NovelToon NovelToon
Mahabbah Yang Ternoda

Mahabbah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

“Affan, aku ingin nafkah batin.”

“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”

Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.

Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyesal Menikah

Selama satu minggu berjalan, persiapan demi persiapan sudah mulai dilakukan. Setiap harinya, Maria—orang tua Affandy—selalu mendapatkan informasi dari keluarga mempelai wanita tentang acara pernikahan tersebut.

Menjelang hari pernikahannya, Affandy Frazendra beserta keluarganya sudah bersiap-siap untuk pergi ke Kalimantan. Tidak terlalu banyak barang yang mereka siapkan karena semua bawaan untuk sang mempelai wanita akan disiapkan di pulau tersebut.

Pihak orang tua wanita sangat antusias karena perjodohan yang sempat tertunda akhirnya terlaksana juga. Karena itulah mereka tidak mau pihak pria terlalu rumit membawa barang-barang keperluan Affandy.

Keempat orang itu sudah berada di bandara untuk bertolak dari Pulau Jawa menuju Pulau Kalimantan.

"Hulya cantik, 'kan, Mi?" tanya Affandy mulai penasaran.

"Cantik banget. Cantiknya bertambah," jawab Maria.

Affandy sangat senang mendengar penuturan dari ibunya itu. Niatnya untuk memanas-manasi sang mantan akan segera terwujud. Dia akan membanggakan pada mantan kekasihnya bahwa sang istri sangat cantik melebihi siapapun di bumi ini.

Terdengar suara pemberitahuan untuk para penumpang bahwa pesawat yang membawa mereka akan segera berangkat. Keluarga kecil itu segera memasuki pesawat.

Setelah melewati lautan di atas udara, sampailah mereka di Kalimantan. Mereka tidak langsung menuju rumah mempelai wanita. Keempat orang tersebut harus bermalam di hotel sebelum akhirnya melangsungkan acara pernikahan.

Tanpa basa-basi lagi, masing-masing dari mereka masuk ke dalam kamar. Hanya dua kamar yang dipesan dan masing-masing kamar diisi oleh dua orang.

Tidak ada obrolan apa-apa lagi setelah mereka sampai di sana karena semuanya sama-sama merasa lelah. Keempatnya pun beristirahat di dalam hotel.

Hingga malam hari tiba, mereka berempat sedang berada di luar untuk makan malam.

"Berapa hari kita di sini?" tanya Affandy.

"Setelah pernikahan besok, kita langsung pulang," jawab Fatir. "Banyak kerjaan di kantor. Nggak mungkin Papi sama Gerald yang ngurusin."

"Oh iya ... Mami sama Papi juga udah siapin hadiah buat kamu."

"Hadiah apa?" tanya pria itu kepada ibunya.

"Hadiah rumah. Jadi nanti kalau kamu udah nikah, kamu bisa tinggal di rumah itu ... Supaya kamu dan Hulya lebih bebas."

"Hadiah Gerald mana?" tanyanya.

"Kalau kamu mau hadiah, kamu harus nikah juga," sambung Fatir.

"Hahaha..."

Mereka pun tertawa setelah mendengar perkataan yang diucapkan oleh Fatir. Semuanya kembali melanjutkan makan di sela-sela obrolan ringan.

[] [] []

Pagi hari tiba. Seorang pemuda dengan gagahnya sudah berpakaian rapi dengan pakaian berwarna putih, layaknya seorang pengantin. Tinggal beberapa jam lagi ia akan berstatus sebagai suami orang.

"Tunggu pembalasanku," batin Affandy, mengingat mantan kekasihnya.

Laki-laki itu sudah tidak sabar lagi untuk segera melaksanakan ijab kabul. Ia ingin cepat-cepat membawa sang istri ke Pulau Jawa untuk dikenalkan kepada mantan pacarnya.

Kebahagiaan tengah terpancar pada wajah Affandy Frazendra. Hanya hitungan menit lagi, statusnya akan berubah menjadi suami orang.

Kini laki-laki itu sudah duduk di tempat yang disediakan oleh pihak wedding organizer. Ia sudah tidak sabar untuk melihat Hulya Anindita, gadis cantik yang dijodohkan dengan dirinya.

Satu per satu tamu undangan mulai duduk di kursi untuk menyaksikan acara pernikahan itu. Begitu juga dengan orang tua Hulya, yaitu Irwan. Pria paruh baya itu sedang berhadapan dengan seorang laki-laki yang akan menjadi menantunya.

"Om," sapa Affandy.

"Jangan panggil Om lagi. Dia sekarang orang tua kamu," ucap Fatir, memperingatkan anaknya.

"Panggil Ayah," kata Irwan.

"Ayah," lirih Affandy.

"Jangan kaku. Rileks aja. Bentar lagi istri kamu datang," ucap Gerald menggoda adiknya.

Beberapa pasang mata tertuju pada tiga orang wanita yang di tengah-tengah mereka sedang merangkul seorang wanita berpakaian putih, senada dengan pakaian Affandy Frazendra.

Dia adalah Hulya Anindita, wanita berhijab yang akan menjadi istri dari laki-laki itu.

"Itu Hulya," ucap Gerald.

Affandy Frazendra memasang raut wajah datar. Ia tidak menyangka jika istrinya adalah wanita berhijab.

"Kenapa aku harus menikahi wanita berhijab? Aku nggak suka. Dia bukan tipeku," batin Affandy.

Pikiran laki-laki itu sudah tidak bisa tenang. Ia merasa menyesal karena sudah menerima perjodohan tersebut. Affandy langsung memalingkan wajahnya tanpa harus berlama-lama melihat wanita itu.

"Nggak usah grogi," ucap Gerald. "Jangan tegang, santai aja."

"Mimpi apa aku semalam? Aku benar-benar nggak mau nikah sama dia. Gimana aku mau pamer kecantikannya? Dia aja pakai jilbab."

Affandy Frazendra terus saja mengoceh di dalam hatinya. Ingin rasanya dia membatalkan pernikahan tersebut. Namun, ia memikirkan kedua orang tuanya yang pasti akan malu jika ia melakukan hal itu.

Perlahan, pengantin wanita mulai mendekati posisi di mana Affandy sudah duduk di sana. Sebelum akhirnya Hulya duduk, ia sempat tersenyum kepada pria itu. Affandy harus bersikap seperti biasa. Ia pun membalas senyuman dari Hulya Anindita.

"Gimana? Apa bisa kita mulai?" tanya Irwan.

"Andy, Andy."

"Iya, Pi?"

"Kenapa bengong?" tanyanya.

"Dia grogi, Pi. Maklum, baru pertama kali melihat wanita secantik Hulya," goda Gerald.

"Cantik dari mana? Cuma kelihatan muka aja," batin Affandy.

"Udah siap?"

"Udah, Pi."

Affandy dan Irwan segera berjabat tangan.

Affandy sungguh tidak menyukai posisinya sekarang. Ingin rasanya ia berganti posisi dengan abangnya. Affandy Frazendra tidak menyukai wanita yang ada di sampingnya saat ini.

"Bismillahirrahmanirrahim ... Affandy Frazendra bin Fatir Zendra. Saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan anak kandung saya, Hulya Anindita binti Irwan, dengan mahar uang sebesar lima ratus juta, dibayar tunai!"

"Saya terima nikah dan kawinnya. Eummm..."

Sedikit ada jeda. Affandy tidak menginginkan pernikahan ini. Ia sampai tidak bisa fokus untuk melangsungkan akad tersebut.

"Jangan gugup. Biasa aja," ucap Fatir sambil menepuk bahu anak laki-lakinya.

"Kita ulangi lagi, ya," timpal Irwan.

"Iya, Ayah."

"Bismillahirrahmanirrahim ... Affandy Frazendra bin Fatir Zendra. Saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan anak kandung saya, Hulya Anindita binti Irwan, dengan mahar uang sebesar lima ratus juta, dibayar tunai!"

"Saya Affandy Frazendra—"

"Hei, salah," ujar Fatir.

Affandy mengembuskan napasnya perlahan. Para tamu undangan mulai dibuat gugup oleh pria itu. Affandy sama sekali tidak bisa lancar mengucapkan ijab kabul.

"Saya permisi sebentar, mau ke toilet."

Semuanya heran. Setelah mengucapkan kata itu, Affandy berlalu pergi begitu saja. Namun mereka juga paham, Affandy tengah gugup dan butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya.

Saat di dalam toilet, ia segera membasuh wajahnya bahkan mengenai rambutnya. Dia sangat menyesal karena menerima perjodohan dengan wanita berhijab.

"Sialan ... Apa yang bisa dibanggakan dari Hulya. Rambutnya sama sekali nggak kelihatan."

"Aku yakin, tubuhnya pasti penuh dengan bekas luka. Karena itu dia berhijab."

"Aku benci ini. Aku nggak mau menikahi Hulya."

"Dia bukan tipe ku. Aku butuh wanita cantik, seksi, supaya aku bisa memamerkannya pada Tiffany, wanita sialan itu."

"Argh! Kalau Hulya berhijab, gimana caranya aku pamer. Jangankan pamer, berjalan di sampingnya aja aku pasti malu!"

1
azzura faradiva
Thor..., please pemain perempuannya jgn di bikin lemah/menye².harus ambil sikap tegas menghadapi suami durjana macam dia,cerai aja udah!!!!
Mardzan J.: sabar sabar, baru juga beberapa part
total 1 replies
Tamirah
Kok ada suami model gini jadi istrinya kok yo betah,mbok ya minta cerai aja
Mardzan J.: sabar, nanti juga ada waktunya.
total 1 replies
azzura faradiva
kasih karma tu laki biar pedangnya karatan(impoten) biar ga banyak tingkah
Mardzan J.: sabar lho🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!