NovelToon NovelToon
HALAMAN TERAKHIR

HALAMAN TERAKHIR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: T.K. OKVIANDI

Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.

Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.

Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.

Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN SEPULUH

12 TAHUN YANG LALU

Suasana malam di jalan Antapani kota Bandung, seorang Ibu membawa sepeda motor bebek membonceng anak perempuan kecilnya di depan. Dari arah berlawanan ada sebuah mobil sedan yang dikendarai oleh seorang ibu dengan anak kecil yang duduk di jok depan sampping supir. Anak kecil tersebut tidak mau diam, sehingga sang ibu berusaha menenangkan anak kecil tersebut. Wanita itu sesekali mengalihkan pandangan nya dari depan ke arah anaknya, karena anak nya yang terus berulah tak mau diam, tanpa sadar sang ibu menyalakan lampu tembak beberapa detik.

Perempuan yang mengendarai sepeda motor itu terkejut dan mengalami silau sehingga mengganggu konsentrasinya. Tanpa sadar perempuan itu tidak sengaja menarik gas nya cukup dalam hingga hilang keseimbangan dan menabrak sebuah pohon dipinggir jalan, sementara ibu yang mengendarai mobil pun tak berhenti langsung melanjutkan perjalanannya , entah takut atau tak peduli atau malah tidak mengetahui sama sekali.

Warga yang melihat kejadian tersebutpun langsung mengerumuninya, beberapa orang berusaha menghentikan angkutan umum di jalan , beberapa orang berusaha memindahkan sepeda motor ibu tersebut dan mengamankannya, setelah ada angkutan umu yang berhenti , sang ibu dan anak itu dibopong dan dibawa kedalam angkutan umum tersebut.

Angkutan umum tersebut melaju membawa sang ibu dengan anaknya, ditemani beberapa warga menuju rumah sakit. Namun sayang, beberapa saat meninggalkan tempat kejadian, sang ibu dan anak nya pun menghembuskan nafas terakhirnya didalam angkutan umum. Seorang warga berinisiatif membuka dompet milik sang ibu untuk mencari tahu dimana alamatnya. Angkutan umum itu pun berjalan menuju kediaman sang ibu setelah warga memberi tahu alamatnya kepada sang supir. Setelah sampai di alamat yang dituju warga yang mengantar langsung bergegas turun dari angkutan umum menuju ke rumah sang ibu, dengan sigap warga mengetuk pintu hingga muncul seorang lelaki berpakaian polisi bersama anak berusia 5 tahun yang langsung terkejut setelah mendengar bahwa istri dan anak perempuannya telah wafat akibat kecelakaan.

***

Allisya yang mendengar cerita itu, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Langit. Tanpa disadari Allisya langsung memeluk Langit sambil ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Langit walau dua belas tahun sudah berlalu. Langit berusaha untuk kuat dan bangkit dari duduknya, dia membuka bungkusan plastik yang berisikan bunga lalu menaburkan nya di atas makam Ibu dan Adiknya dibantu dengan Allisya, tak lupa mereka mengucurkan air mawar dari botol yang dibawa nya.

Langit dan Allisya pun pergi meninggalkan makam tersebut menuju tempat parkir untuk kemudian meninggalkan pemakaman tersebut dengan sepeda motor nya. Selama perjalanan Allisa terus berpegangan pada pinggang Langit sambil memikirkan satu hal. Allisya seperti pernah mengalami hal yang diceritakan oleh Langit tapi dirinya tidak mengingat nya. Allisya merasa dia sangat dekat posisinya dengan kejadian itu, tapi dia tidak bisa terlalu mengingatnya, siapa dia di cerita itu, sebagai siapa? Dimana posisinya? Apa yang dia lakukan? Semakin Allisya memikirkan hal itu, semakin bercabang-cabang jalan pikirannya, hingga dia memutuskan sebaiknya dia menanyakan ke seseorang yang dia yakini terlibat dalam cerita tersebut, yaitu Ibunya Allisya itu sendiri, walau Allisya juga masih ragu apa iya itu ibunya yang ada dalam ingatan kecilnya.

Hingga akhirnya perjalanan mereka terhenti didepan sebuah rumah , ya rumah Allisya. Mereka pun turun dari sepeda motor dan langsung menuju ke pintu rumah, tanpa disadari Ayah Allisya sedang berada di teras rumah sambil membaca sebuah buku karya Kahlil Gilbran yang berjudul Sayap Sayap Patah.

"Assalamu alaikum Ayah" Ucap salam Allisya disertai dengan mencium tangan Ayahnya.

"Assalamu alaikum om" Ucap salam Langit disertai dengan mencium tangan Farhan.

"Wa alaikumus salam" Jawab Farhan.

"Maaf ya om, gara gara saya, Allisya pulangnya jadi selarut ini" Langit meminta maaf mengajak Allisya hingga larut malam.

"Iya nggak apa apa nak Langit, tadi Allisya juga sudah bilang kok, katanya mau ikut ziarah ke makam ibu sama adik kamu" Ucap Farhan.

"Om suka baca buku sastra sastra begitu juga ya om? Itu bukunya Kahlil Gibran kan yang judulnya..." Ucap Langit yang Tanpa disengaja Langit , mata Langit tertuju pada buku yang sedang dibaca oleh Ayah Allisya.

Belum selesai Langit mengucap, Ayah Allisya pun memotongnya. "Sayap – Sayap Patah" Ucap Farhan.

"Iya om sayap – sayap patah , saya juga suka baca itu , Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa , Menghimpit bayangan" Langit mencoba membacakan beberapa bait dalam buku itu.

"Menyesakkan dada , Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa " Sambung Farhan.

Mereka berdua tertawa kecil beberapa saat, hingga akhirnya Langit berpamitan dan meninggalkan rumah Allisya dengan sepeda motornya. Beberapa saat setelah Langit meninggalkan rumah Allisya, Allisya pun segera masuk kedalam rumah mencari ibunya.

"Assalamu alaikum, Bunda" Ucap Allisya memanggil ibunya. Ibu Allisya pun keluar dari arah dapur membawa sepiring nasi goreng.

"Wa alaikum salam anak bunda, pasti belum makan, ini bunda bikinin nasi goreng kesukaan kamu, nasi goreng pake sosis " Ucap Adellia sambil berjalan menuju Allisya.

"Aku udah makan sih bunda, tapi kalau aku digoda sama nasi goreng buatan bunda ini sih, perut saku masih muat " Ucap Allisya sambil mengeluarkan tawa kecilnya.

Allisya dengan sigap mengambil piring berisikan nasi goreng dari tangan ibunya dan menuju ke meja makan. Allisya pun duduk dimeja makan menikmati nasi goreng buatan ibunya. Adellia duduk di samping kursi Allisya. Sambil menikmati nasi goreng berdua, Allisya dan ibunya pun berbincang-bincang. "Langit itu kakak kelas kamu? Dari yang bunda lihat kayaknya Langit baik ya, suka ya sama kamu , hehehe" Ledek Adellia.

"Apaan sih bunda, kak Langit tuh kalau filing aku sih dia suka sama kak Rindu kakak kelas aku juga, tapi ya gitu masih gengsi-gengsian, kalau aku sih udah anggap kak Langit itu kayak kakak aku sendiri, kak Langit juga gitu dia tuh nge ade in ke aku, bunda" Ucap Allisya

“Iya Sya, Bunda percaya kok, lagian kamu kan udah deket sama Malang, lumayan lama , ya kata abg abg sih pacaran walau apatuh LDR , hehehehe " Ucap Adellia.

"Galang bunda, bukan Malang, iya bunda aku kan setia, kan diajarin Bunda" gerutu Allisya.

"Maaf nih Sya sebelumnya, bunda kepo nih, itu mamah nya Langit meninggalnya udah lama? Kenapa? Terus sekarang Langit tinggal sama siapa?" Tanya Adellia yang kepo.

"Ih bunda mah kayak wartawan aja, nanya tuh satu-satu kenapa bunda, kak Langit sekarang tinggal sama papahnya, dia jadi ikut kemana papahnya dines, kan papahnya polisi. Terus mamah sama adiknya kak Langit tuh meninggal dua belas tahun lalu pas kak Langit berusia sekitar lima tahun, kecelakaan Bunda, lagi berboncengan naik motor di antapani bandung nabrak pohon gara-gara ada mobil yang tiba-tiba aja ngasih lampu tembak gitu" Allisya mencoba menjelaskan.

Mendengar kata menanabrak pohon , antapani, lampu tembak , dan dua belas tahun lalu, Adellia sontak terkejut. Sambil berpikir dalam hatinya, walau sepertinya tidak mungkin tapi bisa saja itu benar, itulah pertanyaan yang timbul dalam hati Adellia. Allisya ikut terkejut yang melihat ibunya seperti kebingungan setelah sebelum nya tiba-tiba terkejut.

"Halu bunda, Bunda,, halu... bunda kenapa? " Ucap Allisya mencoba membangkitkan Ibunya dari lamunan. Ibu Allisya pun tersadar dari lamunannya. "Bunda kenapa sih tau-tau ngelamun gitu ? Baru aku mau nanya ke Bunda , abis denger cerita kak Langit kok aku ngerasa kayak pernah ngalamin hal serupa sama bunda, tapi aku lupa " sambung Allisya.

"Sepertinya bener sya, kmu itu anak yang mengganggu konsentrasi Bunda saat Bunda mengendarai obil di Antapani pada malam itu, hingga tanpa disadari ibu menyakan lampu tembak ke arah sepeda motor yang dikendarai seorang ibu berboncengan dengan anak perempuan kecilnya, sehingga mereka mengalami kecelakaan, tapi bunda tidak mengetahui kalau mereka berdua meninggal, waktu itu bunda terburu-buru harus kerumah sakit karena nenek kamu mengalami serangan jantung " Ucap Adellia dalam hatinya.

Melihat ibunya kembali melamun, Allisya pun segera menyadarkannya. "Bunda , oi bunda, aku nanya malah bengong aja" Ucap Allisya.

"Iya Sya , kenapa? Ohh mungkin itu cuma perasaan kamu aja yang terbawa sama cerita Langit, mungkin kamu ikut ngerasain kesedihan Langit, kamu ngebayangin kalau kamu diposisi Langit, jadi kamu ngerasa pernah ngalamin hal itu " Adellia pun tersadar dan segera menjawab Allisya dengan mencoba merangkai kata dalam kegugupannya.

"Iya kali ya bunda, lagian bener juga aku kan baru ketemu kak Langit di SMA ini, itu juga baru-baru ini " Ucap Allisya.

Adellia hanya membalasnya dengan senyuman kecil. "maafin Bunda ya sya, bunda nggak bisa cerita, bunda takut nantinya kamu jadi kecewa " Ucap Adellia dalam hatinya.

Saat mereka sedang asik berbincang-bincang, tiba-tiba datang Farhan di samping Allisya sambil membawa sebuah sendok. “Ini nasi goreng malah dianggurin aja, ayah makan aja ya" Ucap Farhan sambil langsung menyendokkan nasi goreng di depan Allisya ke mulutnya.

"Ih ayah , ini kan kata bunda buat aku, ayah dateng-dateng langsung makan aja, ini punya aku ayah" Ucap Allisya sambil berusaha menghalangi ayahnya dari piring berisikan nasi goreng.

Mereka bertiga pun terlihat sangat bahagia, sambil sesekali menyuap nasi goreng tersebut dengan ditemani senyuman masing-masing. Beberapa kali Farhan menyuapi Adellia, begitu pula sebaliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!