NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:295.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari letak tangga : 26

Hamima berbisik masih dengan memandangi potret keluarga bahagia. “Dia, apa mungkin dia orang yang sama dengan sosok di foto ini …?”

Loteng! Bongkar loteng! Hati-hati!

Kalimat yang diucapkan dengan suara bergetar, sorot mata tajam namun tersimpan harapan, menyentak Hamima.

"Dia mirip sekali dengan ibu Desita, istri mudanya juragan Sarkam." Ujung jari telunjuknya menyentuh sosok yang duduk di bawah tangga lebih rendah dari sepasang suami istri berpakaian elegan.

Gadis yang Hamima yakini adalah Desita, berpose anggun sembari memangku balita perempuan jika diperhatikan sedikit lebih besar dari putrinya Pujiara.

"Tunggu!" ujarnya pada diri sendiri. "Gadis ini dan wanita cantik, keibuan, sepertinya memiliki kemiripan?"

Mima layaknya kurotor foto yang meneliti makna, pesan tersirat di potret berukuran 6R. Setiap sosok yang tersenyum, pancaran mata bahagia mengarah ke kamera, ia teliti sampai matanya terasa pedih.

"Pria ini memiliki aura kharismatik — sepertinya dia orang yang bijaksana," gumamnya dengan mata tertuju pada lengan terbungkus kemeja batik merangkul pundak wanita bersanggul sederhana.

"Istrinya juga keibuan, cantik, anggun. Meski tidak memakai perhiasan mencolok, aura wanita dari keluarga terpandang, kaya, tetap melekat kuat tak terbantahkan," ucapnya berkelanjutan.

Loteng, bongkar loteng!

Kalimat seruan, bernada perintah mutlak itu kembali bergema di dalam kepala Hamima.

Dia meletakkan begitu saja potret di atas kursi, lalu dirinya beranjak menelisik ruang tamu berukuran 5x5 meter persegi.

Tok!

Tok!

Hamima mengetuk dinding tembok bercat putih tulang, tak terdengar suara kosong, namun padat.

"Bentuk tangganya gak lurus, tapi ada belokan. Kira-kira atasnya tertutup atau area terbuka?" Mima mengingat model tangga L, dan mempertanyakan ada tidaknya void — kosong vertikal yang dibiarkan terbuka di antara lantai atas dan lantai bawah.

"Gala, ya ... Aku butuh benda panjang itu untuk mengetuk kepadat plafon," ia masih terus berbicara sendirian, menjadikan batin dan logika adalah teman.

Disaat seperti ini Mima berusaha tenang, pikiran tak penting diabaikan, ada yang lebih mendesak harus segera dicari tahu agar misteri rumah ini cepat terpecahkan.

"Pergi disaat semua masih abu-abu bukanlah jalan yang tepat. Aku gak tau tujuan dari sajen itu, apa betul cuma menyapa para arwah atau apalah itu," ia tidak mau gegabah — ada buah hatinya yang wajib dilindungi.

"Tapi kemana harus nyari informasi, siapa yang bisa dipercaya disaat semua masih membingungkan, dan aku gak kenal siapapun selain Rosna —" kalimatnya menggantung, satu nama seolah memberi pertanda.

'Apa benar dia tulus atau kebaikannya memiliki maksud terselubung?' Hamima mengingat apa saja yang sudah dibicarakan tetangganya itu.

'Suaminya bekerja di rumah juragan Sarkam, sedikit banyaknya pasti dia tau sesuatu, tapi gimana caranya menginterogasi tanpa dicurigai?' ia pun mulai bingung sendiri.

"Seandainya saja disini ada alat komunikasi udara, aku bisa menghubungi mas Enggar di kota," yang Mima maksud, kakak sepupunya. Seorang polisi.

Ketika hati dan pikiran mulai kacau, wanita berdaster dan belum gosok gigi serta cuci muka itu mensugesti diri supaya tenang.

Hamima menyudahi berkeliling, dia kembali ke kursi kayu jati, mengambil foto, menyimpannya lagi dibawa tumpukan pakaian dalam.

Kemudian Mima masuk ke dalam kamar Guntur, membangunkan putra dan putrinya, mengajak mereka gosok gigi serta cuci muka.

Pujiara masih demam, kompres handuk kecil dikeningnya tidak ampuh menurunkan panas.

***

"Ini Ibu yang bikin?" tanya Guntur, netranya berbinar melihat kue berbentuk segitiga ditaburi parutan kelapa muda, lalu disiram kuah gula merah.

"Dikasih bude Rosna, ayo kita cicipi!" sambil menggendong Pujiara, Mima mulai menyantap kue buatan tetangganya.

"Enak ya, Bu. Lupisnya lembut, gurih dan manis," ucap remaja sudah berganti pakaian tidur dengan baju santai.

Mima setuju, kue buatan Rosna memang seenak itu. Dia sendiri selama punya bayi lagi aktif-aktif nya, jarang buat camilan.

Ibu dan anak menikmati sarapan tanpa ada pembahasan kemana kepala keluarga, mengapa tidak ikut makan bersama?

Posisi Galih yang dulu dihormati, didahulukan, dan dielu-elukan, kini mulai terkikis. Terlebih perannya sebagai seorang suami dan ayah, tidak lagi dijalankan secara maksimal seperti saat masih di kota.

Selang lima belas menit, Guntur dan Mima sudah selesai sarapan. Kue pemberian Rosna masih ada sisa, dan disimpan di lemari penyimpanan makanan.

"Guntur, rumah teman barumu jauh gak dari sini, Nak?" tanya Mima tiba-tiba.

"Lumayan jauh, kenapa, Bu?" Guntur membilas piring sudah selesai dicucinya.

"Ibu butuh gala kalau ada tangga tinggi, tapi kalau rumah teman mu jauh, mending gak usah pinjam. Kasihan kamu bakalan keberatan memanggul nya," Mima mengurungkan cara sudah dipikirkan sebelumnya.

"Kenapa gak pinjam punyanya bude Rosna, Bu?"

"Memangnya dia punya?" pancing Mima.

Guntur meletakkan piring sudah dicuci ke rak aluminium. "Punya. Kemarin itu aku sama kedua teman baru, pas mau ke sungai, lewat samping rumah. Ada tangga diletakkan dibelakang rumah."

Hamima masih ragu mau meminjam ke Rosna, dia takut kalau kenyataannya — tetangga baru dikenal, tidak sebaik kelihatannya.

"Nanti saja dulu. Kamu jangan ada bilang soal tangga maupun gala ke siapapun ya, Nak?"

Remaja cerdas itu menangkap maksud tersimpan dalam nada suara ibunya. Dia pun punya rencana tersendiri. "Iya, Bu."

"Assalamualaikum, Hamima!"

"Itu suara bude Rosna, mungkin dia datang bersama dukun pijat." Hamima meletakkan kain lap yang baru digunakan membersihkan meja makan.

"Walaikumsalam," sahut Hamima.

"Biar aku yang bukain pintunya, Bu!" Guntur berlari melewati sang ibu.

Pintu tidak terkunci, dibuka lebar-lebar oleh Guntur, dia membalas sapaan.

"Mari masuk, Rosna, dan ...." suara Hamima tertahan di kerongkongan, sebisa mungkin untuk tetap menatap sopan pada sosok yang memiliki cacat di mukanya — bekas luka timbul.

.

.

Bersambung.

1
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
pun* 🤭,
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
kok ada kata "No" nyempil beb?
Aprisya
nah akhirnya ngaku juga kamu dar🔥🔥
Kaka Shanum
damkar lagi sibuk ngurus karhutala,engga ada waktu padamin api buat kamu darwan....berisik banget,itu salah mu seharusnya diterima dengan tunai....😄😄😄😄
Shee_👚
tolong😏
dulu kamu dengan tega ikut membunuh keluarga arwan dana, dan sekarang saatnya kamu mati minta tolong, sory aja sono ke neraka🤣🤣
Shee_👚
mampussss jangan sampai mati cepet si gendeng, harus di seret, di hajar di biarkan kelaparan dll
Shee_👚
nah ini dia yang di nanti muncul juga🤭
gendeng siap2 kamu abis sama mbah nar😏
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Dengan kekuatan penuh Aku menjawab, Oraaaaaaaaaa Sudiiiiiiiiiiii! kalau mau malah aku siramm pakai bensinn 🤣🤣🤣
Shee_👚
pindah alam maksudnya kan sarkam😏
dasar iblis setelah kamu merampas segala milik arwan dana kamu menyebarkan kalau mereka semua pindah😤
Shee_👚
sarkam pikir cincinnya bisa ngeluarin jin tomang kali🤣
Betri Betmawati
udh terlambat sekarang kau minta ampun Darwan
dulu dimn hati nuraninya
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
arwan Dhana enggak punya kekuatan untuk menunjukkan perbuatan Sarkam dan Geneng di masalalu kah? maksudnya langsung Mak Cling , memutar rekaman seperti layar tancap yang di pampang di depan mata warga gitu, supaya warga tahu dan melihat langsung kekejaman sarkam beserta Geneng dan aantek2nya 🤭
Shee_👚
akhirnya arwan dana datang buat membasmi biang kerok dari masalah
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
selama ini kalian sudah di bohongi oleh sarkam dan antek2nya. sarkam lah yang sudah membunuh Keluarga arwan Dana dan memfithahh Desita. dan kalian semua percaya begitu saja, penjahatt yang sebenarnya kalian puja2. sekarang lihat sendiri kan? bagaimana fakta yang sebenarnya.
Eli Rahma
pembalasan dimulai..
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
mamvusss kau sarkam! mau lari kemana kau 🫵 musuh mu kali ini bukan manusia, tapi sosok arwah Arwan Dana. kamu tak bisa lari, mau kamu lari ke lubang semut pun! pada akhirnya akan di cabik2 oleh arwah Arwan Dana....Sekarang tak ada lagi yang bisa kau sombongkan...huahaaaa 😎
FLA
detik detik kematian para manusia iblis
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
wowww cambuk kalimasada membelah langit...mbh Nar memang sakti mandraguna, angkat aku jadi Guru mu mbh. Aku siap melakukan apapun buat mbh Nar. Meski aku harus menjadi istri nya mas Syahril aku pun siap 🤭
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ: siapa sih yang mau nolak kak, di angkat jadi murid mbh Nar, bonus mas syahril /Joyful//Joyful//Joyful/
total 9 replies
Nann
blm ada update yaa??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!