NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diluar Perkiraan

Angin sore berhembus lebih kencang dari sebelumnya, menyapu debu jalanan berwarna kecokelatan di pinggir persawahan, mengibaskan ujung pakaian lusuh yang kukenakan serta membuat rambutku berkibar tak beraturan. Aku masih berdiri terpaku di sana, tepat di tepi jalan setapak yang membelah hamparan padi yang mulai menguning, memandang ke arah tikungan jauh di mana mobil sedan hitam yang Kak Rina kendarai telah menghilang sepenuhnya dari pandangan, menyisakan jejak debu tipis yang perlahan dihapus hembusan angin. Suasana di sekitarku yang tadinya hidup dengan suara serangga dan burung mendadak terasa hening, seolah alam pun ikut membisu menyaksikan guncangan yang baru saja melanda batin seorang gadis desa. Hanya terdengar suara gemerisik daun padi yang saling bersentuhan berirama, serta kicauan burung pipit yang bergegas kembali ke sarang mereka di dahan pohon kelapa. Namun, di dalam sanubariku, badai hebat baru saja berkecamuk, menyisakan kebingungan yang mendalam, rasa cemas yang tak terlukiskan, serta kenangan-kenangan lama yang selama ini ku kubur rapat-rapat kembali menyeruak ke permukaan tanpa permisi.

Ayah… Pria yang menjadi asal-usul keberadaanku, sosok yang dulu menjadi pelindung dan pahlawan kecilku, namun perlahan namun pasti menjauhkan diri dari kehidupan kami—terutama setelah ia memutuskan berpisah dengan mama dan menikah lagi dengan wanita yang selalu tampak dingin, penuh perhitungan, dan tak pernah benar-benar menyukai keberadaanku maupun Mama. Hubungan kami yang dulu hangat dan akrab kini menjadi renggang, terbelah oleh tembok kebisuan yang tebal, perbedaan tempat tinggal, serta jarak batin yang terasa semakin jauh. Aku dan Mama memilih untuk mundur ke desa sederhana ini, jauh dari hiruk-pikuk kota besar, menjauhi kemewahan yang justru terasa hampa dan penuh kepura-puraan di kediaman baru Ayah. Keinginan Ayah untuk bertemu secara tiba-tiba di saat seperti ini, menyebutkan hal yang berkaitan erat dengan masa depanku, sungguh menimbulkan kecurigaan besar yang tak dapat kuabaikan. Apakah ini pertanda perubahan yang baik? Atau justru awal dari jebakan dan masalah baru yang jauh lebih pelik dari yang kubayangkan? Aku tau semua kebaikan dia selama ini semata hanya untuk aku pergi dari mama dan ikut dengannya.

Aku menarik napas panjang, sedalam-dalamnya, mencoba menyerap udara segar persawahan untuk menenangkan detak jantung yang masih berpacu liar di dalam dada. Tangan kananku meremas ujung kain bajuku yang sedikit berdebu dan kusam, berusaha mengumpulkan kembali keberanian dan keteguhan yang sempat terguncang hebat. Tidak ada gunanya berdiri diam di sini melamun, membiarkan pikiran liar merajalela dan menghambat langkah pulang. Aku harus kembali ke rumah, menemui Mama, bercerita segala hal, dan beristirahat dengan tenang. Mungkin besok, setelah pikiranku jernih kembali, aku akan mampu melihat situasi ini dengan pandangan yang lebih bijak dan kepala yang dingin. Dengan langkah yang perlahan namun pasti, aku kembali melangkahkan kaki di atas jalan tanah itu, menuju rumah kecil kami yang sederhana namun penuh kasih sayang, diiringi cahaya matahari sore yang mulai meredup perlahan di ufuk barat, melukis langit dengan semburat jingga keunguan yang syahdu namun tak mampu sepenuhnya menghapus kegelisahan di hatiku.

Sesampainya di rumah, Mama sudah menunggu dengan cemas di teras kayu yang mulai lapuk dimakan usia namun tetap kokoh. Wajahnya yang berkerut halus langsung berubah menjadi lega begitu melihatku kembali berjalan mendekat, meski tatapan tajamnya segera menangkap ada sesuatu yang janggal dari raut wajahku yang pucat dan tatapan mataku yang kosong. Ia segera bangkit dari duduknya, melangkah menghampiri dengan langkah cepat namun tetap lembut, tangannya yang kasar dan penuh kapalan karena bekerja keras di ladang menyentuh keningku serta pipiku dengan penuh kasih sayang.

“Kamu sudah pulang, sayang… Kenapa wajahmu terlihat begitu pucat, lelah, dan melamun? Apakah ada hal buruk yang terjadi di sepanjang jalan pulang? Atau ada orang yang berbuat tidak baik padamu?” tanyanya lembut namun penuh perhatian, suaranya seolah berusaha mengusir ketakutan yang mungkin menempel padaku.

Aku mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih atas kepeduliannya, lalu kami pun masuk ke dalam rumah yang hangat dan nyaman itu, di mana aroma masakan sederhana namun menggugah selera masih tercium samar-samar. Setelah duduk tenang di ruang tengah yang tak luas itu, di hadapan dinding kayu yang menjadi saksi perjuangan kami, aku menceritakan segalanya padanya—mulai dari pekerjaanku di pasar yang berjalan lancar dan memberikan pengalaman berharga, hingga pertemuan tak terduga dengan Kak Rina di pinggir jalan, serta pesan yang dibawakannya dari Ayah. Aku menyampaikan semuanya jujur tanpa ada yang disembunyikan, termasuk kebingungan dan rasa curiga yang melanda hatiku.

Mama mendengarkan dengan saksama, matanya yang jernih namun mulai menua itu tak lepas dari wajahku. Raut wajahnya yang teduh dan tenang perlahan berubah menjadi serius, namun tidak kehilangan kelembutan. Ia menatap lurus ke arah sudut dinding seolah sedang mengenang masa lalu yang pahit atau memikirkan kemungkinan yang akan datang. Keheningan menyelimuti ruangan itu cukup lama, hanya terdengar suara detak jam dinding tua yang berirama teratur, sebelum ia akhirnya bersuara pelan namun tegas dan penuh kearifan.

“Mama tahu kamu bingung, takut, dan ragu, Rania. Mama mengerti sekali perasaanmu, lebih dari siapa pun. Hubunganmu dengan Ayahmu memang sudah tidak seperti dulu lagi, dan kehadiran wanita lain di sisinya membuat segalanya menjadi jauh lebih ru” ucap Mama lembut, tangannya menggenggam tanganku erat di atas meja kayu.

“Namun ingatlah selalu, bagaimanapun kerasnya kenyataan, dia tetaplah ayah kandungmu. Dia yang memberimu kehidupan, dan kamu berhak mengetahui apa maksudnya—terutama jika hal itu berkaitan dengan masa depanmu yang sedang kamu perjuangkan ini. Jangan biarkan rasa takut, kebencian, atau prasangka buruk menghalangimu melihat peluang yang mungkin ada di sana, Nak. Tetapi kamu harus tetap waspada, berpegang teguh pada prinsip dan harga dirimu sendiri. Kamu gadis yang cerdas, kuat, dan mandiri. Ikutilah kata hatimu, dan jangan pernah melakukan hal yang bertentangan dengan nuranimu” ucapnya menasehatiku.

Nasihat Mama yang tulus itu mampu menenangkan badai di hatiku sedikit demi sedikit, meski kecemasan dan keraguan itu tak sepenuhnya hilang begitu saja. Malam itu berlalu terasa lambat, tidurku tidak nyenyak, dipenuhi mimpi-mimpi campur aduk tentang masa lalu yang indah namun berakhir pahit, serta bayangan masa depan yang penuh tanda tanya dan ketidakpastian. Aku terbangun berulang kali, merasakan kegelisahan yang mencekam, namun setiap kali melihat wajah Mama yang tidur tenang di sebelah kamarku, aku kembali menguatkan hati.

Keesokan paginya, sinar matahari kembali menyelinap masuk melalui celah jendela, membangunkanku dari kantuk yang tidak pulih. Aku bangkit dengan tekad baru, mencoba menepis segala keraguan yang membebani pikiran. Aku tidak akan membiarkan ketakutan melumpuhkan langkahku. Aku memutuskan untuk tidak langsung terburu-buru menuruti panggilan itu, namun juga tidak menutup kemungkinan sepenuhnya. Rencanaku tetap sama, bekerja, mencari informasi beasiswa jika ada dan berusaha sekuat tenaga berdiri di atas kakiku sendiri. Namun takdir seolah punya kuasa lain. Di tengah hari itu, saat kami sedang menyiapkan makan siang sederhana, terdengar suara ketukan pintu yang tegas dan berirama, berbeda dari biasanya.

Mama berjalan membukakan pintu, dan kami berdua tertegun melihat siapa yang datang. Di sana berdiri seorang pria berseragam rapi, sopir kepercayaan Ayah yang sudah lama kukenal. Ia menyampaikan pesan secara resmi dan sopan bahwa Ayah ingin bertemu denganku sore ini di kediamannya di kota, dan ia dikirim khusus untuk menjemputku. Pilihan seakan direnggut paksa dari tanganku, namun melihat ketegasan situasi serta dukungan penuh Mama yang meyakinkanku untuk berani menghadapi kenyataan, aku pun bersiap-siap. Aku mengenakan pakaian terbaik yang kupunya—tetap sederhana namun rapi dan sopan—merapikan diri sebaik mungkin, lalu berpamitan pada Mama dengan hati yang bergetar namun penuh keberanian. Mama memelukku erat, membisikkan doa dan semangat agar aku tetap menjadi diriku sendiri.

Perjalanan menuju kota terasa jauh lebih panjang dan melelahkan secara batin. Jalanan semakin padat, gedung-gedung bertingkat mulai menjulang tinggi, kontras sekali dengan pemandangan desa yang asri dan tenang. Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya modern yang megah, berpagar tinggi, dan tertata rapi—kediaman Ayah bersama keluarga barunya. Pintu mobil terbuka, aku melangkah keluar dengan perasaan asing yang menyelimuti setiap inci langkahku. Di ruang tamu yang luas, berlantai marmer dingin, dan penuh perabot mewah yang terlihat kaku, Ayah sudah menunggu. Ia terlihat lebih tua dan lelah dari terakhir kali kami bertemu, namun tetap berwibawa. Di sebelahnya duduk Ibu tiriku, tante laras dengan senyum yang terukur namun matanya menyelidik tajam seolah menilai seluruh gerak gerikku, serta Kak Rina yang duduk agak di sampingnya dengan tatapan sulit dibaca. Hanya ka rian dan istrinya yang tidak terlihan dan juga sikecil amira putri mereka.

“Rania… akhirnya kamu datang, sayang” sapa Ayah memecah keheningan yang mencekam itu, suaranya berat dan serius. “Silakan duduk sayang ..ada hal penting yang harus kita bicarakan baik-baik” ujarnya tanpa basa basi.

Aku berjalan pelan menuju sofa di pojok ruangan, menjaga jarak sedikit jauh dari ibu tiriku, aku menegakkan tubuh sekuat tenaga agar terlihat tenang meski jantungku berdegup kencang tak karuan.

"Apa hal penting yang ingin dibicarakan?” tanyaku.

Tante Laras tersenyum tipis, tatapannya menyapu penampilanku dari atas ke bawah dengan sikap meremehkan yang tak terselubung.

“Lihatlah, Mas. Anakmu sudah tumbuh besar dan terlihat sangat mandiri. Tapi sayang sekali, ia lebih memilih terkurung di desa kumuh itu bersama ibunya daripada menikmati kenyamanan di sini" ucapnya, yang membuat darah ku mendesir hebat.

Ayah mengangkat tangannya sedikit untuk menahan perkataan istrinya yang tajam itu, lalu menatapku lekat-lekat dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Begini, Rania. Ayah tahu kamu baru saja lulus sekolah menengah dan sedang merencanakan masa depanmu. Sejujurnya, Ayah sudah lama merasa bersalah karena kurang memperhatikanmu belakangan ini. Ayah ingin menebus kesalahan dan kelalaian itu. Aku ingin membiayai kuliahmu di universitas terbaik di kota ini, bahkan ke luar negeri jika kamu menginginkannya semua biaya Ayah yang tanggung asalkan kamu bersedia pindah ke sini, tinggal bersama kami, dan menuruti beberapa syarat yang kami tetapkan demi kebaikan dan kesuksesan masa depanmu”ucap ayah.

Darahku seakan mendidih dan membeku di saat yang bersamaan mendengar tawaran besar itu. Bukan karena tidak senang, melainkan karena rasa curiga yang luar biasa bercampur tak enak hati ku terbukti. Mengapa tiba-tiba begitu dermawan dan perhatian? Apa sebenarnya syarat yang dimaksud? Apakah ada harga mahal yang harus kubayar di balik kemewahan pendidikan itu? Aku menelan ludah, berusaha menyusun kata-kata dengan hati-hati namun tegas.

“Terima kasih atas tawaran yang sangat baik ini, Ayah” jawabku pelan namun suara mantap tanpa goyah, mataku menatap lurus ke arah Ayah tanpa berkedip.

“Aku sangat menghargai niat baik dan perhatian Ayah. Namun perlu ayah tau, aku bisa berusaha mencari jalan sendiri, aku bisa bekerja , atau mencari peluang beasiswa—agar bisa meringankan beban Mama. Mengenai tawaran ini, aku ingin tahu apa syarat yang dimaksudkan? Dan mengapa harus ada syarat khusus untuk pendidikan anak kandung sendiri?”ujsrku membuat ayah bungkam seketika.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan mewah itu, namun terasa jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Tante Laras tersenyum penuh kemenangan, seolah sudah menunggu saat aku bertanya hal itu sedari tadi. Aku tahu, badai yang sesungguhnya, serta kebenaran yang tersembunyi di balik tawaran manis itu, baru saja akan terungkap sepenuhnya. Aku harus tetap siap, tegar, dan tak membiarkan diri tergoyahkan apa pun yang terjadi.

(Bersambung...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!