Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Tanpa berlama-lama Mahardika mendekat ke arah mobil ambulans tersebut karena waktu semakin mendesak.
"Dokter, tolong turunkan anak-anak, saya akan bantu menyembuhkannya. Karena Peralatan medis tidak akan bisa mendeteksi racun seribu hari ini," kata Mahardika dengan sopan.
Dokter menekuk alisnya memandang Mahardika dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Apa kamu bilang?! Tidak perlu di bawa ke rumah sakit? Heh! Apa kamu mengerti medis? Saya ini lulusan kedokteran terbaik dan dokter spesialis di sini! Hasil rontgen dan pemindaian laboratorium menunjukkan kalau mereka keracunan makanan! Kamu mau sok tahu di depanku?" Ferdi tertawa sinis, meremehkan.
"Saya tahu itu, tapi ini penyakitnya berbeda, ini hanya akan bisa di sembuhkan dengan pengobatan tradisional," jawab Mahardika tidak mundur.
"Jangan gila, kamu! Ini situasi darurat, anak-anak ini butuh penanganan medis segera di rumah sakit, bukan omong kosong paranormal atau penyembuh alternatif!" kata Dokter itu dengan ketus.
"Tapi Dokter, racun itu sudah masuk ke aliran darah meridian mereka," jawab Mahardika dingin, karena semakin lama ditunda, nyawa anak-anak dalam bahaya.
"Hahaha! Aliran darah? Meridian? Dari mana kamu belajar istilah konyol itu? Dari novel silat?" Ferdi tertawa makin keras, tatapannya penuh penghinaan.
"Saya mempelajarinya dari seorang master pengobatan tradisional selama dua tahun terakhir," jawab Mahardika jujur.
"Pengobatan tradisional? Tabib gadungan maksudmu?!" potong Ferdi tajam.
"Ini saya serius Dokter, tolong jangan memperpanjang waktu, jika Anda tetap bersikukuh membawa Ke rumah sakit, anak-anak tidak akan tergolong lagi!" kata Mahardika geram, karena keras kepala dokter tersebut.
"Cacing seperti kamu, seorang sampah, berani meragukan ilmu medis moderen dan keahlianku?!" bentak Ferdi menunjuk wajah Mahardika dengan jijik.
"Pengobatan tradisional itu cuma mitos Kuno dan ilmu gaib Ketinggalan zaman yang membodohi masyarakat! Kalau kamu tidak tahu apa-apa tentang kedokteran, tutup mulutmu dan biarkan orang profesional bekerja! Jangan sampai ketidaktahuanmu malah membunuh anak-anak!" Ucap Ferdi ketus.
Mendengar penghinaan dari mulut Dokter Vino, Mahardika mengerutkan keningnya. Raut wajahnya menjadi dingin.
"Ilmu pengobatan tradisional tidak pernah mati, Dokter. Sejak ribuan tahun lalu, para leluhur mengobati penyakit dengan metode amatan, pendengaran, penciuman, dan interogasi. Kami melihat akar penyakit dari aliran energi dan vitalitas tubuh, bukan sekadar bergantung sepenuhnya pada mesin dan peralatan medis modern seperti yang kalian agungkan!" ucap Mahardika tenang namun sarat tekanan batin.
"Bicara bual!" seru Ferdi emosi.
"Baik! Kalau kamu memang merasa hebat dengan ilmu tradisonal gadunganmu itu, bagaimana kalau kita bertaruh di tempat?!" tantang Ferdi seraya tersenyum licik.
"Taruhan apa?" tanya Mahardika datar.
"Jika kamu berhasil menyembuhkan anak-anak dalam hitungan detik dan membuat anak-anak kembali sehat seperti semula, aku akan menyumbang uang 100 juta di panti ini dan berlutut di meminta maaf dan mengakui jika ilmu pengobatan tradisional! Tapi... jika kamu gagal, kamu harus berlutut dan meminta maaf kepadaku lalu pergi dari kota ini" ujar Ferdi lantang dan percaya diri.
"Deal. Aku terima taruhanmu. Dan aku jamin, dalam waktu 1 menit untuk menyembuhkan anak-anak," jawab Mahardika tanpa ragu sedikit pun.
Tiga anak kecil dibaringkan berjejer di atas rumput halaman panti.
Kulit mereka mulai membiru, dan dari sudut bibir mereka keluar jejak darah hitam yang mengering, pertanda racun mulai menggerogoti organ dalam.
Tanpa membuang waktu, Mahardika merogoh saku dalam mantelnya dan mengeluarkan sebuah kantong kain hitam.
Ada puluhan jarum akupunktur berbahan perak.
Dengan gerakan cepat, Mahardika menancapkan jarum-jarum tersebut ke titik-titik meridian vital di tubuh dua anak.
Ada energi keemasan dari tubuh Mahardika mengalir masuk lebih fokus dan tajam masuk melalui jarum akupuntur tersebut, menusuk tepat ke pusat gumpalan racun hitam yang bersarang di organ dalam mereka.
Mahardika menarik napas dalam-dalam dan menyalurkan energinya kembali ke jarum tersebut.
Wusss!
Cahaya emas mengalirkan energi murni ke dalam saluran darah anak-anak tersebut. Di mata tembus pandangnya, Mahardika dapat melihat bagaimana energinya mulai melilit dan melumat gumpalan racun hitam yang melekat pada organ vital mereka.
"Ugh... huekk!"
Anak pertama dan kedua tiba-tiba melengkungkan badannya dan memuntahkan cairan hitam pekat berbau busuk yang menyengat.
Seketika wajahnya anak itu yang pucat menjadi segar kembali menandakan aliran darahnya kembali bersih.
Jarum-jarum perak yang tertancap perlahan berubah warna menjadi hitam legam, menyerap sisa racun yang tersisa dari tubuh anak-anak tersebut.
Dokter Ferdi dan para suster yang menyaksikan kejadian itu terbelalak lebar.
"Nak, akhirnya kau sembuh nak," seru ibu panti itu memeluk kedua anak tersebut sambil menangis haru.
Mahardika kembali menyembuhkan anak ketiga
Anak ketiga itu terbatuk pelan, memuntahkan gumpalan racun terakhir, lalu perlahan membuka matanya.
Napasnya kembali teratur dan ia duduk seperti biasanya, seperti orang tidak mengalami sakit.
Dokter Ferdi yang melihat proses itu secara langsung mundur satu langkah. Mulutnya ternganga, matanya membelalak tak percaya menyaksikan keajaiban di depan matanya.
"Ba-bagaimana mungkin bisa sembuh secepat ini?!" tanya Dokter Ferdi dengan suara bergetar penuh ketidakpercayaan.
Mahardika mencabut jarum-jarum peraknya yang kini telah menghitam, lalu menatap ibu pengurus panti.
"Bu, tolong bawa anak-anak lain yang terkena racun segera ke sini. Dan tolong carikan anak yang bernama Amel... Saya mendapat kabar kalau anak saya dititipkan di panti ini," kata Mahardika dengan nada lembut.
Ibu pengurus panti mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca, segera berlari ke dalam panti untuk mencari Amel yang mungkin saat ini juga terkena racun.
Tak lama kemudian, ibu pengurus panti keluar dari pintu utama sambil menggendong seorang anak perempuan kecil.
Anak itu tampak begitu lemah, wajahnya pucat pasi dengan bibir kebiruan akibat pengaruh racun yang mulai menyebar di tubuhnya.
"Apakah ini anak Anda, Pak?" tanya ibu panti dengan suara bergetar pelan.
Seketika mata Mahardika terbelalak. Jantungnya berdetak kencang saat menatap paras polos anak perempuan itu.
Meski tubuh kecil itu tampak layu, tapi ia sangat mengingat wajah polos putri kecilnya.
"Amel... Anakku..."