NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kado di Ujung Senja

Pesan singkat dari Adrian di dekat pagar sekolah tadi siang terus berputar di kepalaku sepanjang perjalanan pulang. Kenaikan kelas sebelas yang seharusnya kurayakan dengan kebebasan tanpa beban kini justru menyisakan ruang hampa yang kian meluas di dalam dada. Hampir satu tahun berlalu sejak petikan gitar pertama dan ucapan hangat di dapur rumahku, namun posisiku di hidupnya tetap berdiri di tempat yang sama: tanpa nama, tanpa batas yang jelas.

Sore harinya, sekitar pukul empat, deru suara mesin motor besar yang teramat kukenali berhenti tepat di depan rumah. Aku yang sudah berganti pakaian santai melangkah ke teras depan untuk menyambutnya.

Adrian turun dari motor, melepaskan helmnya, dan mengumbar senyum hangat yang tak pernah gagal menggerakkan detak dadaku. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kotak hadiah kecil berbalut kertas cokelat yang diikat pita kain sederhana.

"Selamat ya, Sera," ucap Adrian lembut begitu menginjakkan kaki di teras. Matanya menatapku lurus dengan binar rasa bangga yang begitu jernih. "Naik kelas sebelas. Enggak kerasa udah setahun aja kamu berseragam putih-abu."

Aku menyunggingkan senyum tipis, mencoba menyembunyikan deburan tak beraturan di balik dadaku. "Makasih ya, Mas. Masuk dulu yuk."

Kami duduk berhadapan di ruang tamu yang dihiasi temaram sinar matahari sore. Adrian meletakkan kotak hadiah kecil itu di atas meja kayu di antara kami.

"Buka gih," dorong Adrian pelan seraya menopang dagu dengan sebelah tangannya, memperhatikan gerak-gerikku dengan tatapan teduh.

Dengan jemari yang sedikit ragu, aku meraih kotak itu dan melepas ikatan pitanya. Saat tutup kotak kubuka, mataku terpaku pada isinya.

Di atas gumpalan kain beludru hitam di dalam kotak, terbaring sebuah gelang tali hitam berdesain simpel namun teramat elegan. Tali hitamnya teranyam rapi, dan di bagian tengahnya terdapat pelat kecil berwarna perak mengilap dengan ukiran dua huruf kapital yang terukir sangat presisi: SL.

"Seraphine Luna," bisik Adrian pelan, suaranya terdengar begitu empuk memenuhi keheningan ruangan. "Nama lengkap kamu indah banget, Ser. Mas sengaja pesan gelang tali hitam ini khusus buat kamu. Huruf SL itu singkatan dari Seraphine Luna... biar kamu selalu ingat kalau kamu itu selalu bersinar bagai bulan, bahkan di malam yang paling gelap sekalipun."

Aku menatap gelang tali hitam dengan ukiran inisial SL itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Perhatiannya selalu sedetail ini. Cara ia mengingat nama lengkapku dan memberi makna pada hal sekecil ini selalu sanggup meruntuhkan seluruh pertahanan yang kubangun berbulan-bulan.

Namun, semakin indah kado dan makna yang ia berikan, semakin perih rasa sesak yang menghimpit dadaku. Bagaimana mungkin ia memberikan barang seromantis ini kepada wanita yang bahkan tidak memiliki ikatan apa pun dengannya?

"Bagus banget, Mas... makasih banyak ya," bisikku pelan, menunduk menatap gelang di dalam kotak itu tanpa berani menyentuhnya.

"Sera?" panggil Adrian lembut.

Aku tak mendongak, masih menatap kotak di pangkuanku.

"Kok mukanya malah sedih?" tanyanya lagi. Langkah kakinya bergeser, dan detik berikutnya Adrian berpindah duduk ke kursi tepat di sampingku. Tangannya terulur mengusap pelan puncak kepalaku, gerakan familiar yang selalu ia lakukan. "Ada masalah di sekolah? Atau kamu capek?"

"Assalamu’alaikum!"

Suara berat yang teramat familier mendadak menggelegar dari ambang pintu depan, memecahkan keheningan berat yang sedang mengurung kami. Usapan tangan Adrian di kepalaku terhenti seketika, dan kami berdua kompak menoleh ke arah sumber suara.

Sesosok pria paruh baya mengenakan kemeja kasual berdiri di sana seraya menjinjing tas travel besar. Mataku membelalak seketika.

"Ayah?!" pekikku girang.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung beranjak berdiri dan berlari menghampiri Ayah. Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya, memeluknya erat-erat dengan rasa rindu yang membuncah. Ayah tertawa hangat, membalas pelukanku dan mengusap punggungku pelan seraya mencium puncak kepalaku.

"Anak Ayah yang cantik udah makin besar aja," goda Ayah seraya melepaskan pelukan kami.

Adrian yang berada di ruang tamu ikut bergegas berdiri dari tempat duduknya. Dengan pembawaan yang tenang dan sopan, ia merapikan kemejanya lalu melangkah mendekat.

"Selamat sore, Om. Saya Adrian, temannya Sera," ucap Adrian ramah seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Ayah menyambut uluran tangan Adrian dengan jepitan hangat dan senyum ramah yang mengembang lebar. "Sore, Nak Adrian. Saya ayahnya Sera. Terima kasih ya sudah menemani Sera."

"Sama-sama, Om. Tadi mampir sebentar sekadar mengantarkan kado kenaikan kelas buat Sera," sahut Adrian tenang dan penuh hormat.

"Wah, perhatian sekali," puji Ayah mengangguk-angguk ramah.

"Sera simpan tas Ayah ke kamar dulu ya," potongku seraya meraih tas travel berat dari genggaman Ayah.

"Iya, Nak, terima kasih ya," jawab Ayah.

Aku membawa barang bawaan Ayah ke kamar utama, lalu bergegas ke dapur untuk menyeduh dua gelas teh hangat. Dari dapur, aku menyimak percakapan ramah antara Ayah dan Adrian di ruang tamu. Tak lama kemudian, aku kembali dan meletakkan nampan di atas meja.

"Minum dulu tehnya, Om, Mas," kataku menyuguhkan cangkir-cangkir keramik itu.

"Makasih ya, Sera," balas Adrian lembut.

Ayah menyesap teh hangatnya sedikit, lalu menepuk pelan paha atasnya. "Ayah mandi dan bersih-bersih badan dulu sebentar ya, mumpung masih sore. Adrian, tunggu sebentar ya, jangan pulang dulu."

"Siap, Om. Santai saja," jawab Adrian tersenyum ramah.

Sepeninggal Ayah ke kamar mandi, suasana ruang tamu kembali hening. Aku menduduki kursi kayu, memandangi cangkir tehku sendiri, sementara kotak kado berisikan gelang SL itu masih tergeletak anggun di atas meja. Adrian menatapku sejenak, seolah ingin melanjutkan perbincangan kami yang terputus tadi, namun aku memilih mengalihkan pandanganku ke luar jendela teras.

Sekitar lima belas menit kemudian, Ayah keluar dari kamar mandi dan kembali ke ruang tamu. Beliau sudah mengenakan baju santai berupa kaos oblong rumahan dan celana kain yang nyaman. Rambutnya masih tampak agak basah dari keramas. Beliau menduduki sofa utama seraya menghembuskan napas lega, lalu memandangiku dan Adrian bergantian.

"Nah, Adrian... Sera kan sekarang resmi naik ke kelas sebelas. Sudah mulai harus dipikirkan ini mau lanjut ke mana setelah lulus SMA nanti," tutur Ayah membuka percakapan dengan binar antusias di matanya.

Aku mengerucutkan bibir, menatap Ayah dengan raut protes yang sengaja kubuat-buat. "Ayah nih... baru juga sampai rumah, belum ada sejam duduk, udah ngomongin kuliah aja," rengekku pelan. "Sera kan baru aja beres kelas sepuluhnya, Yah."

Ayah tertawa terkekeh mendengar protesku. "Loh, kelas sebelas itu cepat banget jalannya, Nak. Tiba-tiba nanti sudah mau kelas 12 dan ujian nasional aja." Beliau lalu menoleh lagi pada Adrian. "Lagian, kalau Ibunya Sera sih maunya Sera nanti ambil jurusan Kebidanan saja. Kata Ibu, prospek kerja bidan itu tenang dan lebih pas untuk perempuan. Ibu selalu beranggapan kalau wanita itu tidak seharusnya bergelut dengan mesin, oli, atau proyek bangunan."

"Tapi Sera emang enggak mau Kebidanan, Yah..." potongku pelan namun tegas. "Sera penginnya masuk ITB di Bandung, ikutan jejak Ayah dulu. Sera lebih suka matematika dan ilmu teknik daripada kebidanan."

Ayah tersenyum bangga mendengarkan penegasanku. Beliau berpaling menatap Adrian seolah meminta pertimbangan dari sudut pandang anak muda. "Dengar sendiri kan, Adrian? Ibunya pengin anak gadisnya jadi bidan, tapi anaknya malah keukeuh pengin masuk ITB di Bandung kayak ayahnya."

Adrian mengangguk-angguk menyimak. Namun saat nama kota Bandung dan impian masuk ITB itu terucap mantap dari bibirku, rona wajah Adrian mendadak berubah pelan. Ada binar kebanggaan di matanya, tetapi di balik itu, terselip sekilas kilat kesedihan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

"Kalau menurut saya, impian Sera bagus banget, Om," tutur Adrian, suaranya terdengar sedikit memelan. "Sera orangnya teliti dan tekun kalau lagi mendalami sesuatu. Lagian di zaman sekarang, wanita masuk teknik bukan hal yang aneh lagi. Menurut saya, Sera pasti sanggup kalau masuk ITB."

Adrian kemudian mengalihkan tatapannya padaku. Matanya menatapku lekat-lekat, sebuah tatapan hangat namun dipenuhi perasaan getir yang membisu. Ada rasa bangga atas ambisiku, tetapi juga ada kesadaran pahit yang mendadak menyusup ke dadanya: jika impianku terwujud untuk kuliah di Bandung, itu artinya aku akan pergi jauh meninggalkannya, meninggalkan kota ini, dan keluar dari lingkaran yang selama ini mengikat kami.

Aku menyadari perubahan raut wajah Adrian. Di antara keraguan dan rasa sakit akan status kami yang tak pernah jelas, aku bisa merasakan ada rasa takut kehilangan yang samar-samar terpancar dari matanya sore itu.

1
wlnnn
gemessss deh adrian😍
wlnnn
gemes deh adrian/Drool/
Sunflower Girl
lanjutkan
Fellyc
unchhh😍
Fellyc
semangat yaa
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!