NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Gaun di Dasar Lemari

Naomi tidak langsung tidur malam itu.

Angka dua juta di rekeningnya membuat kamar kos yang sempit terasa lebih terang daripada biasanya. Bukan karena lampu di langit-langit mendadak baik hati. Lampu itu tetap berkedip setiap beberapa menit, seolah sedang menghitung kapan ia akan mati total. Tapi ponsel di tangan Naomi menyala terus, menampilkan saldo yang tidak pernah sebesar itu sejak awal semester.

Di meja lipat, gantungan burung ukir kayu tergeletak diam.

Besok sore ia harus membawanya ke Supercar Club Jakarta.

SCBD.

Naomi memejamkan mata sebentar. Nama daerah itu saja sudah terdengar mahal. Seperti lift kaca, lantai marmer, parfum asing, dan orang-orang yang tidak pernah membuka aplikasi pinjol sambil menahan napas.

Pintu kamarnya diketuk keras.

"Naomi! Listrik kamu jangan pakai buat masak air terus, ya. Meteran naik terus!" suara Ibu kos terdengar dari luar.

Naomi cepat-cepat berdiri. "Iya, Bu. Maaf. Saya tidak masak air, cuma charger laptop."

"Sama saja. Anak kos lain juga pakai listrik. Jangan mentang-mentang kuliah di kampus bagus terus seenaknya."

Naomi menatap pintu tripleks yang catnya mengelupas. Ia bisa saja menjawab bahwa ia selalu membayar tepat waktu, bahwa kipas anginnya bahkan sudah mati dua minggu lalu, bahwa charger laptopnya ia cabut setiap kali tidak dipakai.

Tapi perdebatan dengan Ibu kos selalu berakhir dengan satu kalimat.

Kalau tidak suka, pindah saja.

Jadi Naomi hanya menjawab pelan, "Iya, Bu."

Langkah Ibu kos menjauh. Naomi duduk lagi di lantai, membuka kotak makan plastik dari minimarket. Isinya nasi sisa yang tadi hampir dibuang karena bungkusnya penyok, ditambah telur rebus promo yang sudah lewat satu jam dari batas display. Ia makan perlahan sambil membuka laptop.

Dokumen terjemahan Jerman menunggu.

"Sicherheitsvorschriften fuer Industriemaschinen."

Naomi mengetik terjemahan dengan mata yang mulai berat. Upahnya kecil, tapi klien ini membayar berdasarkan halaman. Kalau malam ini ia bisa menyelesaikan lima halaman, besok ia tidak perlu memakai uang Danny untuk ongkos Grab. Ia bisa naik TransJakarta sampai dekat SCBD, lalu jalan kaki sedikit.

Ponselnya bergetar.

"Tagihan Anda jatuh tempo besok."

Naomi mengunyah nasi yang sudah dingin sampai terasa seperti kertas di lidah.

Ia menekan tombol bayar.

Sebagian dari dua juta itu langsung pergi.

Saldo yang tersisa masih terlihat besar, tapi dadanya justru terasa kosong. Uang yang bagi Danny bisa dikirim sambil bercanda, baginya lenyap hanya untuk membuat penagih berhenti sehari lebih lama.

Matanya jatuh ke gantungan burung di meja.

"Aku cuma mengembalikan barang," bisiknya pada diri sendiri.

Bukan menemui Kelvin.

Bukan ingin dilihat olehnya.

Bukan karena sejak malam hujan itu, ia tidur dengan ujung jari yang masih mengingat dingin kaleng es kola.

Naomi menutup laptop menjelang pukul dua pagi. Saat hendak mengambil baju tidur dari lemari plastik, tangannya menyentuh sesuatu di dasar laci.

Sebuah gaun.

Warnanya biru gelap, sederhana, dibeli dua tahun lalu dari hasil menang lomba esai bahasa Jerman. Waktu itu Naomi membelinya bukan karena butuh, melainkan karena untuk pertama kalinya ia ingin memiliki sesuatu yang cantik tanpa alasan praktis.

Ia mengangkat gaun itu, menempelkannya ke tubuh di depan cermin kecil yang retak di sudut.

Wajah di cermin tampak pucat karena kurang tidur. Rambutnya diikat asal. Bahunya kurus, tapi matanya masih menyimpan sesuatu yang terlalu mudah terbaca.

Harapan.

Naomi langsung menurunkan gaun itu.

Tidak boleh.

Kalau ia berdandan, ia akan terlihat seperti sedang berharap. Kalau ia berharap, ia akan lupa bahwa ia datang hanya untuk mengembalikan barang milik orang lain. Orang seperti Kelvin Hartono mungkin tidak akan ingat wajah kasir minimarket, tapi Naomi akan mengingat tatapan itu terlalu lama.

Akhirnya gaun itu ia lipat kembali, dimasukkan ke dasar lemari.

Besok ia akan memakai kemeja putih yang sudah disetrika rapi dan celana kain hitam. Sederhana. Aman. Tidak memalukan, tapi juga tidak seperti sedang bermimpi.

***

Sore berikutnya, hujan sudah berhenti, menyisakan udara Jakarta yang lembap dan bau knalpot di jalan besar.

Naomi turun dari TransJakarta dengan tote bag kain di bahu. Di dalamnya, gantungan burung ukir kayu dibungkus tisu dan plastik kecil. Ia berjalan melewati gedung-gedung tinggi yang kacanya memantulkan langit kelabu.

Semakin dekat ke alamat yang dikirim Danny, langkahnya semakin pelan.

Supercar Club Jakarta tidak memiliki papan nama mencolok. Hanya fasad gelap, pintu tinggi, dan dua security yang berdiri dengan jas hitam. Di depan gedung, mobil-mobil rendah dengan warna mengilap berjajar seperti hewan mahal yang sedang tidur.

Naomi menahan tote bag-nya lebih erat.

"Ada keperluan, Mbak?" tanya salah satu security.

Suaranya sopan, tapi matanya turun sebentar ke sepatu Naomi yang sudah mulai kusam.

"Saya mau mengembalikan barang. Untuk Daniel Setiawan."

Security itu saling pandang. Salah satunya bicara lewat earpiece. Beberapa menit kemudian, seorang staf pria berpakaian rapi keluar dari dalam.

"Ibu Naomi?"

Naomi hampir menoleh untuk mencari siapa yang dipanggil. Tidak ada yang pernah memanggilnya Ibu dengan nada seformal itu.

"Iya, saya."

Staf itu menatapnya dari kepala sampai ujung kaki. Senyumnya tetap ada, tapi lebih seperti garis wajib di wajah. "Silakan ikut saya."

Di dalam, udara dingin langsung menyergap. Aroma kulit mahal, kopi, dan parfum maskulin memenuhi lobi. Lantai marmer begitu bersih sampai Naomi takut meninggalkan bekas debu dari sepatunya.

Saat mereka melewati kaca besar di dekat lift, Naomi sempat melihat pantulan dirinya.

Kemeja putihnya tidak salah.

Celana hitamnya juga tidak salah.

Tapi di tempat itu, benar saja, ia tetap tampak seperti seseorang yang salah alamat.

Staf pria itu awalnya berjalan setengah langkah di depan tanpa banyak bicara. Namun ketika lift berhenti di lantai atas dan Naomi mengangkat wajah untuk melihat nomor ruangan, ekspresinya berubah sebentar.

Matanya berhenti di wajah Naomi.

Bukan dengan tatapan merendahkan seperti tadi. Lebih seperti terkejut karena baru sadar bahwa gadis dengan tote bag murah ini memiliki wajah yang tidak sesuai dengan sepatu kusamnya.

Naomi pura-pura tidak melihat.

Ia sudah terlalu sering dinilai dari hal-hal yang tidak ia pilih. Dulu karena tubuhnya. Sekarang karena perubahan yang membuat orang-orang bingung harus menempatkannya di rak mana.

Pintu VIP area terbuka.

Danny sedang duduk di sofa bersama beberapa orang yang tidak Naomi kenal. Ia langsung melambaikan tangan.

"Naomi! Sini."

Naomi melangkah masuk, tapi kata-katanya hilang ketika melihat orang yang duduk di dekat jendela.

Kelvin Hartono.

Hari ini ia memakai kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku. Di meja depannya ada kaleng es kola yang sudah terbuka. Cahaya sore dari kaca besar menempel di sisi wajahnya, membuat ekspresinya tampak lebih dingin daripada malam di minimarket.

Naomi merasa tote bag di bahunya mendadak terlalu berat.

Ia mengambil plastik kecil dari dalam tas, lalu menyerahkannya pada Danny. "Ini barangnya."

Danny menerima, membuka tisu, lalu mengangkat gantungan burung itu dengan dua jari. "Nah, burung gendut balik juga."

Kelvin melirik sekilas.

Hanya sekilas.

Seolah benda itu memang tidak berarti apa-apa.

Naomi menunduk. "Kalau begitu, saya permisi."

"Tunggu."

Suara Kelvin membuat langkahnya berhenti.

Naomi mengangkat kepala perlahan.

Kelvin sudah berdiri. Tingginya membuat jarak beberapa meter di antara mereka terasa lebih sempit.

Ia mengambil gantungan burung dari tangan Danny, melihatnya sebentar, lalu menaruhnya di meja tanpa ekspresi. Setelah itu, matanya kembali pada Naomi.

"Duduk sebentar?"

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!