Nayla Faranisa, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA kelas 12, Ia tinggal berdua dengan Abang nya yang merupakan seorang pengusaha kaya raya, sejak kematian kedua orang tua mereka delapan tahun silam, Gerald sang kakak adalah orang yang selalu melindungi adik satu-satunya yang kini telah menginjak dewasa, siapa sangka Gerald mulai menyukai Nayla yang kini bertransformasi menjadi seorang gadis yang sangat cantik, Ia tak rela jika sang adik dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Hingga akhirnya Gerald benar-benar jatuh cinta kepada adiknya. Dan ia bertekad untuk menjadikan adiknya sebagai miliknya agar tidak ada pria yang coba-coba mendekati Nayla.
Nayla pun tak terima dengan perlakuan sang Kakak, tapi Gerald tetap meyakinkan kepada Nayla jika dirinya benar-benar mencintai gadis itu.
Akankah Gerald berhasil meluluhkan hati Adiknya? Rahasia apa yang membuat Gerald yakin jika Nayla akan menjadi miliknya untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 HTA
Nayla memperhatikan wanita itu heran, dia seperti bukan wanita biasa, penampilan nya yang mewah menunjukkan dia adalah wanita kaya dan dari kalangan sosialita.
"Maaf Bu! Saya permisi dulu." pamit Nayla sembari beranjak pergi meninggalkan wanita itu.
"Tunggu, Nak!" panggil wanita kepada Nayla.
"Iya, Bu! Ada yang dapat Saya bantu?" tanya Nayla sembari menghampiri wanita itu.
"Kenalkan! Namaku Nurmala, Aku datang ke sini untuk menemui kepala sekolah, Aku sangat senang bisa berjumpa dengan mu, Nak! Bolehkah Aku memelukmu sebentar saja, Nayla!" pinta Nurmala yang membuat Nayla mengerutkan keningnya.
"Ta-tapi Bu! Saya berkeringat banyak, takutnya Ibu tidak nyaman memeluk Saya!" ucap Nayla sembari melihat kondisi kaos olahraga nya yang dipenuhi oleh keringat.
"Tidak apa-apa, tidak masalah bagiku." balas Nurmala sembari berharap bisa memeluk Nayla.
"Nanti baju Ibu jadi kotor!" Nayla merasa tidak enak jika Nurmala memeluknya, Ia takut jika Nurmala tidak nyaman dan risih, karena Nayla sedang dalam berkeringat seusai berolahraga.
Nurmala menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Tidak apa-apa, Aku tidak mempermasalahkan nya, kamu mengingatkan ku pada putriku, mungkin sekarang dia sudah sebesar kamu, Nak! Kalau Aku boleh tahu siapa nama kedua orang tua mu?" tanya Nurmala penasaran.
"Pak Sudarsono dan Bu Lilis." jawab Nayla dengan senyuman.
"Nayla Faranisa! Aku tahu kamu adalah putriku, maafkan Mama, Nak! Mama pernah meninggalkan mu di rumah Pak Sudarsono, Mama tidak punya pilihan lain selain menitipkan mu kepada keluarga baik itu, jika kamu bahagia bersama mereka, Mama ikut berbahagia dan akan merelakan mu menjadi putri Pak Sudarsono. Namun, jika kamu tidak bahagia, Mama akan membawamu pulang, Mama akan menebus semua kesalahan Mama padamu, Mama tidak akan membiarkan mu terluka dan menderita." batin Nurmala sembari berkaca-kaca menatap wajah sang putri yang selama 17 tahun tidak Ia jumpai.
Nayla melihat Nurmala yang tanpa sengaja menitikkan air matanya, Ia pun mendekati Nurmala dan berkata, "Kenapa Ibu menangis?" tanyanya dengan menatap wajah Nurmala penuh iba.
"Tidak apa-apa, Ibu cuma seperti melihat putri Ibu di sini, maaf!" jawab Nurmala sembari mengusap air matanya. Nayla pun segera memeluk Nurmala seolah-olah dirinya adalah putri Nurmala. Tentu saja Nurmala semakin tidak bisa membendung air matanya saat sang putri memeluknya begitu saja.
"Nayla!" suara itu terdengar begitu bergetar dari bibir Nurmala, sementara Nayla hanya bisa mengerutkan keningnya dan berkata, "Saya juga senang bisa bertemu dengan Bu Nurmala, semoga Bu Nurmala bisa segera bertemu dengan putri Ibu." ucapnya sembari tersenyum kepada Nurmala.
"Terima kasih, Nak! Kamu cantik sekali Nayla, pasti kedua orang tua mu sangat menyayangimu, pasti kamu sangat bahagia memiliki orang tua yang lengkap dan mencintai mu, Ibu ikut senang!" ucap Nurmala. Mendengar penuturan dari Nurmala, Nayla terlihat menundukkan wajahnya dan wajahnya mulai menunjukkan kesedihan.
Tentu saja Nurmala terkejut dan penasaran kenapa tiba-tiba ekspresi wajah Nayla berubah saat Ia menyinggung kedua orang tuanya.
"Papa dan Mama sudah meninggal dunia, Bu! Dan Saya cuma tinggal bersama Abang Gerald, selama ini Abang lah yang menjaga Saya." mendengar pengakuan dari Nayla, seketika Nurmala menggelengkan kepalanya tak percaya, ternyata sepasang suami istri yang baik itu sudah meninggal dunia. Ia tak bisa bayangkan bagaimana Nayla menjalani kehidupan sehari-hari tanpa orang tua nya.
"Pasti kamu sangat merindukan mereka."
"Sangat! Nay sangat merindukan mereka, Bu! Di saat teman-teman Nayla datang bersama orang tua nya ke sekolah, di situ Nay merasakan betapa kehilangan kedua orang tua Nay, Nay iri kepada mereka, andai saja Papa dan Mama masih hidup, mungkin Nay tidak akan pernah merasakan tidak punya orang tua, Mama dan Papa adalah orang tua Nay yang paling sempurna, karena mereka menyayangi Nay tanpa syarat, mereka berdua tetap mencintai Nay meskipun Nay bukan ...!" Nayla tidak melanjutkan kata-katanya karena Ia tak sanggup untuk mengatakan jika orang tua kandungnya sudah meninggalkan nya.
"Bukan apa? Katakan?" desak Nurmala yang terlihat begitu penasaran.
"Tidak! Tidak apa-apa, Bu. Kalau begitu Saya permisi dulu, teman-teman pasti mencari Saya, Mari!" pamit Nayla.
"Tunggu Nayla!" Lagi-lagi Nurmala menghentikan langkah Nayla untuk pergi, wanita itu terlihat melepaskan kalung berlian yang melingkar pada leher nya dan hendak memberikan nya kepada Nayla.
"Ambillah! Aku berikan ini untuk mu, anggap saja ini hadiah perkenalan dari ku!" seru Nurmala sembari menarik tangan Nayla dan memberikan kalung berlian yang harganya sangat mahal itu kepada Nayla secara cuma-cuma. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Nurmala membuat Nayla begitu terkejut, kenapa tiba-tiba saja Nurmala memberikan kalungnya yang mahal itu kepada nya, tidak salah?
"Apa ini Bu! Sa-saya tidak pantas mendapatkan ini dari Ibu, kalung ini harganya pasti sangat mahal, maaf Bu saya tidak bisa menerima nya!" balas Nayla sembari memberikan kembali kalung itu kepada Nurmala.
"Tidak, Aku sudah iklhas, ambillah! Jika kamu tidak mau menerima nya, Aku anggap ini adalah sebuah hinaan. Jadi, Aku mohon terima lah, Nak!" pinta Nurmala yang memaksa Nayla untuk menerima kalung pemberian nya.
Karena Nayla terus dipaksa, akhirnya dia pun menerima kalung itu.
"Baiklah kalau Ibu memaksa, Saya akan menerima nya, terima kasih banyak atas pemberian Ibu yang sangat berharga ini, Nayla tidak bisa berkata apa-apa, terima kasih!" Nayla pun akhirnya menerima kalung berlian yang mewah itu, kemudian Ia memeluk Nurmala sebagai ucapan tanda terima kasih yang sedalam-dalamnya.
"Ini tidak seberapa dibandingkan kasih sayang yang belum pernah kamu rasakan dariku, Nak! Mulai sekarang kamu tidak akan pernah merasa kesepian karena kehilangan orang tua, Aku akan membawa mu pulang, Nayla! " batin Nurmala yang tidak bisa menahan rasa haru dan bahagia itu.
...BERSAMBUNG...
Mampir thor,Kayaknya seru nih...