Aku bisa melihat mereka 2
Inara seorang gadis indigo, yang ternyata hidupnya di incar oleh seorang iblis yang menginginkannya menjadi ratu iblis.
Dapatkah Inara bisa lepas dari jerat iblis itu?
Lalu bagaimana dia menghadapi musuh lama keluarganya, yang selalu meneror dirinya dan keluarganya?
Bagaimana ceritanya? Ikuti terus ya Aku bisa melihat mereka 2.
Selamat Membaca 📖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Un.Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Setelah mendapat telpon dari Inara, Argan dan Marvel langsung meluncur ke tempat yang Inara sebutkan.
Marvel kebingungan dari mana Inara tau jika Inka berada di sana, tapi dia tak ingin banyak bertanya. Karena yang terpenting baginya sekarang harus segera menyelamatkan wanita yang di cintainya.
Sesampainya di tempat yang di beritahu Inara mereka bergegas turun. Ternyata itu sebuah gedung tua yang sudah terbengkalai, gedungnya jauh dari perkotaan, terdiri dari tiga lantai, di sana nampak gelap, tidak seperti ada tanda-tanda ada kehidupan.
"Loe yakin gan?"
"Kita coba cek aja dulu vel!" Marvel mengangguk. Lalu Marvel mengambil senter dari mobilnya untuk penerangan. Mereka memasuki gedung itu, angin malam berhembus menerpa kulit mereka, Argan dan Marvel menilik sekeliling tempat itu.
Lalu mereka memasuki lantai pertama, sangat gelap, Argan dan Marvel menyoroti cahaya senter ke sekitar bangunan itu. Banyak coretan-coretan di dinding bangunan, bahkan atapnya pun sudah terlihat sangat usang dan terkelupas, lantainya yang sudah banyak yang retak dan banyak dedaunan berserakan, suara cicitan tikus terdengar di setiap pojok, bau apek mendominasi tempat itu di campur dengan bau kotoran tikus.
Argan dan Marvel naik ke lantai dua, karena di bawah mereka tak menemukan apapun. Saat mereka sampai lantai dua mereka juga tak menemukan apapun, hanya ruang-ruang kosong yang membuat bulu kuduk merinding karena sudah pasti banyak penunggunya.
"Gan gak ada apa-apa, loe yakin?" Argan menghela nafas, dia yakin Inara gak mungkin bohong, meski dia pun bingung darimana Inara tau keberadaan Inka.
"Kita coba cari ke lantai atas!" Ujar Argan.
"Kita pulang aja, kita cari ke tempat lain. Gak mungkin Inka di sini."
Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan dari atas. Argan dan Marvel langsung berlari ke atas.
Mereka terkejut saat sampai di lantai atas, mereka melihat sosok wanita berambut panjang yang semrawut, matanya merah menyala, di kedua sisi keningnya terdapat dua tanduk yang masih pendek, kuku-kukunya sangat panjang dan runcing, kulitnya merah menyala, mulutnya penuh dengan darah, di atas sedikit lebih terang karena ada cahaya bulan memancar ke arah lantai tiga, karena atap di lantai tiga sudah bolong.
Yang lebih mengejutkan mereka, sosok itu sedang mencabik-cabik tubuh seorang pria, tak jauh dari sana tiga pria sudah tergeletak dengan bersimbah darah dengan tubuh yang sudah terkoyak-koyak dan organ-organ tubuh yang terburai dan berceceran di lantai.
Di tengah-tengah ruangan itu, Inka sedang terbaring tak sadarkan diri dan di kelilingi lilin-lilin yang sudah mati, sepertinya Inka akan dijadikan tumbal.
Argan dan Marvel terpaku menatap sosok itu, tubuhnya menegang, lidah mereka kelu, sosok itu tiba-tiba berjalan mendekat ke arah mereka. Sontak membuat Marvel dan Argan mundur perlahan. Argan berkali-kali menelan salivanya, ini pertama kalinya dia melihat sosok menyeramkan lagi, setelah sekian lama mata batinnya tertutup.
Makhluk itu berhenti, di tangan kirinya dia menggenggam sesuatu lalu tiba-tiba dia mengarahkan tangan kirinya ke mulutnya, ternyata dia memakan sesuatu yang dia genggam itu. Makhluk itu mengunyahnya perlahan sambil menikmatinya, entah apa yang dia makan? Argan dan Marvel tidak bisa melihatnya dengan jelas karena cahaya yang temaram dan sesuatu itu berlumuran darah.
Argan dan Marvel hanya begidik dan merasa jijik, melihat makhluk itu memakan makanan yang penuh dengan darah. Bahkan Argan mual dan rasanya ingin muntah.
Tiba-tiba sosok itu menyodorkan makanannya ke Argan dan Marvel.
"Mau?" Ucapnya. Argan benar-benar mual dan muntah melihat apa yang di makan sosok itu.
Uekkk.. Uekkk.. Uekkk.
Marvel membantu memijit tengkuk Argan.
hihihihihihi~~
Tiba-tiba makhluk itu tertawa cekikikan, lalu tak lama dia menghilang begitu saja.
Setelah merasa lebih baik, Argan dan Marvel menghampiri Inka, tapi Argan terkejut saat melihat pria yang barusan di cabik-cabik oleh makhluk tadi, kondisinya sangat mengenaskan. Ternyata dia pak Barjo. Dia adalah orang yang datang ke rumah Iqbal dan marah-marah sama Iqbal dan dia orang yang memelihara tuyul itu, sekaligus ayahnya Siska.
"Gimana nih gan? Apa mereka kita biarkan?" Argan mengangguk.
Karena kalo sampe mereka ketahuan warga, bakal panjang urusannya dengan pihak kepolisian yang ada nanti mereka yang di tuduh membunuh pak Barjo dan yang lainnya.
Argan dan Marvel bergegas membawa Inka ke mobil. Sekarang Argan tau ternyata orang-orang yang di temukan meninggal dengan keadaan jantungnya hilang, bukan ulah manusia tapi ulah setan itu. Ternyata jantung itu untuk di makan setan itu. Argan masih saja merasa jijik saat ingat sosok itu menawarkan jantung manusia itu kepadanya.
Tapi Argan bingung kenapa setan itu membunuh para penjahat itu sedangkan Inka tidak di apa-apakan, seolah setan itu menolong Inka. Tapi Argan tak mempedulikannya yang terpenting sekarang adiknya selamat.
***
Inka sudah di bawa kerumah, dia juga sadarkan diri. Inara terus menangis dalam pelukan Inka.
"Bunda maafin Inar karena gak bisa jagain bunda." Isak Inara.
"Gak sayang, bunda yang minta maaf sudah bikin dedek sedih dan khawatir." Inara memeluk erat Inka.
Setelah semuanya membaik, Marvel pamit pulang begitu juga Penty, Argan menginap untuk menemani Inara dan Inka.
Setelah beberapa saat Inara terlelap dalam pelukan Inka. Tak lama Argan menghampiri Inka.
"Inar udah tidur?" Tanya Argan. Inka mengangguk.
"Kakak mau ngomong sama kamu dek!" Ucap Argan sambil berlalu ke ruang tengah. Setelah menyelimuti Inara, Inka beranjak dan menemui Argan.
Inka duduk di samping Argan. "Ada apa kak?"
"Kakak boleh tanya?" Inka mengangguk.
"Apa Marvel sudah ngomong sama kamu?"
"Soal apa?" tanya Inka.
"Soal dia ingin menikahi kamu." Inka mengangguk.
"Lalu kamu jawab apa dek?"
"Aku belum jawab apa-apa, kak Marvel nyuruh aku untuk berpikir."
Argan mengangguk. "Kakak setuju jika kamu menikah dengan Marvel. Selain kita sudah kenal baik dia, kakak yakin dia pasti bisa jagain kamu dan Inara. Kakak gak mau kejadian ini terulang lagi gara-gara gak ada yang jagain kamu dan Inara."
Inka terdiam sambil menunduk dalam, dia masih belum ingin menikah, selain dia masih sangat mencintai Iqbal, dia juga belum siap untuk menikah lagi.
"Kakak tau kamu masih belum bisa melupakan Iqbal. Tapi kamu harus pikirin Inara dan juga kamu dek, kalian butuh sosok pria yang bisa jagain kalian. Kakak gak bisa terus ada di samping kalian untuk jagain kalian. Kalo ada sosok laki-laki di samping kalian, Kakak juga bisa tenang dan gak kepikiran soal kalian terus. Kakak sayang sama kalian, kakak ingin yang terbaik buat kalian."
Inka masih menunduk tak terasa air matanya menetes.
"Kakak gak akan maksa kamu dek, kamu bisa pikirin dulu, kakak cuma kasih saran dan semuanya kakak serahkan ke kamu dek, kamu yang akan menjalaninya. Kamu masih punya banyak waktu untuk mikirin ini sampai masa Iddah kamu selesai."
Inka masih terdiam dan menunduk mendengarkan semua perkataan Argan.
"Ya sudah lebih kamu istirahat, udah malam." Ucap Argan sambil mengusap kepala Inka, lalu dia beranjak dan ke kamar untuk beristirahat.
Inka menyenderkan kepalanya di Sofa, dia menghela nafas panjang dan memejamkan matanya. Setelah itu dia beranjak dan menyusul putrinya ke kamar. Dia berbaring di samping Inara.
Inka menatap Wajah Inara yang sedang terlelap, lalu mengecup kening putrinya. Tak terasa air matanya menetes.
"Kenapa kamu tinggalin kami yah, padahal kami masih membutuhkan kamu, kami masih sangat membutuhkan kamu." Isak Inka pelan.
Lalu dia memeluk Inara dan berusaha memejamkan matanya, tapi dia tidak bisa terlelap karena terus memikirkan perkataan Argan.
Sedangkan Inka tidak tau, jika Inara tidak benar-benar tertidur, dia terbangun saat Argan masuk dan dia juga mendengar semua pembicaraan Argan dan Inka di ruang tengah.
Dan Inara juga bingung, dia tidak mau punya ayah baru tapi dia juga tidak mau jika bundanya kenapa-napa lagi karena tidak ada yang menjaga, karena perkataan Argan benar adanya.
"Aku harus gimana?" Gumamnya dalam hati.
Bersambung..