Sequel dari novel Cinta Sheila 😘
Sena tidak pernah menyangka bahwa ibu tirinya akan begitu tega menjebaknya dengan obat perangsang dan hendak melemparkan dirinya pada seorang pengusaha licik.
Sayangnya, bak terlepas dari mulut buaya namun masuk ke dalam mulut harimau, Syafiq yang menyelamatkan Sena justru menjerat Sena dalam sebuah pernikahan.
Apa niat Syafiq yang begitu kekeuh untuk menikahi Sena? Dan mampukah Sena bertahan dalam rumah tangganya bersama laki-laki sombong yang sayangnya sudah mencuri hati Sena sejak masih kecil dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar
Selesai acara ijab kabul di Kantor Urusan Agama tersebut, Syafiq mengajak semuanya untuk makan siang di kafe milik Frans terlebih dahulu. Tentu saja Sena sudah berganti pakaian dulu tadi di kamar mandi dengan alasan tidak ingin menarik perhatian berlebihan.
"Habis ini Papa langsung pulang aja ya," kata Bima ketika mereka semua sedang menikmati hidangan penutup.
"Mau Sean anterin Om?" tawar Sean.
"Nggak usah. Biar nanti dijemput sama anak-anak aja. Oh iya Sen, nanti Papa akan suruh orang buat nganterin buku-buku kuliah sama beberapa baju kamu, jadi kamu nggak perlu khawatir, ya," kata Bima lagi.
"Iya Pa," balas Sena.
"Yang penting buku-bukunya aja Pa. Baju nanti bisa beli lagi," kata Syafiq juga.
"Ah iya, Papa lupa kalau sekarang Papa punya menantu CEO hebat yang kaya," kelakar Bima.
"Papa," rajuk Sena.
Semua tertawa mendengar kelakar Bima. Sementara Syafiq tersenyum canggung, merasa tidak enak, karena sebenarnya bukan seperti itu yang dia maksud. Ya, meskipun semua juga tau kalau perkataan Bima tadi itu hanya sekedar bercanda saja.
Selesai makan siang mereka kemudian berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Syafiq dan Sena yang terakhir, karena pada akhirnya mereka memutuskan agar Bima pulang diantar oleh anak buah mereka yang memang disiapkan oleh Ega untuk acara hari ini, anak buah yang sama yang menjadi sopir mereka tadi pagi.
"Spesial untuk pasangan pengantin baru kita," kata Frans yang tiba-tiba datang dengan membawa dua gelas milkshake coklat dan dua cake vanilla, yang kebetulan itu adalah favorit Syafiq dan juga Sena.
"Frans?" tanya Syafiq terkejut mendengar perkataan Frans tadi.
"Lo nggak bisa bohongin gue," cibir Frans "Akhirnya Lo bisa juga dapetin first love Lo, ya. Salut gue sama Lo."
Syafiq melebarkan kedua matanya. Secepat kilat memberi kode kepada Frans untuk menghentikan omongannya. Sementara Sena mengernyitkan keningnya, mencoba mengartikan perkataan dari Frans tadi.
"Oh, hai Sena, kenalin gue Frans, sahabat baik suami Lo sejak kita masih SMP dulu," kata Frans yang seketika mengalihkan pembicaan, paham akan kode dari Syafiq tadi.
"Hai kak Frans," sapa Sena juga pada akhirnya meski masih sedikit bingung.
"Nih, gue bawain milkshake coklat sama cake vanilla buat Lo berdua. Gue tau kalau ini favorit Lo berdua kan. Emang ya, kalau udah jodoh tuh, bahkan minuman sama cake favorit aja juga bisa samaan gini. Haish, apalah nasib gue yang jomblo ini," kata Frans diakhiri dengan candaan.
Syafiq tertawa terbahak-bahak, sementara Sena hanya mengulum senyum kecil.
"Makanya Bro, buruan cari cewek. Jangan cuma mikirin bisnis mulu kerjaan Lo," cibir Syafiq.
"Ah, asem Lo, Fiq," gerutu Frans. "Tapi gue beneran ikut bahagia untuk Lo berdua. Selamat menempuh hidup baru ya. Semoga bahagia selalu dan cepet kasih ponakan buat gue," lanjut Frans, tulus.
"Aamiin. Thanks ya Frans," balas Syafiq.
Sementara Sena hanya membalas dengan tersenyum, seraya mengaminkan perkataan Frans tadi di dalam hatinya.
🌺🌺🌺
"Assalamu'alaikum," sapa Bima seraya berjalan masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam," balas Bella, Vira, dan juga Azka yang memang sengaja menunggu kedatangan Bima di ruang tamu.
"Kak Sena mana Pa?" tanya Vira dan Azka bersamaan.
"Tenang aja. Kakak kalian berada di tempat yang aman dan tempat yang seharusnya," jawab Bima berteka-teki.
Bella mengesah pelan dengan mengalihkan pandangannya ke samping. Hal itu tidak luput dari perhatian Bima.
"Vira, bantu Papa siapin baju dan buku-buku kakak kamu ya," pinta Bima.
"Oh, oke Pa," balas Vira.
Vira kemudian mengikuti langkah Bima yang menuju ke kamar Sena di lantai dua.
"Emang kak Sena sekarang dimana sih Pa?" tanya Vira lagi masih penasaran.
"Belum saatnya kamu tau. Yang pasti kakak kamu berada di tempat yang aman saat ini," jawab Bima.
Vira mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Vira paham kalau saat ini Papanya masih belum bisa mengatakan yang sejujurnya. Asalkan Sena baik-baik saja, itu sudah cukup bagi Vira untuk saat ini.
Selesai membereskan beberapa pakaian dan buku-buku kuliah Sena, Bima dan Vira kemudian turun kembali ke bawah. Kebetulan Rey juga sudah menunggu Bima di luar. Bima kemudian memerintahkan kepada Rey untuk mengantarkan barang-barang Sena tersebut ke alamat yang sudah dikirimkan oleh Bima melalui chat WA.
Rey mengernyitkan keningnya, Rey tau benar kalau itu adalah alamat apartemen Syafiq. Dan kenapa barang-barang Sena harus diantar kesana? Tapi Rey juga tidak mungkin menanyakan hal tersebut kepada Bima, jadi dia pun memilih untuk diam.
"Vira, Azka, kalian berdua di rumah dulu ya. Papa sama Mama mau pergi keluar sebentar," kata Bima setelah Rey pergi.
"Iya Pa," balas Vira dan Azka bersamaan.
"Ayo Ma," ajak Bima kepada Bella.
Bella hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Meski sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tapi mau tidak mau akhirnya Bella pun mengikuti Bima masuk ke dalam mobilnya.
🌺🌺🌺
Perjalanan yang dilalui dalam hening itupun akhirnya berakhir juga. Bima menghentikan mobilnya di dekat sebuah rumah. Sengaja Bima tidak langsung menghentikan mobilnya di depan pagar agar tidak diketahui oleh si pemilik rumah. Bella yang sedari tadi tidak berani untuk sekedar bertanya, begitu terkejut sampai membulatkan kedua matanya, mengetahui dimana Bima menghentikan mobilnya saat ini. Ya, Bella tau benar rumah siapa ini.
"Pa, ini,,," Bella tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
Bima nampak memasang sesuatu di balik saku baju yang dikenakannya. Setelah itu Bima juga menyerahkan sepasang earpod kepada Bella.
"Pasang ini di telinga Mama. Dengarkan baik-baik semua yang akan terjadi nanti. Papa turun dulu," kata Bima.
"I-iya Pa," balas Bella tergagap.
Bima kemudian turun dari mobilnya dan berjalan memasuki halaman rumah tersebut. Bella kemudian memasang earpod tersebut di telinganya, seperti perintah Bima tadi. Dari dalam mobil Bella juga dapat melihat Bima yang nampak sedang menekan bel di samping pintu rumah tersebut. Dan tidak lama kemudian pintu rumah tersebut pun terbuka dari dalam.
"Kak Bima," sapa seorang wanita seumuran Bella, nampak terkejut tetapi juga senang dalam waktu yang bersamaan.
Wanita itu adalah Cinthya. Dia adalah teman kuliah almarhumah Arini, kakak kandung Bella yang juga adalah Mama kandung Sena. Sekaligus, Cinthya juga adalah orang yang selama ini selalu menghasut Bella untuk membenci dan menyakiti Sena.
"Mari kak, silahkan masuk," kata Cinthya mempersilahkan.
"Nggak perlu," tolak Bima.
"Oh, ya udah. Kalau gitu kita duduk disini aja ya kak. Mari kak," ajak Cinthya lagi.
"Cukup Cin. Kakak nggak akan basa-basi lagi. Sekarang kakak tanya sama kamu, kenapa kamu selalu menghasut Bella untuk menyakiti Sena?" tanya Bima to the point.
Cinthya membulatkan kedua matanya karena terkejut. Begitu juga dengan Bella, yang mendengarkan semua pembicaraan mereka melalui earpod. Bella tidak menyangka kalau ternyata Bima mengetahui semuanya itu.
"A-apa maksud kakak? Aku nggak tau maksud pertanyaan kakak tadi," elak Cinthya tergagap.
"Jangan bohong kamu Cin. Kakak tau semuanya. Jangan coba-coba kamu mengelak lagi. Kamu tidak akan sanggup membayangkan apa yang bisa kakak lakuin ke kamu kalau kamu masih juga berani cari masalah," gertak Bima.
Cinthya nampak terdiam. Tapi kemudian Bella bisa mendengar suara Cinthya yang tertawa angkuh.
"Hahahahaha. Ternyata kakak masih sehebat dulu ya, tidak berubah sama sekali. Sama seperti rasa cintaku ke kakak, yang juga tidak pernah berubah ataupun berkurang sedikit pun," aku Cinthya.
Bella menutup mulut dengan kedua tangannya, begitu terkejut mendengar perkataan Cinthya tadi. Bella sama sekali tidak pernah menyangka kalau Cinthya ternyata mencintai Bima, bahkan sudah sejak dulu.
"Kamu gila Cinthya."
"Ya. Aku gila kak. Aku gila karena mencintai kakak," kata Cinthya setengah berteriak.
"Dari awal seharusnya aku yang jadi kekasih kakak. Aku yang lebih dulu kenal sama kakak. Tapi kakak justru lebih memilih Arini, teman yang tanpa sengaja aku kenalkan ke kakak. Aku hancur waktu akhirnya kakak nikah sama Arini. Tapi ternyata Tuhan Maha Adil. Pernikahan kalian yang dibangun diatas penderitaanku akhirnya berakhir dengan kematian Arini," lanjut Cinthya yang diakhiri dengan senyuman sinisnya.
"Aku kembali mencoba mendekati kakak saat itu. Berharap aku bisa menggantikan posisi Arini menjadi istri kakak. Tapi apa? Pada akhirnya lagi-lagi aku kalah. Dan itupun dengan adik kandung dari Arini, si bodoh Bella itu."
Plak !!!
Bella terperanjat mendengar suara tamparan tersebut. Ya, Bima menampar Cinthya dengan sangat keras.
"Jaga bicara kamu," peringat Bima garang.
"Kakak nampar aku? Hanya karena aku bilang kalau Bella itu bodoh? Ha-ha-ha, tapi kenyataannya wanita itu memang bodoh kak. Sangat-sangat bodoh. Mau-maunya mengikuti keinginan orang tua untuk menikah dengan suami kakaknya sendiri dan meninggalkan laki-laki yang dia cintai. Dan sekarang, dengan begitu mudahnya terpedaya semua omongan manis ku dan mengikuti semua yang aku perintahkan padanya untuk menyakiti anak dari kakaknya sendiri, anak yang sudah susah payah dia rawat dan besarkan. Apa namanya kalau bukan bodoh?"
"Harusnya aku yang gantiin posisi Arini. Harusnya aku yang nikah sama kakak. Bukan wanita bodoh itu. Aku yang lebih pantas. Aku yang lebih -"
Plak !!!
Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Cinthya. Bukan dari Bima, melainkan dari Bella. Dengan wajah yang merah padam dan nafas yang memburu karena emosi.
*daftar kesalahan sena yang kalian bela semua
*pergi dari rumah, dan dia teang2 saja bersama Naura dan rey, tapi suaminya dibuat, cemas sampai sakit masuk rumah sakit tapi dengan enteng semua memaklumi perbautan sena
*suami lagi kerja, dia curiga bahkan buat suami cemas dan tidak tenag karena memikirkan dia, lagi dia dimaklumi begitu saja
*dan ini puncaknya dia kayak wanita murahan yang ngidam makan berduaan dengan pria lain dan memaksa suami Terima, dan lagi kelakuan nya dimaklumi begitu saja
*dan ini puncaknya saat sena merasa kecewa pada suaminya dia pergi dan tidak semudah itu memaafkan suaminya tapi ketika dia salah semudah itu dimaafkan
dan egoisnya novel ini juga membela semua kelakuan laknat sena
ini saja kalian mencerminkan kelakuan kalian didunia nyata saat suami kalian salah tidak mudah kalian maafkan, tapi ketika kalian salah kalian mau semudah itu dimaafkan dan dimaklumi kesalahan kalian, dan itu menunjukkan kalian adalah wanita egois
𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘺𝘰𝘶 𝘬𝘢𝘬 😘😘😘
semangat selalu dalam berkarya kak 😘😘😘
tetep semangat dalam berkarya ya 😘😘😘
jangan lupa tinggalkan ulasan bintang 5 dan juga komentar-komentar kalian semua disana ya 😊
mamah sayang kalian semua, love you all 😘😘😘
tetep semangat selalu dalam berkarya buk 😘😘😘
semangat berkarya mbak Iin 😘😘