Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 28.
Dua hari adalah waktu yang singkat, tapi lebih dari cukup bagi tubuh Lingga untuk memulihkan diri.
Saat cowok itu memasuki kelas sambil memutar-mutar pergelangan tangan kanannya, Stella memperhatikannya dari sudut bangku belakang.
Sendi Lingga yang tempo hari terkilir akibat melindungi Stella dari hantaman besi panggung festival yang ambruk, kini tampaknya sudah sembuh total.
Lingga bergerak tanpa ringisan lagi. Wajahnya tetap seperti biasa: datar, dingin, dan seolah punya dunia sendiri yang tidak boleh dimasuki siapa pun.
Stella menghela napas, menunduk menatap layar ponselnya. Di sana, ruang obrolannya dengan Gibran masih sepi. Hanya ada centang dua abu-abu pada pesan terakhirnya yang dikirim semalam.
Gibran nggak pernah peduli.
Kenyataan itu menghantam Stella setiap hari, pelan tapi merusak. Hampir dua tahun Stella mengejar Gibran, menjadi gadis yang selalu ada, namun berakhir menjadi pajangan yang keberadaannya dianggap angin lalu.
"Eh, cewek kegatelan."
Lamunan Stella buyar. Tiga siswi berseragam ketat dengan jaket tim cheerleaders sekolah sudah berdiri mengitari mejanya. Di depan adalah Clara, kapten mereka yang terkenal vokal, diikuti dua dayang-dayangnya yang menatap Stella dengan pandangan merendahkan.
"Maksudnya apa?" tanya Stella, berusaha menjaga suaranya tidak bergetar.
Clara bersedekap, maju satu langkah hingga bayangannya menutupi meja Stella. "Nggak usah sok polos. Lo sengaja, kan, mondar-mandir di depan lapangan futsal pas Gibran latihan? Caper lo itu murahan banget, Stel. Gibran itu risih kalau lu ada, tapi dia terlalu baik buat ngusir lo langsung. Sadar diri kenapa?"
"Aku cuma lewat mau ke perpus," sahut Stella membela diri. Jiwanya lelah, fisiknya letih karena terus-terusan diserang secara verbal hanya karena dia menyukai cowok paling populer di sekolah.
"Alasan!" dayang Clara menimpali, menyenggol bahu Stella sampai gadis itu terdorong ke sandaran kursi. "Kalau lo nggak menjauh dari Gibran minggu ini, urusan kita nggak bakal selesai di kelas doang."
Stella mengepalkan tangan di atas pangkuannya. Di pojok kelas, beberapa siswa menonton tanpa niat melerai. Stella merasa sudut matanya mulai memanas karena kombinasi rasa malu dan marah. Di saat dia merasa benar-benar sendirian dan tersudut, sebuah bayangan tinggi mendadak memotong jarak visualnya dengan Clara.
Sret.
Kursi kosong di depan Stella digeser kasar. Lingga berdiri di sana.
Cowok pendiam itu tidak mengeluarkan suara, tapi kehadirannya langsung mengubah atmosfer kelas menjadi berat. Lingga memosisikan tubuh tegapnya tepat di depan meja Stella, bertindak bagai tameng hidup yang memutus tatapan intimidasi dari anak-anak cheerleaders.
Tanpa berbalik melihat Stella, tangan kanan Lingga yang baru sembuh itu bergerak ke belakang. Jemarinya yang panjang dan hangat langsung menemukan punggung tangan Stella yang gemetar, lalu menggenggamnya dengan erat.
Deg.
Stella tertegun. Genggaman Lingga tidak menyakitkan, melainkan penuh penekanan seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya secara diam-diam. Lewat sentuhan itu, Lingga seperti berbisik Gue di sini. Lo aman.
Lingga kemudian menatap Clara dan komplotannya. Tidak ada makian yang keluar dari mulut cowok itu. Dia hanya menatap mereka dengan sepasang mata hitamnya yang tajam, dingin, dan angker. Aura permusuhan dan ketegasan terpancar begitu pekat dari sorot mata Lingga, membuat siapa pun yang menatapnya tahu bahwa cowok ini tidak sedang menggertak sambal. Lingga tipe orang yang akan langsung bertindak tanpa banyak bicara jika batas kesabarannya dilewati.
Clara yang tadinya berkacak pinggang langsung menurunkan tangannya. Keberaniannya menguap seketika begitu berhadapan dengan tatapan intimidatif Lingga. Semua orang di sekolah tahu, walau Lingga kuper dan misterius, dia bukan orang yang bisa diajak bercanda.
"L-Lingga... kita cuma lagi ngomong biasa kok," cicit Clara, langkah kakinya otomatis mundur selangkah. Tiba-tiba saja nyalinya ciut drastis.
Lingga masih diam, tapi genggaman tangannya pada Stella makin mengerat, dan tatapan matanya menuntut mereka untuk segera angkat kaki.
"Y-ya udah, kita cabut. Sorry," kata Clara terbata-bata. Dia memberi kode pada dua temannya, lalu buru-buru berjalan cepat keluar dari kelas seolah baru saja melihat hantu.
Suasana kelas perlahan kembali normal, meski beberapa pasang mata masih mencuri pandang ke arah mereka. Lingga pelan-pelan melepaskan genggaman tangannya. Dia berbalik, menatap Stella yang masih syok dengan napas yang agak memburu.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Lingga pendek. Suaranya berat dan rendah, kontras dengan tatapan mengerikannya beberapa detik lalu.
Stella menatap telapak tangannya yang masih terasa hangat bekas genggaman Lingga. Dia mendongak, menatap mata cowok misterius yang selama ini duduk dua bangku di sampingnya tanpa pernah banyak interaksi. Di mata itu, Stella tidak menemukan kepalsuan, tidak ada tuntutan ego seperti yang selalu dia lihat pada Gibran saat menolaknya. Yang ada hanya ketulusan yang murni dan proteksi yang nyata.
Saat itu juga, ada sesuatu yang patah sekaligus tumbuh di dalam dada Stella.
Ilusi dan bayang-bayang Gibran yang selama ini dia kejar dengan melelahkan, mendadak runtuh tak bersisa. Semua rasa sakit karena diabaikan Gibran menguap, digantikan oleh kesadaran baru yang manis, buat apa dia mengemis perhatian pada cowok yang selalu berbalik arah, jika ada laki-laki pelindung sejati yang rela memasang badan untuknya tanpa diminta?
"Aku nggak apa-apa. Makasih, Lingga," ucap Stella, suaranya kini terdengar jauh lebih tegar. Sebuah senyuman tipis yang tulus terukir di bibirnya.
Lingga hanya mengangguk sekali, lalu kembali ke bangkunya tanpa sepatah kata lagi, seolah aksi heroiknya tadi adalah hal biasa. Namun bagi Stella, dunianya sudah berubah total. Hari itu, di jam istirahat yang bising, hatinya telah resmi diculik dan terkunci rapat oleh cowok paling pendiam dan misterius di kelasnya.
......................
...****************...
Tbc,