NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Presiden

Istri Kontrak Sang Presiden

Status: tamat
Genre:Nikahkontrak / Mafia / Wanita perkasa / Beda Usia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:154
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Satu ciuman di tengah desing peluru, dan seluruh Italia gempar.

Riccardo Colombo, presiden berusia empat puluh lima tahun, sudah sepuluh tahun menduda dan menikah dengan satu hal saja: negara. Tapi survei berkata lain. Lawan politiknya unggul dengan keluarga sempurna, dan partai mengancam, tanpa istri, tidak ada pemilihan ulang.

Bella Lombardi, dua puluh tahun, relawan yang tulus dan putri keluarga mafia paling ditakuti di negeri ini. Seumur hidup, masa depannya diputuskan oleh pria-pria berkuasa lewat jabat tangan dan aliansi. Ciuman spontan yang ia berikan pada sang presiden malam itu hanya dimaksudkan sebagai refleks. Tapi kamera sudah terlanjur menangkapnya.

Kini sebuah tawaran terhampar di atas meja makan siang: pernikahan kontrak, empat tahun, sebatas masa jabatan.

Bella tidak meminta perhiasan. Ia hanya menuliskan pasal-pasal kebebasan.

Riccardo bersumpah ini hanya perjanjian. Bella bersumpah tidak akan jatuh cinta.

Tapi ayah Bella tidak akan menyerahkan putrinya begitu saja, seseorang mengintai dari balik layar kekuasaan, dan ada rahasia di Palazzo yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Berapa lama dua orang bisa berpura-pura menjadi pasangan, sebelum kepura-puraan itu berubah menjadi satu-satunya hal yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Pilihan Bella

Bella

Begitu mobil berhenti, aku turun nyaris berlari. Kakiku seperti bergerak sendiri. Aku hanya ingin masuk rumah dan menjauh sejauh mungkin darinya.

"Kembali ke sini, Bella!" suara Papa menggema di belakangku.

Tapi aku tidak berhenti.

Kudorong pintu masuk dan melintasi aula dengan tergesa, jantungku berdegup begitu keras sampai terasa sakit. Kudengar langkah beratnya mendekat.

Sebelum aku sempat mencapai tangga, sebuah tangan mencengkeram lenganku keras-keras, memaksaku berbalik.

"Papa sudah suruh kamu kembali, sialan!"

Teriakannya membelah keheningan rumah.

Seluruh tubuhku membeku.

Cengkeraman itu menyakitkan, tapi bukan rasa sakit di lengan yang membuatku gemetar. Melainkan tatapannya. Tatapan yang belum pernah diarahkan kepadaku seperti itu.

Aku tak pernah takut pada ayahku.

Tak pernah.

Tapi untuk pertama kalinya seumur hidup... aku takut.

Air mata mengalir tanpa bisa kucegah. Napasku tersendat, dan sebuah gumpalan mencekik tenggorokanku.

Dia menyadarinya.

Kulihat amarah lenyap dari wajahnya, digantikan sesuatu yang tampak seperti penyesalan.

Jari-jarinya mengendur hingga akhirnya dia melepaskan lenganku.

"Maafkan Papa... principessa..."

Aku langsung mundur selangkah.

Dia berusaha mendekat, mengulurkan tangan ke arahku, tapi aku mundur lagi.

Selangkah lagi.

Dan satu lagi.

Sampai punggungku menabrak meja konsol di aula.

Aku menggeleng, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Air mataku terus jatuh, dan yang bisa kulihat hanyalah pria yang selama ini menjadi tempat aman bagiku... berubah menjadi orang yang ingin kuhindari.

"Bella..."

Dia maju selangkah lagi.

Aku berbalik sebelum dia sempat menyentuhku lagi.

Aku berlari menaiki tangga, tersandung kakiku sendiri. Aku nyaris tak bisa bernapas. Air mata mengaburkan penglihatan, tapi aku tak berhenti.

Aku baru berhenti ketika masuk ke kamarku.

Kubanting pintu, kuputar kunci, dan merosot ke lantai.

Kupeluk lutut ke dada dan mulai menangis seperti belum pernah menangis sebelumnya.

Sebab pada saat itu, aku memahami satu kenyataan yang menyakitkan.

Papa baru saja menghancurkan satu-satunya hal yang tak pernah kubayangkan akan hilang.

Rasa aman yang kurasakan di sampingnya.

Aku bangkit perlahan, seakan setiap gerakan lebih berat dari seharusnya. Kamar terasa sempit, padahal ini tempat perlindunganku. Kutancapkan ponsel ke pengisi daya dan menatap layarnya menyala sesaat.

Aku masuk kamar mandi.

Air hangat mengguyurku, tapi tak melepaskan gumpalan yang tersangkut di dadaku. Aku berdiri di sana entah berapa lama, membiarkan keheningan bicara lebih keras daripada pikiranku. Semuanya datang bergelombang: tangan Papa di lenganku, suaranya, tatapannya... lalu rasa takut.

Setelah keluar, aku mengenakan sweter longgar yang nyaman. Kukeringkan rambut perlahan, tak terburu-buru bersiap untuk apa pun. Hari ini tak ada yang perlu dikejar. Hanya kelelahan aneh di dalam diriku.

Aku menjatuhkan diri ke ranjang.

Ponselku sudah menyala, dan notifikasi mulai bermunculan satu demi satu. Aku menatap layar tanpa benar-benar melihat. Kupejamkan mata sesaat, mencoba menata apa yang kurasakan.

Lalu ponsel itu berdering.

Tubuhku bereaksi sebelum pikiranku. Aku menjawab cepat.

"Halo..."

"Bella?"

Suara itu.

Fiorella.

Dan rasanya ada sesuatu di dalam diriku yang kembali pecah, kali ini tanpa pertahanan sama sekali. Tenggorokanku langsung menutup.

"Hai, Fiore..." suaraku keluar goyah, bergetar.

Aku mencoba bernapas, tapi tak bisa menahan.

Satu isakan lolos, disusul yang lain, dan sebelum sadar, aku sudah menangis lagi.

"Ada apa?" tanyanya, kecemasan sudah memenuhi suaranya.

Kupejamkan mata kuat-kuat, seakan itu bisa menahan semuanya di dalam.

Tapi tak berhasil.

"Aku..." suaraku pecah lagi. "Aku bertengkar dengan Papa..."

Hening sesaat di seberang.

Lalu aku runtuh.

Kata-kata keluar berhamburan, bercampur tangis dan napas yang terputus. Aku menceritakan semuanya. Mobilnya, cara dia berteriak, cara dia mencengkeramku, rasa takut yang belum pernah kurasakan, tatapannya... semuanya.

Ketika selesai, aku bahkan tak punya tenaga untuk memegang ponsel dengan benar.

Di seberang telepon, Fiorella tak menyela.

Baru setelah beberapa detik dia bicara, kini lebih pelan:

"Bella... Kamu dengar aku?"

Kuseka wajah dengan lengan sweter, berusaha bernapas.

"Dengar..."

"Kamu di rumah sekarang?"

Aku menarik napas dalam, mencoba mengendalikan tangis.

"Iya... Terkunci di kamar."

Di ujung sana, Fiorella tak membuang waktu.

"Aku ke sana, menemanimu."

Kupejamkan mata sesaat, merasakan sedikit kelegaan di tengah kekacauan.

"Terima kasih..."

Kututup telepon dan tetap berbaring. Kamar terasa lebih sunyi sekarang, dan pikiranku terus kembali pada semua yang terjadi.

Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan lembut di pintu. Aku tahu itu Fiorella bahkan sebelum bertanya siapa. Aku berjalan ke sana dan membuka kunci.

Begitu dia masuk, kugenggam tangannya dan kutarik dia dekat. Aku tak perlu bilang apa-apa. Dia mengerti.

Kami berbaring di ranjang, berhadapan. Fiorella menyibak helai rambutku dengan lembut, mengelus pipiku, dan mengusap sebutir air mata yang jatuh dengan ibu jarinya.

"Jangan menangis lagi, Bella... Semuanya akan baik-baik saja."

Aku menggeleng, tapi air mataku tetap jatuh.

Setelah hening sesaat, dia bertanya dengan ketenangan luar biasa:

"Aku cuma belum paham satu hal... Ada apa? Kenapa kalian bertengkar?"

Aku mengembuskan napas berat sebelum menjawab.

"Aku makan siang dengan presiden."

Dia mengangkat alis, terkejut, tapi diam menunggu aku melanjutkan.

"Dia... melamarku. Pernikahan kontrak."

Kata-kata itu keluar dengan kelelahan.

Aku menceritakan semuanya. Dari undangan makan siang, percakapan kami, tawaran tak terduga itu, hingga cara Papa muncul di restoran dan menyeretku keluar seakan aku tak berhak memutuskan hidupku sendiri.

Kata-kataku keluar seperti pengakuan dosa, seakan aku sedang melepas beban yang kupikul seumur hidup.

"Aku tidak mau menderita di tangan seorang pria seperti Mama menderita karena Papa. Aku ingin bisa memilih, Fiore. Sekali saja seumur hidup... aku ingin punya pilihan."

Suaraku bergetar, tapi aku melanjutkan.

"Aku akan menerima pernikahan ini dengan presiden. Setidaknya dengan dia, aku bisa menegosiasikan pasal-pasal kontraknya. Empat tahun lagi, semuanya selesai. Aku akan bebas... bebas darinya, bebas dari keluargaku, dan bebas dari nasib yang mereka pilihkan untukku."

Fiorella diam beberapa detik. Ia menggenggam tanganku dengan lembut, mencari mataku.

"Kamu yakin, Bella?"

Aku duduk di ranjang dan menyeka air mata dengan punggung tangan.

"Yakin. Ini keputusan pertama yang benar-benar terasa milikku. Mungkin ini bukan pernikahan yang kuimpikan, tapi inilah satu-satunya jalan keluar yang bisa kulihat."

Suaraku nyaris pecah.

"Bantu aku, Fiorella... Kumohon."

Dia tidak langsung menjawab. Dia hanya memelukku erat, melingkari bahuku seakan ingin mencegahku runtuh lagi.

"Aku akan membantumu, Bella. Di setiap langkah. Kamu tidak akan menghadapi ini sendirian. Aku janji."

Kupejamkan mata dan membalas pelukannya. Untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa masih ada seseorang di sisiku...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!