Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bentol
Pagi berikutnya, matahari bersinar terlalu terang untuk suasana hati Devan yang luar biasa hancur. Cowok tengil itu berdiri di depan cermin wastafel kamar mandi dengan tatapan kosong. Di cermin, wajah tampannya yang biasa ia bangga-banggakan kini dipenuhi bentol-bentol merah kecil akibat efek bedak gatal dosis tinggi semalam. Lehernya pun tidak luput dari bencana tersebut.
"Sialan... muka gue kayak abis disengat tawon sekampung," umpat Devan frustrasi sambil mengoleskan losion kalamin putih secara asal-asalan ke wajahnya.
Sementara itu, di atas ranjang king size, Cesa terbangun dengan regangan tubuh yang sangat nyaman. Baju tidur sutra merahnya sudah dilempar ke tempat cucian kotor sejak semalam, dan sekarang ia sudah berganti pakaian santai. Begitu melihat Devan keluar dari kamar mandi dengan wajah penuh totol-totol putih losion, Cesa langsung meledak dalam tawa tanpa beban.
"HAHAHAHA! Pagi, Suami Totol-Totol! Anjir, itu muka lo atau donat gula yang gagal mateng?! Hahaha!" Cesa tertawa terpingkal-pingkal sampai berguling di kasur.
"Bisa diam gak lo?! Ini semua gara-gara lo, cewek titisan iblis!" semprot Devan emosi, suaranya agak serak karena kurang tidur menahan gatal semalaman.
TOK! TOK! TOK!
Pintu kamar mereka tiba-tiba digedor dengan kasar dari luar. Suara berat yang sangat familiar langsung membuat bulu kuduk Devan merinding, sementara Cesa langsung tersenyum lebar.
"Devan! Cesa! Buka pintunya! Papa tahu kalian sudah bangun!"
"Papa?!" Devan melotot horor. Bagaimana bisa papanya yang super sibuk itu mendadak melakukan sidak ke rumah mereka sepagi ini?
Cesa dengan gerakan kilat langsung berlari membuka pintu kamar. Begitu pintu terbuka, sosok papa devan sang konglomerat pemilik takhta kekayaan, berdiri dengan setelan jas rapinya. Namun, wajah tegasnya langsung berubah panik saat melihat Cesa.
"Cesa, menantu Papa! Kamu gak apa-apa? Devan gak macem-macem kan semalam?" tanya Papa devan bertubi-tubi, mengabaikan anak kandungnya sendiri.
Cesa langsung memasang wajah sendu, matanya dibuat berkaca-kaca secara instan. "Papa... Devan jahat banget semalam, Pa. Dia masa tega numpahin bedak gatal ke baju tidur baru Cesa. Kulit Cesa kan sensitif, Pa..." adu Cesa dengan suara bergetar yang dibuat-buat.
"APA?! Kurang ajar!" Papa Surya langsung masuk ke dalam kamar dan menatap Devan. Begitu melihat wajah Devan yang penuh totol putih dan bentol merah, Papa Surya sempat tertegun, namun rasa sayangnya pada menantu visioner tetap menang. "Heh, Devan! Malah lo yang bentol-bentol begitu! Itu namanya kualat karena mau ngerjain istri sah lo sendiri! Bagus! Papa gak peduli muka lo hancur kayak gimana, sekarang juga lo ikut Papa ke ruang makan!"
Devan hanya bisa menganga pasrah. 'Gue yang korban, gue yang bentol, tetep gue yang disalahin. Adil banget dunia ini,' batin Devan menangis darah.
Di ruang makan, Papa Surya langsung menjatuhkan hukuman telak. "Sebagai hukuman karena lo udah bikin Cesa sedih dan hampir bikin kulit menantu Papa iritasi, hari ini semua kunci mobil sport lo Papa sita! Biar Cesa yang pegang!"
"Lho, Pa?! Gak bisa gitu dong! Mobil sport gue—"
"Gak ada bantahan! Cesa, ini kunci mobil McLaren hitam dan motor sport ducati milik Devan. Kamu yang pegang. Kalau anak kampret ini macam-macam atau gak nurut sama kamu, laporkan ke Papa!" Papa Surya menyerahkan seikat kunci mewah itu langsung ke tangan Cesa.
Cesa menerima kunci-kunci itu dengan mata berbinar-binar penuh kemenangan. "Makasih banyak, Papa mertua terbaik sejagat raya!" seru Cesa sambil melirik Devan dengan senyuman paling licik yang pernah ada. Devan hanya bisa meremas garpunya kuat-kuat, menahan gejolak emosi yang siap meledak di dada.
Setelah Papa Surya pergi meninggalkan rumah untuk ke kantor, atmosfer di ruang makan langsung berubah menjadi medan perang dingin. Devan menatap Cesa yang sedang memutar-mutar gantungan kunci motor sport Ducati miliknya di atas meja makan.
"Balikin gak kunci motor gue, Cesa," desis Devan dengan nada mengancam, wajah totol-totol putihnya membuat ancaman itu justru terlihat kocak.
"Gak mau. Ini kan amanah dari Papa mertua. Sebagai istri yang sholehah dan amanah, gue harus menjaga barang-barang berharga ini dari suami yang tidak bertanggung jawab seperti lo," jawab Cesa santai sambil menyedap jus jeruknya.
"Gue ada jadwal kumpul sama anak-anak club motor siang ini! Balikin, atau gue..." Devan menggantung kalimatnya, bingung mau mengancam pakai apa karena semua senjatanya sudah dipatahkan oleh papanya sendiri.
"Atau apa? Mau telepon Papa lagi? Silakan, palingan besok lo disuruh tidur di kandang herder," ledek Cesa, lalu berdiri. "Gini deh, karena gue istri yang baik hati dan gemar menabung... gue bakal balikin kunci motor sport lo ini, TAPI... ada syaratnya."
Devan mengembuskan napas kasar. "Apa syaratnya? Jangan minta belanja lagi, limit kartu gue udah sekarat gara-gara lo kemarin!"
"Enggak, hari ini gue gak mau belanja. Hari ini... gue mau lo bonceng gue naik motor sport ini keliling kota, dan lo harus bawa motornya sekencang mungkin kayak kemarin di mobil!" Cesa menaikkan alisnya, menantang ego Devan. "Kalau lo bisa bikin gue teriak ketakutan dan minta ampun, kunci motor ini resmi balik jadi milik lo sepenuhnya. Gimana? Berani gak?"
Ego Devan sebagai ketua club motor amatir langsung tersulut. Bonceng cewek barbar naik motor sport dengan kecepatan tinggi? Ini adalah keahlian utamanya. 'Lo salah cari lawan, Cesa. Di mobil lo boleh santai karena ada kabin pelindung. Tapi di atas motor sport 1000cc gue? Lo bakal nangis darah meluk pinggang gue minta turun!' batin Devan seringai liciknya kembali bangkit.
"Oke! Siapa takut! Bersiaplah lo nangis minta ampun di jalanan, Alice Sabrina!" tantang Devan balik, menyambar kunci motor dari tangan Cesa.
Setengah jam kemudian, Devan sudah bersiap dengan jaket kulit hitamnya dan helm full-face, meskipun bagian bawah wajahnya yang bentol-bentol masih terlihat sedikit. Ducati merah berbobot besar itu sudah meraung garang di depan lobi..
Cesa keluar dengan jaket jins kebesaran, celana ketat, dan helm halfface yang memperlihatkan wajah cantiknya yang menantang maut. Tanpa ragu, ia langsung naik ke jok belakang Ducati yang menungging tinggi itu. Bukannya memeluk pinggang Devan dengan mesra atau ketakutan layaknya cewek-cewek anggun pada umumnya, Cesa justru menepuk pundak Devan dengan kasar layaknya penumpang ojek pangkalan.
"Ayo, Supir Ducati! Tunjukkan padaku apa itu kecepatan! Jangan kayak siput masuk angin ya!" teriak Cesa dari balik helmnya.
"Pegang yang kuat lo, cewek barbar! Jangan menyesal!" balas Devan ketus.
Devan langsung menarik tuas kopling dan menghentakkan gas dalam-dalam.
BRRRRROOOOOOMMMMM!!!
Motor sport itu melesat bak peluru yang lepas dari larasnya, ban depannya bahkan sempat sedikit terangkat ke udara (wheelie) sebelum meluncur deras membelah jalanan kompleks yang sepi. Devan sengaja mengambil rute jalan raya yang lurus dan agak lengang menuju area sirkuit pinggiran kota.
Kecepatan motor meroket tajam: 100... 130... 160 kilometer per jam. Angin menerpa tubuh mereka dengan sangat kencang. Devan sengaja melakukan manuver-manuver tajam, meliuk di antara kendaraan lain dengan kemiringan yang cukup ekstrem di setiap tikungan, berharap Cesa akan menjerit histeris ketakutan dan mengeratkan pelukannya sambil memohon ampun.
Namun, ekspektasi Devan kembali hancur berkeping-keping.
Cesa sama sekali tidak memeluknya erat karena takut. Cewek barbar itu justru melepaskan satu tangannya dari pegangan belakang, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara seolah sedang menaiki wahana roller coaster paling ekstrem di dunia.
"WUUUUUUUUUU!!! GILA!!! INI BARU SERU, DEVAN!!! KURANG MIRING KAK TIKUNGANNYA! KAYA DI MOTOGP DONG! JANGAN LUNAK KAYAK BUBUR AYAM!!! GASSS LAGIII!!!" teriak Cesa histeris kegirangan, suaranya teredam angin namun terdengar sangat puas dan menantang ego Devan lebih dalam.
Devan yang mendengar teriakan itu dari interkom helmnya hampir saja tersedak ludahnya sendiri. 'Ini cewek urat takutnya udah putus dari lahir apa gimana sih?!' batin Devan frustrasi sekaligus takjub di saat yang bersamaan.
Karena kesal tantangannya tidak berhasil membuat Cesa takut, Devan malah semakin memacu Ducatinya hingga kecepatan maksimal, melesat membelah angin sore kota dengan tawa bar-bar Cesa yang terus menggema di telinganya. Hubungan pasutri dadakan yang penuh keributan dan kegilaan ini tampaknya baru saja menaikkan levelnya ke tingkat yang jauh lebih barbar!