Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: RASA IRI YANG TIDAK BERALASAN
Berita tentang kehebatan Nadia semakin menyebar ke mana-mana. Banyak orang yang mulai memuji-muji sosoknya, ingin berfoto bersama, atau sekadar menyapa dengan penuh hormat di mana pun ia berada. Di antara orang-orang itu, ada pula yang memandang dengan tatapan lain—tatapan yang berisi rasa iri, dengki, dan ketidakpuasan. Salah satunya adalah Diana.
Setiap kali melihat nama Nadia disebut di media, atau mendengar orang-orang di lingkungan bisnis membicarakannya dengan kagum, hati Diana terasa terbakar. Ia tak bisa memahami: mengapa wanita yang dulu dibuang begitu saja kini justru berdiri di puncak? Mengapa Rian yang dulu meninggalkannya demi kemajuan, kini justru kembali berusaha mendekati wanita yang sama dengan penuh rasa hormat dan penyesalan?
Diana mulai sering datang ke lokasi proyek tanpa keperluan jelas, berdiri di sudut dan memperhatikan bagaimana Rian berbicara dengan Nadia. Setiap kali melihat Rian menatap Nadia dengan pandangan yang penuh perhatian—pandangan yang dulu tak pernah ia berikan sepenuhnya padanya—rasa cemburu di dada Diana semakin tak tertahankan.
Suatu sore, saat Nadia baru saja selesai memeriksa laporan di kantor proyek dan hendak pulang, Diana menghadangnya di depan pintu. Wajahnya tampak pucat namun matanya menyala penuh emosi yang tertahan.
"Aku harus bicara denganmu," ucap Diana dengan nada bergetar, bukan lagi penuh amarah seperti dulu, melainkan lebih terdengar seperti keputusasaan.
Nadia berhenti melangkah, tetap tenang. "Silakan. Tapi sebaiknya tidak di sini. Mari ke ruangan sebelah."
Mereka masuk ke ruangan kosong yang sepi. Begitu pintu tertutup, Diana tak lagi bisa menahan diri.
"Kau pasti senang sekali, kan?" ucapnya dengan suara melengking pelan. "Semua orang memujimu, semua orang menunduk hormat padamu, dan Rian... Rian kini menatapmu seolah kau permata paling berharga di dunia. Padahal dulu dia sendiri yang membuangmu! Mengapa kau harus kembali dan mengambil semuanya kembali? Mengapa kau harus mengambil Rian juga?"
Nadia menatapnya lekat, tidak marah, hanya penuh pemahaman yang mendalam. "Diana, aku tidak mengambil apa pun darimu. Termasuk Rian. Jika hatinya benar-benar bersamamu, kehadiranku tidak akan mengubah apa pun."
"Tapi kau memilikinya!" seru Diana. "Dia berubah karena kau ada di sini! Dia menjadi pria yang lebih baik, lebih bertanggung jawab, lebih berharga... semua itu karena kau! Dan aku hanya berdiri di sampingnya tanpa pernah benar-benar dimengerti dan dihargai!"
Air mata mulai mengalir di pipi Diana. Ia sadar, rasa irinya sebenarnya bukan pada harta atau jabatan Nadia. Ia iri pada satu hal yang tak bisa ia miliki: tempat di hati Rian yang ternyata sejak awal sudah dimiliki oleh wanita lain.
"Dengarkan aku baik-baik, Diana," ucap Nadia pelan namun tegas. "Aku tidak menawarkan kemewahan atau jaminan kesuksesan kepada Rian. Yang aku berikan dulu adalah ketulusan—yang sayangnya tidak dihargai saat itu. Sekarang, jika dia berubah, itu bukan karena aku memaksanya. Itu karena dia akhirnya sadar apa yang hilang darinya. Dan jika kau merasa tidak dihargai, itu bukan salahku. Itu karena hatinya memang tidak pernah sepenuhnya untukmu, sama seperti hatinya dulu tidak pernah benar-benar kosong dari kenangan tentangku."
Diana terdiam, menunduk dalam. Kata-kata itu seperti cermin yang memperlihatkan kenyataan yang selama ini ia tutupi rapat-rapat. Ia sadar, rasa irinya tidak beralasan sama sekali. Ia tidak bersaing dengan Nadia—ia bersaing dengan bayang-bayang masa lalu yang selalu ada di antara mereka, dan dengan kenyataan bahwa Rian bersamanya bukan karena cinta, melainkan karena harapan akan kemudahan dan kesuksesan yang keliru.
"Kau benar..." isak Diana pelan, menyeka air matanya dengan kasar. "Aku iri padamu bukan karena kau kaya atau dipuji semua orang. Aku iri karena kau dicintai dengan tulus, meski terlambat datang. Sedangkan aku... mungkin hanya dijadikan pelarian dan alat untuk melupakan."
Nadia tidak menjawab, hanya berdiri di sana dengan tenang. Ia tidak ingin menambah luka pada wanita yang juga pernah menjadi korban ketidaktulusan Rian.
"Terima kasih..." ucap Diana perlahan, berbalik hendak pergi. "Terima kasih tidak menertawakan aku. Mulai sekarang aku tidak akan datang lagi. Aku harus mencari jalan pulang untuk diriku sendiri."
Saat Diana keluar, Rian baru saja tiba di lorong. Ia melihat wajah wanita itu yang basah oleh air mata dan berjalan tergesa-gesa menjauh tanpa menoleh sedikit pun. Rian hendak memanggilnya, namun berhenti saat melihat pintu ruangan terbuka dan Nadia muncul dari dalam.
"Apa yang terjadi?" tanya Rian pelan.
"Dia sudah sadar," jawab Nadia tenang. "Bahwa apa yang ia cari di tempat yang salah tidak akan pernah bisa ia temukan."
Rian menunduk, merasa bersalah sekali lagi. Ia sadar, selama ini ia tidak hanya menyakiti Nadia, tapi juga menyesatkan Diana dengan harapan yang tidak pernah benar-benar ada.
"Apakah aku orang yang paling kejam di antara kalian?" tanyanya lirih.
Nadia menatapnya sejenak, lalu berkata lembut: "Orang yang kejam adalah yang sengaja ingin menyakiti. Kau hanya buta dan tersesat, Rian. Dan selama kau berusaha kembali melihat jalan yang benar, masih ada waktu untuk tidak menambah kesalahan baru."
Sore itu, rasa iri Diana perlahan hilang, digantikan oleh keputusan untuk melangkah pergi. Dan bagi Rian, kepergiannya menjadi pengingat pahit: bahwa kesalahan yang tidak segera diperbaiki hanya akan menambah jumlah orang yang terluka, tanpa membuat siapa pun menjadi lebih bahagia.
(Lanjut ke Bab 31?)