Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 : Pengkhianatan dan ultimatum.
"Ah, Jay... lebih dalam..."
Suara itu terdengar renyah dan penuh gairah, membelah keheningan malam yang sepi.
Dari balik celah pintu yang sedikit terbuka, di dalam ruangan kerja yang penerangannya sengaja diredupkan, Celine melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Di atas meja kerja yang biasanya penuh tumpukan dokumen, Jason sedang melumat wanita itu dengan penuh nafsu. Tubuh mereka saling bertaut tanpa sehelai benang pun yang menghalangi. Gerakannya liar dan tak kenal lelah, seakan tak ada ruang bagi siapa pun di dunia ini selain mereka berdua.
Sudah pukul sembilan malam. Seluruh karyawan sudah pulang. Gedung perkantoran ini sepi senyap. Hanya tersisa suara napas berat dan desahan penuh kenikmatan yang terdengar begitu jelas hingga ke telinga Celine Atharaya.
Ia datang dengan sisa keberanian yang terkumpul sekuat tenaga. Berniat meminjam uang untuk biaya operasi ibunya yang harus dilakukan besok pagi. Uang yang belum juga ia peroleh. Uang yang nyawa ibunya bergantung padanya. Dan demi itu, ia rela menunduk, memohon, dan menanggung malu di hadapan pria yang ia cintai.
"Dasar sosis busuk! Beraninya kamu selingkuh di belakangku!" umpat Celine dalam hati, ia menoleh ke sekeliling seolah mencari sesuatu yang bisa ia pakai untuk dijadikan pelampiasan.
Pandangannya jatuh pada vas bunga kecil berisi bunga segar yang tergeletak di meja sekretaris tak jauh dari sana. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah mendekat, meraih benda itu dengan genggaman erat. Jantungnya berpacu kencang, amarah yang sedari tadi tertahan kini meledak bergabung dengan rasa sakit yang mencekik dadanya.
Dengan napas memburu, Celine kembali menatap pintu ruangan yang masih terbuka sedikit itu. Tanpa ragu sepersekian detik pun, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu melemparkan vas itu sekuat tenaga ke arah pintu kayu yang terbuka itu.
BRAK!!!
Suara benturan dan pecahan kaca yang berhamburan terdengar nyaring membelah keheningan malam, begitu keras hingga menggetarkan seluruh ruangan. Desahan dan suara gairah yang tadi terdengar begitu jelas seketika terhenti mendadak. Hening seketika. Di dalam ruangan itu, gerakan mereka terhenti kaku. Terdengar suara kaget dan teriakan tertahan yang menyusul sesaat kemudian.
Jason melangkah menuju pintu, tangannya sibuk mengancingkan kancing kemejanya yang masih berantakan, wajahnya tampak tak terima dan sedikit terkejut. Ia menatap ke kiri dan ke kanan, namun tak melihat siapa pun di lorong yang sepi itu.
Renata segera menyusul mendekat, tangannya sibuk merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut sekaligus rambutnya yang berantakan. Wajahnya masih tampak merah padam, napasnya belum sepenuhnya teratur.
"Ada siapa di luar, Sayang?" tanyanya pelan, matanya menatap takut ke sekeliling lorong yang remang-remang.
Jason mengerutkan kening, menatap pecahan vas berserakan di lantai tepat di depan pintu ruangannya.
"Tak ada siapa-siapa..." jawabnya rendah, namun nada bicaranya terdengar bingung dan tak yakin. "Tapi benda ini... bagaimana bisa vas bunga ini pecah tepat di depan pintu ruanganku?"
Renata seketika bergidik ngeri. Ia merapatkan tubuhnya ke lengan Jason, menatap pecahan kaca itu dengan mata terbelalak ketakutan. Kulitnya seketika terasa dingin merinding.
"Jangan-jangan..." suaranya bergetar hebat, matanya menatap takut ke arah sudut-sudut lorong yang gelap. "Jangan-jangan... di sini ada arwah penasaran..."
"Jangan bicara sembarang," potong Jason dingin, tangannya merengkuh pinggang Renata erat dan menarik tubuh wanita itu mendekat ke arahnya. "Di sini tidak ada hal-hal seperti itu. Mungkin hanya angin."
Tanpa memberi kesempatan bagi Renata untuk kembali bersuara, Jason menunduk dan menyambar bibirnya dengan ciuman yang kasar, liar, dan penuh nafsu. Ciuman yang tak lagi lembut, melainkan menuntut habis, seakan ingin melumat seluruh keraguan dan ketakutan wanita itu dalam sekejap.
"Sudah tenang sekarang..." bisiknya di sela ciuman yang tak kunjung usai, suaranya terdengar berat dan penuh gairah. "Ayo kita lanjutkan yang tadi... aku belum selesai."
Pintu pun tertutup rapat dan kunci diputar pelan dari dalam. Celine yang bersembunyi di balik meja sekretaris pun perlahan merangkak keluar. Tubuhnya terasa dingin dan lemas, namun matanya menatap tajam ke arah pintu ruangan itu yang kini tertutup rapat kembali. Di balik pintu itu, suara kenikmatan wanita itu kembali terdengar, memecah keheningan malam dan menyayat hati Celine berkali-kali lipat.
Ia mengepalkan tangannya erat-erat hingga kuku menancap ke telapak tangan, menyisakan rasa perih yang tak sebanding dengan luka di dadanya. Giginya gemeretak menahan amarah yang meluap-luap.
"Brengsek..." desisnya pelan namun penuh kebencian, matanya berkaca-kaca namun tak setetes air pun jatuh. "Jason... nanti aku pasti akan buat perhitungan denganmu dan si jalang Renata!"
Celine berbalik dan melangkah cepat menuju lift dengan napas memburu. Pintu lift terbuka perlahan dan Celine melangkah masuk dengan langkah cepat. Ia menekan tombol lobi bawah berkali-kali, seakan tak sabar segera menjauh dari tempat yang menjijikkan ini.
Pintu lift tertutup rapat, menyembunyikan sepenuhnya pandangan ke lorong yang kelam itu. Celine akhirnya tak sanggup lagi menahan beban di dadanya. Kakinya lemas seketika, tubuhnya tersandar lemah ke dinding dingin lift. Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun menahan isak yang nyaris meledak.
"Uang untuk Ibu... lupakan." gumamnya pelan, "Aku akan cari cara lain tanpa harus merendahkan diri di hadapan sosis busuk itu!"
-
-
-
Suasana lorong rumah sakit VVIP begitu hening, seakan tak ada satu pun yang berani bersuara. Di depan ruangan itu, puluhan pengawal berbadan tegap berdiri berjejer rapi, berbaris bak tembok tak tertembus.
Di dalam ruangan yang luas itu, udara terasa dingin dan menekan. Cahaya lampu yang lembut tak mampu menyamarkan aura gelap yang menyelimuti ruangan itu. Di atas tempat tidur yang dikelilingi peralatan medis canggih, seorang wanita paruh baya berbaring lemah. Wajahnya pucat, napasnya terdengar berat dan teratur dari alat bantu pernapasan. Namun di balik wajah rapuh itu, sepasang matanya masih menatap tajam ke arah pria yang berdiri di sisi tempat tidurnya.
Damian berdiri di sana. Punggungnya tegak kaku, kedua tangannya bersilang di belakang punggung. Raut wajahnya tenang, terlalu tenang, sehingga justru terasa mengerikan. Matanya yang gelap memancarkan ketegasan yang tak tertandingi, seakan satu tatapan saja darinya cukup untuk membuat siapa pun gemetar ketakutan. Aura yang terpancar dari tubuhnya begitu berat dan menekan, membuat para perawat yang sesekali masuk tak berani mengangkat wajah sedikit pun.
"Oma," panggil Damian rendah. "Dokter bilang Oma butuh istirahat. Jangan banyak bicara."
Wanita tua itu perlahan mengangkat tangan yang gemetar. Tangan dingin Damian dengan cepat langsung menangkap dan menggenggamnya.
"Oma sudah tak punya banyak waktu, Damian..." suara Rosalina lemah namun penuh penekanan, tak memberi celah untuk ditolak. "Usiamu sudah tiga puluh lima tahun. Masih saja sendirian. Apa kamu ingin melihatku pergi tanpa sempat menggendong cicit darimu?"
Damian terdiam. Rahangnya mengeras seketika. Urat di pelipisnya menonjol samar. Ia menarik perlahan tangannya dari genggaman wanita itu, lalu menatap lurus ke dalam mata neneknya.
"Aku belum butuh istri," jawabnya tegas. "La Famiglia lebih membutuhkanku. Soal istri dan anak, itu urusan belakangan."
Wanita tua itu menggeleng pelan, napasnya terengah sejenak sebelum kembali menatap cucunya dengan pandangan yang tak kalah tegas.
"Sendirian? Hm... atau kau memang takut ada yang bisa melunakkan hati iblis bernama Damian Alessandro Salvatore?" sindirnya.
"Tiga hari, Damian. Aku beri kau tiga hari untuk membawa seorang calon. Atau aku yang akan memilihkannya untukmu."
Tit... tit... tit...
Monitor jantung di samping Oma Rosalina berdetak lebih cepat. Para pengawal di luar langsung siaga.
Tangan Damian mengepal. "Baik, Oma. Aku akan membawa calon istri ke hadapan Oma."
---
---
---
Bersambung...