Bayu hanyalah siswa SMA miskin sebatang kara yang terpaksa memancing di sungai setiap sore agar perutnya bisa diisi makanan.
Nasib malangnya berubah total saat sebuah sambaran petir misterius menyatukan tubuhnya dengan sebuah batu kali yang mendadak berubah menjadi batu giok hijau yang bercahaya.
Batu ajaib itu langsung menjejalkan ribuan pengetahuan tabib dewa dan ilmu pengobatan kuno ke dalam kepalanya, sekaligus memancarkan aura pemikat yang membuat wanita mana pun tak berdaya di dekatnya.
Kini, berbekal ilmu medis di luar nalar dan pesona mematikan, Bayu siap membungkam para murid kaya yang sering menghinanya dan membangun jalan pintas menuju puncak dunia kedokteran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Ruang Persiapan Biologi
Wajah Kevin merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.
Urat-urat di lehernya menonjol keluar saat dia menatap Bayu dengan tatapan membunuh.
"Berani banget lo panggil gue sampah, gembel babi!" maki Kevin dengan suara lantang.
Dua teman Kevin yang bertubuh lebih besar langsung mengambil langkah maju, bersiap mengeroyok Bayu.
Murid-murid lain di kelas menahan napas, ada yang menutup mata karena takut melihat Bayu dihajar habis-habisan.
Wush!
Tanpa aba-aba, kepalan tangan kanan Kevin melayang deras mengarah tepat ke rahang Bayu.
Pukulan itu cukup keras untuk membuat hidung atau rahang seseorang patah jika terkena telak.
Namun, di mata Bayu saat ini, gerakan Kevin terasa sangat lambat dan penuh dengan celah.
Pengetahuan anatomi dan titik saraf dari giok hijau secara otomatis memetakan jalur serangan Kevin di kepala Bayu.
Bayu hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kiri.
Bruk.
Angin dari pukulan Kevin hanya menyapu ujung rambut Bayu tanpa menyentuh kulitnya sama sekali.
Kevin melebarkan matanya terkejut karena serangannya meleset total.
Sebelum Kevin sempat menarik tangannya, Bayu sudah bergerak lebih dulu.
Tangan kiri Bayu melesat ke depan, jari telunjuk dan tengahnya merapat kaku seperti besi.
Tuk!
Bayu menusuk pelan sebuah titik saraf yang terletak tepat di bawah ketiak kanan Kevin.
Gerakannya terlihat sangat santai, nyaris seperti orang yang sedang mencolek temannya.
Namun, efek yang ditimbulkan sungguh mengerikan.
"Aaaarghhh!" teriak Kevin dengan suara melengking yang menyayat hati.
Bruk!
Kevin langsung ambruk ke lantai, jatuh berlutut sambil memegangi lengan kanannya yang tiba-tiba lumpuh total.
Rasa sakit yang luar biasa menyengat dari ujung jari hingga ke pangkal lehernya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk tulangnya.
Air mata dan ingus Kevin langsung keluar tanpa bisa ditahan.
"Tangan gue! Tangan gue patah! Sakit banget bangsat!" erang Kevin berguling-guling di lantai kelas.
Seluruh murid di ruangan itu terdiam kaku, rahang mereka nyaris jatuh ke lantai.
Tidak ada yang mengerti apa yang baru saja terjadi.
Mereka hanya melihat Bayu menghindari pukulan, lalu menyentuh ketiak Kevin pelan, dan anak orang kaya itu langsung tumbang menangis.
Dua teman Kevin yang tadinya mau menyerang kini melangkah mundur dengan wajah pucat pasi.
Mereka menatap Bayu seolah sedang melihat hantu.
"Tanganmu tidak patah, itu hanya kram otot sementara karena postur pukulanmu yang salah," ucap Bayu dengan nada datar.
Bayu menatap rendah pada Kevin yang masih merintih kesakitan di lantai.
"Lain kali, jangan bertingkah sok jagoan kalau tubuhmu serapuh itu," tambah Bayu dingin.
Di barisan tengah, Natasha menatap kejadian itu dengan mata berbinar-binar.
Jantung gadis cantik itu berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
"Dia tahu titik lemah otot manusia? Sejak kapan cowok cupu ini jadi sekeren itu?" batin Natasha penuh rasa penasaran.
Tap... tap... tap...
Suara langkah sepatu hak tinggi terdengar memasuki kelas, memecah keheningan yang mencekam.
Wali kelas mereka masuk dan langsung terkejut melihat Kevin berguling-guling di lantai sambil menangis.
"Astaga, ada apa ini? Kevin, kenapa kamu di lantai?" tanya wali kelas panik.
"Bayu, Bu! Bayu matahin tangan saya! Sakit banget, Bu!" adu Kevin sambil menunjuk Bayu dengan tangan kirinya yang gemetar.
Wali kelas menatap Bayu dengan garang, bersiap memberikan hukuman.
Namun, sebelum guru itu berbicara, Natasha tiba-tiba berdiri dari kursinya.
"Maaf, Bu. Tadi Kevin tersandung kakinya sendiri saat mau memukul Bayu," ucap Natasha dengan suara jernih.
"Bayu sama sekali tidak memukul Kevin, semua orang di kelas ini bisa bersaksi kok," lanjut gadis paling populer itu dengan senyum manis.
Murid-murid lain yang takut pada pengaruh keluarga Natasha langsung mengangguk setuju secara serempak.
Wali kelas menghela napas panjang, tidak berani mendebat Natasha.
"Bawa Kevin ke UKS sekarang, dan kalian semua kembali ke tempat duduk!" perintah wali kelas.
Bayu melirik ke arah Natasha, sedikit terkejut karena gadis sombong itu mau membelanya.
Natasha membalas tatapan Bayu, lalu memberikan kedipan mata singkat yang sangat menggoda.
Bayu hanya membuang muka dan duduk kembali ke bangkunya dengan tenang.
Dia tidak peduli dengan permainan anak-anak seperti ini.
Tiga jam pelajaran berlalu dengan cepat, dan bel istirahat akhirnya berbunyi.
Kringgg!!!
Saat Bayu merapikan buku-bukunya, seorang siswi dari kelas lain muncul di ambang pintu kelas.
"Permisi, Bayu ada? Kamu dipanggil Bu Rina ke ruang persiapan biologi sekarang," ucap siswi itu.
Bayu mengerutkan keningnya pelan.
Ruang persiapan biologi adalah ruangan tertutup di belakang laboratorium yang jarang didatangi murid.
"Baik, aku ke sana sekarang," jawab Bayu.
Bayu berjalan melewati koridor yang ramai menuju laboratorium biologi di sayap kiri gedung sekolah.
Pikirannya mencoba menebak alasan guru cantik itu memanggilnya secara privat.
Sesampainya di depan pintu kayu bertuliskan Ruang Persiapan, Bayu mengetuk perlahan.
Tok... tok...
"Masuk, pintunya tidak dikunci," terdengar suara lembut Bu Rina dari dalam.
Cklek.
Bayu membuka pintu dan melangkah masuk.
Ruangan itu tidak terlalu luas, dipenuhi lemari kaca berisi spesimen dan botol-botol bahan kimia.
Udaranya terasa sedikit pengap karena pendingin ruangan sepertinya sedang rusak.
Bu Rina duduk di atas meja kerjanya di sudut ruangan, kakinya yang jenjang dan berbalut stoking hitam menyilang dengan anggun.
Kemeja kerjanya terlihat sedikit basah oleh keringat di bagian kerah dan dada.
Begitu Bayu menutup pintu, aroma maskulin dari tubuhnya langsung memenuhi ruangan sempit itu.
Aura pemikat dari giok hijau bereaksi jauh lebih liar di dalam ruang tertutup.
Napas Bu Rina seketika tercekat.
Wajah guru muda itu langsung berubah merah padam muda, persis seperti saat mereka bertabrakan di koridor pagi tadi.
"Ibu memanggil saya?" tanya Bayu sopan, berdiri sekitar satu meter dari meja kerja Bu Rina.
"Eh... i-iya, Bayu. Duduklah di kursi itu," jawab Bu Rina terbata-bata, suaranya terdengar sedikit serak.
Bu Rina menunjuk kursi kayu di depan mejanya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Bayu duduk, tatapannya menyapu wajah gurunya yang terlihat tidak sehat.
Dengan penglihatan tabib dewanya, Bayu bisa melihat aliran darah Bu Rina berdetak sangat cepat di lehernya.
Suhu tubuh wanita itu juga meningkat drastis.
"Ibu ingin membicarakan soal... soal nilai ulangan biologimu minggu lalu," ucap Bu Rina sambil mengambil sebuah map, mencoba mengalihkan pandangan.
Namun, mata Bu Rina terus mencuri pandang ke arah lengan berotot dan dada bidang Bayu di balik seragamnya.
Hawa panas di perut bagian bawah Bu Rina kembali bergejolak, kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Dia merasakan sesuatu yang basah merembes di balik pakaian dalamnya, membuatnya sangat malu sekaligus tersiksa.
"Nilai saya kenapa, Bu? Apakah saya tidak lulus?" tanya Bayu pura-pura tidak menyadari kondisi gurunya.
"Bu-bukan begitu. Nilaimu sempurna, tapi..."
Bu Rina tiba-tiba menghentikan ucapannya, meremas ujung roknya kuat-kuat.
Napasnya semakin memburu, dadanya yang penuh naik turun dengan cepat.
Pikiran kotor yang tidak masuk akal tiba-tiba memenuhi kepala guru itu.
"Maaf, Bu, tapi wajah Ibu terlihat sangat pucat dan Ibu berkeringat banyak," potong Bayu dengan nada khawatir yang dibuat-buat.
Bayu berdiri dari kursinya dan melangkah maju mendekati meja kerja Bu Rina.
Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa jengkal.
Aroma tubuh Bayu menghantam indra penciuman Bu Rina seperti candu yang memabukkan.
"Ibu tidak apa-apa, Bayu. Mungkin karena AC di ruangan ini mati," elak Bu Rina, mencoba mundur namun punggungnya sudah menyentuh lemari di belakang meja.
"Jangan berbohong, Bu. Detak jantung Ibu terlalu cepat, ini bisa berbahaya."
Tanpa meminta izin, Bayu mengangkat tangan kanannya dan menggenggam pergelangan tangan Bu Rina.
Jari-jari Bayu menekan titik nadi di pergelangan tangan wanita itu.
Deg!
Tubuh Bu Rina langsung menegang hebat.
Sentuhan kulit Bayu terasa sangat panas, mengalirkan gelombang listrik yang langsung menghancurkan pertahanan akalnya.
Lutut Bu Rina mendadak lemas, dan jika dia tidak duduk di atas meja, dia pasti sudah jatuh ke lantai.
"Ah..."
Sebuah desahan pelan tanpa sadar lolos dari bibir merah Bu Rina.
Mata guru muda itu terlihat sayu, menatap wajah tampan muridnya dengan hasrat yang tidak bisa lagi disembunyikan.
Tangan kiri Bu Rina secara refleks bergerak naik, mencengkeram lengan baju Bayu erat-erat seolah mencari pegangan.
"Bayu... tubuh Ibu... aneh rasanya," bisik Bu Rina dengan suara yang sangat pelan dan menggoda.
Bayu menatap mata gurunya dengan tatapan tenang yang mematikan.
Giok di telapak tangannya berdenyut pelan, menyerap energi ketegangan di ruangan itu.
"Ibu sepertinya sedang demam tinggi," bisik Bayu tepat di depan wajah Bu Rina, jarak bibir mereka nyaris bersentuhan.
"Mau saya bantu menyembuhkannya di sini?" tanya Bayu dengan senyum miring yang sangat memikat.