NovelToon NovelToon
Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Ayah Mertua Mafia Menginginkanku

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Dark Romance / Tamat
Popularitas:24
Nilai: 5
Nama Author: Larissa Marcelle

Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.

Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".

Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32 - Ibu Kedua?

...FIORELLA FERRAZ...

"Aku sengaja mengosongkan hari ini buat membantumu cari pekerjaan. Kamu masih mau kerja?"

"Tentu saja, Tante Lo! Tante mau carikan aku kerjaan di sekolah?"

"Kamu bisa apa?"

"Kayaknya tidak ada." Aku lesu. "Aku cuma bisa bahasa Jerman."

"Kerja di sekolah harus punya ijazah. Susah, tapi aku akan membantumu."

Aku memeluk Loretha dan berterima kasih. Dia orang yang sangat baik. Rasa menyesal menghantam dadaku. Loretha tampak perempuan terhormat, sampai aku berpikir dia tidak pantas punya suami seperti itu. Aku sendiri juga tidak pantas menerima perhatian dan kasih sayang sebanyak ini, sebab aku sudah tidak sabar bertemu pria itu hari ini dan menyerahkan sisa keperawananku yang tinggal sedikit.

Kami akan keluar keliling kota, aku sudah tidak tahan terkurung di sini. Loretha turun membantu koki menyiapkan makan siang. Aku nyaris menyatu dengan kasur ketika ponselku berdering.

"Ava." Aku senang dia menelepon. Aku suka sekali cewek ini.

"Kamu masih hidup?"

"Masih." Aku tertawa.

"Aku lihat sendiri, kamu dibawa orang-orang menyeramkan."

"Iya..." Aku berusaha mengarang bohong, tapi tidak ada yang cukup bagus dan meyakinkan. "Nanti kujelaskan."

"Andrew khawatir banget. Ada beberapa orang yang mencarinya."

"Mencari dia? Menurutmu itu orang-orang yang sama dari klub malam?"

"Kayaknya iya. Kakakku tidak mau cerita banyak. Tapi aku telepon karena ingin ketemu kamu, kita jangan sampai putus kontak. Aku khawatir, tapi baru sempat telepon sekarang, soalnya akhir pekan pun aku kerja."

"Ngomong-ngomong soal kerja, aku sekarang mau berburu pekerjaan."

"Semoga sukses."

"Aku butuh banget."

"Eh, Ava. Kamu kerja di mana? Sayang banget kita tidak sempat ngobrol di klub."

"Di klub mana bisa ngobrol, cuma buat minum dan joget, 'cium-ciuman'." Dia menekankan kata itu. "Aku mau kamu lihat sendiri tempat kerjaku. Bahaya kalau kamu kaget kalau kukasih tahu sekarang."

"Aku sudah kaget kok." Kami tertawa.

"Jadi gini. Aku punya waktu luang setelah pukul 18.00 kalau kamu mau datang. Nanti kukirim alamatnya."

"Aku penasaran. Andrew ada di sana?"

"Tidak, kakakku kuliah."

"Huh, syukurlah." Aku menghela napas lega.

Aku makan siang bersama Loretha, lalu kami berangkat "berburu kerja". Matahari terik sekali, tapi aku senang mengenal kota Sydney, indah banget. Kami sekalian mampir ke beberapa tempat wisata, seperti Gedung Opera Sydney dan Darling Harbour. Blake jadi sopir kami berdua.

* * *

"Kamu punya pengalaman, Nona kecil?"

"Tidak, tapi aku belajar cepat sekali, Pak, dan aku rajin."

"Kami butuh orang yang siap pakai dan berkompeten."

* * *

"Maaf, semua lowongan sudah terisi."

* * *

"Kami tidak sedang merekrut."

* * *

"Bisa kita coba tes besok?" Di percobaan kesepuluh, akhirnya aku mendengar kata mungkin.

"Bisa, tentu." Posisinya resepsionis hotel. Manajernya orang Jerman dan mengenali aksenku. Aku beruntung sekali.

"Besok pukul 15.00 kami adakan seleksi, tapi jangan berkecil hati, Nona Fiorella."

"Tenang saja, aku janji tidak terlambat."

Kami keluar dari hotel. Aku terus memandangi ponselku, menunggu pesan dari Argo. Sial, aku gelisah sekali, padahal sudah hampir pukul 17.00 sore. Kami sudah mengelilingi seluruh kota.

"Permisi, Nyonya-nyonya." Blake memanggil kami. "Saya kembali ke mansion dulu."

"Lho... tanpa kami?" tanya Loretha.

"Itu perintah, Nyonya." Dia langsung masuk mobil dan pergi.

"Apa-apaan itu?" Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba pergi.

Masih sore, jadi kami memanfaatkannya, masuk ke hotel-hotel lain, tapi hasilnya nihil. Kami bahkan mampir ke kedai makanan cepat saji, lalu berhenti untuk makan.

Aku memandangi Loretha, begitu ramah, cantik, orang baik. Dia seperti ibu bagiku. Aku sangat merindukan ibuku, dan Loretha Romanov mengisi kekosongan itu.

"Tante Lo, Tante penting banget buat aku. Waktu pindah ke negara ini, aku tahu akan kehilangan seorang ayah, dia jauh sekali dariku. Aku cuma tidak menyangka akan mendapat seorang ibu. Jared beruntung."

"Dan kamu seperti putriku sendiri, Fiorella. Sekarang kamu bagian dari keluarga." Ponselku bergetar di dalam tas, terus bergetar tanpa henti. "Tidak diangkat?"

Dadaku sesak. Aku tahu entah bagaimana itu si otokrat. Aku tersenyum padanya dan membuka tas mengambil ponsel. Dering itu berhenti.

"Mati," kataku.

Tapi tak lama masuk pesan berisi alamat. Di antara kedua kakiku berdenyut ketika pikiranku membayangkan apa yang akan dia lakukan padaku di tempat itu. Aku punya 30 menit untuk sampai di sana, lokasinya tidak jauh dari sini. Aku memikirkan alasan untuk berpisah dari Loretha.

"Tante Lo." Aku memanggilnya. "Teman yang kukenal di klub malam hari itu, ingat?"

"Ingat."

"Dia mau bicara denganku, pasti soal pacar dan semacamnya, tahu sendiri lah."

"Aku sudah lewat masa itu." Dia tersenyum. "Tapi kamu mau pergi sendirian? Aku masih tidak mengerti kenapa Blake pergi dan meninggalkan kita."

"Aku bisa jaga diri. Dia lagi kerja dan mau ketemu aku pas istirahat. Ponselku kubawa, kalau ada apa-apa telepon saja."

"Kamu ada uang untuk taksi?"

"Ada, Papa sudah transfer. Oh ya, Tante sudah bicara dengan Papa?"

"Ah... belum." Dia meneguk jus. "Fiorella, aku minta satu hal. Tolong jangan bilang ke suamiku kalau aku minta nomor Adalberto, ya? Aku... cuma mau menanyakan sesuatu soal kontrak pernikahan yang dia tanda tangani dengan Argo."

"Aku tidak akan bilang, sumpah." Menurutku dia dalam masalah, soalnya Argo mendengar semuanya dari dalam lemari itu, dan aku ragu dia akan membiarkan masalah ini lewat begitu saja.

Kami berpisah. Aku masuk ke toilet untuk menarik napas sebentar, karena aku sangat cemas. Ini kedua kalinya akan terjadi sesuatu antara aku dan dia. Dan aku mengaku, aku ingin sekali melihatnya. Aku panik hanya dengan membayangkan berduaan dengannya, bukan karena takut, tapi karena gairah dan gelisah.

📱 Kamu punya 15 menit, jangan kecewakan aku. Itu pesan darinya, begitu dia melihat aku lama membalas.

Aku keluar dari kedai dan memanggil taksi, lalu memberikan alamat yang dia kirim.

📱 Temaaan, aku di sini nungguin kamu. Ava mengirim pesan.

Sudah hampir pukul 18.00, dan aku sedang menuju Argo. Aku memejamkan mata dan berpikir, aku mau menemuinya atau menemui Ava?

"Pak sopir. Saya mau ubah rute, kita ke tempat lain."

"Baik."

Argo Romanov akan gigit jari. Hari ini pria itu akan tahu dia bisa memerintah semua orang, kecuali aku. Anjing galak tidak membuatku takut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!