NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT 2

PELET LAKNAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.

Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.

Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.

PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AMARAH DI BUKIT CEMARA

# PELET LAKNAT 2

## Bab 3: Amarah di Bukit Cemara

Jaka terdiam cukup lama, menatap kosong ke arah gelas kopinya yang kini mulai mendingin. Di lubuk hatinya yang terdalam, sisa-sisa rasa takut akan dosa dan kualat masih menahan nuraninya agar tidak melangkah terlalu jauh menyeberangi batas.

"Nggak deh, Ki... aku masih punya iman," sahut Jaka sambil menggeleng tegas. "Masa cuma gara-gara cewek aku sampai harus main ilmu hitam segala? Nggak, aku nggak mau."

Kiki menghela napas panjang, lalu mengangkat kedua tangannya menyerah. "Ya sudah, kalau kamu nggak mau, aku kan di sini posisinya cuma kasih saran. Daripada kamu mengurung diri terus di kamar kayak orang frustrasi, mending ikut aku jalan-jalan sebentar ke luar. Cari angin, biar pikiranmu agak segar dan nggak suntuk."

Sempat ragu sejenak, Jaka akhirnya mengangguk pelan. Kiki benar, ia memang butuh udara segar untuk mengalihkan pikirannya yang sedang kacau balau.

Kedua pemuda itu pun mulai melangkah menyusuri jalanan kampung yang remang-remang diterangi cahaya senja. Namun, baru saja mereka tiba di pertigaan dekat lapangan, langkah keduanya mendadak terhenti.

Dari arah berlawanan, tampak Dea tengah berjalan berdampingan dengan seorang pemuda berpakaian rapi dan berparas tampan. Gelak tawa renyah keluar begitu leluasa dari bibir Dea saat mendengarkan obrolan pemuda itu—sebuah pemandangan hangat dan penuh keakraban yang tak pernah sekalipun Jaka dapatkan.

"Ssshh... Jak, tunggu, tunggu!" ujar Kiki mendadak, menahan dada Jaka dengan bentangan tangannya.

Jaka tersentak kaget karena langkahnya dihentikan secara tiba-tiba. "Ada apa sih, Ki?" tanya Jaka heran.

"Kamu lihat deh ke depan sana! Bukannya itu si Dea? Sama siapa dia?" bisik Kiki seraya mengarahkan dagunya menunjuk ke arah Dea dan pemuda itu yang berjalan makin mendekat.

"Mana sih? Aku nggak lihat," dengus Jaka sambil menyipitkan mata menembus keremangan.

"Itu... tuh, yang lagi jalan ke arah sini! Masa segede gitu kamu nggak lihat, sih?" tunjuk Kiki mulai gemas.

Dada Jaka seketika bergemuruh hebat saat matanya berhasil menangkap sosok yang dimaksud. Rasa cemburu langsung naik ke ubun-ubun, membakar matanya hingga memerah menahan marah. Tanpa berpikir panjang lagi, Jaka melangkah lebar memotong jalan, menghadang tepat di hadapan Dea dan Dodi.

"Dea!" panggil Jaka dengan nada suara tertahan namun sangat tajam.

Langkah Dea dan Dodi terhenti seketika. Dea mengernyitkan dahi, raut wajahnya yang tadi ceria seketika berubah risih dan sangat tidak suka melihat kehadiran Jaka yang tiba-tiba merusak suasana.

"Ada apa lagi sih, Kak Jaka?" tanya Dea dengan nada sedingin es.

"Siapa dia, Dea?! Semalam kamu nolak aku dengan alasan belum mau pacaran, tapi sekarang kamu malah enak-enakan jalan sama cowok lain?!" cerca Jaka dengan napas memburu, telunjuknya mengarah kasar ke wajah Dodi.

Dodi yang tidak terima wajahnya ditunjuk-tunjuk langsung bergeser, memasang badan menutupi Dea. "Heh, santai dong, Bro! Lu siapa main bentak-bentak Dea di pinggir jalan begini?"

"Diam kamu! Ini urusan aku sama Dea, orang luar nggak usah ikut campur!" gertak Jaka, urat lehernya mulai bermunculan.

"Kak Jaka, cukup!" potong Dea tegas. Matanya menatap Jaka dengan sorot tajam yang menusuk. "Kak Dodi ini teman aku. Mau aku jalan sama siapa pun, itu jelas bukan urusan Kak Jaka! Tolong jangan bersikap kekanak-kanakan!"

"Dea, aku bisa antar kamu pulang sekarang. Ayo, pulang sama aku!" Jaka menurunkan nadanya, mencoba memohon seraya meraih tangan gadis itu.

Namun dengan cepat dan kasar, Dea menepis tangan Jaka.

"Nggak mau! Aku lebih milih pulang sama Kak Dodi daripada sama Kak Jaka yang makin lama makin nggak jelas!" ketus Dea pedas. Tanpa ragu sedikit pun, ia secara spontan menggandeng erat lengan Dodi di hadapan Jaka. "Yuk, Kak Dodi, kita jalan aja. Malas ngelayanin orang nggak waras."

"Ayo, Dea," sahut Dodi, melirik sinis dan meremehkan ke arah Jaka sebelum melangkah pergi meninggalkan pertigaan tersebut.

Jaka terpaku kaku di tempatnya berdiri. Hatinya yang semalam sudah hancur, kini seolah dihantam godam raksasa hingga luluh lantak tak tersisa. Rasa malu karena disaksikan Kiki, cemburu yang membutakan logika, dan rasa hina ditolak terang-terangan demi lelaki lain membuat kewarasannya terbakar habis.

Kiki melangkah mendekat, lalu menepuk pelan bahu Jaka yang masih gemetaran hebat menahan amarah yang teramat sangat.

"Kalau aku jadi kamu, Jak... nggak bakal kubiarkan harga diriku diinjak-injak sampai hancur di depan cowok tengil itu. Pasti bakal kuberi pelajaran dia!" bisik Kiki dengan tatapan tajam, masih lurus menatap punggung Dea dan Dodi yang makin menjauh ditelan bayang malam.

"Kamu benar, Ki! Aku nggak bisa terus-terusan dipermainkan seperti ini!" geram Jaka, suaranya bergetar sarat akan dendam kesumat.

"Terus, langkah apa yang mau kamu ambil buat menyingkirkan si cunguk itu?" tanya Kiki, terus menyiram bensin ke dalam kobaran emosi sahabatnya.

Jaka termenung sejenak, memutar otaknya yang sudah diselimuti kegelapan demi mencari cara paling pas untuk membalas dendam.

"Gimana kalau kita beri pelajaran si cunguk itu malam ini juga? Kita jegal dia di dekat pohon cemara di atas bukit sana. Di situ jalannya sepi dan gelap. Kita tungguin pas dia balik arah habis mengantar Dea. Gimana?" usul Jaka dengan senyum miring yang mengerikan.

Kiki menyeringai lebar. "Oke, siap! Demi sahabat, aku rela berkorban!"

"Makasih, Ki. Ya sudah, kita langsung jalan ke bukit itu sekarang sebelum dia keburu lewat!" ajak Jaka mantap. Ia melangkah cepat menembus keremangan senja yang kini sepenuhnya memudar.

Waktu berlalu. Senja telah sepenuhnya tenggelam, berganti menjadi malam pekat yang mencekam. Angin berembus cukup kencang dari arah lembah bukit, membuat dahan-dahan pohon cemara bergoyang tak beraturan, menimbulkan suara gesekan daun yang terdengar mengerikan bagai rintihan. Di balik rimbunnya semak-semak, tak jauh dari jalan setapak bukit yang sunyi, Jaka dan Kiki sudah bersiaga dalam persembunyian.

Kedua tangan Jaka mengepal kuat. Setiap detakan jantungnya berpacu cepat, diiringi oleh rasa cemburu dan amarah yang belum juga padam.

"Sialan! Ke mana sih orang itu? Kok nggak muncul-muncul juga?" gerutu Jaka mulai kehilangan kesabaran. "Rokokku sudah mau habis satu bungkus, tapi belum kelihatan juga batang hidungnya!"

"Sudahlah, Jak! Sabar sedikit, tungguin aja demi Dea. Mungkin sebentar lagi dia lewat," sahut Kiki mencoba menenangkan, meski ia sendiri mulai gelisah.

"Iya, tapi mau sampai kapan?! Habis darahku disedot nyamuk gara-gara nungguin si cunguk itu!" dengus Jaka sambil menepuk lengannya dengan kasar.

"Ingat, Jak! Yang namanya niat besar itu pasti butuh pengorbanan," balas Kiki sok bijak.

"Diam kamu, Ki! Berisik!" sergah Jaka menahan emosi.

Jaka pun mulai tak menghiraukan Kiki lagi. Matanya terus celingukan menatap tajam bak predator ke arah jalanan setapak yang gelap gulita, tak mau sampai mangsanya lepas dari pandangannya sedetik pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!