Bentuk tubuhku lebar ke samping, rambut gaya kuno dan wajahku tidak sebening kaca.
Sepotong blus potongan sederhana dan padanan rok menutup dengkul, hampir ketinggalan jaman. Gaya busana itu yang kupakai jika mengikuti ekskul di sekolah. Cuma tinggi badanku yang sedikit menolong walaupun tidak bisa dibilang tinggi seperti model.
Kebanyakan temanku lebih sering menggunakan jeans dan kaos saat mejngikuti ekskul. Berbeda dengan mereka, potongan pakaianku selalu sama dengan Minggu lalu. Rok di bawah dengkul dengan blus potongan biasa. Kata mereka aku ketinggalan jaman. Manusia purba dan langka.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya mendatangkan malu untuk keluarga ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Papa bikin gak enak makan.
Suasana makan malam hari ini terasa dingin bukan karena cuaca yang memang dingin tetapi keadaan di ruangan ini terasa beku. Mungkinkah ini hanya perasaanku saja?
Ku lirik Mama dengan ekor mataku. Mama bersikap biasa saja. Elin juga dan Elin memang begitu jika di meja makan, dia selalu tenang karena menghargai papa dan mama lalu pandanganku beralih kepada papa dengan gerakan kepala yang hampir tak terlihat.
Ooow. Papa juga melihatku. Aku segera menghindari pandangan papa. Cepat-cepat menunduk dan membuka piring makanku yang tadi telungkup. Semua sudah mengambil bagian masing-masing dari hidangan yang disediakan. Kini giliran aku. Aku memang selalu kebagian terakhir menyendokkan nasi ke piring sebab sesuai dengan posisi diriku sebagai anak bontot di rumah ini. Menunggu orang-orang yang lebih dewasa mengambil hidangan di meja makan lebih dulu. Ini sebagai rasa hormatku saja.
"Icha tolong ambilkan Papa kerupuk itu," pinta papa padaku dan aku minta tolong pada mama agar memberikan kerupuk kepada papa," Tolong kerupuknya Ma, tangan Ica kotor nih." Aku tak peduli mama menatap heran padaku.
"Tangan kamu yang mana yang kotor sayang?" Mama lihat tanganku. Aku menurunkan tangan dari atas meja.
"Mengapa kamu makannya sedikit Icha?" Ini papa yang bertanya padaku.
"Icha masih kenyang," jawabku.
"Ini ayam suwir kesukaan kamu. Papa ambilkan ya."
"Tidak. Jangan Pa, Icha sudah cukup kenyang."
"Ya sudah. Makan lagi dan habiskan."
"Icha kamu sakit nak? Biasanya kamu makannya banyak." Kali ini mama yang bertanya.
"Tidak kok."
"Mungkin anak Papa ini lagi putus cinta Ma. Tidak enak makan," papa berseloroh.
Elin menyambung ucapan papa, "Begitu ya Pa. Oh ya sih seperti seorang teman, ditinggal pacarnya terus jadi sakit karena gak mau makan."
"Setahu Mama, Icha nggak punya pacar Pa."
"Siapa tahu Icha sedang jatuh cinta Ma, haha."
"Stop! Gak lucu Pa." Aku menahan kalimat papa supaya gak berlanjut. Gak lucu sama sekali.
"Kamu jangan sungkan. Katakan pada papa siapa lelaki yang sudah mempermainkan perasaanmu. Makan tidak enak dan kamu menjadi tidak ramah."
"Tidak ada," jawabku acuh.
"Papa...sudah Mama bilang kan, Icha belum punya pacar. Jika dia sudah memiliki pacar, Icha akan cerita sama mama." Mama ikut bicara.
"Barangkali saja kali ini dia menyimpan rapat ceritanya Ma," ujar papa.
"Apaan sih Papa dan Mama. Ngawur." Aku mencebik.
"Hahaha jadi Mama dan Papa salah nih. Ya sudah maafkan kami ya," kata mama.
"Maklum saja Pa, si Icha lagi diterpa angin Bahorok hihihi," Nai bicara mendukung Papa.
"Kakak lagi ya sok tahu!" Aku protes pendapat Elin.
"Pa... mama ke dalam dulu ya. mau catat yang mau dibeli," pamit mama.
"Ya. Papa mau di sini dulu."
"Aku juga ada tugas yang mau diselesaikan. Elin mau ke kamar ya Pa."
Papa mengangguk dan aku masih tertahan di sini karena makananku belum habis. Selera makanku berkurang. Hal kemarin malam masih mengisi sebagian isi kepala. Bagaimana aku bisa mendapat jawaban atas rasa penasaranku ini?
"Kamu sedang banyak tugas?" tanya papa diriku.
"Tidak terlalu banyak." Tiba-tiba aku ingin segera masuk kamar.
Pertanyaan papa menyurutkanku, "Mengapa kamu makan lambat sekali Icha. Masakan mama tidak enak?"
Aku menjawab, "Enak kok cuma Icha masih sedikit kenyang."
"Ya masakan mama selalu enak. Anak papa, kamu cemberut terus seperti itu. Kamu ada masalah?"
"Haa... eeh nggak, nggak ada apa-apa Pa." Aku gugup.
"Icha, Papa tahu lauk kesukaan kamu tapi Papa heran kamu makan tidak habis. Biasanya kamu lahap makan dengan lauk ini," selidik papa.
"Icha lanjutkan saja nanti makannya," kataku.
"Loh tidak, tidak boleh. Makanan kamu menjadi mubazir karena ditinggalkan dan selera kamu bisa hilang nanti. Ayo dimakan dulu. Papa temani ya."
"Nggak mau. Papa tinggal saja Icha makan sendirian." aku mulai merasa tak nyaman karena Papa memaksa aku menghabiskan makanan.
"Baiklah terserah kamu. Papa harap besok kamu tidak begini lagi. Jaga kesehatan kamu dengan makan teratur. Sekarang Papa ingin bertanya sebelum Papa pergi."
"Iya Pa tanya apa?" Aku sedikit terkejut mendengar kalimat papa
"Kamu belajar kelompok dengan temanmu kemarin. Benar?"
"Betul Pa dan pulangnya agak telat tapi lebih cepat dari Papa pulang malam kemarin."
"Ya Papa tahu. Kamu lewat jalan kemuning kemarin malam. Kenapa lewat di situ, bukankah daerah itu sepi?"
Deeegg.
Papa tahu aku pulang ke rumah lewat jalan Kemuning kemarin malam. Di jalan itulah aku melihat papa keluar dari sebuah rumah.
"Papa tahu sih Icha pulang lewat jalan Kemuning? Icha berdua dengan Nai. tidak sendiri dan selamat tiba di rumah," kataku lebih membela diri.
"Itu urusan Papa untuk mengetahui di manapun kamu berada. Sekarang Papa ingin tahu apa yang kamu lihat malam itu di jalan Kemuning?"
"Papa...?? maksud Papa apa?"
"Sayang kamu melihat Papa malam itu keluar dari sebuah rumah?"
Deeegg.
Aku terdiam lama tak ingin menjawab papa. Mulutku terasa terkunci dan berat untuk bicara. Papa bisa tahu sih?
"Kalau iya kenapa?" tanyaku memberanikan diri.
"Oleh sebab itu kamu mengira hal-hal tidak baik yang papa lakukan dan hingga detik ini kamu mulai tidak ramah terutama sama papa. Icha, tingkah dan wajah kamu menyiratkan rasa tidak suka dan alasannya ya itu tadi kamu melihat Papa keluar dari rumah orang lain. Benar begitu? Suatu saat kamu akan tahu hal sebenarnya nak."
"Lebih cepat Icha tahu, lebih baik Pa. Papa cerita saja."
"Papa belum bisa cerita sekarang. Pekerjaan papa menunggu. Papa keluar sebentar ya. Panggil mama!"
Dan aku panggil mama di kamar. Kemudian membuntuti mama ke depan. Tercetus sebuah pertanyaan namun tanyaku tak mendapat jawaban memuaskan, "Papa simpan rahasia apa Ma? Mama tahu gak papa pergi ke rumah orang malam kemarin?"
Mama menoleh padaku. Cuma menoleh. Mama tak menghiraukanku. Mama terus menghampiri papa di ruang depan. Selanjutnya aku tak ingin tahu urusan mereka berdua, mama dan papa. Lebih baik masuk ke kamar saja.
Ku hempaskan tubuh di atas kasur. Inilah tempat ternyaman bagiku. Aku teringat Elin. Sedang apa dia saat ini? Elin belum mendengar berita ini.
Sebaiknya aku mengikuti papa saja. Kemungkinan terbesar Papa menuju tempat kemarin. Aku mengambil kunci motor dan tak pamit sama mama. Masih pukul 08.00 malam. Anggap saja aku sekalian jalan-jalan malam.
Sudah terlalu jauh untuk mengikuti papa tapi aku tahu di mana Jalan Kemuning. Ke situ untuk menyelidiki apakah Papa juga menuju ke sana. Aku mau tahu.
Sinar lampu terang mengisi ruangan depan rumah yang ku tuju. Tirai-tirai jendela belum sepenuhnya menutupi kaca-kaca lebar mirip jendela tersebut. Dari luar kelihatan gorden-gorden tipis sebagai pelapisnya.
Nah benar di depan rumah itu aku menemukan mobil Papa sedang parkir di sana. Papa datang ke rumah di Jalan Kemuning lagi. Papa tidak bekerja seperti yang papa ucapkan tadi. Sebenarnya rumah siapa ini?
Cukup. Aku cuma mau tahu sampai di sini saja. Tidak mungkin aku mengetuk pintu rumah itu tanpa alasan. Bisa-bisa papa akan marah dan menghukumku. Papa kenapa sih ke rumah itu lagi?
Aku mengancingkan jaket tebal di tubuh dan pulang ke rumah. Aku sudah tidak sabar bercerita sama Elin kakakku.
Tok.
Tok.
Tok.
"Kak aku masuk." Aku minta izin.
"Masuk saja, tidak dikunci," balas Elin.
"Kakak lagi apa?"
"Sedang baca buku. Ada apa?" Elin tak menoleh.
"Bolehkah aku main di sini?"
"Boleh kenapa tidak? Kamu dari mana. Aku dengar suara motor kita."
"Kak aku punya cerita. Waktu itu, kemarin yang aku pergi sama Nai untuk kerja kelompok, aku melihat papa waktu di jalan mau pulang. Kamu tahu nggak papa keluar dari rumah orang lain malam itu? Mencurigakan loh Kak," Uraiku panjang lebar.
Aku menunggu reaksi Elin. Aku salah mengira. Elin tidak terkejut sama sekali dengan ceritaku. Wooo.
Kemudian kata Elin, "Mungkin saja papa selesai berkunjung di rumah temannya. Kebetulan kamu melihat papa."
"Apa iya kak? Tadi Papa ke sana lagi."
Ucapan Elin masuk di akal. Ada benarnya jika papa ada perlu di rumah seorang teman. Lantas pantaskah aku curiga sama papa?
"Kakak yakin tidak ada apa-apa?"
Elin mengangguk mantap dan ini membuatku percaya tiada yang perlu dikhawatirkan dengan papa. Mana mungkin papa khianat dan meninggalkan mama.
"Kamu ke sana lagi buat apa??Terus kamu sendiri mikirnya seperti apa?" Tanya Elin buatku tergagap.
"Aku sih curiga aja Papa pergi ke rumah seseorang wanita gitu. Terus mungkin ya selingkuhan papa, kak."
"Pikiran kamu kotor sekali. Tidak boleh berprasangka buruk seperti itu. Kamu belum tahu ya rasa sayang Papa ke Mama besar sekali."
"Memangnya kakak tahu?"
Elin mengangguk, "Mama pernah cerita padaku tentang masa muda mama dan papa. Papa itu rela meninggalkan orang tuanya demi rasa cinta yang besar pada mama."
"Ooh begitu. Kok kakak tahu sih?"
"Iya kan aku sudah bilang, Mama pernah cerita sama aku."
"Jadi tidak mungkin papa punya selingkuhan?" Aku mencoba meyakinkan diri dengan jawaban Elin.
"Tidak mungkin."
"Mungkin saja kak, kita tidak tahu hati seseorang. Zaman sekarang banyak sekali godaan di luar sana kak dan Papa sangat mudah tersentuh jika melihat orang kesusahan. Nah kalau ada wanita kesusahan misalnya nih, si pemilik rumah tadi berhasil menarik hati Papa_"
"Ichaaa!! Iiiihh adik aku ini sudah pintar ternyata. Pandai mengira-ngira. Bisanya punya pikiran sampai ke sana."
"Loh kan sudah banyak ceritanya, tuh di sinetron saja seperti itu."
"Semoga papa tidak seperti itu. Kenapa kamu tidak mencari tahu dari papa sendiri?" Tanya Elin
"Nggak ah tapi papa janji akan mengatakan sebenarnya. Aneh saja Papa bisa tahu kalau aku perhatikan papa keluar dari rumah itu. Papa tahu dari mana ya kak?"
Elin mengangkat bahu. Kemudian katanya, "Oh ya bagus dong. ceritain ke aku kalau kamu sudah dapat informasi. Nggak tahu juga papa kok bisa tahu kamu melihat papa malam itu. Jangan...jangan_"
"Papa pasang mata-mata untuk kita!" Aku memotong ucapan Elin.
Elin terbelalak, berpikir lalu menggeleng cepat. Katanya, "Mana mungkin papa memata-matai kita. Untuk itu saja papa harus bayar orang. Papa kan bukan milyarder, cuma pekerja biasa. Uang papa pas-pasan." Elin benar.
"Ya mungkin saja papa melihatku waktu mau masuk ke mobil, iya kan kak? Eeeh kakak tenang saja. Adikmu ini bisa diandalkan. Kakak bakal tahu perkembangan informasinya."
Aaciiieeee! Kayak detektif aja!""
"Hahahahaha."
"Papa menyimpan sesuatu sama kita Kak dan aku tak tahu apakah mama tahu ini atau tidak."
"Husss jangan curigaan dulu tidak baik. Kita belum tahu cerita sebenarnya seperti apa. Tunggu saja."
"Kalau Papa berubah pikiran tidak cerita sama aku, sampai koit (mati) kita tunggu kak."
"Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran kamu Cha?"
"Kemungkinan satu, Papa sedang melihat temannya lagi sakit, terus kemungkinan kedua Papa punya cem-ceman gitu Kak."
"Uuughh apa??? Tidak, tidak mungkin opsi kedua itu." Elin menutup buku bacaan.
"Huuummh mungkin saja. Papa mulai bermain hati. Main-main hati...🎶"
"Wiliiih kamu kejauhan mikirnya. Sudah sana belajar saja yang baik. Nggak usah ngurusin papa. Sepertinya tidak akan terjadi apa-apa karena Papa sangat setia sama mama," kata Elin lebih menenangkan hatiku saja.
"Semoga dan jika terjadi sesuatu sama mama dan papa, aku orang yang pertama akan benci papa!"
"Iya, iya percaya. Nanti papa ngasih kamu coklat, bakal lumer tuh marahnya." Elin terkikik.
"Iiiiihhh tidak! Mama sakit aku juga sakit," kataku.
"Sudah jangan ngelantur. Tidak ada hal aneh. Percayalah."
"Kira-kira tadi Papa mau ke mana ya Kak?"
"Masih dibahas juga. Kamu ini terlalu banyak pikir. Itu urusan Papa mau ke mana. Sudah aahh."
"Ya sudah aku balik ke kamar!" Aku bangkit dari duduk di kasur Elin.
"Jangan lupa cuci kaki sebelum tidur," kata Elin.
"Gosok gigi dan baca doa!" Aku menambahkan.
"Yak betuuul."
Hingga larut malam pukul 11.00 malam seperti malam kemarin baru terdengar suara mobil papa tiba di halaman rumah. Waktu yang sama. Mataku ini tidak mau dipejamkan. Aku masih berpikir tentang papa. Mengapa aku jadi begini?! Susah sekali mau tidur dan bikin aku tidak bisa rileks.
Rasa ingin pipis bikin aku keluar kamar ke toilet. Aku ketemu papa di dapur sebab toilet dan kamar mandi aku dan Elin letaknya di dapur.
"Pa baru pulang?" Aku menegur papa lebih dulu. Papa mengambil air minum.
"Iya Papa baru pulang." Suara Papa datar.
"Kamu belum tidur Icha. Ini sudah jam berapa?" Lanjut papa.
"Jam 11.00 Icha terasa haus, jadi Icha ambil air minum."
"Benar begitu? Ah sudahlah setelah ini kamu tidur ya." Mungkin Papa ingin berbicara padaku karena papa menatapku agak lama namun mulut papa tetap diam.
"Baiklah Icha mau tidur. Selamat malam Papa." Aku gadis kecil papa yang masih suka sun pipi papa di usiaku sekarang.
"Tunggu." Papa mendekati aku dan kemudian mengucapkan," Selamat tidur sayang."
"Selamat tidur Pa."
Keesokan pagi aku bangun telat karena tidur larut malam dan Elin heboh membangunkan diriku.
"Malas banget ini anak. Icha bangun! Ichaaa!" Guncangan di kaki menyadarkan aku.
"Aaaaa apa sih Kak?" Mata ini terasa lengket untuk dibuka.
"Kamu tahu nggak ini jam berapa? Sudah setengah tujuh tahu! Kamu masuk jam berapa?"
"Haaa...setengah tujuh. Astagaaa...mama!"
Aku belum mandi. Turun dari tempat tidur saja belum. Oh Tuhan aku terlambat ke sekolah. Aku segera berlari ke dapur. Ku datangi wastafel.
"Tidak mandi?" Tanya Elin. Pasti Elin heran melihat aku sudah datang lagi dari dapur dengan wajah basah.
"Nanti saja. Yang penting makan," kataku.
"Iiih punya adik kok jorok begini sih."
"Biarin. Telat nih. Gak dibagunkan dari tadi," Aku menggerutu.
"Sudah tiga kali dibangunkan dan kamu gak buka mata sama sekali," kata Elin sembari melenggang keluar dari kamarku.
...🍁bersambung🍁...
semamgat
Semangat kaka
Terima kasih do'anya author Neyna.😘😘