DALAM TAHAP REVISI
Zeda Firdaus bertemu dengan seorang pria yang pernah ia tolong beberapa bulan lalu, pria yang bernama Gabriel Emerson itu mengaku sedang liburan di desa Firda. Kejadian demi kejadian membuat mereka sering bertemu dan menjadi dekat hingga keduanya harus berpisah di karenakan Gabriel yg harus kembali ke kota dan Firda melanjutkan pendidikannya ke pesantren.
Beberapa bulan kemudian Firda dan Gabriel kembali di pertemukan di Jakarta saat Firda datang kesana untuk menghadiri pernikahan kakak sepupunya.
Namun, di pertemuan mereka itu terjadi suatu hal yang membuat Firda harus terikat pernikahan dengan Gabriel yg sebenarnya adalah seorang Don Mafia.
Ig @SkySal98
Fb SkySal Alfaarr
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 20 - Ketakutan Dan Penyesalan
Dengan tangan yg gemetar, Firda memungut pakaian nya dan membawanya ke kamar mandi. Dengan cepat ia menganakan seluruh pakaian nya. Setelah itu, Firda berlari keluar dan ia melihat kucing nya yg berlari ke arah nya. Firda langsung menggendong kucing nya itu sementara air mata terus mengalir bebas di pipi nya.
"Ayo Ciu Ciu, kita pulang. Kita pulang sebelum ashar" lirih Firda di tengah isak tangis nya. Bahkan ia hampir tak bisa merasakan kaki nya lagi.
Firda keluar dari hotel megah itu dan ia menjadi pusat perhatian orang orang di sana.
Firda memeluk kucing nya dengan erat, bahkan air mata nya itu sampai memabasahi bulu kucing nya. Seolah ikut merasakan rasa sakit Firda, kucing nya itu terus mengerang lirih dan sesekali menjilati tangan Firda.
"Kita harus sampai rumah sebelum ashar, Ciu Ciu.... Hiks... Hisk.. Oh tuhan" Firda terus berusaha mempercepat langkah nya hingga kini ia benar benar sudah berada di luar hotel.
Firda menghentikan sebuah taksi, di dalam taksi, tangis nya semakin pecah, bahkan tanpa sadar meraung. Berfikir apa yg harus ia katakan pada Abi nya, pada Ummi nya, kakek nenek nya. Permata mereka... Permata mereka telah ternoda.
"Seharus nya aku mengikuti perintah Ummi, jangan percaya pada dia. Ya tuhan, apa yg harus aku lakukan sekarang" Firda hanya bisa menyesali semua nya dan rasa takut kini melingkupi hati nya.
Sementara sopir taksi itu hanya bisa melirik Firda, heran dengan Firda yg tampak sangat terpukul.
"Pak, aa... Ashar, ashar berapa lama lagi?" tanya Firda sembari berusaha menghentikan tangis nya dan menghapus air mata nya.
"10 menit lagi, Non" jawab nya.
"10 menit.. 10 menit..." Firda menggumam seperti orang bodoh "Cepetan, harus sampai rumah sebelum ashar" ucap Firda.
Sang sopir pun menyetir dengan kecepatan yg lebih tinggi. Dan sebelum ashar berkumandang, Firda sudah sampai ke rumah Tante nya. Firda segera membayar taksi, kemudian ia berlari masuk ke dalam.
"Firda pulang..." teriak Firda namun kemudian ia berlari ke kamar nya, tak ingin ada yg melihat keadaan diri nya saat ini. Samar samar Firda mendengar ibu nya mengatakan Firda pergi selama satu setengah jam, itu arti nya, Firda di hotel itu sekitar satu jam lebih.
Firda langsung mengunci pintu kamar nya, melepaskan Ciu Ciu nya dan kemudian ia berlari ke kamar mandi. Firda menyalakan shower dan mengguyur tubuh nya di sana masih dengan pakaian lengkap nya.
Firda menangis sejadi jadi nya di bawah guyuran shower. Ia sudah ternoda, sudah kotor, sudah tak suci. Firda sudah mencoreng kehormatan keluarga nya karena diri nya sudah tak memiliki kehormatan itu lagi.
Firda terus menangis, ia menggosok seluruh tubuh nya dengan kasar. Tubuhnya yg kini telah ternoda, tubuh nya yg telah di jamah oleh pria yg tak seharus nya.
Firda berusaha mengingat apa yg sebenar nya terjadi, bagaimana bisa semua ini terjadi. Namun Firda tak berhasil mengingat nya. Mungkinkah semua ini ulah Gabriel? Firda menyesal karena mengabaikan perintah ibu nya agar tak percaya pada Gabriel. Kini Firda hanya bisa menangis meraung di kamar mandi, dada nya sungguh terasa begitu sesak.
"Maafin Firda, Ummi, Abi.. Maaf" lirih Firda.
..........
"Kau memperkosa nya? bangun, sialan. Sejak kapan kamu menjadi penjahat kelamin" John menarik selimut Gabriel dan mengguncang tubuh Gabriel. Sementara Gabriel yg terus terusan di teriaki oleh John dan tubuh nya terus di guncang akhir nya terbangun namun masih tampak kesulitan membuka mata nya yg terasa berat.
"Bangun, Gabriel. Apa yg sudah kamu lakukan pada gadis itu...." teriak John lagi kali ini ia mengambil air dan menyiram wajah Gabriel. Membuat Gabriel seketika membuka mata lebar lebar.
"John...." lirih Gabriel dan ia melihat sekeliling nya. Pakaian nya yg berceceran dan... "Firda... Dimana Firda?" tanya Gabriel kalang kabut. Ia segera memungut pakaian nya dengan cepat.
"Apa yg kamu lakukan, Gabriel? kamu menjebak nya? meniduri nya? apa kamu tahu siapa dia? Bagaimana bisa kamu bertindah serendah itu" seru John marah.
"Aku... Aku tidak bermaksud melakukan itu, John" lirih Gabriel dan dengan tangan yg gemetar ia berusaha mengancingkan kemeja nya.
"Tapi kamu melakukan nya" teriak John.
"Aku.. Aku tidak tahu" lirih Gabriel lagi. Setelah memakai kemeja dan celana nya, Gabriel langsung berlari keluar mencari Firda dan John mengikuti nya.
"Gadis itu sudah pergi, 20 menit yg lalu" ujar John.
Gabriel menyambar kunci mobil John "Demi Tuhan aku tidak bermaksud melakukan nya" Ujar Gabriel.
Ia masuk ke mobil John, menyalakan nya dan memacu mobil itu dengan kecepatan tinggi.
"Maafkan aku, Fir. Maaf...."
"Tolong maafkan aku, Fir. Kamu begitu polos, ya tuhan, maafkan aku" Gabriel terus menggumamkan kata maaf meskipun ia tahu itu percuma. Yg terjadi tak bisa di hentikan.
...... ...
Sementara itu, seluruh keluarga Tante Firda pergi ke pesantren karena sedang ada acara disana. Aisyah juga mengajak Firda pergi.
Namun Firda masih mengurung diri di kamar nya, tak sanggup ia menatap mata ibu nya, tak mampu ia berhadapan dengan Abi nya. Firda merasa begitu hina, ia kembali terisak namun Firda meredam nya dengan bantal.
"Fir, kamu tidur? engga mau ikut?" teriak Aisyah dari luar "Kami sampai malam lho"
"Fi.... Firda mau tidur. Nanti nyusul" seru Firda dengan suara nya yg sudah parau karena ia terus menangis, meraung di bawah guyuran air shower tadi.
"Ya udah, engga takut kan sendirian di rumah"
"En... Engga" lirih Firda.
Setelah semua orang pergi, Firda kembali menangis sejadi jadi nya di kamar nya. Ia kembali ke kamar mandi. Kembali mengguyur tubuh nya dengan air, berharap sedikit saja air itu mengembalikan kesucian nya namun ia tahu, sebanyak apapun ia mencuci nya dengan air, itu takkan mengembalikan apa yg sudah ternoda.
...... ...
Gabriel sampai di rumah Tante Firda, ia bersyukur karena masih ingat rumah ini saat kemarin mengantar Firda pulang. Namun setelah mengetuk pintu bahkan menggedor nya, tak ada siapapun yg merespon nya. Gabriel menunggu selama beberapa jam, namun rumah itu seperti kosong. Bahkan Gabriel menunggu sampai matahari tenggelam, langit mulai menggelap dan masih tak ada yg merespon. Bahkan tak ada yg menyalakan lampu rumah. Rumah itu seperti rumah tanpa penghuni.
Dengan hati yg gundah, Gabriel meninggalkan rumah itu.
Firda ke mode jengkelin..
Klo sudah...
Muntah kok Terus lari ke hamidun?
Ga perlu ke dokter da alat namanya test pack, bener2 Dah waktu da pembagian otak di kelurahan absen x...