Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Malam Ini Juga, Menikahlah Denganku
Suara derit pintu gerbang besi tua Hotel Grand Mulia masih terngiang di telinga Alesha, bahkan setelah ia berhasil melangkah keluar ke trotoar yang basah.
Hujan September turun tanpa ampun.
Rintiknya tidak deras, tetapi konstan. Dingin, menusuk kulit yang hanya tertutup gaun pengantin putih sutra tipis.
Alesha berdiri di tepi jalan raya yang mulai lengang. Di belakangnya, lobi hotel masih ramai oleh bisik-bisik para staf yang menatapnya dengan tatapan kasihan bercampur rasa ingin tahu. Di hadapannya, jalanan aspal metropolitan yang remang-remang memantulkan cahaya lampu neon dari gedung-gedung tinggi.
Gaun yang tadi pagi ia pakai dengan penuh kebanggaan kini terasa seperti kain kafan yang berat. Bagian bawahnya berlumur noda air hujan dan lumpur tipis. Mahkota mutiara kecil di sanggulnya terasa begitu menyiksa.
Dengan gerakan kasar yang penuh amarah terhadap dirinya sendiri, Alesha melepas mahkota itu. Ia tidak melemparkannya ke jalan, melainkan memasukkannya ke dalam tas tangan kecilnya. Bukan karena masih sayang, tetapi karena ia ingin mengingat, mengingat bagaimana mahkota ini terasa seperti mahkota duri hari ini.
Di tepi jalan, sebuah mobil sedan hitam legam dengan kaca gelap gulita terparkir tenang. Mesinnya menyala halus tanpa suara, bahkan lampu hazard-nya pun tidak menyala, seolah mobil itu sudah menunggu di sana sejak tadi dan tahu persis ke mana Alesha akan melangkah.
Begitu Alesha mendekat dalam jarak dua meter, pintu belakang mobil itu terbuka secara otomatis dari dalam.
Interior berbalut kulit mewah berwarna hitam menguar membawa aroma kayu cedar yang mahal serta parfum maskulin yang tenang dan dominan, bercampur dengan dinginnya udara hujan.
"Masuklah, Alesha."
Suara itu berat, rendah, dan tidak bisa dibantah.
Vion. Pria itu duduk bersandar di sisi kanan kabin dalam setelan jas hitamnya yang sempurna. Bahkan dalam temaram lampu jalan, sorot mata tajam setajam elang itu masih terlihat jelas, menatap Alesha tanpa berkedip, seolah ia bisa membaca setiap luka yang ada di hati wanita itu.
Tanpa ragu sedikit pun, tanpa berpikir dua kali tentang bahaya atau tentang siapa pria ini sebenarnya, Alesha melangkah masuk ke dalam kabin mobil. Ia membanting pintu hingga tertutup rapat.
Kedap suara yang sempurna di dalam kabin seketika memutus segala bisingnya dunia luar. Tidak ada lagi suara hujan. Tidak ada lagi suara klakson. Tidak ada lagi bisik-bisik kejam para tamu di ballroom tadi. Yang ada hanya detak jantungnya sendiri yang masih berdegup kencang dan napasnya yang sedikit memburu karena kedinginan.
Ia duduk di sisi terjauh dari Vion, memeluk kedua lengannya sendiri. Gaun putihnya basah di bagian bahu, sementara rambutnya yang tadi disanggul modern kini sedikit berantakan dengan beberapa helaian yang menempel di pipinya yang pucat.
Vion tidak langsung berbicara. Ia hanya memberi isyarat kecil dengan anggukan kepala kepada sopir pribadinya di depan, yang langsung melajukan kendaraan mewah itu membelah jalanan kota yang basah dengan mulus tanpa guncangan.
Mobil itu meluncur, meninggalkan kemegahan Hotel Grand Mulia yang menjadi saksi bisu kehancurannya di belakang mereka, semakin jauh dan semakin kecil di kaca spion.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam. Hanya suara gesekan ban mobil di atas aspal basah yang terdengar samar.
"Kau tidak menangis."
Vion akhirnya memecah keheningan. Kalimat itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan pengamatan yang tajam.
Alesha menoleh perlahan. Menatap wajah tegas Vion di bawah temaram lampu jalan yang sesekali menembus kaca mobil dan menerangi sisi wajah tampan pria itu.
Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman hambar yang begitu sinis namun menyakitkan.
"Menangis untuk apa, Tuan Vion?" jawab Alesha, suaranya serak namun tegas. "Air mataku sudah habis terkuras untuk pria yang salah selama lima tahun terakhir. Aku sudah menangis cukup di ruang rias tadi. Jika aku menangis lagi di sini, di depanmu, bukankah itu hanya akan membuatku semakin terlihat menyedihkan di mata mereka yang sudah menertawakanku?"
Vion menatap Alesha lebih dalam. Untuk pertama kalinya malam itu, sebuah senyuman tipis yang sangat langka tersungging di sudut bibirnya, bukan senyuman mengejek, melainkan kagum.
"Jawaban yang bagus," ucap Vion pelan. "Wanita lemah akan menghabiskan malamnya dengan meratapi nasib di sudut ruangan hotel sambil mabuk. Tetapi seorang ratu yang sesungguhnya akan mulai menghitung kerugian musuhnya sejak detik pertama ia dikhianati. Kau adalah yang kedua, Alesha."
Alesha mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Butiran air hujan berlomba-lomba meluncur turun di atas permukaan kaca yang gelap.
"Kenapa kau membantuku di sana tadi?" tanya Alesha langsung, tidak suka berutang budi tanpa tahu alasannya. "Kita tidak memiliki hubungan apa-apa, Tuan Vion. Kau adalah investor global yang memegang kendali atas separuh bursa saham negara ini. Dan aku hanyalah seorang wanita bodoh yang baru saja dibuang pengantinnya di altar karena dianggap miskin dan tidak sepadan."
"Siapa bilang kita tidak memiliki hubungan apa-apa?"
Vion mengubah posisinya. Ia bergeser, mendekatkan tubuhnya sedikit ke arah Alesha. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa sekitar satu jengkal. Aroma parfum maskulinnya yang mahal semakin menguar kuat, menciptakan atmosfer intim yang penuh tekanan namun anehnya terasa melindungi.
"Perusahaan rintisan yang didirikan oleh Rian Mahardika itu," lanjut Vion, suaranya turun satu oktaf menjadi lebih dingin dan berbahaya, "yang siang ini diagung-agungkan di hadapan media massa berkat suntikan dana triliunan dari keluarga Mahardika, sebenarnya beroperasi di atas kerangka sistem teknologi dan portofolio pendanaan yang berada dalam lingkaran pengaruh konsorsiumku."
Alesha tertegun. Matanya membelalak.
"Rian hanyalah seekor tikus got yang kebetulan menemukan sepotong keju busuk di tempat sampah dan mengira dirinya adalah raja singa," desis Vion. "Aku sudah lama mengawasi pergerakan keuangan Vantec karena ada kejanggalan dalam audit internal mereka. Paten kode yang kau buat dijual Rian tanpa izinmu."
Darah Alesha berdesir dingin.
"Dan ketika aku melihat pria itu dengan lancang mencampakkan wanita yang merancang seluruh fondasi suksesnya di hari pernikahannya sendiri, aku tahu bahwa saat itu adalah waktu yang tepat untuk menjatuhkan palu eksekusi."
Penjelasan itu membuka semua kepingan puzzle di kepala Alesha. Jadi ini bukan kebetulan, Vion memang mengincar Rian sejak lama.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Alesha, menatap lurus ke dalam manik mata Vion tanpa gentar. "Katakan harga yang harus kubayar untuk bantuanmu tadi."
Vion terdiam sejenak. Ia menikmati ketegasan mental wanita di hadapannya, tanpa isak tangis, tanpa drama, yang ada hanya bara api dendam yang sama besarnya dengan ambisinya.
Pria itu kemudian membuka laci kecil di antara jok mobil, mengeluarkan bukan cek atau dokumen bisnis, melainkan sebuah kotak beludru hitam kecil dan sebuah map dokumen kulit hitam berlambang emas.
Jantung Alesha berdegup kencang.
Vion membuka kotak beludru itu. Di dalamnya bukan kalung berlian, melainkan sebuah Black Card tak terbatas dengan nama Alesha Zahra yang sudah terukir di atasnya.
Ia kemudian membuka map dokumen tersebut. Di halaman pertama tertulis dengan huruf kapital yang besar: AKTA PERJANJIAN PERNIKAHAN.
Alesha menahan napas.
"Rian membuangmu karena dia pikir kau wanita biasa yang tidak punya status dan harta," bisik Vion, suaranya begitu dekat di telinga Alesha hingga napas hangat pria itu menerpa kulit leher Alesha yang dingin karena hujan. "Maka malam ini juga, aku akan membuatmu menjadi wanita yang bahkan untuk menatap sepatumu pun, keluarga Mahardika harus berlutut dan meminta izin."
Alesha gemetar, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin.
"Menikahlah denganku, Alesha."
Kalimat itu meluncur seperti petir di tengah keheningan mobil.
"Kontrak satu tahun. Kau butuh status dan kekuasaan untuk menghancurkan Rian dan Clarissa sampai ke akar-akarnya. Aku butuh seorang istri untuk membungkam dewan direksi dan Nyonya Besar di keluargaku yang terus mendesakku menikah."
Vion mendorong dokumen itu ke pangkuan Alesha bersama sebuah pulpen Montblanc seberat emas.
"Dengan ini, kau akan mendapatkan seluruh Grup Vion sebagai senjata balas dendammu. Modal tak terbatas, perlindungan mutlak, dan kursi kepemimpinan tertinggi yang kau inginkan."
Hujan di luar semakin deras, menghantam atap mobil. Di dalam, waktu seolah berhenti.
Alesha menatap Akta Perjanjian itu, menatap Black Card itu, lalu menatap Vion. Pria ini gila, tawarannya gila, dan ini sangat berbahaya.
Tetapi bayangan senyuman sinis Nyonya Listia, tawa kemenangan Clarissa dalam gaun merahnya, dan kalimat kejam Rian, 'Kau hanya masa lalu yang tidak berguna' kembali berkelebat di benaknya, membakar habis sisa keraguannya.
Jika ia kembali menjadi Alesha yang lemah malam ini, ia akan kalah selamanya. Jika ia menandatangani ini, ia akan menjadi ratu.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena dingin dan emosi, Alesha mengambil pulpen itu.
"Aku terima," ucapnya dengan suara rendah namun tegas, tanpa air mata.
Goresan tanda tangan Alesha Zahra membelah keheningan kabin.
Saat tinta terakhir selesai, Vion tersenyum, senyum kemenangan yang puas, senyum seorang iblis yang baru saja mendapatkan ratunya yang paling berharga.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Vion melepas jas hitam mahalnya yang masih hangat oleh suhu tubuhnya, lalu menyelimutkan jas itu ke bahu Alesha yang basah kuyup dan menggigil. Aroma tubuh Vion langsung memeluk Alesha.
"Mulai detik ini," bisik Vion sambil menarik Alesha lebih dekat ke dalam pelukannya, menatap lurus ke depan saat mobil melaju menuju Gedung Pencatatan Sipil yang lampunya masih menyala terang untuk kalangan VVIP. "Kau adalah Nyonya Vion. Dan besok pagi, aku pastikan berita pernikahan kita ada di semua headline berita ekonomi dan gosip. Biar Rian Mahardika tahu, pengantin wanita yang ia buang kemarin karena dianggap miskin, hari ini telah menjadi istri dari pemilik hotel tempat ia mengadakan pesta sampahnya itu."
Mobil hitam itu menghilang di balik derasnya hujan kota, membawa serta seorang wanita yang baru saja menjual luka hatinya untuk membeli sebuah kerajaan balas dendam.