Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Lahirnya Sang Pemburu Muda
Setelah meninggalkan gua tersembunyi, Wang Dahu tidak langsung berjalan memburu token ujian.
Ia berdiri tenang di tengah rimbunnya hutan Lembah Ujian, mengamati struktur dahan pepohonan di atas dan mendengarkan ragam suara samar yang bergemerisik di sekitarnya.
Kultivasinya kini telah menembus puncak Ranah Pengumpulan Qi. Di antara ratusan peserta yang tersebar di lembah, tingkatannya jelas berada di jajaran teratas.
Namun, Dahu sama sekali tidak berniat pamer atau mencari perhatian.
“Bagaimana, Dahu? Kau tidak ingin segera mengumpulkan token agar posisimu aman?” tanya si iblis di dalam batinnya.
“Tidak perlu terburu-buru. Waktu ujian masih membentang selama tiga hari penuh.”
“Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?”
Dahu mengangkat dagunya, menatap tajam ke arah tajuk pohon purba yang menjulang raksasa. “Mencari tempat tinggi untuk melihat situasi.”
Ia melangkah lincah, memanjat batang pohon raksasa yang batangnya bahkan tak sanggup dirangkul oleh empat orang dewasa sekaligus. Begitu mencapai cabang teratas yang kokoh, ia duduk menyandar dan mengedarkan pandangan ke seluruh lembah.
Dari posisi strategis itu, pandanganlembah terbentang luas di hadapannya.
Beberapa kelompok peserta tampak bergerak secara berkelompok. Ada yang menyusuri aliran sungai jernih, menerabas semak belukar, hingga memeriksa celah-celah bebatuan cadas.
Dahu mengamati semuanya tanpa suara. Ia tidak berniat bersinggungan dengan peserta lain jika tidak mendesak.
“Keputusan yang cukup bijaksana,” puji si iblis.
“Aku tidak mau membuang tenaga meladeni urusan orang-orang yang tidak penting.”
“Lalu?”
“Berburu.”
Si iblis terkekeh geli. “Jangan bilang kau mau menjadikan monster-monster di lembah ini sebagai sarana uji coba kemampuan bertarungmu?”
“Bukankah itu fungsi utama ujian ini diselenggarakan?”
Dahu melompat turun dari atas pohon, mendarat sempurna tanpa suara. “Selain mengamankan token, aku ingin mengasah insting dan teknik bertarungku.”
Tak butuh waktu lama bagi Dahu untuk menemukan petunjuk pertama.
Di atas tanah basah dekat semak pakis, terdapat jejak kaki berukuran besar dengan bekas cakar yang dalam.
Ia berjongkok, menyentuh tekstur jejak tersebut. “Serigala Taring Besi,” gumamnya mengingat kembali ensiklopedia herbal dan monster yang dihafalkannya dari buku perpustakaan.
Jenis monster itu terkenal memiliki kulit setebal baja dan taring yang mampu meremukkan tulang manusia.
Dahu melacak jejak itu dengan langkah sabar. Tak lama berselang, sesosok bayangan besar melesat keluar dari balik rimbunnya semak.
Sepasang mata monster itu menyala kuning pekat, sementara taringnya yang panjang berkilau bagaikan bilah besi.
AWOOOO—!
Serigala Taring Besi itu langsung menerjang ganas!
Dahu tidak sedikit pun panik. Ia menggeser tumpuan kakinya ke samping, membiarkan sabetan cakar maut itu lewat selintas di dekat bahunya. Begitu tubuh lawan meluncur melewatinya, telapak tangannya yang dilapisi Qi murni menghantam telak rusuk sang monster.
BUGH!
Serigala itu terpental mundur beberapa meter, namun langsung bangkit kembali dengan beringas.
Dahu mengerutkan kening tipis. Pertahanannya jauh lebih keras dari perkiraanku.
Monster itu kembali menyerang tanpa jeda. Kali ini Dahu tidak sekadar menghindar; ia mengunci fokus pada pergerakan kaki, arah bahu, dan momentum kepala lawannya.
Setiap kali cakar itu menyambar, ia menggeser posisinya sejengkal demi sejengkal. Meski beberapa sabetan sempat menggores lengan bajunya dan meninggalkan luka sayat kecil, Dahu tetap tenang.
Ia terus mengamati.
Hingga pada detik ketika serigala itu membuka rahangnya lebar-lebar untuk mencabik lehernya, Dahu memiringkan tubuhnya dan melayangkan hantaman siku telak ke bawah rahang bawah lawan!
KRAK!
Kepala monster itu tersentak ke atas. Sebelum ia sempat memulihkan keseimbangan, Dahu melompat menyusulkan hantaman kedua ke arah titik nadi di lehernya.
Serigala Taring Besi itu kejang-kejang sejenak, lalu roboh tak bernyawa.
Dahu menghela napas panjang. Lumayan.
Di dalam kepalanya, si iblis mengangguk mengakui. “Kau makin mahir membaca celah gerak lawan.”
Dahu tersenyum tipis. “Aku cuma bosan terus-terusan jadi pihak yang diserang.”
“Setidaknya otakmu dipakai dengan benar.”
Sesi perburuan itu terus berlanjut.
Sepanjang hari, Dahu menjelajahi berbagai kontur medan di dalam lembah dan menjumpai beragam jenis monster beast:
Ia bertarung melawan Kera Batu yang memiliki sepasang lengan raksasa berkekuatan pukul setara gada besi.
Ia melumpuhkan Babi Bertanduk yang menyerang membabi buta dengan kecepatan tinggi.
Ia bahkan nyaris celaka saat diintai oleh Kadal Sisik Hijau yang berkamuflase di balik bebatuan licin.
Setiap pertempuran menyajikan kurva belajar yang unik.
Kera Batu mengajarkan pentingnya menjaga jarak dan memanfaatkan kelincahan tubuh.
Babi Bertanduk melatih kepekaan membaca arah garis lurus serangan musuh.
Kadal Sisik Hijau mendidiknya untuk tidak pernah mengabaikan area sekitar yang tampak tenang.
Dahu tidak selalu menang dengan mulus. Ada kalanya bajunya robek compang-camping, kulitnya dipenuhi memar, dan lengannya berdarah akibat sabetan cakar.
Namun ia tidak pernah menyerah. Ia mengevaluasi kesalahannya secara instan.
Langkahnya kian efisien.
Pukulan tangannya kian akurat.
Penyaluran Qi-nya makin hemat dan tepat sasaran.
Yang paling mendasar, ia mulai bertransformasi menjadi sosok yang tidak lagi gentar menghadapi tekanan maut.
Si iblis yang mulanya hanya menonton dengan nada santai, kini makin sering terdiam.
Anak muda ini...
Ia telah menyaksikan ribuan kultivator berbakat sepanjang sejarah hidupnya. Namun sangat sedikit yang memiliki kapasitas adaptasi dan ketahanan mental setara Wang Dahu.
Bocah itu bukan sekadar menghafal pola pertahanan musuh; ia benar-benar meresapi setiap kesalahan, lalu mengubahnya menjadi insting bertahan hidup di detik berikutnya.
Sementara itu, di wilayah lain di dalam lembah...
Zhou Tianhe berjalan bersama tiga orang pengikutnya dengan raut wajah masam.
“Sialan! Sudah berjam-jam kita menyisir tempat ini, tapi bayangan anak desa itu sama sekali tidak kelihatan!” gerutu Zhou Tianhe kesal.
Salah seorang temannya menimpali, “Zhou, sudahlah. Lebih baik kita fokus mencari token spiritual. Waktu ujian kita terus berjalan.”
“Diam! Aku tidak akan membiarkan rasa malu di kedai kemarin malam lenyap begitu saja!”
“Tapi bukankah kultivasi awalnya cuma tingkat pertama?”
Zhou Tianhe mendengus dingin. “Justru karena itulah aku semakin penasaran! Mana mungkin sampah rendahan sepertinya bisa membuatku naik pitam? Temukan dia! Aku ingin meremukkan sombongnya anak itu sebelum ujian berakhir!”
Mereka tidak menyadari, orang yang mati-matian mereka cari kini berada di level kekuatan yang jauh melampaui bayangan terliar mereka.
Menjelang senja, Dahu berdiri di atas sebuah batu besar di tengah lebatnya vegetasi.
Di hadapannya tergeletak bangkai seekor macan bayangan bermata merah dengan cakar sepanjang belati. Pertarungan tadi merupakan salah satu yang paling menguras tenaga; macan itu memiliki kecepatan kilat yang mampu mengecoh pandangan mata. Dahu bahkan sempat mendapat luka robek di bahu kanannya sebelum berhasil menjebak monster itu menerobos celah sempit di antara dua dinding batu karang.
Dahu menyeka peluh bercampur darah di dahinya. “Sepertinya instingku mulai tajam.”
“Tajam kepalamu!” cibir si iblis. “Kau baru saja membantai setengah ekosistem lembah dalam sehari, dan sekarang lagakmu sudah seperti pemburu veteran.”
“Bukankah itu bagus?”
Si iblis terdiam sesaat, lalu tertawa kecil penuh arti. “Menarik... benar-benar menarik.”
“Ada apa lagi?”
“Sepertinya aku baru sadar satu hal.”
“Tentang apa?”
“Wang Dahu yang dulu mungkin cuma remaja malang yang merengek ingin mengubah takdir. Tapi Wang Dahu yang berdiri di hadapanku sekarang...” si iblis menjeda kalimatnya sejenak, “...seorang pemburu muda yang mematikan telah lahir.”
Dahu menyunggingkan seringai tipis. “Kalau begitu, rasanya tidak adil kalau aku tidak mencari mangsa yang lebih menantang.”
Sebelum si iblis sempat melayangkan protes, telinga Dahu menangkap suara derap langkah berat di kejauhan.
Di sela-sela pepohonan mati yang tertutup kabut senja, tertera jejak kaki yang ukurannya jauh melampaui semua monster yang pernah ia temui hari ini. Aura menekan yang pekat langsung meruap di udara.
Si iblis langsung menegang di dalam batin. “Dahu, tunggu! Aura itu... rasanya tidak beres!”
Namun mata Dahu justru berbinar tajam, menatap lurus ke dalam pekatnya kabut hutan. “Sepertinya aku baru saja menemukan mangsa sesungguhnya.”