Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.
Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.
Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.
Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?
Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.
"Dia milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Ester Gutierrez
Aku bertemu Ricardo Solano di sebuah klub setahun lalu, dan itu cinta pada pandangan pertama. Seorang teman memperkenalkan kami. Begitu melihat pria setinggi 1,90 meter, bermata cokelat terang, bertubuh agak kekar, dan berambut cokelat yang rapi itu, aku langsung terpesona. Sejak awal aku tahu dia hidung belang, tapi aku tidak peduli. Aku bertekad mendapatkan pria itu, dan aku berhasil. Setelah mengobrol sebentar, lalu berciuman, berpelukan, dan saling meraba di klub, dia membawaku ke motel. Pintu kamar baru tertutup, kami sudah saling melucuti pakaian. Ciuman kami panas, bibir kami pas sekali. Dia melemparku ke kasur dan menatapku seperti mangsanya. Tubuhku terbakar gairah. Lalu dia melepas celana dalam boksernya, dan aku melihat ukuran kejantanannya yang besar dan keras seperti batu. Aku berposisi merangkak di kasur, memegang kejantanannya dengan lembut, dan mengelusnya naik turun. Dia mengusap punggungku seperti menenangkan hewan sebelum disembelih. Tanpa memberi tahu, aku melahap kejantanannya dan mengisapnya dengan nafsu. Dia mengerang dan menengadahkan kepala. Aku mengulum naik turun dan mempercepat gerakan. Saat kurasakan kejantanannya berdenyut di mulutku, tidak lama kemudian dia klimaks di mulutku, disertai geraman nikmat. Dia langsung melemparku ke kasur lagi dan mulai mencium kakiku, naik perlahan. Sampai di bagian intimku, dia membuka kakiku pelan-pelan dan mulai menggigit lembut, lalu mengisap, menyedot, dan menjilat. Bagian intimku sudah membengkak dan aku terbakar nikmat. Lalu ciumannya naik sampai ke payudaraku. Dia mengisap yang satu, lalu yang lain, dan tanpa aba-aba dia menembusku sekuat tenaga. Aku menjerit nikmat. Dia menghujam makin cepat dan makin keras, lalu membalikkan aku ke posisi merangkak dan masuk lagi sambil membuka bokongku supaya lebih dalam. Aku nyaris mencapai puncak kenikmatan ketika dia membungkuk di punggungku tanpa berhenti menghentak, dan berbisik di telingaku,
"Aku mau kamu klimaks bersamaku sekarang, dasar seksi sialan!"
Dia menggulung rambutku di satu tangan dan mencengkeram pinggangku dengan tangan lainnya. Gerakannya begitu cepat sampai aku tidak bisa bertahan lama.
"Aku... hah... mau keluar... sekarang..."
"Begitu, jalang, keluarlah."
Aku mencapai orgasme yang luar biasa, dan dia menyusul tidak lama kemudian. Kami berbaring kelelahan, mengatur napas sebentar, lalu dia menggandeng tanganku untuk mandi bersama. Di kamar mandi kami bermain nakal sekali lagi, lalu berbaring untuk tidur. Dia tidur lebih dulu, dan aku terus memandangi pria yang tampan dan menggairahkan itu.
Pria yang luar biasa, dan permainannya hebat sekali. Hari-hari foya-foyamu sudah berakhir, Ricardo Solano, karena sekarang kamu milikku. Siapa pun yang menghalangi jalanku akan kubunuh, aku bersumpah.
Malam itu indah sekali, dan dibandingkan semua pria yang pernah kukencani, dia jauh yang terbaik di ranjang. Setelah malam itu aku berusaha hadir di semua tempat yang biasa dia datangi, dengan diam-diam tapi tetap supaya terlihat. Berkali-kali aku mengundangnya makan malam di rumah, dan dia selalu menolak. Sampai suatu hari dia menerima. Rasanya aku tidak pernah sebahagia itu. Aku ingin semuanya sempurna, dan memang akan sempurna kalau si menjijikkan Andrea itu tidak jatuh di ruang tamu, dan Ricardo tidak memegang payudaranya saat membantunya berdiri. Melihat adegan itu aku seperti kesetanan, dikuasai amarah. Aku membentaknya, padahal aku ingin menggosokkan wajahnya ke lantai. Mama menamparnya, menurutku itu pantas supaya dia tahu diri. Aku senang sekali waktu Papa bilang Andrea sudah pergi dari rumah kami. Papa malah menyalahkan kami, bilang kami memperlakukannya dengan buruk. Dia bahkan bilang kehidupan nyaman kami ada berkat ayah Andrea, yang sebelum meninggal menyerahkan perusahaannya atas nama Papa. Katanya kalau Andrea tidak pulang dan kami tidak meminta maaf padanya, dia akan memotong uang saku kami. Mama murka pada Papa, sedangkan aku tidak peduli. Aku benci si pirang hambar itu. Aku tidak akan pernah menerimanya sebagai keluarga, dan kalau uang sakuku dipotong gara-gara dia, biar saja. Aku tidak akan pernah mencarinya apalagi minta maaf.
Setelah Ricardo akhirnya mau makan malam di rumahku, kukira kami akan makin dekat, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Sekarang kurasa dia makin menjauh, seperti menyesal sudah terikat komitmen. Aku tahu dia belum memintaku jadi pacarnya, tapi sejak dia bertemu orangtuaku dan mulai sering datang ke rumah, aku sudah menganggap diriku tunangannya.
Semalam kami melewati malam yang sangat menyenangkan. Ponselku ada di tangan, aku menunggu dia mengirim pesan.
Saat ponselku berbunyi dan kulihat itu dia, jantungku berdebar kencang.
Pesan
*Ricardo:* Pagi, cantik. Tidurmu nyenyak?
*Ester:* Pagi, sayang. Tidurku nyenyak sekali. Aku suka malam kemarin.
Aku membalas cepat-cepat, lalu menyesal karena terlalu cepat.
*Ricardo:* Aku juga. Malam ini aku tidak bisa menemuimu, mau keluar dengan beberapa teman. Urusan cowok, kamu tahu sendiri kan?!
Urusan cowok apanya!
*Ester:* Sayang sekali, aku ingin sekali bertemu kamu, tapi tidak apa-apa. Aku keluar saja dengan teman-teman kuliahku.
Aku tidak akan mau kalah.
*Ricardo:* Oke, cantik! Selamat bersenang-senang.
Astaga, dia sama sekali tidak peduli. Kukira dia akan cemburu dan marah-marah.
*Ester:* Kamu juga.
Aku akan cari tahu ke mana kamu pergi malam ini dan menyusulmu. Aku tidak akan lengah dan mengambil risiko kehilangan pria ini demi perempuan murahan mana pun.
Aku mengirim pesan ke beberapa teman, dan aku tahu dia pergi bersama sepasang teman ke peresmian klub baru di pusat kota.
Tunggu aku, Ricardo Solano. Aku akan ada di sana, lebih cantik dari sebelumnya.