NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Sang Don

Di Balik Topeng Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: LORD KING

Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.

Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.

Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Pertama

Alena Kirana sudah mengunjungi banyak rumah orang kaya selama enam tahun kariernya sebagai psikolog anak. Rumah-rumah dengan lift pribadi, kolam renang di lantai dua puluh, atau ruang bermain seluas apartemen studio. Tapi tidak ada satu pun yang membuat tengkuknya meremang seperti penthouse keluarga Subroto.

Bukan karena kemewahannya — meski itu juga tak terbantahkan. Ada sesuatu yang lain. Empat pria berjas hitam berdiri di lobi bawah, tidak berpura-pura menjadi satpam biasa. Mereka menatapnya seperti sedang memindai setiap inci tubuhnya untuk mencari senjata tersembunyi, sebelum akhirnya salah satu dari mereka mengangguk singkat dan mempersilakannya masuk ke lift privat.

Ia sempat mencari nama "Luki Subroto" di internet malam sebelumnya, dan hanya menemukan sedikit — profil perusahaan ekspor-impor yang terlalu rapi untuk terasa nyata, beberapa foto di acara amal, dan satu artikel lama yang buru-buru dicabut tentang "dugaan keterkaitan keluarga Subroto dengan jaringan distribusi ilegal di pelabuhan utara" yang tidak pernah ditindaklanjuti oleh media manapun.

Pintu lift terbuka di lantai tiga, dan yang menyambutnya bukan penjaga berjas hitam, melainkan seorang anak laki-laki kecil berkacamata bulat, berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatapnya dengan ekspresi yang jauh lebih kritis dari yang seharusnya dimiliki anak berusia enam tahun.

"Kamu psikolognya?" tanya Indra, tanpa basa-basi.

"Iya. Namaku Alena." Ia berjongkok agar sejajar dengan mata anak itu, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan pada klien-klien kecilnya. "Kamu pasti Indra."

"Aku udah baca profil LinkedIn kamu, jurnal penelitianmu tentang anak gifted tahun 2023, dan dua wawancara podcast yang kamu isi." Indra menyipitkan mata, seperti sedang menilai. "Kamu kelihatannya lumayan pintar. Tapi psikolog sebelumnya juga kelihatan pintar, terus dia nyoba kasih aku puzzle anak umur delapan tahun."

Alena menahan senyum. Ini bukan wawancara kerja biasa — ini adalah ujian, dan penilainya baru berusia enam tahun. "Aku nggak bawa puzzle. Aku cuma mau ngobrol."

"Ngobrol tentang apa?"

"Tentang apa aja yang kamu mau."

Ekspresi kritis Indra melunak sedikit, digantikan oleh sesuatu yang mirip keheranan yang tulus. Belum pernah ada orang dewasa yang menawarkan itu padanya — kebanyakan dari mereka datang dengan agenda: menguji, mengevaluasi, mengukur seberapa jauh otaknya bisa dipacu.

"Ayah lagi di ruang kerja," kata Indra akhirnya, berbalik dan berjalan di depannya tanpa menunggu. "Katanya dia mau ketemu kamu dulu sebelum aku."

Ruang kerja Luki Subroto adalah satu-satunya bagian dari penthouse itu yang terasa seperti kelanjutan dari dunianya yang lain — dinding kayu gelap, rak buku yang tersusun rapi seperti dijejer dengan penggaris, dan satu-satunya foto yang terpajang di meja: Indra bayi, digendong oleh seorang wanita berambut cokelat panjang yang wajahnya tak lagi Alena kenali dari pemberitaan manapun.

Luki berdiri saat ia masuk, mengulurkan tangan dengan sopan formal yang terasa dilatih, bukan alami. "Terima kasih sudah mau datang, Bu Alena."

"Tolong panggil saya Alena saja." Ia menjabat tangannya, dan sesaat merasakan sesuatu yang aneh — genggaman itu kuat, terkontrol, tapi ada ketegangan tipis di baliknya, seperti seseorang yang menahan diri untuk tidak meremas terlalu keras.

Mereka duduk berhadapan. Luki tidak langsung bicara. Ia menatap Alena lama, seperti sedang menghitung sesuatu — kredibilitasnya, mungkin, atau apakah ia bisa dipercaya.

"Saya akan langsung terus terang," kata Luki akhirnya. "Bisnis saya rumit. Saya punya musuh. Saya butuh seseorang yang bisa dipercaya di dekat anak saya, bukan sekadar seseorang yang bisa membaca hasil tes IQ-nya."

"Boleh saya tahu jenis bisnis apa yang bisa membuat orang se-khawatir ini soal keselamatan anaknya sendiri?" Alena bertanya, mencoba terdengar profesional meski jantungnya mulai berdegup lebih cepat.

Sudut bibir Luki naik sedikit — bukan senyum, lebih seperti pengakuan diam bahwa pertanyaan itu wajar diajukan. "Ekspor-impor. Dengan kompetisi yang... agresif."

Alena tahu itu bukan seluruh kebenaran. Tapi ada sesuatu di matanya — bukan kelicikan seperti yang biasa ia lihat pada klien-klien kaya yang menyembunyikan sesuatu, melainkan kelelahan yang jujur, kelelahan seorang ayah yang sedang berusaha melindungi satu-satunya hal yang benar-benar penting baginya.

"Saya tidak akan bertanya lebih jauh soal bisnis Anda," katanya akhirnya, memilih jalan yang lebih aman. "Fokus saya adalah Indra. Dan dari lima menit tadi, saya sudah bisa bilang: anak Anda tidak butuh terapi kognitif tambahan. Ia butuh teman. Ia butuh seseorang yang mau mendengarkan tanpa menilai seberapa jenius jawabannya."

Sesuatu di wajah Luki berubah — sesuatu yang halus, hampir tak kasat mata, tapi Alena yang terlatih membaca ekspresi mikro langsung menangkapnya. Lega. Murni lega, seperti seseorang yang baru saja mendengar diagnosis yang selama ini ia takutkan ternyata jauh lebih ringan dari bayangannya.

"Saya akan bayar berapa pun tarif Anda," kata Luki.

"Saya belum bilang saya menerima," Alena menjawab, sedikit tersenyum, mencoba mencairkan ketegangan di ruangan itu.

"Tapi Anda akan menerima," kata Luki, bukan sebagai pertanyaan.

"Kenapa Anda begitu yakin?"

"Karena saya lihat cara Anda menatap foto di meja saya barusan," jawab Luki, tenang, "dan saya lihat cara Indra menatap Anda di lift tadi lewat kamera pengawas. Dia jarang membiarkan orang bicara lebih dari satu kalimat sebelum dia menyerangnya dengan pertanyaan susulan. Dengan Anda, dia diam. Itu artinya sesuatu."

Alena terdiam. Ada sesuatu yang mengganggu tentang seorang ayah yang mengamati anaknya lewat kamera pengawas alih-alih berdiri di sampingnya — tapi juga ada sesuatu yang menyentuh tentang seberapa detail ia memperhatikan reaksi kecil anaknya, seolah setiap gestur Indra adalah data penting yang harus dianalisis demi keselamatannya.

"Baik," katanya akhirnya. "Saya akan mulai minggu ini. Tapi dengan satu syarat."

"Sebutkan."

"Saya ingin sesi pertama tanpa pengawasan Anda. Tidak ada kamera, tidak ada orang berjas hitam di pintu. Hanya saya dan Indra."

Keraguan tampak jelas di wajah Luki — bukan keraguan soal profesionalitasnya, melainkan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang terasa seperti ketakutan seorang ayah yang tak pernah benar-benar bisa melepaskan kendali atas keselamatan anaknya, bahkan untuk satu jam sekalipun.

Tapi kemudian ia mengangguk, pelan, seperti sedang menandatangani sesuatu yang lebih berat dari kontrak bisnis manapun.

"Baik," katanya. "Satu jam. Tapi Bram akan berdiri di luar pintu."

"Adil," jawab Alena, ia merasa mungkin — hanya mungkin — pekerjaan ini akan jauh lebih rumit dari sekadar mendampingi anak jenius yang kesepian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!