Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 006
Kenapa Kamu Menangis?
Pesan dari `Koko Rayhan` terus menyala di kepala Kiara bahkan setelah ia pulang ke rumah Tanuwijaya.
Jangan lupa tanganmu, Sayang.
Satu kata terakhir itu membuatnya ingin menutup wajah dengan bantal. Tapi sebelum ia sempat naik ke kamar, suara Hendra sudah memanggil dari ruang keluarga.
"Kiara."
Kiara berhenti di anak tangga.
Ruang keluarga malam itu terang. Hendra duduk di sofa utama dengan wajah lebih gelap dari biasanya. Lina berdiri di samping Wenny, satu tangannya memegang bahu gadis itu. Wenny tampak baru selesai menangis. Matanya merah, tapi riasannya tetap tidak rusak.
Pemandangan yang sangat familier.
Kalau Wenny menangis, seluruh rumah seperti ikut terluka. Kalau Kiara terluka, rumah ini hanya bertanya kenapa ia tidak lebih hati-hati.
"Apa yang kamu lakukan di lokasi syuting hari ini?" tanya Hendra.
Kiara turun perlahan. "Bekerja."
"Jangan menjawab Papa seperti itu."
Pergelangan tangan Kiara berdenyut di balik perban. Ia menyembunyikannya di sisi tubuh.
Wenny segera maju setengah langkah. "Papa, jangan marah. Mungkin Kiara juga kaget. Aku cuma tidak menyangka asisten sutradara itu langsung diganti setelah dia jatuh. Orang-orang di lokasi jadi menatapku aneh, seolah aku yang membuat Kiara celaka."
Kalimatnya terdengar rapuh.
Tapi pisau di dalamnya tetap tajam.
Lina menghela napas. "Kiara, Mama tahu kamu sedang ingin membangun karier. Tapi kalau setiap tempat yang kamu datangi jadi kacau, orang akan menyalahkan keluarga kita."
"Aku tersandung kabel yang tidak dirapikan."
"Tapi kamu baik-baik saja, kan?" Lina melihat sekilas perban di tangannya. Hanya sekilas. "Sementara Wenny harus menjelaskan pada wartawan kenapa kru mendadak panik."
Kiara menatap ibunya.
Ada rasa sakit yang aneh. Bukan karena ia masih berharap banyak, tapi karena tubuh ini sepertinya masih mengingat bagaimana Kiara lama menunggu satu kalimat sederhana.
Kamu sakit? Tanganmu bagaimana?
Tidak ada.
Hendra menyandarkan tubuh. "Dan soal Rayhan Purnawan. Apa hubunganmu dengan dia?"
Nama itu membuat Wenny langsung menunduk.
Kiara menangkap gerakan kecil itu.
"Tidak ada hubungan apa-apa."
"Kalau tidak ada, kenapa dia memperhatikanmu di gala? Kenapa setelah kamu jatuh hari ini, pihak produksi langsung berubah sikap?" Hendra menatapnya tajam. "Jangan berpikir kamu bisa memakai nama Purnawan untuk melawan keluarga sendiri."
Kiara hampir tertawa.
Melawan keluarga sendiri.
Ternyata bahkan saat ia dijatuhkan orang lain, yang mereka takutkan tetap wajah keluarga, posisi Wenny, dan kemungkinan Kiara punya penopang yang lebih kuat dari mereka.
"Aku tidak memakai siapa pun," ucap Kiara.
Wenny menggigit bibir. "Aku cuma khawatir kamu salah paham, Kiara. Pak Rayhan itu bukan orang yang bisa didekati sembarangan. Kalau kamu membuat beliau tersinggung, keluarga kita juga bisa kena dampaknya."
Kiara melihat Wenny lama.
"Kamu khawatir aku membuat beliau tersinggung, atau khawatir beliau tidak melihatmu sama sekali?"
Wajah Wenny memucat.
"Kiara!" Lina berseru.
Hendra berdiri. "Minta maaf pada kakakmu."
Kakak.
Kata itu membuat sesuatu di dada Kiara patah pelan.
Dalam keluarga ini, urutan darah tidak penting. Kebenaran tidak penting. Yang penting adalah siapa yang lebih dulu mereka cintai.
Kiara menurunkan pandangan.
"Aku lelah, Pa."
"Papa belum selesai bicara."
"Tapi aku sudah selesai mendengar."
Ia naik ke kamar tanpa menunggu izin.
Di belakangnya, Hendra memanggil namanya dengan marah. Lina menghela napas kecewa. Wenny berkata pelan agar Papa jangan terlalu keras. Semua suara itu mengejar sampai pintu kamar tertutup.
Begitu sendirian, Kiara duduk di tepi ranjang.
Kamar itu masih sama seperti pagi saat ia pertama bangun di dunia ini. Lampu kristal, aroma diffuser mahal, seprai lembut, lemari penuh pakaian bermerek. Semua terlihat sempurna, tapi tidak ada satu pun yang terasa miliknya.
Ia membuka perban sedikit. Kulit pergelangan tangannya memerah kebiruan. Tidak parah, kata dokter. Memang tidak parah.
Yang parah adalah cara rumah ini membuatnya ingin meminta maaf karena terluka.
Air mata jatuh sebelum ia sempat menahannya.
Kiara cepat-cepat menunduk, menggigit bibir agar tidak bersuara. Ia tidak ingin siapa pun di rumah ini mendengar. Tidak ingin Lina mengetuk pintu hanya untuk menyuruhnya lebih pengertian. Tidak ingin Wenny datang membawa wajah sedih untuk mengubah tangisnya menjadi drama baru.
Ponselnya bergetar.
Koko Rayhan: Sudah makan?
Kiara menatap layar yang kabur oleh air mata.
Ia tidak membalas.
Pesan kedua masuk beberapa detik kemudian.
Koko Rayhan: Tanganmu sakit?
Kiara mematikan layar.
Ia menarik lutut ke dada, membenamkan wajah di lengan yang sehat. Tangisnya tetap keluar, kecil dan putus-putus, seperti anak yang terlalu lama diajari untuk tidak merepotkan siapa pun.
Lima menit kemudian, ponselnya bergetar lagi.
Koko Rayhan: Lihat ke balkon.
Kiara membeku.
Ia menghapus pipi dengan punggung tangan, lalu berjalan ke pintu kaca balkon. Di bawah, di jalan privat depan rumah Tanuwijaya, sebuah mobil hitam berhenti tanpa suara. Rayhan berdiri di luar mobil, wajahnya terangkat ke arah kamarnya.
Jantung Kiara seperti jatuh.
Gila.
Benar-benar gila.
Tapi ketika mata mereka bertemu dari jarak itu, Kiara tidak merasakan takut lebih dulu.
Ia merasakan malu karena ketahuan menangis.
Ponselnya menyala lagi.
Koko Rayhan: Turun. Atau aku naik.
Kiara menatap kalimat itu dengan mata membesar.
"Dasar gila," bisiknya serak.
Namun tubuhnya sudah bergerak. Ia mengambil cardigan, keluar dari kamar, lalu turun lewat tangga samping yang jarang dipakai. Udara malam di halaman terasa dingin di kulitnya. Ia membuka gerbang kecil dekat taman sebelum sempat memikirkan apakah ini keputusan yang masuk akal.
Rayhan berdiri beberapa langkah darinya.
Begitu melihat wajah Kiara yang basah, ekspresinya berubah.
Semua kelembutan yang terkendali sejak kemarin retak.
"Kenapa kamu menangis?"
Kiara ingin menjawab tidak apa-apa.
Kalimat itu sudah biasa. Aman. Mudah. Tidak membuka luka.
Tapi suara Rayhan membuat pertahanannya goyah.
"Aku cuma..." Bibirnya bergetar. "Capek."
Rayhan melangkah mendekat. Gerakannya lambat, memberi ruang baginya untuk mundur. Kiara tidak mundur.
"Boleh?" tanyanya.
Kiara tahu apa yang ia minta.
Ia seharusnya menolak.
Seharusnya menjaga jarak.
Tapi malam itu, setelah seharian dituduh, dilukai, lalu diminta memahami orang yang menyakitinya, Kiara terlalu lelah untuk berpura-pura kuat.
Ia mengangguk kecil.
Rayhan menariknya ke dalam pelukan.
Tidak keras. Tidak memaksa. Satu tangannya menopang punggung Kiara, tangan lain berhenti hati-hati di belakang kepalanya, seolah ia sedang memegang sesuatu yang bisa pecah kapan saja.
Aroma kayu cendana menyelimuti napas Kiara.
Tubuhnya kaku beberapa detik.
Lalu jari-jarinya mencengkeram jas Rayhan.
Tangis yang tadi ia tahan akhirnya pecah tanpa suara besar. Hanya napas pendek, bahu gemetar, dan air mata yang meresap ke kemeja mahal pria itu.
Rayhan menunduk, suaranya jatuh di atas rambutnya.
"Mulai sekarang, kalau sakit, bilang padaku."
Kiara menutup mata.
"Kamu bukan siapa-siapa..."
"Belum."
Jawaban itu membuat Kiara terisak sekaligus hampir tertawa.
Rayhan memeluknya sedikit lebih erat, masih hati-hati pada tangan yang terluka.
"Tapi aku bisa jadi orangmu, kalau kamu izinkan."
Malam di sekitar mereka sunyi. Di balik gerbang tinggi rumah Tanuwijaya, keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang Kiara tetap terang dan jauh. Di depan gerbang, dalam pelukan pria yang baru dikenalnya, Kiara justru merasa napasnya perlahan kembali utuh.
Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, ia tidak ingin buru-buru melepaskan diri.