NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Taman Kota

Hari itu cerah, langit biru bersih tanpa awan, angin sepoi-sepoi membawa aroma bunga melati yang tumbuh di sepanjang jalur pejalan kaki taman kota. Daun-daun hijau bergoyang lembut ditiup angin, dan sinar matahari menyelinap di sela-sela dahan pohon, membentuk bintik-bintik cahaya yang bergerak di atas tanah berumput. Taman ini selalu ramai di sore hari — keluarga yang berjalan-jalan, anak-anak yang berlari mengejar balon, pasangan yang duduk berdua di bangku kayu — tempat di mana waktu terasa berjalan lebih lambat, lebih tenang, lebih damai.

Su Wan duduk di bangku kayu di bawah pohon beringin besar, memandang Xiaoqi yang sedang berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu berwarna oranye di hamparan bunga. Wajah putranya berseri-seri, matanya berbinar penuh kegembiraan, tertawa riang setiap kali kupu-kupu itu terbang lebih tinggi, seakan dunia ini hanya berisi kebahagiaan tanpa beban. Su Wan tersenyum lembut melihatnya, namun di balik senyum itu, hatinya tetap waspada — pandangannya sesekali melirik ke sekeliling, memperhatikan setiap orang yang lewat, memastikan tidak ada yang tampak mencurigakan, tidak ada yang terlalu memperhatikan mereka.

Pesan Yicheng kemarin masih terngiang di telinganya — peringatan agar berhati-hati, agar tidak membiarkan orang asing mendekat, seakan ada bahaya yang mengintai di balik setiap bayangan. Ia tidak tahu seberapa besar bahayanya, tapi ia tahu Yicheng tidak akan mengatakan hal seperti itu tanpa alasan yang kuat. Dan karena itu, ia memilih taman kota yang ramai dan terbuka ini sebagai tempat keluar — di mana mereka tidak sendirian, di mana banyak orang ada di sekitar, sehingga lebih aman daripada berada di tempat sepi.

Xiaoqi berlari kembali ke arahnya, napasnya sedikit terengah, pipinya merona merah karena berlari, tangannya memegang selembar kelopak bunga merah yang indah. "Ibu! Lihat ini! Bunga ini cantik sekali! Ini untuk Ibu!" Ia menyerahkan kelopak bunga itu dengan bangga, matanya berbinar penuh harapan.

Su Wan menerima kelopak bunga itu, menyentuhnya dengan lembut, lalu mencium kening putranya. "Terima kasih, Xiaoqi. Ini bunga terindah yang pernah Ibu terima. Kamu memang anak yang baik." Ia menyelipkan kelopak bunga itu ke saku bajunya, menjaganya seakan itu adalah permata paling berharga.

Xiaoqi duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahu ibunya, menatap anak-anak lain yang sedang bermain di kejauhan. "Ibu, kapan Ayah bisa datang bermain bersama kita? Saya rindu bermain bersama Ayah di taman. Saya ingin Ayah melihat saya berlari dan mengejar kupu-kupu juga."

Su Wan mengelus rambutnya yang halus, hatinya terasa perih namun ia berusaha tersenyum. "Ayah sedang menyelesaikan pekerjaan yang penting, Nak. Tapi Ayah pasti juga merindukanmu. Ayah akan datang bermain bersama kita kalau waktunya sudah tepat. Kita harus sabar sedikit lagi, ya."

Xiaoqi mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah kertas kecil dari saku bajunya — gambar yang ia buat kemarin, gambar dirinya, Ibu, dan Ayah yang sedang berpegangan tangan di taman. Ia memandangnya sebentar, lalu tersenyum. "Tidak apa-apa. Selama kita bersama, di mana pun itu, rasanya seperti bermain bersama. Dan Ayah selalu ada di sini." Ia menunjuk dadanya sendiri, tepat di posisi jantungnya.

Su Wan menahan air mata yang hampir jatuh, memeluk putranya erat, merasa begitu bersyukur namun juga begitu beruntung memiliki anak yang begitu tulus dan penuh pengertian. "Ya, Xiaoqi. Ayah selalu ada di sini. Di hati kita berdua."

 

Tepat saat itu, di kejauhan, di balik deretan pohon cemara yang rapi, sosok pria berdiri diam, memandang mereka berdua dari kejauhan. Ia tidak mendekat, tidak melambaikan tangan, tidak memanggil — ia hanya berdiri di sana, memandang dengan tatapan penuh kerinduan yang mendalam namun juga penuh kekhawatiran. Itu Yicheng.

Ia tidak berani mendekat, tidak berani terlihat. Ia tahu Paman Zhenghao mungkin sedang mengawasinya, mungkin menunggu kesempatan untuk mengetahui di mana Su Wan dan Xiaoqi berada. Jika ia terlihat bersama mereka, jika ia membawa mereka ke tempat yang diketahui orang lain, bahaya akan semakin besar. Tapi ia tidak bisa menahan diri — ia harus melihat mereka, harus memastikan mereka aman, harus melihat wajah mereka dengan matanya sendiri, bukan hanya mendengar dari Li Wei bahwa mereka baik-baik saja.

Ia berdiri di sana cukup lama, memandang Xiaoqi yang berlari dan tertawa, memandang Su Wan yang tersenyum lembut pada putranya, memandang kehangatan yang tercipta di antara mereka — kehangatan yang harus ia lindungi dengan segala cara, bahkan jika itu berarti ia harus berdiri di kejauhan dan tidak bisa mendekat. Hatinya terasa perih karena harus menjaga jarak, tapi ia tahu ini adalah pengorbanan yang harus ia lakukan — demi keselamatan mereka, demi masa depan mereka, demi hari di mana ia bisa berdiri di samping mereka tanpa takut diawasi, tanpa takut diancam, tanpa takut dipisahkan lagi.

Belum lama berselang, ponselnya bergetar di saku — pesan dari Li Wei. Yicheng segera membukanya, jantungnya berdebar saat membaca isi pesan itu:

"Tuan Lin, ada orang yang mengikuti Nona Su Wan dan Xiaoqi ke taman. Seorang pria paruh baya, memakai kemeja abu-abu, selalu menjaga jarak sekitar 50 meter, terus memantau mereka dari jauh. Identitasnya belum terkonfirmasi, tapi pola gerakannya sama dengan orang yang dikirim Tuan Lin Zhenghao sebelumnya. Dia belum melakukan apa-apa, hanya mengawasi. Kami sudah mengerahkan tim untuk memantau pengawas itu dari balik layar, sehingga dia tidak menyadari dia sendiri sedang diawasi. Mohon tetap waspada, jangan mendekat, dan jangan lakukan apa pun yang bisa membahayakan mereka."

Yicheng meremas ponselnya erat, kemarahan mulai merayap di dadanya — Paman Zhenghao berani mengirim orang untuk mengawasi mereka. Dia berani melacak keberadaan Su Wan dan Xiaoqi, berani mengikuti mereka ke tempat umum, berani mengganggu kedamaian mereka. Dan dia melakukannya bukan tanpa alasan — dia ingin tahu seberapa besar peran Yicheng di dalam hidup mereka, ingin tahu di mana mereka tinggal, ingin tahu apakah mereka adalah kelemahan terbesar yang bisa digunakan untuk mengendalikan Yicheng.

Ia melihat pria itu — berdiri di sudut lain taman, memegang ponsel, sesekali memotret Su Wan dan Xiaoqi dari kejauhan, wajahnya dingin dan tanpa perasaan. Yicheng ingin sekali melangkah maju, menghadapi pria itu, menuntut tahu siapa yang menyuruhnya, dan memastikan dia tidak akan pernah mendekati keluarganya lagi. Tapi ia tahu ia tidak boleh bertindak gegabah. Jika ia melakukannya sekarang, Paman Zhenghao akan tahu bahwa Yicheng menyadari pengawasan itu, dan dia akan segera menutup semua jejak, membuat bukti-bukti hilang, dan menjadi lebih berhati-hati — atau lebih berbahaya.

Yicheng menarik napas dalam-dalam, menahan amarahnya dengan sekuat tenaga. Ia harus bersabar sedikit lagi. Ia harus membiarkan pria itu mengawasi, mengikuti, melaporkan — karena setiap gerakan yang dilakukan orang itu adalah jejak yang bisa ditelusuri, setiap langkah yang diambilnya adalah bukti yang bisa dikumpulkan. Dan saat waktunya tiba, Yicheng akan memiliki cukup bukti untuk menghentikan Paman Zhenghao selamanya.

Ia mengetik balasan untuk Li Wei, jari-jarinya bergerak cepat namun tegas:

"Jangan ganggu dia dulu. Biarkan dia melaporkan kembali ke atas. Ikuti dia saat dia pergi, cari tahu ke mana dia membawa laporan, dan siapa yang menerimanya. Itu yang paling penting — melacak sampai ke orang yang memberinya perintah. Jangan ambil risiko. Tetap tersembunyi, dan pastikan Su Wan dan Xiaoqi tidak menyadari apa pun. Jangan biarkan mereka takut."

Yicheng meletakkan ponselnya, lalu kembali memandang Su Wan dan Xiaoqi — Xiaoqi sedang menunjukkan sesuatu kepada ibunya, Su Wan tertawa lembut, dan pemandangan itu begitu damai, begitu berharga, begitu layak diperjuangkan. Ia berjanji pada dirinya sendiri — tidak peduli seberapa berat perjuangannya, tidak peduli seberapa berbahaya jalannya, ia akan melindungi mereka berdua. Ia akan menghadapi Paman Zhenghao, akan mengungkap semua kebenaran, dan akan memastikan bahwa tidak ada yang berani mengganggu keluarganya lagi.

Saat matahari mulai turun ke barat, langit berubah warna menjadi jingga keemasan yang hangat, menandakan hari hampir berakhir. Su Wan berdiri, mengulurkan tangan kepada putranya. "Xiaoqi, sudah waktunya pulang. Matahari sudah mau terbenam, dan udara mulai dingin."

Xiaoqi berdiri, menggenggam tangan ibunya erat, namun matanya sesekali melirik ke sekeliling, seakan mencari sesuatu — atau seseorang. "Ibu… apakah Ayah ada di sini? Saya merasa Ayah sedang melihat kita. Hati saya berdebar kencang, seperti saat Ayah ada di dekat saya."

Su Wan tertegun, menatap putranya dengan terkejut, lalu perlahan memandang ke sekeliling taman, mencari sosok yang ia kenal, namun tidak melihat siapa pun yang tampak seperti Yicheng. Hanya orang-orang yang lewat, anak-anak yang pulang, pasangan yang berjalan beriringan. Ia tersenyum lembut, mengelus pipi putranya. "Mungkin itu karena kamu terlalu merindukan Ayah, Xiaoqi. Tapi percayalah — di mana pun Ayah berada, dia selalu memikirkanmu dan melindungimu dari jauh."

Xiaoqi mengangguk, namun senyumnya sedikit menurun. "Saya tahu Ayah ada di dekat sini. Saya bisa merasakannya. Seperti saat Ayah mengirimkan surat, atau saat Ayah datang ke rumah — hati saya selalu tahu. Ayah, kalau kamu ada di sini… saya rindu Ayah. Sampai jumpa besok." Ia berbicara ke arah udara, seakan Yicheng benar-benar berdiri di hadapannya, mendengar setiap kata yang diucapkannya.

Di balik pohon cemara, Yicheng mendengar kata-kata itu, dan hatinya terasa penuh hingga hampir meledak. Ia ingin sekali melangkah maju, memeluk putranya, berkata bahwa ia ada di sini, bahwa ia mendengarnya, bahwa ia juga merindukannya — tapi ia harus tetap diam, harus tetap bersembunyi, harus menjaga jarak. Ia menahan diri dengan sekuat tenaga, menatap punggung mereka berdua saat mereka berjalan menjauh, menatap tangan kecil Xiaoqi yang menggenggam erat tangan ibunya, menatap mereka sampai sosok mereka menghilang di antara kerumunan orang di kejauhan.

Dan di sudut lain taman, pria dengan kemeja abu-abu itu juga berjalan pergi, mengikuti arah keberangkatan Su Wan dan Xiaoqi, memastikan mereka tidak menghilang dari pandangannya. Yicheng melihatnya, dan hatinya semakin teguh — ia tidak bisa lagi membiarkan ini berlanjut. Pengawasan ini, ketakutan ini, pemisahan ini — semuanya harus berakhir. Dan ia akan menjadi orang yang mengakhirinya.

 

Malam itu, Yicheng menerima kabar dari Li Wei — timnya berhasil mengikuti pria itu ke sebuah kafe di pinggiran kota, di mana ia bertemu dengan seorang pria lain yang merupakan asisten pribadi Paman Zhenghao. Mereka berbicara sebentar, lalu pria itu menyerahkan selembar kertas — berisi catatan tentang keberadaan Su Wan dan Xiaoqi, jadwal mereka, dan gambaran tempat tinggal mereka. Li Wei berhasil mengambil foto pertemuan itu dari kejauhan, serta mencatat nomor plat mobil yang digunakan oleh kedua orang itu — bukti nyata bahwa mereka bekerja untuk Paman Zhenghao, bahwa pengawasan ini bukan kebetulan, melainkan perintah langsung dari atas.

Yicheng duduk di meja kerjanya, menatap foto-foto itu di layar ponselnya — bukti yang selama ini ia cari, bukti yang menghubungkan Paman Zhenghao dengan pengawasan terhadap keluarganya. Tangannya meremas ponselnya erat, bukan karena marah saja, tapi karena merasa lega — akhirnya ada bukti, akhirnya ada jejak, akhirnya ada jalan untuk menghentikan semua ini.

Ia menyimpan foto-foto itu dengan aman, lalu berjalan ke jendela, menatap langit malam yang bertabur bintang. Di kejauhan, di arah rumah Su Wan dan Xiaoqi, ada cahaya yang menyala di jendela — cahaya kecil yang terlihat lembut namun begitu kuat, menjadi penanda bahwa keluarganya ada di sana, menunggunya, mempercayainya, menaruh harapan padanya.

"Ayah, Ibu… tunggu aku," bisik Yicheng pelan ke arah langit malam, suaranya penuh tekad yang tak tergoyahkan. "Aku sudah punya buktinya. Dan sebentar lagi, tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi. Kita akan bersama — setiap hari, setiap saat, tanpa takut diawasi, tanpa takut diancam, tanpa takut kehilangan. Aku berjanji."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!