Naoto Raiden, seorang tentara yang tewas dalam konspirasi militer, bereinkarnasi ke masa perang klan di dunia Naruto sebagai bagian dari keluarga Senju. Namun, identitas aslinya jauh lebih agung: ia membawa darah murni Otsutsuki beserta mata Tenseigan yang legendaris.
Memilih untuk hidup santai namun tetap melindungi keluarga angkatnya, Raiden tumbuh sebagai kakak dari Hashirama dan Tobirama. Setelah melewati hibernasi panjang demi berevolusi di planet asing dan mengalahkan Momoshiki, ia kembali ke era Naruto dengan kekuatan yang melampaui dewa. Kini, dengan identitas sebagai suami Tsunade dan mentor rahasia bagi Naruto, Raiden bergerak di balik bayang-bayang untuk membersihkan Konoha dari kegelapan dan menghadapi ancaman klan Otsutsuki yang mulai mengintai bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orpheus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Tengah Kabut
Isobu yang sudah dalam kondisi pusing tujuh keliling akibat dijadikan bola sepak oleh Raiden, menghantam tanah tepat di depan Mei Terumi. Getarannya cukup kuat untuk membuat tanah di bawah kaki rombongan Kirigakure itu retak.
Raiden berjalan dengan tenang di atas permukaan air yang perlahan mulai tenang kembali. Setiap langkahnya menimbulkan riak kecil yang bercahaya keemasan. Ia mengabaikan Isobu yang sedang berusaha bangkit dan lebih tertarik pada rombongan yang baru tiba.
"Oya-oya... sepertinya aku benar-benar kedatangan tamu penting. Rambut cokelat kemerahan itu... kau pasti Mizukage kelima, Mei Terumi," ucap Raiden dengan nada santai, suaranya terdengar jelas meski jarak mereka cukup jauh.
Mei Terumi menatap tajam ke arah pemuda bertopeng kitsune yang baru saja mendarat dengan anggun di depan mereka. Ia bisa merasakan tekanan cakra yang luar biasa.
"Kau tahu namaku, tapi aku tidak tahu siapa kau," sahut Mei dengan senyum yang tetap mempesona namun waspada. "Menjadikan Sanbi sebagai mainan... kau punya nyali yang besar, Tuan Misterius. Atau kau memang sudah bosan hidup?"
Ao, yang berdiri di samping Mei, sudah mengaktifkan Byakugan miliknya. Namun, sesaat kemudian ia tersentak. Matanya terasa perih seolah dipaksa melihat matahari secara langsung.
"Nona! Hati-hati! Aliran cakranya... aku tidak bisa melihat intinya! Terlalu terang! Dan mata itu... pola apa itu?!" teriak Ao sambil memegangi mata kanannya.
Raiden terkekeh di balik topengnya. "Jangan dipaksakan, Paman. Byakugan milikmu itu hanya pinjaman, bukan? Kau tidak akan bisa menatap 'mata' ini tanpa izin dariku."
Isobu yang sudah kembali sadar merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia meraung keras dan kembali mengumpulkan cakra untuk menembakkan Bijuu Dama jarak dekat ke arah Raiden dan rombongan Mei.
"Grrrrrrr! MATILAH KALIAN SEMUAAAA!" raung Isobu.
Mei Terumi bersiap melakukan segel tangan. "Elemen Lava—"
Namun, sebelum Mei menyelesaikan jurusnya, Raiden sudah bergerak lebih cepat. Ia hanya mengangkat jari telunjuknya ke arah Isobu.
"Bocah kecil ini tidak tahu kapan harus diam," gumam Raiden.
"Banshō Ten'in."
Tubuh raksasa Isobu yang beratnya ribuan ton itu mendadak tertarik ke arah tangan Raiden seperti ditarik oleh magnet raksasa. Raiden kemudian mengganti gerakannya menjadi dorongan kuat.
"Shinra Tensei!"
BOOOOOMM!
Bukan hanya Isobu yang terpental masuk kembali ke dasar danau yang dalam, tapi gelombang tekanannya membuat air danau tersingkap hingga menampakkan dasarnya. Mei dan rombongannya terpaksa menancapkan kunai ke tanah agar tidak ikut terbawa angin tekanan yang sangat hebat.
Raiden mendarat kembali di tanah kering. Ia menoleh ke arah Mei yang tampak tertegun.
"Jadi, Mizukage... apakah kita akan terus bertarung, atau kau ingin mengajakku minum teh? Aku baru saja menenangkan hewan peliharaanmu yang berisik itu," ucap Raiden sembari melipat tangan di dada.
Mei Terumi mengatur napasnya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa jika orang di depannya ini adalah musuh, Kirigakure mungkin sudah rata dengan tanah dalam hitungan menit.
"Teh terdengar jauh lebih baik daripada menjadi korban tendanganmu," jawab Mei akhirnya, mencoba mencairkan suasana meski jantungnya masih berdegup kencang. "Siapa namamu yang sebenarnya?"
Raiden membuka sedikit topengnya, memperlihatkan mata Tenseigan-nya yang bersinar redup di kegelapan sore itu.
"Raiden. Hanya seorang pengembara yang sedang mencari hiburan."
Mereka sedikit terkejut ketika melihat mata Raiden, namun sebelum mereka bertanya raiden sudah melompat ke jalan dan melambaikan tangan ke arah mereka.