Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.
Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tendangan Keledai
POV Hendra
"Kamu meremas jasku."
POV Sekar
"Maaf, Tuan." Kulepaskan dia.
POV Hendra
Aku menghabiskan kopi lalu berangkat kerja. Di jalan aku teringat bocah kurus yang meremas jasku tadi. Aku sudah mencari masalah besar: seorang bocah yang merenggut ketenanganku.
POV Sekar
"Ibu dengar tadi, Bu Beti? Aku boleh terus sekolah!" kataku sambil melompat-lompat.
POV Beti
"Dengar, Nak. Bukankah Ibu sudah bilang dia punya hati?"
POV Sekar
"Iya, sepertinya memang punya." Aku tersenyum.
Aku kembali mengerjakan tugasku, dan tak lama Bu Ratna datang.
POV Ratna
"Halo, Sayang." Aku memeluknya.
POV Sekar
"Selamat pagi, Bu Ratna."
POV Ratna
"Ibu datang membawa barang-barang yang kamu butuhkan. Kita ke kamarmu, ya?"
POV Sekar
"Ayo, Bu." Kami naik ke kamarku dan mulai membuka tas-tas itu. Bu Ratna membawa benar-benar semua yang dibutuhkan seorang perempuan: pakaian, sepatu, pakaian dalam, perlengkapan mandi, dan lainnya.
POV Ratna
"Sayang, Ibu bawa ini juga." Kuserahkan sebuah ransel.
POV Sekar
"Ya Tuhan, perlengkapan sekolah?"
POV Ratna
"Tadi Hendra menelepon dan menyuruh Ibu memasukkannya ke daftar."
POV Sekar
"Terima kasih banyak, Bu Ratna. Tolong sampaikan terima kasihku untuk Tuan Hendra."
POV Ratna
"Kenapa tidak kamu sendiri yang bilang?"
POV Sekar
"Tadi pagi sudah, dan aku malah memeluknya, Ibu percaya? Aku tidak mau ambil risiko lagi."
POV Ratna
"Ah, Sayang, kamu ini luar biasa." Aku tersenyum.
POV Sekar
"Terima kasih untuk semuanya, Bu." Kupeluk beliau, lalu beliau pulang. Tak lama tiba waktu makan siang, dan sekali lagi Tuan Hendra tidak pulang makan. Aku makan lalu berangkat ke sekolah.
Di sekolah...
"Sekar, kamu kenapa? Kami telepon bibimu, katanya kamu sudah pergi," tanya guruku.
"Aku dapat pekerjaan dan perlu beberapa hari untuk menyesuaikan diri, tapi jangan khawatir, semuanya baik-baik saja dan sekarang aku kembali."
"Syukurlah, Nak. Tinggal sedikit lagi lulus, jangan menyerah, ya."
"Tidak akan, Bu, terima kasih banyak. Selama aku bolos ada yang baru?"
"Tidak ada yang belum kamu ketahui. Dengan kepintaranmu, kamu pasti cepat mengejar."
"Syukurlah." Kami menuju kelas dan pelajaran berjalan seperti biasa. Saat pulang, Darto sudah menunggu di gerbang. Kami pulang, dan begitu tiba aku langsung membantu Bu Beti.
POV Beti
"Sayang, tidak usah buru-buru, mandi saja dulu."
POV Sekar
"Memangnya aku sebau itu?" candaku.
POV Beti
"Ya ampun, Nak." Aku tersenyum. "Cuma kamu yang begini."
POV Sekar
Aku menyelesaikan makan malam bersamanya, naik ke kamar, mandi, lalu turun menunggu Tuan Hendra.
POV Hendra
Setelah seharian yang melelahkan, aku pulang dengan sangat tertekan. Sampai di pintu, si patung sudah berdiri di sana. Kulewati begitu saja dan dia mengikutiku. Aku masuk kamar, dia ikut masuk.
POV Sekar
"Ada yang Anda perlukan, Tuan?"
POV Hendra
"Sudah kubilang, kalau perlu aku akan memanggilmu. Keluar."
POV Sekar
"Halus banget, kayak tendangan keledai," gumamku keras-keras sambil berjalan keluar.
POV Hendra
"Apa katamu, bocah?"
POV Sekar
"Anda tidak akan mau aku mengulanginya." Saat hendak keluar, kurasakan pintu dibanting keras dan tubuhku ditekan ke sana dari belakang.
POV Hendra
"Kamu betul-betul mengira aku punya hati? Jangan main-main dengan nasib. Jangan sampai kamu mengenal sisi terburukku."
POV Sekar
"Masih ada yang lebih buruk?" Aku bicara geram menghadapi kesombongan dan keangkuhannya.