Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 INTO DARKNESS
Langkah kaki berat pria itu membelah heningnya malam. TAK! TAK! TAK! Setiap tapakan sepatunya di atas aspal kering seolah ketukan lonceng kematian bagi puluhan berandalan yang tadi mengerubungi kami. Tidak ada yang berani bersuara. CRICKETS. Udara dingin perbatasan yang menusuk tulang tiba-tiba terasa makin membeku.
Gua menyeka lecet kecil di sudut bibir gua yang berdarah, memandangi sosok pria berumur 30 tahunan yang berdiri tegap di hadapan kami. Pakaiannya tampak sederhana—jaket kulit hitam kusam yang sudah banyak goresan—tetapi aura membunuh (killing intent) yang terpancar dari tubuhnya menandakan dia bukan orang sembarangan.
"Yo, Denza! Sudah lama sekali kita nggak bertemu," sapa Sebas tiba-tiba. Suaranya yang tenang memecah atmosfer mencekam, lengkap dengan senyum tipis di wajahnya yang bersih dari peluh.
Gua menoleh cepat ke arah Sebas dengan dahi berkerut heran. "Sebas? Lu kenal dia?"
"Tentu saja, Tuan Muda," jawab Sebas santai seraya merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat pertarungan tadi. SREET! "Dia ini teman lama saya waktu kami masih remaja di Jakarta dulu. Inilah alasan utama kenapa Tuan Besar menunjuk saya secara khusus untuk mendampingi Anda di kota ini. Beliau tahu... saya punya 'orang dalam' yang sangat paham seluk-beluk tempat ini."
Mendengar penjelasannya, dada gua mendadak rasanya ingin meledak. BAM! Gua menatap Sebas dengan pandangan menusuk.
"Sialan lu, Sebas! Terus kenapa lu nggak bilang dari tadi, hah?! Kalau tahu lu punya relasi di sini, kita nggak perlu buang-buang tenaga buat hajar kroco-kroco ini!"
Sebas justru tertawa pelan, sama sekali tidak merasa bersalah. "Haha... Maafkan saya, Tuan Muda. Saya sudah terlalu lama nggak berolahraga. Lagipula, saya cuma mau bikin Anda sedikit 'pemanasan' supaya Anda terbiasa dengan atmosfer kota ini."
"Cih, alasan lu," gumam gua, meski dalam hati gua harus mengakui kalau pukulan-pukulan tadi memang berhasil ngebakar semangat bertarung gua.
Pria bernama Denza itu menggelengkan kepala melihat tingkah kami berdua. Ia membalikkan badannya, menatap tajam ke arah sekumpulan berandalan yang masih berdiri terpaku dengan tubuh gemetar hebat.
"Buka pintunya sekarang!" bentak Denza dengan nada rendah namun penuh penekanan memekakkan telinga.
Suasana sempat hening sejenak sebelum salah satu berandalan yang tubuhnya paling besar mencoba memberanikan diri untuk bersuara. "Ta–tapi, Bang Denza... Orang-orang yang ada di atas sana nggak bakal tinggal diam kalau kita biarin mereka masuk begitu saja tanpa lewati ujiannya! Kami cuma ngejalanin tugas dari—"
"Gua nggak peduli sama yang di atas," potong Denza dingin. Matanya menyipit menusuk jantung berandalan itu sampai si pembicara langsung bungkam dan menunduk dalam. "Buka gerbangnya sebelum gua sendiri yang buka isi kepala lu pada satu-satu."
Tanpa membantah lagi, tiga orang berandalan langsung berlari ketakutan menuju tuas gerbang besi tua perbatasan. KRIIIEEK! BRAKK! Suara engsel berkarat berkertak keras membelah malam saat gerbang raksasa itu terbuka perlahan, menyingkap kegelapan Cikampek yang sebenarnya di balik sana.
Gua yang memperhatikan interaksi itu menyipitkan mata. "Ujian? Maksudnya apaan, Sebas? Memangnya ada ujian semacam itu buat masuk ke kota ini?"
Denza yang berjalan mendekati mobil kami terkekeh pelan. "Haha! Yang kalian hadapi tadi itu ujiannya, Bocah. Makanya gua nggak langsung turun tangan waktu lihat kalian dikepung."
"Maksud lu?" tanya gua penuh rasa penasaran.
"Aturan penyerangan di perbatasan itu sebenarnya bukan aturan mutlak dari mereka yang di atas sana," jelas Denza sambil menyandarkan badannya di kap mobil kami yang penyok. PFTT! "Itu tradisi kuno yang diciptakan para berandalan lokal sejak dulu kala. Siapa pun orang luar yang mau masuk, harus bisa bertahan dari pengeroyokan massal di gerbang ini tanpa bantuan. Dan sayangnya... kalian berdua sepertinya bisa dibilang gagal melewati tradisi itu secara murni. Karena gua harus turun tangan lihat kalian mulai kewalahan."
Gua mendesis jengkel. Cih! Gagal? Kalau lu nggak datang juga gua nggak bakal kalah tadi! Rasa gengsi dalam diri gua langsung menggelegak.
"Udahlah, nggak usah dipikirin," lanjut Denza seraya mengibaskan tangannya. "Masuk ke mobil. Gua yang bakal nyetir dan mengantar kalian ke kediaman yang akan kalian tempati."
BREG! BREG! Kami bertiga akhirnya kembali masuk ke dalam mobil. Denza mengambil alih kemudi, sementara Sebas duduk di sampingnya, dan gua kembali ke kursi belakang. VROOMM! Mobil mewah hitam itu perlahan bergulir melintasi garis perbatasan, memasuki wilayah hukum Cikampek.
Begitu mobil bergerak menyusuri jalanan utama, mata gua tidak bisa berhenti menatap ke luar jendela. Pemandangan di sepanjang jalan benar-benar gila. PRANGG! Di balik pendar remang lampu jalanan yang berkedip-kedip, pertumpahan darah seolah terjadi di setiap sudut gang. Gua melihat kelompok anak remaja saling hantam menggunakan balok kayu—BUGHH!—bentrokan antar-geng motor di persimpangan, hingga jeritan warga yang berlarian menghindari area tawuran.
Kota ini tidak tidur. Kota ini bernapas lewat kekerasan.
"Ancur banget..." gumam gua tanpa sadar, mata gua berbinar-binar menatap kekacauan di luar. "Gua nggak nyangka kota ini beneran separah ini. Beda jauh sama kota asal kita."
Tapi yang aneh, semakin jauh mobil bergerak meninggalkan area gerbang perbatasan, skala keributannya perlahan mulai menyurut. Di beberapa kawasan pemukiman, suasana justru terlihat sangat tenang dan tertata—seolah kekacauan tadi cuma halusinasi.
Denza melirik gua dari kaca spion tengah dengan senyum tipis di bibirnya. "Kalau hal seperti itu saja bikin lu terkejut, pastikan lu nggak bakal terkejut saat kita sampai di pusat kota nanti."
Sebas memajukan badannya sedikit. "Kenapa kita harus langsung menuju pusat kota, Denza? Bukannya lebih baik kita ke tempat peristirahatan dulu?"
"Administrasi," jawab Denza singkat dan tegas. "Kalian berdua nggak mau kan besok pagi terbangun dalam keadaan diburu sama seluruh Algojo Dewan cuma gara-gara dianggap penyusup ilegal?"
Gua menaikkan sebelah alis. "Administrasi? Di kota berandalan kayak gini ada administrasi?"
"Aturan tetaplah aturan. Kalau mau selamat di sini, turutin aja cara mainnya," tegas Denza. "Sebelum kalian resmi menetap dan tidur nyenyak di Cikampek, kalian wajib melapor ke Balai Pusat Kota untuk pemeriksaan identitas. Di sana, kalian bakal dipasangkan cincin resmi yang menentukan status kalian di kota ini."
Denza menghentikan kalimatnya sejenak saat mobil berhenti di lampu merah persimpangan besar. CITTT! Ia menatap Sebas, lalu beralih menatap gua tajam dari spion.
"Sebas, kalau lu cuma berniat jadi asisten pribadi dan nggak ikut campur di dunia jalanan, lu cuma bakal dikasih Cincin Abu-Abu sebagai status warga biasa. Lu bakal aman, nggak bakal ada geng yang berani menyentuh lu tanpa alasan jelas."
Denza lalu memfokuskan pandangannya tepat ke mata gua. "Tapi buat lu... kalau lu datang ke sini dengan niat liar buat menguasai kota ini, lu nggak bakal cuma pakai satu cincin. Lu wajib memakai dua cincin sekaligus di jari lu. Satu Cincin Putih sebagai Outsider, sama seperti punya gua ini..."
Denza mengangkat tangannya dan menunjukkan jarinya kepada gua. PING! Kilauan logam memantul di bawah lampu dasbor. Dia memiliki dua cincin yang melingkar: satu Cincin Putih dan satu Cincin Biru.
Denza pun melanjutkan pembicaraannya, "...dan satunya lagi cincin yang nantinya bakal lu punya."
VROOMM! Denza menekan pedal gas saat lampu berubah hijau, mengarahkan mobil menuju gedung-gedung tinggi di pusat kota yang memancarkan aura dingin dan dominan.
"Penjelasan lebih detailnya? Nanti orang-orang sana sendiri yang bakal 'menyambut' dan ngejelasin ke lu secara langsung di dalam," ucap Denza dengan nada misterius.
Gua menyandarkan punggung ke jok kulit mobil, mengusap bekas darah di bibir gua sekali lagi. Seringai lebar terukir di wajah gua saat membayangkan apa yang bakal menunggu di pusat kota nanti.
"Dua cincin, huh? Baiklah..." gumam gua pelan, menatap lurus ke arah kegelapan jalanan di depan. "Sepertinya ini bakal jauh lebih menyenangkan dari yang gua kira."