NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Pelayan restoran kembali ke meja nomor empat belas dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati, seolah-olah ia sedang melangkah di atas ladang ranjau yang siap meledak kapan saja. Di atas nampan perak, tersaji dua cangkir kopi hitam pekat beruap tipis dan sepiring kecil macaron berwarna-warni yang kontras dengan ketegangan di antara dua orang tamu terhormat tersebut. Setelah meletakkan pesanan dengan cepat dan membungkuk hormat, pelayan itu segera mundur menjauh, meninggalkan Alexander dan Keisha dalam keheningan yang kembali pekat.

Keisha tidak sedikit pun berniat menyentuh makanan atau minuman yang disajikan. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke arah sang CEO dengan tatapan menuntut. Suasana hati Keisha sudah teraduk-aduk oleh arogansi pria di depannya, namun ia sadar bahwa ia tidak memiliki kemewahan untuk membatalkan pertemuan ini. Utang butiknya di bank sudah menanti jatuh tempo minggu depan, dan hanya keluarga Ar-Rasyid yang memiliki kekuatan finansial instan untuk menyelamatkan kerja kerasnya selama bertahun-tahun.

"Jadi, Tuan Ar-Rasyid," buka Keisha, memecah keheningan dengan nada suara yang sengaja dibuat setenang mungkin. "Anda bilang ingin membuat kontrak. Mari kita bicarakan persyaratannya sekarang sebelum malam semakin larut. Saya tidak punya banyak waktu luang untuk drama bisnis keluarga Anda."

Alexander menyesap kopi hitamnya perlahan. Matanya yang gelap menatap tajam ke arah Keisha dari balik cangkir porselen putih, menikmati setiap detik ketidaksabaran yang terpancar jelas dari raut wajah wanita itu. Bagi Alex, melihat Keisha gelisah namun tetap berusaha keras memasang topeng ketegaran adalah sebuah tontonan yang sangat adiktif. Pria itu meletakkan kembali cangkirnya ke atas piring kecil dengan bunyi dentingan yang halus namun tegas.

"Kau sangat terburu-buru, Nona Pramesti," balas Alex dengan nada rendah yang dingin. "Padahal kita baru saja mulai mengenal satu sama lain. Tapi, baiklah. Jika kau memang ingin segera membahas pasal-pasal yang akan membatasi hidupmu selama satu tahun ke depan, saya dengan senang hati akan membeirkan garis besarnya."

Alex merogoh saku jas bagian dalamnya, lalu mengeluarkan sebuah tablet tipis berwarna hitam legam. Ia mengetuk layar beberapa kali sebelum mendorong benda bercahaya itu meluncur di atas meja kaca, tepat berhenti di hadapan Keisha.

Keisha mengernyitkan dahi. Ia menatap tablet tersebut, lalu mendongak menatap Alex dengan rasa curiga yang mendalam. "Apa ini?"

"Draft awal perjanjian pranikah dan kontrak pernikahan selama dua belas bulan ke depan," jawab Alex santai, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil melipat tangan di dada. "Bacalah dengan teliti. Di dalam sana sudah tercantum seluruh hak dan kewajiban kita berdua selama status 'suami istri' itu melekat pada nama kita."

Dengan gerakan ragu, Keisha menarik tablet itu mendekat kepadanya. Jarinya menyentuh layar, menggulir dokumen digital yang berisi pasal demi pasal dengan cetakan hukum yang sangat rapi dan formal. Semakin jauh ia membaca, semakin lebar pula mata indahnya terbuka karena terkejut. Darahnya kembali berdesir naik ke kepala, membuat emosinya nyaris meledak saat itu juga.

"Pasal tiga ayat dua: Pihak kedua (Keisha Azalea Pramesti) wajib mendampingi Pihak pertama (Alexander Ar-Rasyid) dalam setiap acara formal keluarga maupun korporat kapan pun dibutuhkan tanpa pengecualian," baca Keisha dengan suara tertahan, membaca keras salah satu poin sambil mengangkat kepalanya menatap Alex tajam. "Apa-apaan ini? Kau pikir aku ini aksesori pakaian yang bisa kau bawa ke mana-mana sesuka hatimu?!"

Alex tidak bergeming sedikit pun. Wajahnya tetap datar, menyembunyikan senyum kemenangan yang hampir terukir di sudut bibirnya. "Itu adalah konsekuensi logis, Keisha. Di depan publik, kita harus terlihat seperti pasangan pengantin baru yang berbahagia. Keluargaku tidak akan menerima alasan apapun jika ada gosip miring tentang keretakan rumah tangga kita yang bisa menjatuhkan harga diri perusahaan."

Keisha mendengus keras, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia melanjutkan gulirannya ke pasal berikutnya, dan emosinya semakin membara.

"Lalu ini... Pasal lima ayat empat: Pihak kedua dilarang mencampuri urusan pribadi Pihak pertama, dilarang memasuki ruang kerja pribadi di rumah tanpa izin, dan wajib menjaga jarak emosional demi menghindari keterikatan batin selama masa kontrak berlangsung," lanjut Keisha membaca dengan nada sarkastik yang kental. Ia meletakkan tablet itu kembali ke depan Alex dengan sedikit dorongan kasar. "Wah, luar biasa sekali, Tuan Ar-Rasyid. Kau ingin aku menjadi boneka pajangan di siang hari, tapi sekaligus menjadi patung es yang tidak terlihat di malam hari? Betapa egoisnya aturan hidupmu!"

Mendengar reaksi keras tersebut, Alex justru menegakkan duduknya. Tatapannya berubah menjadi jauh lebih intens, mengunci pergerakan Keisha dalam kungkungan aura dominasinya. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya ke arah Keisha hingga jarak di antara mereka menjadi begitu tipis. Keisha bahkan bisa mencium aroma parfum maskulin beraroma cedarwood dan mint yang menguar dari tubuh sang CEO, membuat jantungnya berdegup kencang bukan karena cinta, melainkan karena rasa terancam yang luar biasa.

"Aturan itu kubuat demi kebaikanmu sendiri, Nona Pramesti," bisik Alex dengan suara bariton yang berat dan menghanyutkan. "Pernikahan ini hanyalah sebuah transaksi bisnis yang didasari keterpaksaan. Semakin cepat kau mengerti batasan itu, semakin kecil kemungkinan hatimu akan terluka ketika kontrak ini berakhir dan kita berdua kembali ke jalan masing-masing."

Kata-kata itu menusuk tepat di ulu hati Keisha. Ada kilatan rasa sakit yang sempat melintas di mata cokelatnya, namun dengan cepat ia sembunyikan di balik benteng pertahanannya yang kokoh. Keisha menolak terlihat lemah di hadapan pria arogan ini. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, balas menatap manik mata kelam Alex tanpa berkedip sedikit pun.

"Jangan khawatir, Tuan Ar-Rasyid," ucap Keisha dengan suara bergetar tipis namun penuh penekanan. "Hatiku terbuat dari baja, bukan dari porselen rapuh yang mudah retak. Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada pria sedingin es sepertimu, bahkan jika dunia ini kiamat besok pagi."

Alex tertegun sejenak mendengar pernyataan penuh keyakinan itu. Ada sedikit rasa aneh yang mencolek relung hatinya—sebuah sensasi asing yang tidak nyaman ketika mendengar wanita di depannya dengan tegas menolak kemungkinan untuk mencintainya. Namun, alih-alih merasa lega, ego besar seorang Alexander Ar-Rasyid justru merasa tertantang. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menolak pesona dan kekuatannya begitu saja.

"Bagus kalau begitu kita memiliki pemahaman yang sama," jawab Alex akhirnya dengan senyuman miring yang terlihat sangat berbahaya. Ia meraih tablet di atas meja, lalu menyodorkan sebuah pena digital mahal berlapis emas putih ke tangan Keisha. "Jika tidak ada lagi pasal yang ingin kau protes, tanda tangani kontrak ini sekarang juga. Utang butik keluargamu akan dilunasi oleh departemen keuangan perusahaan saya tepat setelah dokumen ini sah secara hukum."

Keisha menatap pena di tangannya, lalu beralih menatap layar tablet yang menampilkan garis tanda tangan kosong di bagian bawah halaman terakhir. Ia tahu bahwa detik ia menorehkan tinta di atas layar itu, ia resmi menjual sebagian kebebasannya kepada sang penguasa es. Namun, bayangan butik Azalea Label yang hampir disita bank berkelebat di dalam kepalanya, memberikan dorongan terakhir yang ia butuhkan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar namun dipenuhi tekad yang membaja, Keisha menunduk dan mulai menggoreskan namanya di atas layar digital tersebut: Keisha Azalea Pramesti.

Alex mengamati setiap pergerakan tangan wanita itu dengan tatapan lekat. Ketika guratan tanda tangan itu selesai dan sistem memvalidasinya secara otomatis, sebuah seringai tipis terukir di bibir sang CEO. Permainan baru saja dimulai, dan Alexander Ar-Rasyid memastikan bahwa dialah yang akan keluar sebagai pemenang mutlak dalam jeratan takdir ini.

"Selamat datang di neraka kecilku, Nyonya Ar-Rasyid," gumam Alex pelan begitu Keisha melepaskan pena digital tersebut dengan napas memburu.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!