencana masa depan bersama gadis sederhana itu.
Hari Patah Hati Nasional bagi Arlan
Arlan sudah menyiapkan segalanya. Sebuah pengakuan cinta di taman belakang sekolah setelah ujian nasional berakhir. Dia sudah membeli kalung inisial yang mahal dan bouquet bunga matahari kesukaan Runa.
Namun, langkahnya terhenti saat ia melewati lorong sepi dekat laboratorium kimia.
Di sana, ia melihat Runa. Tapi Runa tidak sendirian.
Dazello Zelbarra—saingan abadinya sejak TK, anak dari keluarga musuh bebuyutan ayahnya—sedang berdiri di depan Runa. Azel yang kaku, Azel yang selalu juara satu umum, Azel yang selalu mendapatkan apa yang Arlan inginkan.
Arlan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Azel memberikan sebuah buku catatan kecil pada Runa, lalu Runa tertawa kecil dan mengangguk.
"Mulai hari ini, aku pacarmu. Jangan berani-berani bicara pada pria berisik seperti Arlan lagi," ucap Azel dengan nada posesifnya yang khas.
Runa hanya tersenyum malu-malu dan menjawab, "Iya, Azel. Lagian Arlan itu cuma teman belajar yang lucu kok."
Dunia Arlan runtuh. Kata "teman belajar yang lucu" terasa lebih menyakitkan daripada ditabrak truk. Ia melihat Azel meraih tangan Runa dan menggenggamnya erat—genggaman yang sama yang ia lihat hari ini di kantor Zelbarra.
Arlan melempar bunga dan kalung itu ke tempat sampah.
Sejak hari itu, cintanya berubah menjadi obsesi dan rasa dengki. Jika dia tidak bisa memiliki Runa karena Azel, maka dia akan memastikan Azel pun tidak bisa memilikinya dengan tenang.
...----------------...
Kembali ke Masa Sekarang
Arlan menjauh dari kaca, senyum sinisnya kembali terkembang. Ia merapikan jasnya, menatap bayangannya sendiri di dinding marmer.
"Lucu ya, Runa?" gumamnya pelan. "Dulu kamu menganggapku lucu karena aku selalu mengejarmu. Tapi sekarang, aku sudah punya segalanya untuk menghancurkan pangeran esmu itu."
Arlan tahu rahasia yang tidak diketahui Azel. Dia tahu bahwa Runa sangat takut jika status pernikahannya bocor di sekolah. Dan Arlan juga tahu, bahwa Runa masih memiliki rasa minder yang sangat besar—titik lemah yang akan ia gunakan untuk menarik Runa kembali ke sisinya.
"Permainan baru dimulai, Zelbarra. Mari kita lihat, siapa yang akan tertawa paling akhir saat istrimu yang 'suci' itu memilih untuk lari darimu karena malu," desis Arlan sambil melangkah masuk ke ruang rapat dengan niat jahat yang terselubung.
...----------------...
Sementara itu di dalam, Runa tiba-tiba merasa merinding. Ia mengeratkan jaket Azel di bahunya, sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, singa dari masa lalunya baru saja mengasah kuku untuk menerkam ketenangannya.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣