Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5.Salah Paham di Koridor
Waktu istirahat kedua baru saja dimulai. Suara riuh rendah tawa dan langkah kaki siswa memenuhi lorong-lorong sekolah yang bersih dan terang benderang. Cahaya matahari menembus jendela-jendela kaca di sepanjang koridor, membentangkan bayangan panjang di lantai keramik yang berkilau. Anisa berjalan perlahan menyusuri lorong menuju kantin sambil memeluk erat selembar kertas ujian yang baru saja dibagikan guru. Di atas kertas itu tertera angka yang cukup tinggi, hasil kerja kerasnya selama berhari-hari. Hatinya terasa ringan dan gembira, sejenak melupakan segala kekesalan yang biasanya memenuhi pikirannya. Ia tak sengaja melamunkan kejadian di depan papan tulis kemarin—saat Kenzo menatap tulisannya dan tak lagi merendahkannya. Pikirannya mengawang jauh, hingga langkah kakinya pun tak lagi diperhatikan dengan saksama.
Di ujung koridor yang agak sepi, Kenzo berdiri bersandar pada tiang penyangga bangunan sambil melipat selembar kertas ujian miliknya dengan gerakan yang sedikit kasar. Alisnya berkerut rapat, tatapan matanya tajam tertuju pada angka yang tertulis di sudut kanan atas kertas itu. Angkanya tinggi, memang. Namun selisih satu angka saja memisahkan jawaban akhirnya dengan Anisa. Kenzo merasa kesal pada dirinya sendiri. Sejak kemarin, bayangan senyum percaya diri Anisa terus terbayang di benaknya, seakan mengejek ketidaksempurnaannya. Rasa ingin menang yang begitu kuat kini bercampur dengan kekesalan yang tak mampu ia jelaskan. Ia mendengus kasar, meremas sedikit sudut kertas itu sebelum melipatnya kembali. Saat itulah langkah kaki yang dikenalnya melintas perlahan di hadapannya.
Anisa berjalan melamun, senyum tipis masih tersungging di bibirnya tanpa disadari. Sesosok tubuh berdiri tegak tepat di jalur kakinya, dan sebelum Anisa sempat bereaksi, bahu mereka nyaris beradu.
"Awas!" tegur Kenzo pelan namun tegas sambil menahan tubuh Anisa agar tak terhuyung ke belakang.
Anisa tersentak kaget, segera menarik diri dari sentuhan itu seakan tersengat aliran listrik. Matanya menatap tajam ke arah lelaki yang tiba-tiba muncul di hadapannya. "Kamu ini... berdiri di tengah jalan tanpa suara, sengaja ya?" tuduh Anisa, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena terkejut bercampur canggung akibat sentuhan tiba-tiba tadi.
Kenzo menatapnya dengan tatapan yang terasa asing. Ada kekesalan yang mendalam bercampur sesuatu yang lain, namun Anisa sama sekali tak mampu membacanya. Di mata Kenzo, senyum yang tadi menghiasi bibir Anisa kini terlihat seakan-akan gadis itu sedang merasa bangga dan mengejek kekalahannya yang tipis kemarin. Puncak kekesalan yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak tak terkendali.
"Tersenyum begitu... pasti sedang merasa sangat puas ya?" ucap Kenzo dengan nada rendah yang penuh penekanan, seakan merangkai setiap kata dengan tajam. "Puas karena selisih tipis saja membuatmu terlihat sedikit lebih baik dariku? Atau memang sejak awal kamu sengaja bersikap demikian hanya untuk membuatku tampak kalah di depan semua orang?"
Kata-kata itu menghantam dada Anisa bagai pukulan telak. Matanya membelalak tak percaya. Ia menatap wajah Kenzo—yang tampak begitu serius, begitu yakin dengan pemikirannya yang keliru itu.
"Apa maksudmu?" tanya Anisa dengan suara yang sedikit bergetar, tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. "Aku tersenyum karena merasa lega dengan usahaku sendiri. Bukan karena kamu atau siapa pun. Kamu pikir seluruh duniaku hanya berpusat padamu?"
"Benarkah?" potong Kenzo cepat. Langkahnya maju selangkah, membuat Anisa mundur perlahan hingga punggungnya nyaris menyentuh dinding koridor. "Kalau bukan karena ingin menunjukkannya padaku, mengapa kamu harus maju ke papan tulis saat itu? Mengapa harus memaksakan diri berdiri tepat di sampingku? Kamu selalu menantang, selalu ingin membuktikan diri... dan hari ini kamu datang tersenyum seakan baru saja memenangkan pertarungan besar. Bukankah itu bukti bahwa selama ini tujuanmu hanyalah untuk menyaingiku?"
Anisa menatapnya lekat-lekat, matanya perlahan berkaca-kaca. Rasa kesal kini bercampur dengan rasa sakit yang mendalam. Bagaimana bisa seseorang yang tampak begitu cerdas justru berpikir begitu sempit? Bagaimana bisa ia menyimpangkan niatnya sedemikian rupa hanya karena egonya merasa tersakiti?
"Kamu benar-benar... menyebalkan, Kenzo," ucap Anisa lirih namun penuh ketegasan, air matanya nyaris jatuh namun ia berusaha menahannya dengan sekuat tenaga. "Aku maju karena aku paham materinya. Aku berdiri di sebelahmu karena kebetulan saja. Dan senyumku... senyumku adalah milikku, bukan untuk mengejek siapa pun. Tapi ternyata, hatimu yang sempit inilah yang membuatmu melihat segala sesuatu hanya dari sudut pandangmu sendiri. Kamu pikir semua orang selalu iri padamu, selalu ingin menyaingimu? Sungguh, kamu salah besar."
Suasana di antara mereka seketika terasa begitu hening dan dingin meskipun udara di luar sedang hangat. Kenzo terdiam mendengar ucapan itu. Kata-kata Anisa yang tajam namun tulus seakan menusuk langsung ke hatinya. Ia menatap mata gadis itu—melihat kilatan luka yang tulus di sana, bukan kemenangan atau ejekan seperti yang ia duga sebelumnya. Namun rasa gengsinya masih terlalu tinggi untuk sekadar meminta maaf atau mengakui kesalahannya. Ia hanya diam, menggenggam erat kertas ujian di tangannya, napasnya terasa berat dan tak tenang.
"Jadi... menurutku aku salah?" tanya Kenzo akhirnya, suaranya terdengar jauh lebih pelan dan tak seberani sebelumnya. Namun Anisa sudah tak ingin mendengar penjelasan lebih lanjut. Ia menarik napas panjang, berusaha menelan rasa kecewa yang mendalam, lalu menatapnya sekali lagi dengan pandangan yang tak lagi berapi-api, melainkan dingin dan menjauh.
"Biarlah waktu yang menjawab," ucap Anisa pelan sambil berjalan melewati sisi Kenzo tanpa menoleh lagi. "Tapi mulai sekarang... tolong jangan menilai hatimu sendiri di dalam hatiku. Karena aku bukan sepertimu yang selalu penuh curiga."
Langkah kaki Anisa perlahan menjauh meninggalkan Kenzo yang terpaku berdiri sendirian di koridor. Kenzo menatap punggung gadis itu yang perlahan menghilang di ujung lorong. Rasa bersalah perlahan mulai merayap di dadanya, namun mulutnya terkunci rapat. Ia baru saja menyalahkan Anisa atas sesuatu yang mungkin sama sekali tak dipikirkan oleh gadis itu. Dan kesalahpahaman yang terucap di koridor siang itu justru menjadi tembok tebal yang semakin memisahkan hati mereka berdua—membuat benih-benih keraguan tumbuh semakin subur, meskipun di dalam lubuk hati terdalam, Kenzo mulai menyadari bahwa mungkin saja dialah yang telah keliru menilai segalanya.
BERSAMBUNG...