Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.
Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.
"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."
Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Noda Lipstik
Keisha tidak memasukkan jaket itu ke mesin cuci.
Ia memotret noda lipstik dari beberapa sudut, mengambil rambut panjang dengan pinset bersih, lalu menyimpannya dalam amplop kertas terpisah. Jaket dilipat tanpa menyentuh kerah dan dimasukkan ke kantong pakaian.
Ia bukan ahli forensik. Namun ia cukup paham bahwa mencuci atau menarik rambut dengan tangan hanya akan menghilangkan kemungkinan menjelaskan asalnya.
Pukul satu malam, Keisha mengirim pesan kepada Arya.
Kapan kamu bisa bicara?
Tidak ada balasan.
Pukul dua lewat sepuluh, tanda pesan berubah menjadi terkirim. Keisha menulis Ada noda lipstik di jaketmu, lalu menghapusnya sebelum menekan kirim. Tuduhan melalui pesan saat Arya berada dalam evaluasi tidak akan menghasilkan jawaban yang layak.
Ia akhirnya menulis satu kalimat.
Kita perlu menyelesaikan percakapan kita saat kamu pulang.
Menjelang Subuh, Arya menelepon. Suara di belakangnya penuh instruksi pendek dan langkah tergesa.
"Kei, aku hanya punya satu menit. Ada apa?"
Keisha memandang kantong pakaian di kursi. "Kapan kamu pulang?"
"Belum tahu. Evaluasi berlanjut sampai besok."
"Apakah Vanya menyentuhmu kemarin?"
Hening satu detik.
"Dia hampir jatuh. Aku menahan lengannya sebentar. Kenapa?"
"Hanya itu?"
"Hanya itu."
Seseorang memanggil Arya. "Aku harus pergi. Apa yang kamu temukan?"
Keisha membuka mulut, tetapi sambungan dipenuhi gangguan.
"Nanti saja," katanya. "Kerjakan tugasmu."
"Keisha, jangan..."
Panggilan terputus.
Keisha menatap layar sampai gelap. Kali ini, kata nanti keluar dari mulutnya sendiri dan terasa sama buruknya.
Ia tidak tidur.
Ia menulis kronologi sejak arisan: waktu Vanya muncul, saat Arya kembali, posisi Keisha ketika Vanya hampir jatuh, waktu mereka tiba di rumah, dan kapan jaket diletakkan di keranjang. Keisha juga menyimpan salinan pesan grup yang menyebut Vanya berada di halaman.
Tidak ada kamera yang jelas menangkap bagian belakang tubuh Arya saat insiden. Bukti itu belum membuktikan siapa menaruh noda. Namun setidaknya Keisha tidak membiarkan ingatan berubah mengikuti emosi.
Menjelang pagi, ia duduk di lantai dekat pintu kamar Arya yang kosong. Tangan Keisha menyentuh bibir sendiri, mengingat ciuman di bawah hujan dan sumpah bahwa dirinya bukan alat.
Jika Arya berbohong, sakitnya akan nyata. Jika Arya dijebak dan Keisha langsung menghukumnya, kerusakannya juga nyata.
Ia memilih menunggu percakapan, bukan memilih kesimpulan.
Pagi hari, Keisha mengirim pesan singkat bahwa dirinya baik-baik saja, lalu pergi ke RS Kartika untuk sesi observasi credentialing. Jaket dan amplop rambut dikunci di lemari rumah. Foto-fotonya tersimpan di folder yang dilindungi kata sandi.
Sebelum itu, Keisha sempat mengunjungi Anindita. Kondisi Mama stabil. Ia memeriksa catatan perawatan, lalu duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan yang tidak membalas.
"Keisha mulai menyukai suami sendiri, Ma," bisiknya. "Ternyata itu jauh lebih menakutkan daripada menikah karena kontrak."
Monitor terus berbunyi teratur.
"Kalau Mama bangun, Mama pasti suruh Keisha bertanya langsung. Jadi Keisha akan bertanya. Tapi bukan saat dia hanya punya satu menit dan suara orang berteriak di belakang."
Keisha merapikan selimut, mencium punggung tangan Anindita, lalu pergi dengan langkah yang sedikit lebih tegak.
Di koridor anak, ia melihat Vanya membawa Tata untuk kontrol sesuai jadwal. Balutan pada lengan anak masih bersih. Tata tidak menangis, hanya tampak waspada ketika melihat Keisha.
"Tante jahat," gumamnya.
Keisha berjongkok dengan jarak aman. "Selamat pagi, Tata. Hari ini dokter jaga yang akan membuka perban. Tante hanya melihat dari samping kalau Tata setuju."
Anak itu menatap Vanya. Vanya mengangguk, lalu Tata memberi anggukan kecil.
Di ruang periksa, dokter jaga membuka balutan. Luka tampak membaik, kemerahan tidak meluas, dan tidak ada tanda infeksi. Setelah pembersihan ringan, balutan baru dipasang. Keisha membantu mengalihkan perhatian Tata dengan gambar hewan, bukan melakukan tindakan mandiri.
Sebelum masuk, Keisha sudah mengingatkan dokter jaga bahwa dirinya memiliki konflik pribadi dengan pengasuh. Karena itu, penilaian luka dan keputusan klinis sepenuhnya dilakukan tim yang bertugas. Keisha hanya berada di sana sebagai peserta observasi yang boleh membantu komunikasi setelah Vanya menyetujui.
Langkah tersebut melindungi Tata dan juga melindungi catatan medis dari tuduhan bahwa Keisha bertindak karena cemburu.
"Kelinci atau kucing?" tanyanya.
"Kucing," jawab Tata pelan.
Itu kata pertama yang keluar tanpa naskah Vanya.
"Pilihan bagus."
Vanya memperhatikan mereka dengan senyum tipis. Begitu tim selesai memberi jadwal kontrol berikutnya, ia menunggu sampai koridor lebih sepi.
"Kamu kelihatan kurang tidur," katanya kepada Keisha. "Menunggu suami yang tidak pulang memang melelahkan."
"Saya kurang tidur karena menjaga bukti."
Mata Vanya berubah sesaat. "Bukti apa?"
"Noda lipstik dan rambut panjang di jaket Arya."
Vanya menyentuh bibirnya yang hari itu memakai warna merah serupa. "Mungkin dia lupa menceritakan sesuatu."
"Atau seseorang menyentuh pakaiannya tanpa persetujuan lalu sengaja meninggalkan jejak."
Senyum Vanya menegang.
"Kamu ingin sekali percaya kepadanya."
"Saya ingin fakta. Itu sebabnya jaketnya tidak saya cuci dan rambutnya saya simpan terpisah."
Vanya tidak menyangka Keisha akan memperlakukan jebakan sebagai barang bukti, bukan alasan menangis.
"Kamu pikir pemeriksaan bisa membuktikan semuanya?"
"Tidak. Tapi waktu, kamera, saksi, dan pola gangguan bisa membuktikan lebih banyak daripada sindiran."
"Mungkin aku memang sempat jatuh ke pelukannya," bisik Vanya. "Tubuh mengingat orang yang pernah dekat."
Keisha menatapnya lurus. "Kalau seseorang menahanmu agar tidak jatuh, itu bukan pelukan romantis. Kalau kamu memakai pertolongan itu untuk meninggalkan jejak tanpa persetujuannya, itu juga bukan cinta."
Untuk pertama kalinya, Vanya tidak segera punya jawaban.
"Dan kalau Arya ternyata memilihmu?" tanyanya akhirnya.
"Dia orang dewasa. Dia bisa mengatakannya sendiri dan menanggung akibatnya. Saya tidak akan menerima keputusan rumah tangga dari mulut mantan yang bersembunyi di balik akun palsu."
Keisha berdiri lebih dekat, tetap menjaga suaranya agar Tata tidak mendengar.
"Dengarkan saya. Hubungan masa lalumu dengan Arya tidak memberimu hak memasuki rumah kami, memakai anak untuk memanggilnya Papa, atau mengirim foto dari akun palsu. Kalau kamu punya klaim yang sah, bawa dokumen. Kalau tidak, berhenti menjadikan anak kecil sebagai perisai."
Wajah Vanya memucat, lalu kembali lembut ketika seorang perawat lewat.
"Tata cuma merindukan seseorang yang baik kepadanya."
"Kalau kamu peduli kepada Tata, biarkan dia sembuh tanpa menghafal kebencian orang dewasa."
Tata yang duduk di kursi memegang gambar kucing. Keisha menyerahkan satu lembar tambahan kepadanya.
"Untuk diwarnai di rumah."
Anak itu menerimanya, tetapi Vanya segera menggandeng tangannya dan pergi.
Keisha mengembuskan napas. Dadanya masih sakit, tetapi setidaknya ia tidak lagi berdiri diam di dalam permainan Vanya.
Ia berbalik menuju gedung administrasi dan hampir menabrak seorang perempuan yang membawa dua gelas kopi serta map tebal.
"Eh, maaf!" Perempuan itu mundur, lalu menatap wajah Keisha terlalu lama. "Tunggu. Kok kamu mirip banget sama aku di foto ulang tahunku kemarin?"
Keisha mengerutkan kening.
Perempuan asing itu tersenyum cepat. "Tanggal lahirmu berapa?"