mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kumat
Silla mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu yang hangat. Kesadarannya perlahan pulih, dan saat ia melihat ke sekeliling, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ini bukan kamar kosnya. Dindingnya yang elegan dan furnitur premium di ruangan itu jelas menunjukkan bahwa ini adalah sebuah apartemen mewah.
Ia turun dari tempat tidur, melangkah pelan mendekati pintu yang sedikit terbuka. Sayup-sayup, suara denting spatula dan aroma masakan yang menggugah selera masuk ke indra penciumannya. Silla berjalan keluar, mengikuti sumber suara yang berasal dari arah pantry.
Di sana, memunggungi Silla, berdiri seorang laki-laki berpostur tinggi dan bertubuh tegap. Ia mengenakan celemek—pemandangan yang sangat kontras dengan tubuh kekarnya. Silla terpaku di tempatnya, menatap punggung itu cukup lama dengan dahi berkerut.
Saat laki-laki itu membalikkan badan, napas Silla tertahan.
Itu Sagara. CEO di kantornya, sekaligus mantan kekasihnya yang paling menyebalkan dan jahil.
Otak Silla langsung berputar keras, mencoba menyusun kembali potongan memori yang sempat hilang.
'Kenapa aku bisa ada di sini?' batinnya.
Kemudian, bayangan tadi siang berputar seperti film di kepalanya. Rumah sakit jiwa. Ibunya yang histeris dan berteriak. Rasa sesak yang menghimpit dadanya hingga ia menangis tersedu-sedu di koridor rumah sakit. Lalu, Sagara tiba-tiba ada di sana, merengkuh tubuhnya yang bergetar. Silla ingat ia hanya pasrah saat Sagara menuntunnya masuk ke dalam mobil mewah laki-laki itu, hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan emosional.
Lamunan Silla buyar saat mata mereka bertemu. Sagara tidak menunjukkan seringai menyebalkan seperti yang biasa ia lakukan di kantor. Kali ini, Sagara tersenyum dengan sangat tulus dan hangat.
"Sudah bangun?" tanya Sagara. Suaranya terdengar begitu lembut, berbanding terbalik dengan nada bicaranya yang biasanya ketus atau penuh candaan jahil. "Duduklah. Makanannya baru saja matang."
Sagara menata piring-piring di atas meja makan dengan cekatan. Ketika Silla mendekat dan melihat menu yang tersaji, matanya membelalak kecil. Ayam goreng mentega, sup jagung hangat, dan sambal bawang. Semua makanan di atas meja adalah menu favorit Silla.
Silla menatap makanan itu, lalu beralih menatap Sagara yang sedang menuangkan air putih ke gelas untuknya. Malam ini, keangkuhan seorang CEO dan kejengkelan seorang mantan seolah menguap tanpa bekas. Di mata Silla, Sagara tampak seperti laki-laki yang sangat tulus dan penuh perhatian—sosok yang persis
Sagara menjawab dengan helaan napas panjang, tatapan matanya yang biasa usil kini berubah menjadi sangat teduh dan penuh simpati. Ia meletakkan sendoknya, lalu mengikis jarak di antara mereka dengan menggenggam jemari Silla yang gemetar di atas meja.
"Silla, dengerin aku," ucap Sagara dengan suara rendah yang menenangkan. "Kamu nggak sendirian menghadapi semua kekacauan ini. Selama ini kamu selalu pasang benteng tinggi-tinggi, pura-pura kuat di depan semua orang, bahkan di depan aku waktu kita masih bareng dulu. Tapi sekarang, kamu aman di sini."
Sagara menatap lekat-lekat mata Silla yang mulai berkaca-kaca. "Tentang ibumu... kita akan cari dokter spesialis terbaik untuk penanganannya. Aku yang akan atur semua fasilitasnya di rumah sakit itu, jadi kamu nggak perlu cemas soal biaya atau perawatannya. Dan soal ayahmu..."
Sagara mendengus pelan, ada kilat kemarahan yang tertahan di matanya saat membahas laki-laki yang telah menghancurkan mental Silla.
"Membawa wanita lain dan anak yang umurnya hampir sama denganmu ke rumah? Itu benar-benar keterlaluan. Dia egois. Tapi kamu harus ingat satu hal, Silla. Kamu bukan bagian dari kesalahan mereka. Kamu nggak perlu menanggung beban dosa atau kegagalan pernikahan orang tuamu."
Silla tertegun, air matanya perlahan luruh melewati pipinya. Mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Sagara membuat dadanya yang semula terasa sesak berangsur-angsur menjadi lebih ringan. Laki-laki bertubuh kekar di depannya ini, yang biasanya selalu membuat emosinya naik turun karena sifat jailnya sebagai atasan sekaligus mantan kekasih, ternyata bisa menjadi tempat bersandar yang begitu hangat di saat dunianya sedang runtuh.
"Mulai hari ini, fokus aja sama diri kamu sendiri dan kesembuhan ibumu," lanjut Sagara sambil menghapus air mata di pipi Silla dengan ibu jarinya secara lembut. "Jangan pikirkan rumah itu lagi. Kalau kamu butuh tempat tinggal, apartemen ini selalu terbuka buat kamu. Aku nggak akan biarkan mereka menyakiti kamu lagi, Sil."
Silla menatap piring-piring di depannya yang berisi semua makanan kesukaannya, lalu beralih menatap Sagara yang tersenyum tulus. Di tengah badai hidupnya yang begitu hebat, Silla menyadari satu hal; Sagara mungkin mantan kekasih yang menjengkelkan, tapi malam ini, dia adalah satu-satunya penyelamat yang ia butuhkan di tengah kerapuhannya saat ini.
∆∆∆∆∆∆∆∆
Mobil sport mewah Sagara membelah jalanan malam, membawa Silla kembali ke kosannya. Belum genap 24 jam sejak momen penuh haru dan ketenangan saat Sagara menenangkannya di apartemen, topeng "CEO karismatik dan penuh perhatian" itu mendadak luntur tanpa sisa. Sifat jail, tengil, dan menyebalkan milik Sagara kini telah kembali 100%.
Sepanjang jalan, keributan kecil tidak henti-hentinya tercipta karena Silla yang gampang tersulut emosi berhadapan dengan Sagara yang sengaja memancing keributan.
Silla menyandarkan punggungnya ke jok mobil dengan kasar, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap lurus ke depan. Pikirannya masih agak rancu setelah kejadian melelahkan di apartemen tadi, tempat di mana Sagara—mantan pacar sekaligus CEO di kantornya—berubah menjadi sosok yang begitu hangat, tenang, dan sangat protektif saat menenangkannya.
Namun, ketenangan itu ternyata punya masa kedaluwarsa yang sangat singkat. Belum ada dua puluh empat jam berlalu, aura CEO karismatik dan mantan pacar yang penuh empati itu menguap tanpa bekas. Sosok Sagara yang asli—si tengil, jahil, dan luar biasa menyebalkan—kini sudah duduk kembali di balik kemudi.
"Mukanya biasa aja dong, Sil. Itu bibir kalau maju tiga senti lagi bisa buat gantungan baju," celetuk Sagara santai, melirik Silla sekilas sambil memutar setir ke arah kawasan kosan Silla.
Silla langsung menoleh dengan mata melotot. "Bisa diam enggak? Kalau enggak ikhlas nganterin balik ke kosan, turunin saya di pinggir jalan sekarang juga, Pak Sagara yang terhormat!
Sagara malah terkekeh geli.Suara tawa rendahnya terdengar sangat menyebalkan di telinga Silla. "Galak banget. Padahal beberapa jam yang lalu ada yang nangis sambil meluk gua erat banget di apartemen. Tangan gua sampai kesemutan gara-gara ditahan, inget enggak?"
Wajah Silla langsung memerah padam. Setengah malu, setengah emosi tingkat dewa. "Sagara! Itu refleks ya! Jangan mulai deh!"
"Oh, refleks? Berarti alam bawah sadar kamu memang masih kangen dipeluk sama mantan ya? Menarik," goda Sagara lagi. Tangan kirinya sengaja menepuk-nepuk pucuk kepala Silla dengan gerakan cepat yang sukses merusak tatanan rambut Silla.
"Tangan kondisikan ya, Pak CEO!" Silla menepis tangan Sagara dengan kasar, lalu buru-buru membetulkan rambutnya yang berantakan. "Gini ya kelakuan atasan kalau di luar jam kantor? Aslinya tengil banget, heran kenapa karyawan di kantor bisa segan sama modelan gini."
Sagara menaikkan sebelah alisnya, memasang senyum miring yang paling Silla benci sekaligus paling sulit dilupakan. "Di kantor kan aku harus jaga wibawa sebagai bos, Silla. Tapi kalau di depan kamu,ngapain jaim? kan mantan terindah yang paling tahu semua kebiasaan buruk kamu kalau lagi emosi."
"Mantan terindah dari Hongkong!" sembur Silla, suaranya naik satu oktav. "Lo itu mantan paling menguras energi dan emosi!"
"Tapi buktinya kamu enggak pernah bisa pindah kelain hati, kan?" Sagara sengaja mengerem mobilnya sedikit mendadak saat lampu merah, membuat tubuh Silla terdorong ke depan.
"Sagara! Lo engaja ya?!" teriak Silla sambil memukul lengan kiri Sagara dengan tas tangannya.
"Aduh! Sakit, Sil! Ini kekerasan terhadap atasan ya, bisa gua potong gaji kamu bulan ini," ancam Sagara sambil mengusap lengannya, meski matanya tetap berbinar jenaka menertawakan wajah Silla yang sudah siap meledak.
"Potong aja! Potong sampai habis! Sekalian pecat! Biar gue enggak perlu lihat muka tengil lo lagi setiap hari!" Silla memalingkan wajahnya ke jendela, napasnya memburu menahan dongkol.
Mobil kembali melaju membelah jalanan malam. Sagara melirik Silla yang sedang cemberut total dari kaca spion tengah. Alih-alih merasa bersalah, senyum di bibir sang CEO justru semakin lebar. Bagi Sagara, melihat Silla yang emosian dan meledak-ledak jauh lebih melegakan daripada melihat gadis itu menangis rapuh seperti beberapa jam yang lalu.
Sagara mengulurkan tangannya, dengan sengaja mencolek dagu Silla. "Jangan cemberut terus, nanti cantiknya hilang. Kita udah mau sampai kosan kamu nih. Mau di temenin masuk sampai kamar enggak?"
"Sagara, stop! Atau gue lompat dari mobil ini sekarang juga!" ancam Silla dengan mata melotot sempurna.
Bukannya berhenti buat ulah sagara malah kembali memancing emosi silla.
"Sagara! Bisa pelan-pelan sedikit enggak bawa mobilnya?! Ini jalanan kota, bukan sirkuit F1!" Silla mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat, matanya melotot tajam ke arah mantan pacar sekaligus bosnya itu.
Sagara hanya melirik lewat sudut mata, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang sangat menyebalkan. "Biar cepat sampai, Sayang. Lagian kosan itu jalannya kayak labirin. Kalau lambat, keburu subuh kita tersesat di sana."
"Jangan panggil gue 'Sayang'! Kita sudah putus, dan di luar kantor lo tu cuma mantan menyebalkan, bukan CEO-ku!" seru Silla
wajahnya memerah menahan kesal.
"Oh, jadi kalau di kantor boleh dipanggil 'Sayang'?" goda Sagara sengaja, menaik-turunkan alisnya .
"SAGARA!"
Sagara tertawa renyah, suara tawa yang dulu sempat Silla rindukan, tapi malam ini rasanya ingin Silla sumbat pakai tisu.