NovelToon NovelToon
Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Raja Iblis Jatuh Dalam Pesonaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3.Nona kedua.

Mata itu menatapnya tajam, menyala dengan kebencian yang begitu murni hingga membuat bulu kuduk Li Hua berdiri seketika. Di hadapannya berdiri pemuda yang di masa depan akan disebut Raja Iblis, dan tatapannya seakan hendak membakarnya hidup-hidup.

Jadi ini dia... batin Li Hua menelan ludah dengan susah payah. Ini sosok yang kelak akan menghancurkan seluruh Negeri Ye Lu. Dia terlihat begitu tak berdaya saat ini, terikat dan penuh luka... tapi sungguh, dia cukup tampan untuk menjadi penjahat yang mengerikan.

Rasa ngeri mencengkeram dadanya. Tanpa sadar, ia mundur selangkah, lalu satu langkah lagi, menjauh dari tatapan mata hitam yang menembusnya itu. Qiao'er segera mendekat, menyandarkan tubuhnya di samping Li Hua, berbisik pelan dengan suara gemetar.

"Nona... sebaiknya Nona tidak terlalu dekat-dekat dengan pangeran itu. Kami semua takut berada di dekatnya."

Li Hua mengangguk pelan, matanya tak lepas dari wajah pemuda itu. "Kau benar..." gumamnya pelan. Sebaiknya aku menjauh. Berurusan dengan Raja Iblis? Aku belum berani sejauh itu.

Ia berbalik perlahan, berniat pergi meninggalkan halaman itu. Namun belum kakinya melangkah jauh, suara berat dan serak terdengar dari belakangnya — suara yang dipenuhi kebencian yang tak tersembunyi.

"Berhenti, wanita iblis."

Langkah Li Hua terhenti mendadak. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.

"Hentikan tatapan simpati palsumu itu," lanjut suara itu, penuh kepahitan. "Bukankah kau senang melihatku disiksa seperti ini? Bukankah inilah yang kau inginkan?"

Aku? batin Li Hua terkejut. Dia tadi memanggilku apa?

Perlahan ia berbalik kembali, menatap pemuda yang terikat itu. Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, lalu menatap lurus ke arah pelayan yang memegang cambuk.

"Lepaskan dia," ucap Li Hua tegas, suaranya bergetar sedikit namun terdengar mantap.

Pelayan itu tertegun, menatapnya bingung sekaligus takut. "Maafkan saya, Nona... Tuan Muda yang memerintahkan kami melakukan ini. Kami hanya menjalankan tugas."

Halo kakak, aku ini sedang menyelamatkan nyawamu, tahu tidak batin Li Hua mengeluh dalam hati.

"Kalian sudah cukup melakukannya," ucapnya lebih lantang, melangkah maju selangkah. "Jika kalian teruskan, dia bisa mati di sini. Cepat bebaskan dia sekarang juga!"

Kedua pelayan itu saling berpandangan, ragu-ragu. "Tapi Nona... perintah Tuan Muda adalah mencambuk Pangeran sampai sore. Jika kami berhenti, Tuan Muda akan sangat marah."

"Dan jika dia mati di rumah ini, perang dengan Negeri Tang Liang tidak bisa dihindari!" tegas Li Hua, suaranya meninggi. "Pangeran dari negeri asing mati di kediaman Perdana Menteri? Seluruh Keluarga Zhang akan musnah — termasuk kalian yang melaksanakannya! Apakah kalian mau menanggung akibat itu?"

Kata-kata itu bagai air dingin yang menyiram kepala mereka. Wajah kedua pelayan itu pucat seketika. Tanpa menunggu perintah kedua, mereka segera melangkah maju, memotong tali yang mengikat tangan dan kaki Li Yun. Tubuh pemuda itu terhuyung, lalu jatuh tersungkur ke tanah — lemah, berat, napasnya memburu.

Li Hua segera melangkah mendekat, mengambil jubah yang tergeletak di samping tiang. Ia berlutut di hadapan pemuda itu, menundukkan kepalanya, lalu perlahan menyelipkan pakaian itu ke bahu yang penuh luka.

Saat ia mengangkat wajahnya, tatapan mereka bertemu kembali. Namun kali ini berbeda. Tidak ada lagi kebencian murni — ada kebingungan, keraguan, dan secercah rasa ingin tahu yang tajam. Li Yun menatapnya lekat-lekat, seakan baru benar-benar melihat wajahnya untuk pertama kali. Tatapannya seolah berkata, Kau bukan dia...

Li Hua segera berdiri tegak, menatap para pelayan itu. "Obati lukanya. Pastikan dia tidak kekurangan perawatan apa pun."

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan pergi diikuti Qiao'er, menjauh dari halaman itu, meninggalkan pemuda yang masih duduk diam di tanah, menatap punggungnya yang menjauh.

Siapa kau... batin Li Yun pelan, matanya tak berkedip. Kau bukan Shi Yin. Wanita itu tidak akan pernah menatapku seperti itu, tidak akan pernah menyentuhku dengan lembut seperti itu.

Pelayan yang tadi mencambuknya mendekat, berdehem pelan. "Kau beruntung, Pangeran. Hari ini kau diselamatkan oleh Nona Kedua."

"Nona Kedua..." gumam Li Yun pelan, merasakan kata itu di lidahnya.

Li Hua dan Qiao'er melanjutkan perjalanan mereka, hingga akhirnya tiba di halaman kediaman Shi Yin. Langkah mereka melambat, lalu berhenti di balik semak-semak rimbun, mengintai dari kejauhan.

"Nona..." Qiao'er menarik lengan baju Li Hua pelan. "Sebaiknya Nona tidak membuat masalah dengan Nona Pertama. Beliau bisa sangat kejam jika tersinggung."

Li Hua menoleh, menatap gadis di sampingnya itu dengan senyum lembut namun tegas. "Qiao'er, dengarkan aku. Sekarang kau pelayanku. Dan tugasku adalah melindungimu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Aku akan menuntut balas atas setiap luka yang ada di tubuhmu."

Qiao'er menunduk, matanya berkaca-kaca, namun ia hanya diam.

Dari balik semak, mereka melihat Shi Yin duduk di atas ayunan yang tergantung di pohon besar, tersenyum manis sambil berbicara dengan pelayan pribadinya, Lian. Suara mereka terdengar samar namun cukup jelas untuk didengar.

"Lihatlah dia..." ucap Lian sambil mengipasi Shi Yin. "Nona Kedua itu... ternyata tidak secantik dan seanggun Nona Pertama. Wajahnya biasa saja, tatapannya kasar, sungguh tidak pantas tinggal di sini."

Shi Yin tersenyum bangga, memutar ujung rambutnya dengan jari halus. "Jangan berkata begitu, Lian. Bagaimanapun juga dia adalah saudaraku. Maklumi saja... dia dibesarkan di desa terpencil. Sudah pasti sifatnya kasar, gayanya kampungan. Tidak heran dia terlihat kaku di mana-mana."

Li Hua tidak merasa sakit hati mendengarnya. Ini persis seperti karakternya di dalam cerita, batinnya tenang. Manis di depan, racun di belakang. Namun ia menghela napas pelan — sayangnya ia hanya membaca sampai bab pertama, ia tidak tahu bagaimana akhir cerita ini, bagaimana nasibnya, dan mengapa Li Yun akan membunuhnya nanti.

"Jika tahu gini aku akan bergadang semalam membaca novel ini. " Gumam Li hua pelan.

"Nona, sedang berbicara apa?. " Tanya Qiao'er yang kebingungan mendengar ucapan tuannya.

"Tidak apa-apa. " Jawab nya dengan nada sepelan mungkin.

Pandangannya berkeliling, hingga terhenti di dahan tinggi pohon besar tempat Shi Yin duduk. Di sana, tersembunyi di antara dedaunan lebat, terdapat sarang lebah yang cukup besar dan gelap.

Sudut bibir Li Hua terangkat perlahan. Aku tahu caranya, batinnya. Membalas perbuatan Shi Yin tanpa mengotori tanganku sendiri.

Ia menoleh ke arah Qiao'er, berbisik pelan. "Qiao'er, carikan aku batu kecil yang halus."

Qiao'er mengerutkan kening bingung, namun segera menurut, mencari di antara rumput hingga menemukan batu kecil yang pas di genggaman. "Ini, Nona."

Li Hua menerima batu itu, mengangkat tangannya, lalu mengarahkan lemparannya tepat ke arah sarang lebah di dahan tinggi itu.

Batu itu melesat pelan namun pasti, menghantam sarang itu tepat di bagian bawahnya.

Dentuman pelan terdengar, lalu — ratusan lebah berterbangan keluar, berdengung keras dan marah. Mereka berputar di udara sesaat sebelum menukik tajam ke bawah, tepat ke arah Shi Yin dan Lian yang duduk di ayunan.

"Aaaa! Lepaskan! Pergi kalian!" teriak Shi Yin, melompat turun dari ayunan, memukul-mukul udara dengan kedua tangannya. Lian juga berlarian ke sana kemari, berteriak histeris. Mereka berdua lari tak tentu arah, dipatuk dan dikeroyok lebah yang marah.

Li Hua menahan tawanya, menyandarkan tubuhnya di balik pohon. "Ayo, Qiao'er! Pergi sebelum mereka melihat kita!"

Mereka berdua berlari pelan menjauh, menahan tawa mendengar teriakan Shi Yin yang semakin menjauh. Hati Li Hua terasa ringan untuk pertama kalinya sejak ia datang ke tempat ini.

Namun saat mereka berbelok di tikungan lorong, tubuh Li Hua tiba-tiba menabrak sesuatu yang keras dan kokoh. Ia hampir jatuh ke belakang, namun sepasang tangan kuat segera mencengkeram pinggangnya, menahannya agar tidak terjatuh.

Jantungnya meloncat kencang. Ia mendongak, dan wajahnya memucat.

Di hadapannya berdiri Li Yun. Jubahnya sudah terpasang rapi, luka-lukanya masih terlihat namun wajahnya lebih tenang dari sebelumnya. Tangannya masih menahan pinggang Li Hua, tatapan mereka bertemu — dekat, diam, dan penuh tanda tanya yang tak terucapkan.

Udara di sekitar mereka seakan berhenti bergerak. Li Hua menatap sepasang mata hitam itu, dan kali ini tidak ada kebencian yang menyambutnya — hanya kebingungan yang dalam, dan sesuatu yang lain yang belum ia kenali.

 ​

1
lin sya
msih menunggu li hua membalas shi yin krn dijual dirmh bordil sayangnya li hua cerdas, tp beruntung li yun perduli smpai nyari kemana mana, klo li hua balik kkluarganya bikin shi yin dijual juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!