NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 03 ORANG ASING

Hujan telah reda saat subuh melintas, menyisakan kabut tebal yang menggantung rendah di Hutan Taring Hitam. Bau tanah basah bertabrakan dengan bau tembaga yang tajam, bau darah segar.

Mu Jin tersungkur di tanah berlumpur. Napasnya memburu, keluar sebagai uap putih dari mulutnya yang terbelah. Di hadapannya, tiga orang pria berdiri melingkar dengan pedang terendam noda minyak dan karat. Mereka bukan anggota sekte berkuda bertopeng tembaga yang membantai desanya, melainkan hanya bandit-bandit hutan liar yang mengincar apa saja yang bernyawa dan bernilai.

“Lihat sarung pedangnya,” ujar bandit bertubuh kurus tinggi dengan mata juling. “Baja hitam. Senjata murid sekte pertengahan. Tapi yang memegangnya cuma gembel kelaparan.”

“Buka bajunya, siapa tahu dia membawa koin emas,” timpal bandit kedua yang memegang kapak pembantai daging.

Mu Jin tidak menjawab. Seluruh persendiannya menjerit kesakitan. Dia telah berjalan tanpa makan selama dua hari, melintasi batas wilayah perbatasan. Tangan kirinya gemetar hebat saat mencengkeram gagang pedang di punggungnya.

Ketika bandit bertubuh kurus maju menyabetkan pedangnya ke arah leher Mu Jin, Mu Jin tidak mencoba melakukan tangkisan berputar atau melangkah mundur seperti pendekar. Dia tidak tahu cara melakukannya.

Sebagai gantinya, Mu Jin hanya mengingat satu hal: bagaimana cara menjatuhkan berat badannya ke bawah saat membelah batang kayu jati yang paling keras.

Dia tidak mencabut pedangnya dengan anggun. Mu Jin memutar tubuhnya yang kurus, memanfaatkan beban pedang besi hitam yang berat itu untuk menarik seluruh momentum badannya ke depan. Dia mencabut pedang itu secara horizontal dengan gerakan kasar, kaku, dan tanpa ritme.

CRASH!

Bilah besi tebal itu menghantam leher bandit kurus. Pedang Mu Jin tidak tajam, melainkan tumpul dan berat. Senjata itu tidak menebas, melainkan meremukkan pelindung leher dan mematahkan tulang tenggorokan pria itu dengan bunyi gemertak yang mengerikan. Darah hitam menyembur membashi wajah Mu Jin saat bandit pertama roboh seperti batang pohon tua yang tumbang.

Namun, harga dari satu tebasan kaku itu sangat mahal. Pergelangan tangan kanan Mu Jin terkilir hebat akibat menahan tolakan beban pedangnya sendiri. Pedang hitam itu terlepas dari genggamannya, menancap licin di tanah lumpur.

“Bangsat!” teriak bandit berkapak.

Sebelum Mu Jin sempat merangkak meraih senjatanya, sebuah tendangan keras mendarat di dadanya. Rusuk Mu Jin berderak. Tubuhnya terseret beberapa meter di atas lumpur, menabrak akar pohon bambu yang mencuat. Pandangannya menggelap seketika, udara keluar dari paru-parunya dalam satu helaan napas yang menyakitkan.

Bandit ketiga, seorang pria bertubuh pendek dengan mata merah, melangkah maju sambil mengangkat pisau berburu. “Mati kau, anjing tanah!”

Mu Jin berusaha mengangkat tangannya, namun jemarinya kaku tak bertenaga. Dia hanya bisa menatap mata pisau itu yang bergerak turun menuju dadanya. Matanya tetap kosong, tanpa rasa takut, hanya dipenuhi kekecewaan bahwa perjalanannya harus berhenti di tangan sampah hutan.

SLICHT.

Sebuah bayangan perak melintas tanpa suara.

Tidak ada benturan pedang yang nyaring. Tidak ada jurus berapi-api. Hanya sebuah kibasan dingin yang memotong udara subuh.

Kepala bandit bertubuh pendek itu terlepas dari lehernya sebelum pisaunya menyentuh baju Mu Jin. Tubuhnya berdiri kaku selama satu detik sebelum ambruk mendatar ke tanah. Bandit berkapak yang tersisa tidak sempat menjerit saat sebuah tusukan lurus menembus tenggorokannya dari belakang, mencabut nyawanya seketika.

Hutan bambu kembali sunyi, hanya diselingi tetesan air dari dedaunan.

Seorang pria melangkah keluar dari balik kabut. Dia mengenakan jubah abu-abu kusam yang ternoda lumpur di bagian bawahnya. Pria itu bertubuh tinggi, matanya sayu seperti orang yang tidak pernah tidur nyenyak selama puluhan tahun. Di tangannya, dia memegang sebilah pedang tipis yang tidak meneteskan setitik darah pun. Darah itu luntur dengan sendirinya dari permukaan besi yang sangat licin.

Pria itu menyarungkan pedangnya dengan satu gerakan pelan, lalu berdiri menatap Mu Jin.

Mu Jin masih terbaring di tanah. Dia memuntahkan sekantong darah kental ke lumpur, dadanya naik turun dengan sangat berat. Tangannya yang terkilir membengkak cepat.

Asing. Tidak ada keramahan di antara mereka. Pria bersubah abu-abu itu tidak mengulurkan tangan untuk membantu Mu Jin berdiri. Dia hanya berdiri tiga langkah di hadapannya, menatap Mu Jin seolah-olah menatap seonggok batu di pinggir jalan.

“Kau membunuh satu orang dengan teknik membelah kayu,” kata pria bersubah abu-abu itu. Suaranya datar, tanpa emosi, dingin bagai es. “Pergelangan tanganmu patah karena kau menggunakan pedang seperti kapak.”

Mu Jin merangkak perlahan, mengabaikan rasa sakit di dada dan tangannya. Dia tidak mengucapkan terima kasih. Di dunia ini, bantuan gratis tidak pernah ada.

“Kenapa kau menolongku?” suara Mu Jin serak, tersedak darahnya sendiri.

Pria bersubah abu-abu itu melirik pedang besi hitam milik Mu Jin yang tergeletak di lumpur. “Aku tidak menolongmu. Aku sedang menelusuri jejak pedang itu. Senjata itu milik murid Sekte Bulan Merah yang hilang dua bulan lalu.”

Mu Jin meraih gagang pedangnya dengan tangan kiri yang gemetar, menariknya lambat-lambat dari tanah. Dia tidak menyembunyikan kenyataan bahwa pedang itu adalah barang curian dari mayat. “Pemiliknya sudah membusuk di rawa-rawa.”

Pria itu menatap Mu Jin lebih lama. “Kau bukan pendekar. Kau bahkan tidak tahu cara menyalurkan tenaga dalam untuk menahan benturan. Jika kau melanjutkan perjalananmu sampai ke utara dengan cara seperti ini, kau akan mati sebelum melewati gerbang batas.”

Pria bersubah abu-abu itu berbalik, berniat melangkah pergi menembus kabut tanpa memperkenalkan nama atau menanyakan tujuan Mu Jin. Kehadirannya seperti hantu yang melintas sekilas di malam hari.

“Tunggu,” panggil Mu Jin pelan. Tubuhnya masih belum sanggup berdiri penuh. “Siapa kau?”

Pria itu berhenti melangkah, namun tidak berbalik menatap Mu Jin.

“Hanya seorang tua yang melarikan diri dari masa lalu,” jawabnya dingin. “Pergilah ke desa di balik bukit jika kau ingin mengobati tanganmu. Atau tetaplah di sini dan biarkan serigala memakan dagingmu.”

Langkah kaki pria bersubah abu-abu itu memudar cepat di antara kerapatan pohon bambu, meninggalkan Mu Jin sendirian di antara tiga mayat yang mulai dingin.

Mu Jin bersandar pada batang pohon tua, menatap tangan kirinya yang berlumpur dan tangan kanannya yang membengkak kebiruan. Dia tidak berhasil mendapatkan kawan, tidak mendapatkan ilmu jurus baru, dan tidak mendapatkan keajaiban. Yang dia dapatkan hanyalah rasa sakit yang makin nyata dan kepastian bahwa jalan di depannya hanyalah penderitaan yang makin dalam.

1
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!