"Aku ingetin, jangan sampek kamu jatuh cinta! Aku nikahin kamu karena terpaksa!"
"Sorry, pria seperti kamu bukan tipeku!" cetus Dea pada pria yang berdiri di depannya dengan sombong dan angkuh.
"Kamu yang bukan tipeku!" Daniel tidak mau kalah. Sebab Dea benar-benar gadis di bawah standard. Untuk nilai, bagai pria sesukses dirinya, Dea memiliki nilai F.
Yuk kenalan sama penulis, Instagram :
Sept_September2020
Baca juga karya Sept yang sudah Tamat
Rahim Bayaran
Istri Gelap Presdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa Yang Bergejolak
Dea I Love You
Bagian 21
Oleh Sept
Rate 18 +
"Haduh ... gimana nih?" batin Dea, gadis itu mulai panik. Apalagi wajah Daniel sudah semakin dekat.
"Mau ngapain?" Pertanyaan itu akhirnya lolos dari mulut Dea.
Spontan, Daniel langsung menarik diri. Malu campur gengsi, Daniel lantas pura-pura tidak terjadi apa-apa dan bergegas keluar dari kamar tersebut.
"Ada apa dengannya?" gumam Dea sembari menatap punggung Daniel yang perlahan hilang di balik pintu.
Di ruang tamu, pria itu mendesis kesal. Kenapa harus terciduk? Kenapa bisa ketahuan Dea lagi? Ish, ia mengumpat kesal.
"Dea, aku berangkat!" teriak Daniel.
"Iya!" sahut Dea dari kamar.
Daniel sudah berangkat kerja, kini Dea kembali sendirian di apartment. Bosan, ia pun mencoba mencari hiburan. Tiba-tiba Dea ingat Metty. Ia pun segera menghubungi temannya itu lewat vidio call.
Tut tut tut
Lama sekali tersambung, mungkin karena Metty masih di camp. Jadinya susah sinyal. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya panggilan tersambung juga.
"DEA!" teriak Metty dengan histeris. Membuat Dea yang semula bosan dan berwajah masam langsung tersenyum ceria. Metty selalu saja bisa membuatnya tertawa.
"Lo curang! Masa pulang duluan!" sambung Metty.
"Sorry Mitti."
"Oke, kami semua paham kok. Lo baik-baik di rumah, jaga kesehatan ya. Jangan ke mana-mana. Jangan aktifitas berlebihan, get well soon ya, Dea!"
Dea mencoba berpikir keras, kenapa ia didoakan agar cepet sembuh? Memangnya dia sakit? Saat otaknya sudah connect, Dea malah mendesis. "Pasti kerjaan pria itu! Enak aja, orang seger buger gini dibilang sakit!" Dea mengerutui sikap Daniel.
Padahal Kim yang sudah mengurus semuanya, bisa jadi Kim lah yang membuat alasan tersebut.
"Dea ... Dea! Vino mau ngomong!" tiba-tiba wajah Metty di layar smartphone langsung berganti dengan wajah ganteng Vino.
"Dea, sakit apa?" tanya Vino dengan perhatian.
Gadis itu memutar bola matanya, mencoba mencari jawaban yang pas, sakit apa? batinnya. Ucapan adalah doa, nanti kalau ia asal bilang sakit ini itu, jangan-jangan malah jadi sakit betulan?
"Cuma sakit kepala," jawab Dea dengan sedikit ragu.
"Take care, Dea. Besok habis pulang dari camping, gue ke sana ya. Tapi tunggu ... rumah Om habis renovasi ya, Dea?"
"Waduh!" batin Dea. Tidak mau Vino curiga ia tinggal di mana. Ia langsung pura-pura sinyalnya putus-putus.
"Hallo .... hallo!" ucapnya seraya membalik ponsel menghadap meja.
Dea menunggu beberapa saat, hingga panggilan itu terputus.
"Ish ... punya temen pada kepo banget!" gerutunya. Namun bibirnya juga tersenyum, memiliki sahabat seperti mereka adalah sesuatu yang berharga bagi Dea.
***
Sore hari, langit nampak gelap. Mendung sudah mengantung. Sepertinya hujan akan segera turun.
Dea sedang di dapur, sejak tadi ia melirik jam sembari memotong buah. Beberapa jam kemudian, hari sudah sangat gelap. Suara petir juga mengelegar bersaut-sautan.
Aneh sekali, Daniel belum juga pulang. Takut karena kilatan petir yang menyambar-nyambar. Dea memutuskan bersembuyi di balik selimut. Hingga tidak terasa, gadis itu malah tertidur.
Ting tung
Daniel berdiri di depan pintu sambil meniup-niup telapak tangannya. Udara yang dingin di dalam mobil, membuat pria itu kedinginan. Belum lagi rambutnya yang sedikit basah karena air hujan.
"Ke mana gadis itu? Apa sudah tidur?" Daniel melirik pergelangan tangan. Di sana jam sudah menunjukkan pukul sembilan.
"Belum malam-malam banget, masa sudah tidur?" pikir Daniel. Harusnya ia sudah pulang sejak tadi, karena menghadiri jamuan makan malam dengan relasi dari Jerman, terpaksa ia pulang telat.
Sebenarnya ia tadi ingin menghubungi Dea. Tapi, karena Dea juga tak menghubungi ia terlebih dahulu. Daniel memilih tak melakukan itu, gengsi.
Setelah menunggu cukup lama, ia memutuskan menelpon Dea sembari menyandar pada tembok.
Di dalam kamar Dea, dering ponsel gadis tersebut terus saja berbunyi nyaring, membuat Dea terbangun.
"Hem."
"Buka pintunya."
"Iya ... iya, aku buka!"
Dea langsung turun, hampir saja kakinya tersandung karpet kamar yang terlipat. Karena baru bangun membuatnya belum sadar 100 persen.
"Baru pulang?" tanya Dea begitu membuka pintu.
"Ada jamuan makan malam tadi."
"Kenapa basah semua?" Dea mengerjap, menajamkan pandangan. Dilihatnya rambut Daniel yang basah.
"Ah ... nggak apa-apa."
"Aku siapain air hangat buat mandi, ya?"
Daniel mengeryitkan dahi, "Kesambet setan apa nih bocah. Dari semalam udah aneh!" batin Daniel yang melihat sikap Dea tidak seperti biasanya.
"Hemm!"
Dea pun masuk kamar Daniel, tanpa pikiran aneh-aneh tentunya. Ia lantas menyiapkan air hangat untuk suaminya itu. Mungkin Dea ingin berdamai dengan Daniel mulai sekarang, tentunya ada udang di balik bakwan. Apalagi kalau bukan agar lebih dekat dengan Mama Rosie. Dalam pikiran Dea, kalau hubungan dia dan Daniel bagus. Artinya bagus juga antara ia dan Mama mertuannya itu.
Setelah dirasa airnya sudah cukup hangat, Dea pun berniat mematikan kran air. Dengan langkah ringan ia memutari bathtub, sayang kaki Dea malah keserimpet dan oleng, membuat gadis itu langsung jatuh ke dalam bathtub yang berisi penuh air.
Byuuurrr
Kaget, Daniel reflect lari ke dalam kamar mandi.
"DEA!" teriak Daniel dengan panik.
Gadis itu muncul dari dalam air dengan tersenyum malu pada suaminya. "Ish, apes sekali!" gumam Dea dengan pelan.
"Ya ampun, hati-hati dong, Dea! Kamu bukan anak kecil!" ujar Daniel sembari membantu Dea bangun dari bathtub.
"Nggak usah, aku bisa sendiri!" Dea menepis tangan suaminya.
Byurrrr
Kualat, Dea malah kembali terpeleset dan masuk air lagi.
"Ish!"
"Sini!" ujar Daniel, tangannya langsung meraih pinggang Dea. Membantu gadis itu turun dari bathtub.
"Handuk, tolong ambilin handuk!" pinta Dea sambil memeluk tubuhnya sendiri. Dea berusaha menutupi kaca matanya yang terlihat transparan karena bajunya yang basah kuyub.
Daniel melangkah ke luar, sesaat kemudian ia masuk dengan membawa handuk bersih di tangan.
"Hilangin tuh cerobohnya sedikit saja, kalau mau apa-apa itu yang hati-hati. Jangan sembrono!" cibir Daniel. Namun, tangannya sudah mengusap rambut Dea dengan handuk yang tadi ia bawa.
Setelah itu, ia mengusap wajah Dea dengan lembut memakai handuk. Bukannya terus mengusap, Daniel malah berhenti sejenak, fokus Daniel malah semakin ke bawah.
Pertama, ditatapnya mata Dea, turun ke hidung, kemudian ke bibir. Setelah itu, perlahan terus turun ke bawah.
Dea yang ikut mengeringkan rambut, tidak lagi menutupi bagian depan tubuhnya, tangannya kini sibuk mengosok rambutnya dengan handuk, membuat kaca matanya nampak jelas oleh Daniel.
Pria itu langsung menelan ludah, sembari merutuki keadaan. Apa harus ia tahan lagi? Betapa tersiksanya Daniel jika harus terus menahan gejolak dalam dirinya yang terus berkobar bila di dekat Dea.
"Dea!" panggil Daniel dengan pelan.
Saat namanya dipanggil, Dea pun mendongak. Tinggi mereka yang beda jauh, membuat Dea harus mendonggakan kepalanya saat bicara pada Daniel.
"Hemm ... ada apa? Kalau mau marah-marah, besok aja. Dah dingin nih, mau ganti baju. Dah ... ini handuknya!" Dea menaruh handuk ke tangan Daniel, sedangkan ia sendiri langsung berbalik.
"Malam ini, tidur di kamarku!"
Klek
Dea spontan melepas handle pintu, tidak jadi membukanya. Bersambung.
happy ending, senang bacanya 😍😍