Menceritakan seorang gadis yang dijodohkan dengan seorang Kapten Pilot. Namun, gadis tersebut kabur di hari pernikahannya.
Kemudian mereka kembali dipertemukan dan gadis tersebut jatuh cinta pada Kapten Pilot. Mereka berdua sempat menjalin hubungan kekasih, Namun ternyata Kapten Pilot hanya menjadikan gadis tersebut hanya sebagai pempiasan cintanya saja karena hubungannya dengan kekasih lamanya tidak direstui kedua orang tuanya.
Gadis tersebut sangat kecewa saat mengetahui cintanya hanya dijadikan pelampiasan saja, gadis tersebut membenci Kapten Pilot karena telah mempermainkan cintanya dan gadis tersebut memutuskan hubungannya dengan Kapten Pilot.
Hati Kapten Pilot itu merasa aneh, kehidupannya hampa tanpa gadis tersebut hatinya terasa kosong. Kapten Pilot itu berusaha meminta maaf namun, gadis tersebut terlanjur kecewa. Hati tidak ada yang tau, gadis tersebut kembali mencintai Kapten pilot secara diam-diam dan alangkah kecewanya lagi saat gadis tersebut menyaksikan dengan matanya sendiri, menyaksikan kekasih lama Kapten Pilot mencium pipi Kapten Pilot dan itu membuat gadis tersebut sampai kecelakaan.
Perjalanan cinta mereka begitu banyak ujian cinta di dalamnya. Tidak hanya sampai disitu saja, saat takdir telah menyatukan mereka dalam hubungan pernikahan, ada saja ujian yang menimpa cinta mereka. Bahkan lebih parah lagi setelah mereka menikah, rumah tangga mereka sempat hancur dengan perceraian diantara mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma blw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAPTEN PILOT
Orang yang di balik pintu tidak lain adalah Dokter Nisa yang sedari tadi telah mendengar percakapan antara Kapten Gilang dan Kapten Rijal.
Dokter Nisa yang mendengar niat baik dari Kapten Rijal tersenyum bahagia dan melamun meningat dirinya yang pura-pura amnesia.
Cepat atau lambat dia harus mengakhiri amnesianya ini agar tidak menyakiti hati orang-orang disekitarnya dengan kebohongannya saat ini pikir Dokter Nisa.
Disatu sisi dia tetap menjalankan trik amnesianya dulu sampai melihat bukti Kapten Rijal akan melamarnya.
Sebenarnya Dokter Nisa hanya pura-pura lupa ingatan karena ingin menguji cinta Kapten Rijal.
Dengan terpaksa dia meminta Dokter Arlan untuk menyatakan kondisinya saat baru siuman bahwa Dokter Nisa mengalami amnesia.
Padahal itu cuma akal-akalan Dokter Nisa untuk menguji cinta Kapten Rijal.
Kecelakaan itu memang asli bukan akal-akalan hanya amnesia itulah yang menjadi akal-akalan dari Dokter Nisa.
Dokter Arlan pun tidak tau maksud tujuan dari Dokter Nisa yang memintanya untuk pernyataan kondisi amnesia itu.
Dokter Nisa kembali tersadar dari lamunannya ketika suara pintu kamar Kapten Gilang terbuka.
Clekk...
Dokter Nis terkejut tidak tau mau bersembunyi kemana hanya bisa mematung di tempatnya.
"Nisa." Ucap Kapten Gilang terkejut melihat adiknya di depan pintu kamarnya.
Kapten Gilang dan Kapten Rijal saling berpandangan, jangan-jangan Dokter Nisa mendengar semua percakapan antara mereka pikir Kapten Gilang.
"Kamu sudah lama di sini?." Tanya Kapten Gilang pada Dokter Nisa.
"Eh. Baru kok, pas tadi aku mau buka pintunya suara pintu terbuka dari dalam. Jadinya aku nggak jadi buka deh." Jawab Dokter Nisa terpaksa berbohong agar tidak ketahuan menguping percakapan mereka.
"Oh. Ya sudah, ayo kita turun makan!". Ajak Kapten Gilang merangkul adiknya itu.
Mereka bertiga pun menurungi anak tangga menuju meja makan dan mereka duduk di kursi masing-masing.
"Kok kalian lama sih?." Tanya Bu Sarah menatap mereka bertiga.
"Abang yang lama, sampai aku naik lagi memanggilnya." Jawab Dokter Nisa menunjuk ke arah Kapten Gilang.
"Abang ngomongin apa sih sama Rijal?". Tanya Bu Sarah pada Kapten Gilang.
"Rahasia". Jawab Kapten Gilang.
"Abang ngomong apaan sih sama Rijal?". Tanya Dokter Nisa pada Kapten Gilang.
"Ah mau tau aja sih, urusan cowok. Anak kecil nggak boleh tau". Jawab Kapten Gilang.
"Ih... Aku tuh bukan anak kecil, aku tuh sudah dewasa". Ucap Dokter Nisa memukul lengan Kapten Gilang yang memang duduk berdampingan dengannya.
"Oh. Dewasa ya, sudah cocok dong kamu gendong anak kecil." Ucap Kapten Gilang melirik adiknya.
"Iya tuh. Cocok banget, apalagi kalau yang digendong cucu bunda". Ucap Bu Sarah.
"Ais. Apaan sih." Ucap Dokter Nisa cemberut.
Kapten Gilang dan Bu Sarah tertawa melihat ekspresi Dokter Nisa, sementara Kapten Rijal hanya tersenyum.
"Sudah dong ketawanya. Kapan mulai makan kalau ketawa terus." Ucap Dokter Nisa mengambil nasi ke piringnya.
"Sekalian ambilin dong untuk aku dan Rijal." Ucap Kapten Gilang pada Dokter Nisa.
"Oke deh." Ucap Dokter Nisa berdiri dari duduknya agar bisa menjangkau dengan leluasa untuk mengambilkan nasi untuk kakaknya dan juga untuk Kapten Rijal.
Setelah selesai mengambilkan nasi untuk kedua pria tersebut. Dokter Nisa kembali duduk di kursinya.
"Wah. Bunda, aku rasa anak perempuan bunda sudah cocok untuk jadi istri. Lihatlah dia begitu cekatan saat mengambilkan nasi." Ucap Kapten Gilang pada Bundanya.
"Ya kalau sudah ada yang melamar. Tingga diterima aja sih." Ucap Bu Sarah melihat Dokter Nisa.
"Terserah deh. Aku mau makan kalau dengar omongan dari abang nggak makan-makan sampai tua." Ucap Dokter Nisa memakan makanannya.
Bu Sarah, Kapten Gilang dan Kapten Rijal tertawa mendengar ucapan Dokter Nisa lalu mereka pun mulai memakan makanannya.
Waktu yang terus berlalu sampai tidak terasa matahari sudah mulai terbenam di ufuk barat.
Kapten Rijal, Kapten Gilang, Bu Sarah dan Dokter Nisa duduk di sofa ruang tamu menyaksikan acara TV dan juga sambil bermain HP.
"Eh. Nanti malam ke pasar malam yuk!". Ajak Bu Sarah pada mereka bertiga.
"Bunda mau ngapain ke sana?." Tanya Dokter Nisa.
"Bunda cuma mau jalan-jalan aja." Jawab Bu Sarah.
"Sudah lama kita nggak ke pasar malam. Terakhir aku ingat pas aku lulus SMK, aku sama Rijal naik di biang lala tau-taunya aku mabuk di biang lala. Untung ada Rijal yang membopong aku, turun dari biang lala aku langsung muntah-muntah." Cerita Kapten Gilang mengingat dirinya pertama kali menaiki wahana permainan yang disebut biang lala.
"Hahah... Abang cemen hu.'' Tawa Dokter Nisa mendengar cerita Kapten Gilang.
''Bukan cemen. Tapi mabuk angin.'' Elak Kapten Rijal pada Dokter Nisa.
''Ya sama aja sih.'' Ucap Dokter Nisa.
Waktu terus berlalu, tidak terasa waktu magrib sudah tiba. Adzan magrib sudah berkumandang terdengar begitu merdu di penjuru kompleks perumahan tempat Bu Sarah.
"Allahu Akbar... Alllahu Akbar.'' Suara adzan di kumandangkan.
''Yuk shalat berjamaah! ada Gilang atau Rijal bisa jadi imam.'' Ajak Bu Sarah pada mereka bertiga untuk segera melaksanakan shalat magrib.
''Ayo!." Seru Dokter Nisa beranjak dari duduknya.
"Ayah kok belum pulang.'' Ucap Kapten Gilang menengok ke arah pintu utama namun tidak sedikit pun tanda-tanda akan kehadiran Ayahnya.
''Ayah pasti mampir di mesjid untuk shalat magrib.'' Ucap Bu Sarah.
''Biasanya kan kita shalat berjamaah sama Om Ryan.'' Ucap Kapten Rijal.
''Mungkin tadi agak sibuk jadinya pulang kemalaman begini deh, mending segera wudhu terus shalat berjamaah!.'' Ucap Bu Sarah.
Mereka pun memulai shalat berjamaah di mushollah sederhana yang ada di belakang taman samping rumah Bu Sarah.
Kebetulan Kapten Rijal yang menjadi imam untuk mempimpin shalat, sementara yang lain mengambil posisi masing-masing sebagamana posisi makmum laki-laki dan makmum perempuan.
''Allahu Akbar.'' Takbir pertama yang diucapkan Kapten Rijal untuk memulai shalat.
Sampai salam akhir tanda shalat selesai mereka pun masing-masing berdoa. Setelah melaksanakan shalat berjamaah mereka kembali ke ruang keluarga.
Kapten Gilang dan Kapten Rijal kembali duduk di sofa ruang keluarga, sementara Bu Sarah menuju dapur dan diikuti Dokter Nisa.
Ketika Bu Sarah dan Dokter Nisa hendak menuangkan nasi pada penggorengan karena mereka akan masak menu nasi goreng ayam geprek.
Tiba-tiba pintu utama diketok dari luar.
Tok... Tok(Suara pintu diketok)
"Iya sebentar." Teriak Kapten Gilang kemudian menuju pintu utama dan membuka pintu.
"Ayah kok lama pulangnya lama?." Tanya Kapten Gilang pada Pak Ryan.
"Tadi Pak Wawan dan Bu Desi ngajak ketemu jadinya ayah ketemuan dulu." Jawab Pak Ryan masuk ke dalam rumah.
"Lho ada apa? cariin Rijal?." Tanya Kapten Gilang pada Ayahnya.
"Nggak. Ada rahasia nanti juga kamu tau." Jawab Pak Ryan berjalan menuju meja makan dan diikuti Kapten Gilang.
"Ayah, kok baru pulang sih?." Tanya Dokter Nisa mendekat ke arah Ayahnya.
"Tadi Pak Wawan dan Bu Desi ngajak ketemu jadinya ayah ketemuan dulu." Jawab Pak Ryan duduk di kursi meja makan.
"Ada apa? cari Rijal?." Tanya Bu Sarah pada suaminya.
"Nanti juga kalian tau kok." Jawab Pak Ryan.
"Ayah sudah shalat magrib belum?." Tanya Dokter Nisa.
"Sudah dong." Jawab Pak Ryan.
"Ayah mandi dulu terus kita makan malam bareng." Ucap Bu Sarah pada suaminya.
"Oke, tapi kalau ada yang lamar makan duluan saja ya." Ucap Pak Ryan beranjak dari kursinya kemudian masuk ke kamarnya.
"Oke." Seru Dokter Nisa.
Mohon maaf bila ada kesalahan kata, penempatan tanda baca, dan huruf besar. Mohon pengertiannya ya.
Guys🤗 segini dulu ya kita lanjut ke part berikutnya😉
Nisa kok gak bisa move on yaw, kapten aja bisa move on dr pacarnya dl masak Nisa nggak bisa